
Lenka baru saja pulang ke unit Apartemennya, setelah membenahi semua barang-barang di atas meja kerjanya. Dia berencana akan ke rumah Papa dan Mamanya setelah selesai beristirahat siang itu.
"Apa yang kau inginkan dariku Zeehan, kenapa kau memperlakukan aku seperti ini, aku benar-benar tidak mengenalmu lagi,.kau seperti orang asing, aku membencimu," geram Lenka kesal.
Sebuah notifikasi dari mobile Banking-nya. berbunyi, uang dengan nominal yang cukup fantastis, masuk kedalam rekeningnya. Jumlah yang hampir sama dengan uang yang telah di gunakan Zeehan, selama ini. Lenka mendengus kesal.
"Hah, bukannya berterimakasih, malah memecat ku seenaknya," umpat Lenka kesal.
Sebuah panggilan masuk membuyarkan lamunan Lenka, buru-buru Lenka mengangkat ponselnya.
"Selamat siang, dengan ibu Valencia?" tanya seseorang dari ujung taliannya.
"Ya, saya sendiri, kenapa Pak?" tanya Lenka.
"Orang tua anda baru saja mengalami kecelakaan jalan raya, Bu Valencia, sekarang jenazahnya akan kami kirim ke rumah sakit Darya Medika," kata suara itu lantang, sepertinya suara orang dari kepolisian.
Lenka terhenyak, tak percaya. Buru-buru dia menelpon Bibi Julia, dengan berlinang air mata, Lenka menceritakan apa yang baru saja dia dengar.
Dengan tubuh limbung, Lenka segera ke luar dari Apartemennya. Menuju rumah sakit Darya Medika. Beberapa orang petugas rumah sakit, baru saja menurunkan dua jenazah dari mobil ambulans. Lenka berlari mengejar petugas yang mendorong brankar tempat orang tuanya terbaring tak bernyawa.
"Papa...! Mama...!" teriak Lenka histeris. Menyingkap satu persatu, kain putih yang menutupi wajah keduanya.
"Lenka...!" Zeehan datang tepat waktu, menangkap tubuh Lenka yang limbung dan hampir jatuh ke lantai. Wanita itu pingsan.
Zeehan segera mengendong tubuh lemah itu kedalam ruangan perawatan. Zeehan meminta seorang perawat untuk menjaga Lenka. Dan pergi ruang jenazah untuk mengurus kedua mayat orang tua Lenka.
Setelah selesai, kedua mayat itu di bawa ke rumah duka. Lenka di papah oleh Stella dan Della, ke dalam rumahnya. Lenka duduk diam didepan jenazah kedua orang tuanya. Dengan air mata yang tidak berhenti mengalir.
"Lenka, aku ikut berduka cita," kata Zeehan lembut. Lenka hanya diam, ingin rasanya memeluk pria itu, tapi sakit hati karena di pecat secara sepihak dan dihina, membuat Lenka sedikit menjaga jarak.
"Boleh aku memelukmu!" Zeehan melebarkan kedua tangannya, Lenka menangis terisak-isak menyandarkan tubuhnya di dada Zeehan, Zeehan memeluknya erat.
Aroma maskulin dari tubuh pria kesayangannya itu membuat Lenka merasa nyaman. Lenka mencoba untuk tetap tegar.
"Lenka, ada yang akan di tunggu, sepertinya semua pelayat sudah selesai berkunjung, kita akan segera membawa jenazah ke pemakaman," kata Zeehan.
"Sebentar lagi, bibiku akan datang, mereka sudah di jalan," kata Lenka lemah.
"Baiklah, kita akan menunggu mereka," kata Zeehan tanpa melepaskan pelukannya. Lenka melupakan sejenak rasa sakit hatinya.
"Bibi...!" Lenka melepaskan dirinya dari pelukan Zeehan saat bibi Julia, uncle Jhoni dan Jovan datang, Bibi Julia memeluknya erat.
"Sabar ya nak!" Bibi Julia menguatkan Lenka.
"Ya Bi!' Lenka mengangguk.
"Sabar ya Val," giliran Jovan memberikan pelukan hangatnya. Dengan sayang dia, mengecup ujung kepala kening, hingga pucuk kepala Lenka. Zeehan menatap keduanya dengan wajah cemburu, rahangnya mengetat.
"Zio mana, Van?" Lenka menanyakan keberadaan putranya.
"Ada diluar bersama dokter Stella, dia tidak mau masuk, katanya takut."
Zeehan yang dibakar api cemburu menjauh dari tempat Lenka duduk bersama Jovan dan bibinya.
"Zio, jangan lari-larian, nanti jatuh sayang," dokter Stella mengejar Zio yang tidak mau di ajak masuk ke dalam rumah. Bocah kecil itu mencoba menghindari Stella. Hingga tubuh kecil itu menabrak Zeehan yang berjalan berlawanan arah. Tubuh Zio limbung dan untungnya Zeehan dengan sigap menangkapnya.
