
Denis memang telah banyak berubah sekarang. Tidak ada lagi Denis yang arogan dan berbuat sesuka hati. Sejak mengetahui bahwa dia bukanlah bagian dari keluarga Aryadinata.
Kesombongannya seolah sirna, dengan kenyataan bahwa dia hanya seorang anak yang tidak di akui ayahnya. Namun, Pak Daniel memperlakukannya dengan baik.
"Kak, aku mau izin keluar sebentar!" kata Judith, memakai pakaian tertutup. Memakai Hoodie dan memakai masker.
"Mau kemana? Perlu aku antar?" tanya Denis.
"Nggak usah kak, hanya membeli keperluan wanita, di swalayan depan sana!"
"Oh ya udah!"
Sudah hampir setengah jam, Judith belum juga kembali. Denis keluar dari rumah dan mencari keberadaan Judith di swalayan. Tapi gadis itu tidak dia temukan disana.
"Kak, lihat seorang gadis berjaket hitam, pake masker, tingginya sebahu saya!" tanya Denis pada pegawai swalayan.
"Baru saja pergi pak!" jawab Petugas swalayan.
"Oh ya, terimakasih!" Denis kembali kerumahnya. Hatinya lega, melihat Judith sudah berada di rumahnya, tapi keadaan gadis itu tampak acak-acakan.
"Kamu kemana saja, Judith? aku khawatir terjadi apa-apa denganmu!" seru Denis.
"Kak, aku takut!" Judith berlari memeluk Denis. Tubuh gadis itu bermandikan keringat, seperti baru saja habis marathon keliling komplek.
"Kenapa?" Denis memberanikan diri membalas pelukan Judith.
"Tadi ada orang suruhan Mama menangkap ku di depan swalayan. Mereka menaikan aku kedalam mobil. Aku berhasil lolos, kak! Aku berlari dari ujung jalan, dan sembunyi menunggu mereka pergi. Agar mereka tidak melihat aku menuju kemari."
"Kalau begitu istirahatlah dulu, nanti kita bicarakan, bagaimana kalau kita hubungi Mamamu!"
"Jangan kak! Mama itu kejam, dia tidak akan membiarkan aku keluar dari rumah, dia bisa melakukan apa saja, mata-matanya ada dimana-mana."
"Kalau begitu, jika ada sesuatu yang kamu inginkan, biar aku saja yang membelikan." Ujar Denis.
"Nggak enak kak, aku hanya membeli pembalut," kata Judith tersipu malu.
"Oh, tidak masalah," Judith melepaskan pelukannya dari tubuh Denis. Dia merasa risih bersentuhan dengan pria yang lebih dewasa darinya itu.
"Maaf kak!" Judith duduk di sofa di ikuti Denis disampingnya.
"Sebenarnya, ada masalah apa antara kamu dengan Ibumu?" tanya Denis ingin tahu.
"Mama ingin aku menikah dengan pria tua, rekan bisnisnya. Aku lari dari pernikahan itu. Hal itu membuat Mama marah,"
"Siapa pria itu? Orang Australia atau orang Indonesia?" Denis penasaran.
"Namanya Gary Arkana, ... Dia seorang pengusaha Hotel dan properti di kota Denpasar,"
"Gary Arkana..!?" Denis mengulang nama itu, dia mencoba mencerna nama yang pernah dia dengar sebelumnya.
"Ya, dia tinggal di daerah Denpasar, ...aku kabur dari rumah itu kak!"
Denis teringat cerita Mama Maria, kalau ayahnya bernama Gary Arkana, apakah hanya sebuah kebetulan, atau pria itu memang adalah ayahnya.
"Berikan alamat pria itu padaku!" pinta Denis.
Judith membuka ponselnya dan memperlihatkan sebuah rumah di jalan Teuku Umar Denpasar. "Dan ini orangnya kak!" Judith memperlihatkan sebuah potret pria berumur kira-kira 50-an, yang masih tampak gagah dan berkharisma.
