TAK SANGGUP MELUPAKANMU

TAK SANGGUP MELUPAKANMU
JUDITH HARTLEY


__ADS_3

Judith menjaga bayi Deanza dengan sangat baik, wanita berparas cantik itu sangat menyukai bayi Dean. Apalagi Deanza bukanlah bayi yang cengeng. dan banyak tingkah.


"Kak Denis kerjanya dimana?" tanya Judith, siang itu saat Denis pulang dari rumah sakit.


"Kerja di kantor, di rumah sakit Darya Medika,"


"Oh, rumah sakit yang besar itu ya kak," sahut Judith.


"Iya, aku bekerja di bagian personalia, kamu mau masuk kerja disana, aku bisa bantu,"


"Nggak kak, aku tidak mau kerja kantoran, aku mau bekerja disini saja sama kakak biar bisa jagain Dean, aku menyukai anak itu," jawab Judith jujur.


"Dia tidak merepotkan mu kan?"


"Tidak Kak," jawab Judith riang.


Denis menatap gadis itu lekat, wajahnya yang tirus dan matanya yang lentik, membuat Denis betah menatapnya. Merasa di perhatikan, Judith tersipu malu.


"Judith, ceritakan tentang orang tuamu!" titah Denis.


"Mm, ibuku orang Australia asli, tepatnya Melbourne, ayahku orang asli Bali, namanya I Made Astawan...tapi orang tua ku bercerai sejak aku kecil," wajah Judith berubah sendu.


"Kamu tidak ingat dimana rumah ayahmu?"


"Aku ingat, rumahnya di dekat kantor polisi, tapi orang-orang suruhan Mama, sudah berjaga-jaga disana, aku tidak berani mendekat,"


"Jika aku tidak sibuk, aku akan mencoba mencarinya."


"Terimakasih Kak!" Judith memandang Denis dengan senyum manisnya. Denis membalas senyuman itu dengan penuh arti.


"Berapa usiamu, Judith!"


"20 tahun, kak!"


Denis mengangguk.


Selesai makan siang, Denis kembali bersiap untuk berangkat ke kantornya. "Judith, aku pergi dulu ya, jagain Dean," Denis membelai rambut Dean yang sedang berada dalam gendongan Judith.


"Ya kak, jangan khawatir," Judith tersenyum, mengantar Denis ke depan pintu.


"Ambillah uang ini, kamu juga butuh kan?" Denis menyerahkan sejumlah uang seratus ribuan ke tangan Judith.


"Tidak kak, tidak usah, aku tidak akan keluar dari rumah, lagian semua sudah ada disini,"


Judith menolak dengan halus.


"Ambillah, mungkin kamu butuh pakaian baru, kamu bisa memesannya secara online," saran Denis


"Baiklah, makasih Kak!" Judith menerima uang itu dan menyimpannya di kantong. Setelah Denis keluar, Judith mengunci pintu dari dalam.


"Dean, main disini dulu ya, Aunty mau setrika bajunya Papa." Judith meletakkan bayi Dean di tempat tidur, dan melakukan pekerjaan rumah tanpa gangguan.


Judith melakukan pekerjaan rumah dengan baik, sepertinya Gadis itu telah terbiasa melakukan semuanya sendiri.


Menjelang sore, bayi Dean tampak rewel, anak itu menangis tak henti, membuat Judith bingung dan panik.

__ADS_1


"Sayang, kamu kenapa? Haus ya!" Judith buru-buru membuatkan sebotol susu formula, namun anak itu tidak mau meminumnya.


"Dean, kamu kenapa sayang, jangan bikin Aunty takut," Judith mengendong bayi itu dan mencoba mengayunkan dalam pelukannya. Tangisan itu tidak juga berhenti.


"Duh, gimana ini, apa aku harus telepon Kak Denis ya, tapi bagaimana kalau kak Denis sibuk," gumam Judith.


Judith mencoba mencari cara di google agar bayi itu tenang.


"Menyusui, mungkin bisa membuat Dean tenang, tapi apa bisa, aku kan nggak punya Asi, tapi biar saja kucoba, siapa tahu bayi Dean bisa tenang, Kak Denis kan tidak ada."


