TAK SANGGUP MELUPAKANMU

TAK SANGGUP MELUPAKANMU
HADIAH ISTIMEWA


__ADS_3

Salah satu kelemahan Lenka adalah mudah terbuai oleh belaian lembut tangan Zeehan. Cintanya yang terlalu besar untuk Zeehan, membuat Lenka kembali jatuh dalam buaian hasrat yang bergelora.


Lenka bangkit dari tidurnya dan segera memakai pakaiannya kembali.


"Kenapa buru-buru?" Zeehan mengikuti Lenka untuk bangun. Mencoba untuk membujuk wanitanya.


Lenka tidak menjawab, dia segera keluar dari hotel itu dengan perasaan tidak menentu.


"Bodoh kau Lenka, kenapa kau begitu mudah jatuh dalam rayuannya," Lenka merutuki dirinya sendiri.


Lenka mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi meninggalkan hotel tempat Zeehan menginap.


Lenka menangis di sepanjang perjalanan pulang, sambil tak henti mengumpat dan merutuki dirinya sendiri.


Lenka sampai di Apartemen Lenka, Kenzio baru saja bangun dari tidurnya.


"Mama," panggilnya.


"Ya sayang!" Lenka buru-buru masuk ke kamar putranya, Zeehan mengikutinya dari belakang.


"Mama, dari mana? Aku dengar mama baru masuk dari luar,"


"Mama dari luar, nyari sarapan," jawab Lenka berbohong. Dia segera masuk ke kamar mandi dan membersihkan dirinya disana.


"Aku membencimu, Zeehan," jerit hati kecilnya.


"Mama," teriak Zio dari luar.


"Ya sayang, sebentar!" Lenka mengusap wajahnya dengan handuk, agar Kenzio tidak melihat air matanya.


"Ada apa sayang?" tanya Lenka setelah keluar dari kamar mandi.


"Nggak, aku hanya ingin memastikan, mama baik-baik saja," kata Zio, sepertinya anak itu melihatnya menangis.


"Mama baik-baik saja, sekarang Zio mandi dan bersiap berangkat ke sekolah. Anak itu mengangguk, tanpa bertanya lagi.


******


Zeehan berada di depan gerbang sekolah Kenzio siang itu. Dia ingin bertemu putra kecilnya yang telah lama berpisah darinya. Dia merindukan anak itu.


"Kenzio!" panggil Zeehan, saat anak itu berdiri di depan gerbang.


"Uncle Han?" Kenzio tersenyum melihat kehadiran pria itu.


"Apa kabar sayang? Uncle merindukan Zio," Zeehan berjongkok di depan bocah kecil itu.


"Kenapa Uncle pergi waktu itu?" tanya Zio, mengingat janji Zeehan untuk bertemu dengannya.


"Ibunya uncle meninggal, jadi Uncle harus buru-buru pulang ke kampung," jelas Zeehan.


"Kampungnya jauh?"


"Sangat jauh, Zio mau ikut uncle ke sana?"


"Ada lautnya, nggak?"


"Ada," jawab Zeehan.


"Kalau begitu aku mau Uncle, aku ingin naik kapal laut, bermain ombak, pasti menyenangkan,"


"Uncle akan membawa Zio ke sana, suatu hari nanti,"


"Beneran?"


"Beneran, tapi Zio harus izin sama mama dulu, Papa akan membawa Zio ke tempat yang indah," kata Zeehan tersenyum, menyebut dirinya Papa.


"Papa? memangnya uncle mau jadi papanya Zio," tanya Zio senang.


"Kalau Zio mau, Papa akan senang sekali," ulang Zio, memanggil Zeehan Papa.

__ADS_1


"Zio boleh memanggil Uncle, Papa?"


"Boleh," jawab Zeehan tersenyum manis.


"Hore, aku punya Papa?" sorak Kenzio girang, mencium lembut pipi Zeehan.


"Mm, tampan sekali anak Papa ini," puji Zeehan mengusap wajah anak itu.


"Orang bilang, aku tidak mirip dengan Daddy,"


"Tentu saja, Zio mirip sama Papa," kata Zeehan.


Zio menatap Zeehan lekat, membandingkan wajahnya dengan wajah Zeehan.