Dada Denis bergemuruh hebat, entah mengapa hatinya tiba-tiba berdebar kencang, melihat potret itu. Ada rasa marah dan benci, memenuhi jiwanya. Bukan karena Judith, tapi Denis yakin, pria itu adalah ayah kandungnya.
"Aku minta fotonya ya?" Denis mengirim foto itu ke ponselnya.
"Kakak mau ngapain?" tanya Denis takut.
"Nggak ngapa-ngapain, cuma berjaga-jaga, kalau suatu saat aku bertemu dengannya. Kamu jangan takut, aku akan menjagamu Judith, akan ku pastikan pria tua itu tidak akan menyentuhmu," ucap Denis meyakinkan.
"Terimakasih kak!" Judith beranjak dari samping Denis, "Aku lihat Dean dulu ya kak!"
__ADS_1
Denis hanya mengangguk. Netranya masih tertuju pada potret pria bernama Gary.
"Aku akan membuat perhitungan denganmu, GARY ARKANA," Denis menyeringai.
Denis disibukkan dengan pekerjaannya yang menumpuk di meja kerjanya. Kepala Divisi keuangan menganggarkan biaya pengadaan ambulans dan perjalanan dinas yang diluar nalar.
Dengan terpaksa, Denis memecat kepala divisi keuangan yang diduga melakukan korupsi. Jadinya sekarang, Denis harus turun tangan memeriksa sendiri data-data keuangan. Sebelum mencari orang yang akan menggantikan Kepala Keuangan yang dipecat.
"Mery, datang ke kantor saya sebentar!" Perintah Denis, pada sekretarisnya. Lewat ponselnya.
"Baik Pak!" Tak lama seorang perempuan berusia 30 tahun, masuk ke ruangan Denis.
"Ada yang bisa saya bantu Pak!" tanya wanita bernama Mery.
"Apakah kamu punya teman atau saudara yang bisa bekerja di Divisi keuangan, yang pasti jujur dan bisa dipercaya?" tanya Denis.
"Saya punya teman Pak, tapi dia sekarang sudah bekerja di Hotel Arkana, dulu dia pernah bekerja satu bulan di rumah sakit ini, tapi karena Pak Rendi tidak menyukainya, beliau di keluarkan."
"Kalau begitu, hubungi dia dan janjikan gaji yang tinggi untuknya agar dia kembali ke rumah sakit ini,"
"Saya akan mencobanya Pak! Maaf Pak Denis, apakah suami saya boleh bekerja di rumah sakit ini?"
"Kenapa memangnya?"
"Dulu ada aturan, suami istri tidak boleh bekerja di tempat yang sama, hingga suami saya juga terpaksa berhenti,"
"Kalau dia memenuhi syarat, kenapa tidak, berikan CV-nya kepada saya besok! kita butuh orang segera untuk mengisi kekosongan di Divisi keuangan."
"Baik Pak, terimakasih, saya yakin suami saya bisa bekerja dengan baik, karena beliau tamatan fakultas ekonomi di universitas ternama di Jakarta," kata Mery sumringah.
Denis mengusap wajahnya kasar, setelah seharian memeriksa pekerjaan dan menandatangani puluhan dokumen, Denis pulang ke rumah dengan wajah lelah.
"Kak, mau makan sekarang, atau mandi dulu!" Judith turun dari lantai atas, saat melihat Denis duduk di atas sofa, sambil menyandarkan tubuhnya.
"Aku mau mandi dulu, Dean sudah tidur?"
"Sudah kak! Tadi badannya panas, aku sudah memberinya obat penurun panas, sekarang Dean sudah tertidur dengan nyenyak."
"Ya kak, Aku siapkan air panas ya Kak!" Judith masuk ke kamar Denis dan menyalakan air panas di dalam bathtub, setelah mengatur suhu yang diinginkan. Judith keluar dari kamar mandi, setelah menyiapkan handuk kering untuk Denis.
"Terimakasih Judith," suara Denis mengagetkan Judith yang sedang mengambil pakaian tidur Denis di lemari.