Perlahan Judith membuka kancing baju tidurnya, dan mengeluarkan sebelah pa****ranya, dan memberikannya pada bayi Dean. Awalnya sedikit geli, namun mampu membuat bayi itu diam dan akhirnya tertidur.


Judith yang kelelahan akhirnya ikut tertidur tanpa menyadari Denis masuk kekamar Dean.


Denis kaget melihat pemandangan di depannya, melihat Deanza dan Judith tertidur pulas dengan posisi Dean sedang menyusu di dada Judith yang terbuka, membuat dada Denis berdebar kencang. Dia buru-buru berbalik dan melangkah menuju kamarnya.


Pemandangan yang tak biasa itu membuat jiwa jomblo Denis meronta-ronta. Sudah lama dia tidak menyentuh wanita. Sejak Papa Daniel, memblokir semua keuangannya. Denis terpaksa berhenti bermain wanita.


"Judith, kamu membuat gairahku menyala," bisik Denis gelisah. Denis segera kekamar, menyalakan shower dan berdiri dibawahnya, mencoba memadamkan hasrat yang bergelora.


Judith terbangun dari tidurnya, saat waktu menunjukkan pukul 8 malam. Menyadari pakaian atasnya yang terbuka, Judith buru-buru menutupinya. Dia segera keluar dari kamar Dean dan melangkah menuruni anak tangga menuju dapur. Denis sudah berada di dapur sedang memotong sayuran.


"Maaf kak, aku ketiduran, biar aku yang lanjut memasak, kakak mau makan apa?" Judith berdiri disamping Denis, begitu dekat hingga kulit tangan mereka bersentuhan. Denis menatap Judith sesaat, seakan ada aliran listrik yang mengalir dalam darahnya.


"Tidak apa-apa, Judith. Kamu bukan Asisten Rumah Tangga, kamu tidak perlu merasa bersalah jika tidak melakukan pekerjaan rumah," kata Denis.


"Aku nggak masalah kok kak, aku senang melakukannya," Judith mengambil alih dapur untuk memasak.


"Masak apa saja yang kamu mau, aku akan memakannya," kata Denis akhirnya mencuci tangannya di wastafel dan duduk di kursi dapur. Matanya tak lepas dari wajah cantik Judith.


Merasa diperhatikan, membuat Judith deg degan. Gadis itu tampak terganggu dengan rambut panjangnya yang tergerai, sementara tangannya basah oleh bahan makanan. Denis mendekat dan mengikat rambut Judith dengan karet gelang, dan mencepolnya ke atas. Jantungnya berdebar kencang, melihat leher putih Judith. Denis terpana sesaat.


"Makanannya sudah siap kak!" Judith menyodorkan mangkok berisi sayur SOP, kesukaan Denis."


"Dean masih tidur?" tanya Denis


"Iya kak, tadi dia rewel, nangis terus, aku jadi panik," aku Judith.


"Terus, bagaimana bisa Dean bisa tidur?"


"Aku..." Judith mengentikan ucapannya.


"Kamu menyusuinya?"


"Hah,..kakak melihatku, oh ...tidak!" Judith menutup wajahnya dengan kedua tangan, wajahnya memerah.


Denis tersenyum, "Tidak apa, tidak perlu malu, makasih ya, sudah mau jagain Dean,"


"Sama-sama Kak! Aku juga berterimakasih, kakak sudah mau menerimaku di sini,"


"Kamu tidak ingin mencari ayahmu?" tanya Denis mengingat, sudah hampir satu bulan Judith berada di rumahnya.


"Aku mau kak, aku hampir lupa tujuanku kemari, karena sudah nyaman disini,"


"Kalau begitu, hari Minggu besok, aku akan mengantarmu mencari ayahmu,"

__ADS_1


"Makasih Kak! Tapi, jika aku tidak bertemu dengan Ayah, aku tidak mau kembali ke Australia kak, aku mau tinggal disini saja." kata Judith memohon.


"Baiklah, tapi... Bagaimana dengan izin tinggal kamu?"