"Lebih ganteng aku,Pa!" katanya narsis.


"Iya, tentu saja, anak siapa dulu, anak Papa!" Zeehan tertawa.


"He..he," anak itu tertawa riang."Pa , Minggu depan Zio mau ke Jakarta," kata Zio.


"Ngapain?" Tanya Zeehan


"Ikut olympiade Sains, kemaren kan Zio yang menang olimpiade sains Se Surabaya,"


"Wah, anak Papa pintar ya, kalau begitu nanti, Zio nginap di tempat Papa saja,"


"Nggak bisa Pa, Zio kan dapat fasilitas hotel gratis," kata Zio bangga.


"Ya udah, nanti Papa yang akan mengunjungi Zeehan di hotel, kalau udah sampai di Jakarta telpon Papa ya!"


"Oke Papa! ....Aku senang Papa.menjemputku, aku belum pernah di jemput, teman-teman menertawakan ku, Karena aku tidak punya Papa," adu Zio.


"Siapa yang berani menertawakan anak Papa, mana orangnya?" Zeehan tampak berusaha. menghibur putranya.


"Itu Pa, namanya Dino, …" Zio menunjuk seorang anak yang berjalan bersama ayahnya. Zeehan menyapanya dengan ramah.


"Halo Dino," sapa Zeehan.  Anak itu menoleh ke arah Zeehan.


"Aku papanya Zio, senang berkenalan dengan anak baik seperti Dino," 


"Oh, maaf ya Om, saya tidak tahu kalau Zio beneran punya Papa," katanya malu.


"Nggak papa, lain kali nggak boleh membully teman ya, berteman saja, kan menyenangkan, punya banyak teman," kata Zeehan lembut.


"Ya Om," kata Dino, meminta maaf pada Zio. 


"Nah, itu baru namanya anak pintar," kata Zeehan tersenyum.


Zeehan merasa dejavu, dia pernah di bully teman-teman SD nya waktu kecil. Karena pulang pergi sekolah tak pernah di antar orang tuanya.


"Zeehan, tidak punya Papa, Zeehan anak orang gila," sorak teman-temannya, setiap kali dia keluar dari pekarangan sekolah. Zeehan kecil hanya bisa menangis, tidak berani mengadu pada ibunya, Jika dia mengadu, Ibunya akan berteriak-teriak histeris, dan memarahinya.


"Ayo kita pulang, Pa!" Ajak Zio membuyarkan lamunan Zeehan.


"Ya sayang, ayo!" Zeehan membukakan pintu mobil untuk pangeran kecilnya.


"Pa, boleh nggak aku pergi ke Mall," kata Zio.


"Zio mau beli sesuatu?" tanya Zeehan mengerutkan keningnya.


"Zio mau ke toko buku, Pa, ada buku yang mau Zio cari,"


"Baiklah, dengan senang hati," Zeehan memutar kemudi mobilnya dan membawa Zio ke pusat perbelanjaan terbesar di kota itu.


Zeehan membawa Zio ke sebuah toko buku terbesar di Indonesia, Gramedia. Zio langsung menuju tempat pajangan buku tentang sains dan teknologi. Mengambil beberapa buah buku, dan membawanya ke kasir. Zeehan geleng-geleng kepala melihat buku bacaan yang di ambil Zio. Dia tidak menyangka akan memiliki anak jenius seperti Kenzio.


"Udah Zio?" tanya Zeehan, penasaran dengan buku yang dipilih anaknya.


"Udah Pa," Zeehan membayar semua buku itu dan membantu Zio membawanya.

__ADS_1


"Kita kemana lagi?" tanya Zeehan.


"Pa, aku mau membeli kado untuk Mama," kata Zio.


"Kado untuk apa?"


"Papa, ...papa nggak tahu ya, kalau sekarang mama ulang tahun," kata Zio berdiri sambil berkacak pinggang.


"Mm,... maaf sayang, Papa lupa, Zio mau beli apa?"


"Apa ya, Zio bingung, Mama sudah punya semuanya,"


"Kalau begitu kita beli kue saja dulu, trus kita beliin Mama tas,"


"Tas kan mahal,Pa!" Zio tidak setuju.


"Nggak pa pa, buat Mama, hadiahnya harus yang istimewa," kata Zeehan.