"Eh, Kak Denis... sama-sama, airnya sudah siap!" Denis tersenyum, memperhatikan kesibukan Judith mengurus dirinya. Posisi Judith sudah seperti seorang istri rumahan, yang melayani suami dan anaknya dengan baik. Membuat rasa lelahnya hilang seketika.
"Ayo Kak, mandi dulu sana, aku akan menyiapkan makan malam untuk kakak!" Judith mendorong Denis ke kamar mandi.
"Mandiin," rengek Denis.
"Ish, apa sih !" Judith tersipu malu. Denis tertawa renyah.
Selesai mandi dan berpakaian, Denis bukannya keluar untuk makan, dia malah berbaring di tempat tidurnya.
Judith menyusul Denis ke kamar atas, karena Denis tak kunjung turun ke ruang makan.
"Kak, kakak tidur ya?" tanya Judith di depan pintu kamar Denis yang tidak terkunci. judith melihat Denis yang terbaring lesu di atas ranjang big size nya.
"Tidak, hanya sedikit tidak enak badan! Aku istirahat sebentar, kalau nanti sudah baikan, aku akan turun untuk makan," kata Denis. Pria tampan itu memejamkan matanya sejenak. Judith mendekat, dan duduk disisi ranjang.
"Kakak sakit?" Judith menempelkan punggung tangannya di kening Denis. Denis membuka matanya kembali, saat merasakan kulit mereka bersentuhan.
"Hanya telat makan, banyak pekerjaan di rumah sakit,"
"Kenapa tidak minta izin cuti saja, Kak!" Tanya Judith prihatin.
"Besok kalau sakitnya nggak hilang, aku akan izin cuti."
"Aku ambilkan obat demam ya Kak! Tapi kakak harus makan dulu!" Judith turun ke dapur dan tak lama kembali membawa nampan berisi makanan dan segelas susu.
__ADS_1
"Makan dulu ya Kak! Aku suapin!" Judith mengambil mangkok berisi sop ayam dan menyuapkan Denis yang telah duduk bersandar di kepala ranjang.
"Sedikit saja ya, rasanya mau muntah!" Kalau bukan karena di suapin Judith, Denis malas untuk mengunyah makanannya.
"Obatnya Kak!" Judith memberikan sebutir obat penurun panas.
"Terimakasih Judith, kamu boleh beristirahat sekarang, kamu pasti capek!"
Judith mengangguk tersenyum, di keluar dari kamar Denis, dan tidur dikamar Dean.
Judith memejamkan matanya sejenak, namun tak lama dia terbangun, mendengar suara Denis yang muntah di kamar sebelah. Judith buru-buru ke kamar Denis.
"KAK," Judith tampak cemas melihat Denis yang lemah di tempat tidurnya. Pakaian tidurnya kotor oleh muntahannya. Judith membantu Denis membuka pakaian atasnya. Dan membersihkan lantai yang kotor karena muntah.
"Maaf Judith, aku tidak sempat ke kamar mandi!" Denis merasa tidak enak, melihat Judith yang membersihkan lantainya yang kotor tanpa rasa jijik.
"Tidak apa Kak! Istirahatlah, aku akan menjaga kakak disini," kata Judith, setelah membawa kain kotor ke kamar mandi.
"Judith, tidurlah di sampingku!" Pinta Denis,
"Aku!" Judith merasa gugup. Tapi kemudian dia mengikuti kemauan Denis. Jantungnya berdebar kencang sangat Denis memeluknya tubuhnya erat. Sementara Denis tidak memakai pakaian atasnya.
"Peluk aku Judith," Judith memeluk Denis, dia bisa merasakan suhu tubuh Denis yang panas, namun pria itu menggigil kedinginan.
Judith pernah membaca sebuah artikel, bahwa untuk menurunkan demam panas, bisa dilakukan dengan skin to skin. Dengan sedikit ragu, Judith membuka sendiri pakaiannya dan memeluk Denis erat.