"Thank you, uncle!" katanya tulus, karena merasa sudah di selamatkan.
"You're welcome, Boy! What's your name?" tanya Zeehan.
"My name is Kenzio, uncle!" Zeehan mendudukkan Kenzio di sampingnya.
"Kenzio...!" Jovan memanggil bocah itu.
"Daddy," Kenzio menghambur ke pelukan Jovan.
"Don't be naughty, your mama is sad, let's meet her," kata Jovan membawa Kenzio masuk. Zeehan mengikuti kedua orang itu kedalam rumah duka. Dia duduk di bangku belakang, namun dia masih bisa melihat interaksi Kenzio dengan Jovan dan Lenka.
"Ternyata kamu sudah punya anak dari pria itu, Lenka," batin Zeehan.
Tak lama, bocah itu sudah pergi lagi dari Lenka dan Jovan.
__ADS_1
"Uncle," panggilnya, Zeehan menoleh kearah pemilik suara imut itu.
"Ada apa sayang?" Zeehan mengajak Zio duduk di sampingnya.
"Bolehkan aku berkenalan denganmu," katanya mengulurkan tangan kecilnya.
"Sure, call me Uncle Zeehan," kata Zeehan memperkenalkan dirinya.
"Uncle Zeehan, I like your name," katanya dengan bicara ala orang dewasa. Zeehan tersenyum sambil mengacak rambut bocah berusia 6 tahun itu.
Zeehan yang biasanya berwajah dingin, tampak tertawa kecil saat melayani bocah kecil itu bicara dalam bahasa Inggris yang fasih. Kadang di selingi dengan bahasa Indonesia yang patah-patah.
"Uncle, mau kah kamu menjadi temanku," kata nya menatap Zeehan dengan mata puppies nya.
"Hanya teman!" jawab Zeehan.
"Sahabat juga boleh, aku tidak mau masuk kedalam, uncle, aku takut melihat mayat Opa dan Oma," katanya jujur.
"Tidak masalah, aku akan menjagamu di sini," kata Zeehan. Bocah itu duduk di pangkuan Zeehan. Dan semua itu tidak luput dari pandangan Lenka.
"Dia anakmu, Zeehan," batin Lenka. "Semula aku akan memperkenalkan Zio padamu, tapi karena kamu sudah menghinaku, aku berubah pikiran."
"Selamat siang, Dokter Zeehan," Denis duduk di samping Zeehan, sambil menyalami Zeehan, dengan senyum di paksakan.
"Hi, Denis," Zeehan membalas dengan senyum samar.
"Dengar Zeehan, jangan puas dulu setelah kau di angkat pak Tua itu menjadi Presdir, karena aku tidak akan tinggal diam," bisik Denis tenang, namun tersirat kebencian.
"Oh ya!? Kalau begitu terimakasih sudah memperingatkan ku, Denis. Aku akan lebih berhati-hati sekarang. Dan aku tidak takut padamu," tantang Zeehan sambil tersenyum mengejek.
Pemakaman segera akan di laksanakan, semua pelayat telah hadir di tempat peristirahatan kedua orang tua Lenka. Lenka berada dalam rangkulan Jovan.
Si kecil Kenzio bersembunyi di balik kaki Zeehan. " Zio, kenapa sayang?"
"I'am scared," katanya lirih, Zeehan mengendong anak itu dan menyandarkan kepala kecil itu ke pundaknya,"
"Kenapa takut?"
"Mama sedang sedih, karena di tinggal oleh Papa dan Mamanya."
"Aku tidak sedih kalau mama kembali ke Jakarta," katanya polos.
"Zio, sekarang Zio belum mengerti, Zio tidurlah di bahu Uncle,"
Zio akhirnya tertidur, namun Lenka kembali tidak sadarkan diri. Jovan segera membawanya ke rumah sakit, Darya Medika.
"Maaf, Tuan ....Kenzio sudah tertidur, aku akan membawanya ke ruanganku," kata Zeehan.
"Maaf, anda siapa?" tanya Jovan,
"Aku dokter di Rumah sakit ini, namaku Zeehan." Zeehan mengulurkan tangannya.
"Aku Jovan, Daddy nya Kenzio," Jovan menyambut uluran tangan pria yang berwajah mirip dengan Kenzio itu.
"Apakah pria ini, ayahnya Zio?" batin Jovan.
"Baiklah, Jovan, nanti kalau istri anda sudah siuman, jemput saja Kenzio di ruanganku" kata Zeehan lagi.
"Baiklah, terimakasih Zeehan!" Jovan segera ke ruangan tempat Lenka dirawat.
"Jovan, dimana putraku?" tanya Lenka lemah, saat Jovan baru melangkahkan kakinya di kamar rawat Lenka.
