
Setelah dari rumah David, menengok Kesya. Lenka dan Zeehan berangkat ke tempat Kenzio mengikuti olimpiade Sains. Dari informasi yang mereka terima, Zio adalah peserta termuda dalam olimpiade itu. Lenka sangat bangga mendengarnya. Dia tidak menyangka akan memiliki seorang putra yang luar biasa di usianya yang masih sangat muda.
Beberapa menit menunggu, akhirnya Kenzio keluar dari ruangan Labor komputer tempat olimpiade itu dilaksanakan.
"Papa...! Mama....!" Teriak Kenzio berlari menghampiri kedua orang tuanya.
"Gimana sayang, ujiannya mudah apa susah?" tanya Zeehan mengendong bocah itu.
"Ada yang gampang, ada yang susah juga Pa, tapi Zio bisa kok ngerjainnya." Kenzio merasa sangat optimis.
"Itu baru namanya anak Papa, udah boleh pulang atau belum?" tanya Zeehan.
"Udah Pa, itu Pak Gito, guru pendamping Zio," Kenzio menunjuk seorang pria yang berjalan kearah mereka.
"Selamat sore Pak Gito, saya Papanya Zio dan ini mamanya Zio, kami izin membawa Kenzio pulang," kata Zeehan.
"Oh ya, nggak apa-apa Pak Zeehan, tapi besok pagi, harap datang tepat waktu, masih ada ujian 2 kali lagi, dan itu akan menentukan pemenangnya," Pak Gito menjelaskan.
"Ya pak gito, kami akan mengantarkan Kenzio tepat waktu, kami izin pamit," janji Zeehan.
"Baiklah, kalau begitu, istirahat yang cukup ya Zio," pesan Pak Gito.
"Siap pak!" sahut Zio mengangguk hormat.
Zeehan sudah bersiap di depan kemudi, Lenka duduk di samping Zeehan, sementara Kenzio berada di bangku belakang.
"Kita mau kemana dulu ni, mau makan atau langsung pulang." Zeehan memandang kedua orang yang dia sayangi dengan penuh cinta.
"Pa, Zio mau makan makanan Jepang, boleh ya Pa!" tawar Kenzio.
"Baiklah, kita ke restoran Jepang," sahut Zeehan membawa mobilnya menuju tempat yang di maksud putranya. Sebuah restoran kekinian yang menghadirkan menu masakan Jepang dan memiliki meja meja kecil dan duduk lesehan.
"Bu dokter!" teriak seseorang anak kecil begitu mereka masuk ke dalam restoran. Lenka menoleh ke sumber suara. Kebetulan restoran itu tidak begitu ramai pengunjung.
"Hai, Kesya...sudah sembuh sayang?" Lenka mendekati gadis manis itu dan mencium kedua pipinya bergantian.
"Udah Bu dokter, Kesya lapar, jadi Kesya ajak papa dan Oma ke sini," jawab Kesya tersenyum riang.
"Oh, Bu dokter juga lapar, kebetulan Kenzio ngajak makan di sini," terang Lenka.
"Han, gabung saja bersama kami disini," kata David.
"Terimakasih, ayo Zio duduk nak," Zeehan menyuruh Zio dan Lenka duduk di hadapan David dan keluarganya.
"Papa, aku mau pesan sushi sama tempura ya!" kata Kenzio bersemangat.
"Boleh, kamu mau makan apa sayang?" tanya Zeehan pada Lenka.
"Mm, sama kayak Zio aja,"
"Bu dokter, apakah kakak itu putra Bu dokter?" tanya Kesya, sembari mata bulatnya menatap Zio tanpa henti.
"Iya sayang, Bu dokter lupa, Zio ini Kesha, Kesha ini Zio," Lenka memperkenalkan kedua anak kecil itu.
"Hai kak Zio," sapa Kesha tersenyum ramah.
"Hai Kesya," Kenzio membalas dengan senyum manisnya.