Kedua ayah dan anak itu, sibuk memilih tas untuk Lenka, pilihan Zio jatuh pada sebuah tas tangan, bermerk Louis Vuitton berwarna hitam, dengan harga fantastis.


Zeehan membelikan sebuah cincin couple untuk melamar Lenka menjadi istrinya, nanti malam.


Zeehan dan Zio sengaja mematikan ponsel mereka.


Lenka mondar-mandir di depan pintu apartemennya. Sudah hampir pukul 9 malam, guru di sekolah mengatakan kalau Zio di jemput oleh Papanya. Lenka hanya mengiyakan.


"Kemana sih mereka, telponnya tidak aktif lagi," gerutu Lenka.


Tak lama kemudian Zeehan dan Zio sampai di apartemen.


"Zio dari mana aja? Bikin mama khawatir tau nggak," omel Lenka.


"Jangan marah dong Ma, Zio sayang sama Mama," anak itu memeluk Lenka erat. "Happy Birthday, Mama!"


"Oh,..." Lenka terperangah, dia lupa kalau hari ini adalah hari ulang tahunnya, Zeehan dan Zio membuat kejutan untuknya.


Namun, kehadiran Zeehan membuat moodnya menjadi buruk, tapi demi menjaga hati Kenzio, Lenka berusaha menutupi rasa kesalnya.


Zeehan mengeluarkan sebuah cincin dari dalam kantong celananya. "Will you marry me?" pria itu berlutut di depan Lenka.


"Say Yes, Mama!" sela Zio tertawa riang. Dia pernah menonton sebuah reality show di Televisi, sama seperti yang dilakukan Zeehan pada ibunya.


Lenka menarik nafas panjang, Dia tidak menjawab. Zeehan memasangkan sebuah cincin berlian bermata biru, sebiru lautan dikampung halamannya. Dan menciumnya dengan lembut.


Lenka menggeleng, membuka kembali cincin itu, membelakangi Zio. Zeehan menatapnya dengan hati kecewa, Lenka telah melukai pria biasa yang dulu memikat hatinya, seorang nelayan di pesisir pantai Wane, pulau sumbawa.


"Ini hadiah dari Zio, Mama!" Kenzio menyerahkan sebuah kotak kado.


"Makasih sayang," Lenka tersenyum manis pada putranya. "Sekarang, Zio tidur ya, mama mau bicara sama Uncle," kata Lenka.


"Papa, Ma! ...uncle Han sekarang, papanya Zio," kata anak itu riang.


Lenka membulatkan matanya, menatap Zeehan lekat. Pria itu telah mempengaruhi putranya. Zeehan menaikkan kedua bahunya, tanpa membantah.


"Apa yang kamu katakan pada Zio," Lenka marah.


"Aku hanya mengatakan, kalau aku adalah ayahnya, apakah itu salah?"


"Aku tidak mau kamu mempengaruhi Zio, Zeehan, kami sudah biasa hidup berdua, walau Zio tidak memiliki seorang ayah,"


"Kamu begitu jahat, Lenka! Kamu tidak tahu apa yang telah di alami Zio disekolah, dia di bully karena dia tidak mempunyai ayah. Kau tahu, betapa senangnya dia, saat memperkenalkan aku sebagai Papanya kepada teman-temannya,"


Lenka terdiam, Kenzio tidak pernah mengadu padanya mengenai hal tersebut. Selama ini anak itu terlihat baik-baik saja.


"Pergilah, aku mau istirahat," Lenka membukakan pintu apartemennya, dan memalingkan wajahnya dari Zeehan. Zeehan melangkah keluar dari apartemen itu dengan wajah penuh amarah dan kecewa


"Aku tidak akan berhenti untuk menemui anakku, Lenka!" kata Zeehan, sebelum benar-benar pergi meninggalkan Lenka.


"Zio bukan anakmu, Zio putraku, bukankah kau sendiri yang bilang, aku pun tidak tahu siapa ayah dari anakku, karena aku tidur dengan banyak pria," teriak Lenka.

__ADS_1


Lenka menutup pintu perlahan, dia berdiri menyandar membelakangi pintu, tetes air mata jatuh membasahi pipinya.


Bersambung.


__ADS_2