"Dia bersama dokter Zeehan, ..." jawab Jovan.
Lenka mengernyitkan dahinya,
"Sepertinya putramu itu begitu akrab dengan dokter itu, tidak biasanya Zio, akrab dengan orang asing," ujar Jovan lagi.
Lenka hanya diam, di memejamkan matanya sejenak dan membukanya kembali.
"Apakah dia ayah dari anakmu, Val?" tanya Jovan menunggu reaksi Lenka.
__ADS_1
Lenka menarik nafasnya yang terasa berat.
"Ya," jawab Lenka lirih, tapi ku mohon, jangan beritahu dia kalau Kenzio adalah putranya,"
"Kenapa? Bukankah.dulu, kamu bilang akan memberitahunya setelah Kenzio besar,"
"Ya, tapi tidak sekarang, Jovan. Aku akan pergi bersama kalian ke Australia, biarkan saja dia menduga bahwa kau adalah Daddy-nya Zio," kata Lenka lagi.
"Baiklah kalau itu maumu," kata Jovan mengangguk.
Setelah Lenka merasa lebih baik, Jovan segera mengajak Lenka pulang. Sebelumnya dia menjemput Kenzio di ruangan Zeehan.
"Selamat siang, Dokter Han, maaf menganggu, aku akan membawa Kenzio pulang," kata Jovan.
Zeehan yang sedang asyik bercengkrama dengan Zio menghentikan aksinya.
"Daddy, aku masih ingin bermain disini, " kata Zio dengan suara lantang.
"Zio, mama sudah sehat sayang, kita harus segera pulang, grandpa dan grandma pasti sudah nungguin,"
"Aku tidak mau pulang, Daddy!" tolak Zio. Zeehan memandang bocah kecil itu dengan senyum.
"Zio, sekarang Zio pulang dulu ya! Besok, Uncle akan mengajak Zio bermain lagi.
"Uncle tidak berbohong, kan?"
"Tidak, besok Uncle jemput Zio kerumah Mama Zio," Zeehan meyakinkan.
"Okay, aku pulang, tapi uncle antar Zio ke mobil ya!" Zio mencium pipi Zeehan dengan lembut dan turun dari pangkuan pria itu.
"Baiklah, pangeran kecil, ayo!" Zeehan mengendong tubuh bocah kecil itu keluar dari ruangan kerjanya. Sementara Lenka sudah menunggunya di mobil.
Jovan membukakan pintu mobil, Zeehan meletakkan Zio disamping Lenka, netra mereka saling mengunci sejenak, tapi kemudian Lenka memalingkan wajahnya. Tanpa bicara.
"Terimakasih Zeehan, kami pulang dulu," kata Jovan tulus. Zeehan mengangguk.
"Bye Uncle!" Zio melambaikan tangannya, dengan senyum cerah.
"Bye, Zio!" balas Zeehan membalas lambaian tangan bocah itu.
Zeehan menarik nafas panjang, saat mobil yang di kendarai Jovan, meninggalkan parkiran rumah sakit. Ada rasa yang tidak bisa dia lukiskan, setelah pertemuannya dengan Kenzio, hari ini. Seolah ada rasa yang mengikat jiwa mereka. Dan Zeehan tidak mengerti itu apa.
Setelah sampai di rumah, Lenka segera mengemasi barang-barangnya.
"Lho, sayang...kamu mau kemana?" tanya Bibi Julia heran.
"Aku akan ikut kalian ke Melbourne besok, Bi," kata Lenka.
"Kamu nggak kerja?" tanya Bibi Julia.
"Aku sudah di pecat."
"Kok bisa?" tanya Bibi Julia heran.
"Ya, pria sombong itu telah memecat ku, hanya karena sakit hatinya di masa lalu,"
"Lenka, jangan bilang kalau pria yang tadi bersama Zio adalah ayah kandungnya Zio," Bibi Julia memandang Lenka lekat.
"Sayangnya iya, Bi," Lenka mengusap air mata yang mengalir di pipinya.
"Lenka, sebaiknya kalian selesaikan masalah kalian dengan baik, Bibi tidak melarang mu untuk pergi ke Australia, tapi Bibi ingin kamu dan Zio bahagia, jika kamu memberitahu Zeehan kalau Zio putranya, Zeehan pasti akan menerima kalian, Bibi lihat dia sangat menyayangi anakmu," nasehat bibi Julia.
"Tidak Bi, aku berubah pikiran, setelah dia menghinaku sebagai perempuan murahan," jawab Lenka marah.
"Kamu tahu kan, itu hanya salah faham," Bibi Julia berusaha membujuk Lenka.
"Iya Bi, tapi tidak mau memberitahunya sekarang," kata Lenka keras kepala.
"Ya sudah, terserah padamu, kalau begitu kita berangkat ke Australia besok pagi," kata Bibi Julia.
Bersambung
__ADS_1