__ADS_1
"Kak Zio kelas berapa?" tanya Kesya.
"Kelas 3, Kesya kelas berapa?"
"Baru kelas satu, kak? Memangnya umur kak Zio berapa? tanya gadis kecil itu lagi.
"Tujuh," jawab Zio singkat.
"Aku juga tujuh, memangnya kak Zio masuk SD umur berapa?"
"Umur 6 tahun Kesya, jadi kakak loncat kelas ke kelas 3 karena kakak udah bisa pelajaran kelas Satu dan dua" terang Kenzio bangga.
"Wah, kak Zio pintar ya pa!" kata Kesya pada David , ayahnya.
"Iya, Kesya bisa belajar bersama Zio, jika Kesya mau,"
"Aku mau Pa, aku mau!" sorak Kesya kegirangan.
"Ya, nanti Kesya boleh main ke rumah Bu dokter, belajar sama Kak Zio, temani sama Oma juga boleh," kata Lenka tersenyum ramah.
"Makasih Bu dokter," jawab Kesya dengan suaranya yang imut menggemaskan.
Begitu hidangan mereka sampai, Kenzio tampak makan dengan lahap.
"Zio suka makanan Jepang ya?" tanya David, tersenyum melihat bocah kecil itu menyantap habis hidangannya.
"Iya Om, Zio pingin pintar kayak orang jepang," katanya tertawa kecil.
"Oh ya?"
"Begitu ya!" kata David tertawa kecil.
"Iya Om, Om David tidak percaya ya sama Zio," Anak itu memandang David lekat.
"Percaya, buktinya Zio kan pintar,"
Zeehan dan Lenka tertawa kecil menyaksikan percakapan kedua pria berbeda generasi itu.
Bahkan keduanya sempat berdebat tentang apa saja yang dibahas David untuk menguji kepintaran Kenzio.
"Lain kali, kita ngobrol lagi Zio, Om suka berbicara dengan anak yang kritis sepertimu," sanjung David.
"Terimakasih Om, Zio juga senang bisa belajar dari Om, " jawab Zio tidak mau kalah memuji.
Menjelang petang, Zeehan dan keluarganya pulang ke rumah. Begitu sampai di rumah, mereka di kejutkan oleh suara seorang wanita berteriak-teriak histeris. Di depan pagar rumah mereka.
"Tunggu di sini, Sayang, biar aku yang turun," kata Zeehan pada Lenka,.yang sepertinya takut melihat wanita itu.
"Ibu Maria," panggil Zeehan lembut.
"KAU, KAU YANG MENGHANCURKAN KELUARGAKU, KAU YANG MEMBUAT SUAMIKU MENGABAIKAN AKU DAN ANAKKU, DENIS, KAU BRENGSEK, ANAK KAMPUNG!" teriak Maria menunjuk-nunjuk wajah Zeehan kalap.
"Bu Maria, sebaiknya kita masuk dulu ke rumah, kita bicara di dalam ya!" kata Zeehan menenangkan.
"TIDAK MAU, KEMBALIKAN SEMUA YANG SUDAH MENJADI HAK DENIS, SEMUA ITU MILIK DENIS, BUKAN KAMU!"
"Bu Maria, saya tidak tahu apa masalah anda dengan Papa, Papa tidak mempercayakan perusahaannya pada Denis, itu karena salah Denis sendiri," Jawab Zeehan tenang.
__ADS_1
"ITU KARENA DIA MEMBENCI DENIS, SEJAK KEHADIRANMU DI TEMPAT INI,"
"Bu Maria, kita bicara baik-baik di dalam, aku akan memberikan haknya Denis, jika memang dia adalah saudaraku, sedarah denganku." Zeehan menekankan. Zeehan meraih tangan wanita itu dan menggenggamnya erat. Zeehan teringat akan ibunya yang juga pernah mengalami depresi, bahkan lebih parah dari ibu Maria.