"Entahlah, aku bingung Kak,"


"Judith, maukah kamu menikah denganku?" kata Denis menatap Judith lekat.


Gadis itu membalas tatapan Denis bingung, tidak tahu harus menjawab apa,"


"Maaf Judith, kalau permintaanku agak berlebihan. Aku tahu aku hanya seorang duda beranak satu, pegawai kantoran biasa, yang jauh dari harapanmu," Denis menyudahi makannya dan meminum segelas air putih, yang sudah disediakan Judith didepannya.


"Bukan begitu, Kak! Bagiku, status itu tidak penting, tapi ini terlalu cepat bagiku, kak!"


"Kamu belum siap menikah?" tanya Denis lagi.


Judith diam sejenak, mencoba mencari jawaban yang tepat. Kalau boleh jujur, dia juga memiliki rasa yang berbeda jika berada di dekat Denis. Sikap Denis yang baik dan ramah serta penyayang, membuat Judith merasa nyaman.


"Kak, jujur aku belum pernah jatuh cinta, aku takut pernikahan kita gagal, jika kita menikah tanpa cinta." jawab Judith.


"Cinta bisa tumbuh setelah kita menikah, aku berjanji akan menjagamu dengan baik,"


"Beri aku waktu, ya Kak!" kata Judith. Denis mengangguk. Keduanya sama-sama diam, tenggelam dalam pikiran masing-masing.


Suara tangis bayi Dean kembali terdengar, membuat Judith spontan beranjak dari tempat duduknya. Di ikuti Denis.


"Sayang, kamu lapar ya? Atau basah?" Judith memeriksa celana bayi Dean, benar saja, anak itu pun di popoknya. Judith segera membersihkannya dengan tisu basah. Denis memandang keduanya dengan senyum cerah.


Hubungan batin yang cukup kuat antara Judith dan anaknya, membuat Denis yakin untuk memperistri Judith. Walaupun Judith baru berusia 20 tahun, dan dia sendiri hampir 27 tahun.


"Kak, minta tolong bikinin Dean susu ya, sepertinya dia lapar!" ucap Judith sambil mengganti popok dan pakaian Dean, dengan pakaian baru. Denis menurut, dia melangkah ke dapur dan membuat 2 botol susu untuk Dean.


"Ini," Denis duduk disisi tempat tidur dan menyerahkan botol susu itu ketangan Judith.


"Makasih Kak!" Judith mengendong bayi Dean, dan memberikan botol susu pada Dean.


Anak itu menyedotnya sampai habis.


"Mm, laper ya sayang? Mau lagi?" Judith memberikan botol yang kedua, namun Dean menolaknya.


"Nggak mau lagi, ya udah...mau bobok atau mau main sama Aunty, atau sama Papa?"


"Sini, Main sama Papa!" Denis mengambil Dean dari gendongan Judith. Gadis itu beranjak membereskan pakaian kotor Dean dan memasukkannya ke dalam keranjang.


"Kak, pakaian kakak yang sudah aku setrika mau aku taruh dimana," tanya Judith, saat memasukkan pakaian Dean kedalam lemarinya.


"Masukkan ke dalam lemari di kamarku, Kamarnya tidak dikunci," sahut Denis yang asyik bercengkrama dengan Dean.


"Maaf kak, aku tidak berani masuk ke kamar kakak," kata Judith.


"Nggak Pa-pa, nggak ada apa-apa di kamarku, Judith, kamu boleh masuk kok,"


"Baiklah!" Judith masuk ke kamar Denis dengan membawa keranjang berisi pakaian Denis, dan menatanya di dalam lemari. Tanpa sengaja Judith menjatuhkan sesuatu dari balik tumpukan pakaian Denis.


Judith memungutnya, selembar foto Denis bersama seorang wanita cantik. Judith mengerutkan keningnya, dia merasa pernah mengenal wanita itu, tapi dimana? Judith tidak mampu mengingatnya. "Apakah dia ibunya Dean?" batin Judith.

__ADS_1


Buru-buru Judith meletakkan kembali foto itu kedalam lemari. Dan segera keluar dari kamar.


Bersambung....


__ADS_2