Dini hari, Denis terbangun dari tidurnya. Tubuhnya merasa lebih baik sekarang. Dia merasakan sesuatu yang lembut menyentuh dada bidangnya. Denis tersenyum manis, saat melihat, Judith tidur dengan kepala berada dibawah lengannya, dadanya yang polos menempel erat ditubuh Denis. Denis mengecup pucuk kepala gadis itu dengan lembut.
Judith menggeliatkan tubuhnya, membuat Denis merasakan hasrat yang telah lama terpendam itu bangun dengan sendirinya. Denis menarik nafas dalam-dalam. Saat ini dada Judith yang tidak terlalu besar berada tepat di depan wajahnya.
"Judith, kau membuatku gila!" Denis berusaha meredam hasratnya. Berusaha menahan diri untuk tidak menyentuh tubuh polos didepannya itu, karena Judith sedang tidur. Dia tidak ingin Judith menganggapnya kurang ajar.
Denis makin gelisah, "Judith,.." Denis memeluk tubuh gadis itu dan mencium bibir Judith lembut. Gadis itu terbangun, dan mendorong tubuh Denis karena kaget.
"Kak, apa yang akan kakak lakukan?" Judith menutupi tubuhnya dengan selimut.
"Maafkan aku Judith, aku...aku tidak tahan lagi melihat tubuhmu seperti ini, kamu memancing hasratku untuk..." Judith membungkam mulut Denis dengan bibirnya, gadis itu seolah ingin mengabulkan permintaan Denis untuk melampiaskan hasratnya.
"Judith,...!" Denis menatap Judith dengan netra yang berkabut gairah. Judith mengangguk.
"Kamu tidak akan menyesal?" tanya Denis.
"Asal kakak memenuhi janji untuk menikahi ku!" ucap Judith.
Karena mendapat angin segar, Denis melanjutkan aksinya untuk mencumbu Judith, gadis itu tidak menolaknya, dia menikmati setiap sentuhan yang diberikan Denis.
"Pelan-pelan ya Kak!" desah Judith.
"Seperti yang kamu inginkan, sayang!" Bisik Denis. Suaranya terdengar serak, karena tak tahan lagi untuk segera menyatukan diri dengan gadis manis yang telah mencuri hatinya sejak pertama kali berada di Bali.
"Kak Denis, sakit!" Judith meringis saat Denis menyatukan tubuhnya dengan hentakan yang dalam. Denis menghentikan hentakannya, menunggu Judith merasa nyaman. Dia kaget saat mengetahui jika Judith masih perawan.
"Masih sakit?" bisik Denis lagi.
"Tidak,..." Judith menggigit bibirnya saat merasakan sebuah kenikmatan yang baru pertama kali dia rasakan. Dia mendesah, saat sesuatu yang hangat keluar dari tubuh bawahnya, bersaman dengan erangan Denis yang menyudahi permainan ranjang mereka.
"Judith, kamu masih Virgin?" Denis mengusap wajah Judith dengan lembut.
"Apakah itu penting Kak?" Tanya Judith. Judith memang belum pernah pacaran dengan pria manapun, karena mamanya adalah seorang yang ortodoks. Sementara teman-teman Judith, sudah melakukan hubungan seksual dengan kekasih mereka saat masih SMA.
"Bagiku tidak, tapi aku merasa mendapat Jackpot," kata Denis tertawa.
"Bagiku, tidak ada gunanya juga mempertahankan kesucian, hal ini yang membuat Mama menjual ku dengan harga yang mahal," keluh Judith sendu.
"Mamamu menjual mu pada pria tua itu?" Tanya Denis berang.
"Sepertinya begitu, dulu, mama membuat penawaran yang tinggi, karena aku masih Virgin. Pak tua itu menyetujuinya dan memberi mama uang yang banyak, dia membawaku ke Bali dengan modus sebuah pernikahan."
__ADS_1
Denis mendengarkan kisah Judith dengan seksama. Dia berjanji untuk segera menikahi Judith dan menemui mama Judith dan pria tua yang telah membelinya.
*****