Wanita itu diam, Denis memang bukan putranya Daniel, tapi putra seorang laki-laki brengsek yang tidak bertanggung jawab.
Pria itu bernama Gery, yang menjadi kekasihnya saat masih kuliah. Karena Gery tidak mau bertanggungjawab dengan kehamilannya, Maria menjebak Daniel untuk tidur dengannya, dan mengakui bahwa anak yang dikandung Maria adalah karena perbuatan Daniel. Daniel terpaksa menikahi Maria, yang juga putri sahabat ayahnya. Padahal saat itu Daniel sudah menikah dengan Ratna, ibunya Zeehan.
"Maaf Bu Maria, kami masuk dulu, tidak enak dilihat tetangga, ayo kita masuk," ajak Zeehan lembut. Wanita itu menurut, Zeehan membukakan pintu gerbang dan meminta Lenka untuk membawa mobil ke dalam garasi.
Zeehan merangkul Bu Maria dengan hangat. Menyuruh wanita baya itu duduk di sofa. Lenka mengantar Kenzio ke kamarnya. Dan tak lama setelah itu kembali ke ruang tamu dengan membawa minuman.
"Silahkan, di minum Bu!"
"Valen..." wanita itu kaget karena tidak menyadari kehadiran Lenka sebelumnya.
"Ya Bu, saya istrinya Zeehan," kata Lenka tersenyum ramah.
"Oh, jadi anak kecil tadi anak kalian," tanyanya, suaranya mulai tenang.
"Iya Bu, namanya kenzio,"
Wanita itu manggut-manggut, kemudian kembali menatap Zeehan, matanya mulai berkaca-kaca.
"Aku hanya tidak mau Denis menderita Zeehan, dia sekarang tidak punya apa-apa lagi, istrinya Clarissa juga banyak menuntut, hingga Denis ingin menceraikannya."
"Bu Maria, aku akan membantu Denis, aku akan memberikan rumah sakit yang ada di Bali untuk dia kelola, jika dia gagal, aku tidak akan membantunya lagi," kata Zeehan.
"Tapi, Bali terlalu jauh Zeehan,"
"Dia bisa mengajak anak dan istrinya tinggal disana, tapi kalau dia tidak mau, saya juga tidak memaksa. Kalau Rumah sakit di sini, saya tidak akan menyerahkannya, karena Papa sudah memberi saya tanggung jawab."
"Ibu akan membicarakan hal itu dengan Denis."
"Satu lagi Bu Maria, katakan pada Denis, untuk tidak meneror keluargaku lagi, karena aku tidak akan segan untuk memberinya pelajaran," kata Zeehan tegas.
"Baiklah, ibu akan menyampaikannya."
"Ibu jangan khawatir, untuk uang belanja ibu, aku akan mengirimkannya setiap bulan ke rekening ibu," Zeehan menambahkan.
"Terimakasih nak, maafkan ibu, ibu telah membuat kamu dan ibumu terlantar, tapi kamu tidak dendam pada ibu."
"Tidak ada gunanya mendendam Bu Maria, aku hanya ingin, kita hidup berdampingan secara damai, aku akan bicara dengan papa, untuk tidak menceraikan ibu Maria," janji Zeehan.
Wanita itu mengangguk dan memeluk Zeehan erat. Lenka ikut terharu dengan kelembutan hati suaminya.
"Valen, kamu memang pantas untuk Zeehan, nak!" Bu Maria memeluk Lenka bergantian.
Lenka mengangguk tersenyum.
"Terimakasih Bu, kami akan menerima kedatangan ibu dirumah kami, kapanpun ibu datang," kata Lenka ramah.
"Kalian memang memang memiliki hati yang mulia, terimakasih," kata Bu Maria lagi.
Wanita itu kemudian pamit untuk pulang setelah berbincang lama dengan Zeehan dan Lenka, tentang papa dan mama Lenka.
Bersambung.
__ADS_1