
"Kemana saja sih, Ma? Dari tadi Denis nyariin!' Denis menyambut ibu Maria dengan tatapan sinis, begitu wanita itu sampai di rumah. Maria hanya menarik nafas kesal, melihat putranya yang berubah drastis sejak Zeehan diangkat menjadi Presiden Direktur Rumah sakit Darya Medika. Anak itu sekarang suka marah-marah dan keluyuran entah kemana.
"Kerumah Zeehan," jawab Bu Maria ketus.
"Ngapain mama kerumah anak haram itu."
"Denis, kamu nggak boleh ngomong begitu, dia kan masih saudaramu,"
"Hah, bukankah Mama yang bilang begitu, sekarang kenapa Mama membela dia," gerutu Denis tertawa mengejek Bu Maria.
"Mama menemui Zeehan, untuk meminta bagian dari warisan papamu,"
"Lalu, dia mau?"Denis penasaran.
"Dia mau memberikan rumah sakit yang ada di Bali, itupun kalau kamu mau," Bu Maria berjalan ke arah dapur dan mengambil minuman di kulkas.
"Dia mau menyingkirkan aku kan, Ma!" Denis duduk di sofa dan menyandarkan tubuhnya di sana.
"Rumah sakit itu cukup besar, Denis, kamu bisa mengajak Clarissa tinggal di sana, Zeehan akan menyerahkan sepenuhnya rumah sakit itu padamu, tapi jika kamu gagal, dia tidak akan membantumu," kata Bu Maria kesal. Karena Denis selalu membantahnya.
"Aku akan menceraikan Clarissa Ma, tak peduli dia mau atau tidak, setelah itu aku akan kembali membujuk Valen agar mau menikah denganku,"
"Terlambat Denis, Valen sudah menikah dengan Zeehan, mereka sudah memiliki seorang anak sebelum menikah, dan sekarang Valen sedang hamil anak kedua," jelas Bu Maria, Sambil menghabiskan minuman di gelasnya sampai tandas.
"Kapan mereka menikah, Ma? Mama jangan mengada-ada," Denis tampak tak percaya.
Pria itu mengernyitkan dahinya.
"Mama tidak tahu pasti, tapi mereka akan mengadakan resepsi satu bulan lagi."
Denis mengusap wajahnya kasar. Jujur dia menyukai Lenka dari dulu. Tapi karena merasa memiliki segalanya, Denis suka berpetualang dari satu perempuan ke perempuan lainnya. Dengan ketampanannya, Denis mampu memikat perempuan mana yang dia inginkan. Setelah mendapatkan perempuan itu, Denis akan pergi meninggalkannya begitu saja.
Perbuatan Denis yang tidak terpuji itu, membuat Papa Daniel tidak menyukainya. Padahal Daniel Aryadinata, berharap banyak, Denis bisa membantu meringankan pekerjaannya di kantor. Apalagi Denis adalah seorang yang pintar. Entah faktor apa yang membuat pria itu berubah menjadi seorang yang pemalas dan bermain perempuan.
"Zeehan, kenapa kamu selalu mengambil apa yang telah menjadi milikku," geram Denis.
"Denis, Mama harap kamu jangan lagi mengganggu keluarga Zeehan, Mama tidak ingin kamu kenapa-kenapa," kata Bu Maria.
Denis tidak menjawab perkataan ibunya, dia mencoba berpikir, apa yang bisa dia lakukan untuk menghancurkan Zeehan. Karena usahanya meneror Zeehan gagal total, karena ada orang yang melindungi Zeehan dan keluarganya.
Dia ingat sesuatu, ...seseorang yang akan bisa menghancurkan hubungan Zeehan dan Lenka. Senyuman jahat tersungging di wajahnya yang tampan. Denis bangkit dari duduknya, dan berjalan keluar rumah
"Denis, mau kemana kamu?" teriak Bu Maria, namun pria itu tidak mengacuhkannya.
Denis menjalankan mobilnya menuju sebuah rumah yang terletak di pinggir kota, sebuah hunian yang asri dimana dulu dia dan Clarissa tinggal bersama anak mereka yang masih kecil.
__ADS_1
"Masih ingat pulang?" sindir Clarissa, begitu dirinya sampai di rumah itu.
"Aku pulang bukan untuk mencari mu, Clarissa, tapi aku mau meminta nomor ponselnya Kak Sherly," ucap Denis arogan.
"Buat apa?" Clarissa mengernyitkan sebelah alisnya.
"Bukan urusanmu, cepat berikan nomor telpon itu, aku mau menemuinya," kata Denis kasar.
"Kalau aku tidak mau,"
"Jangan membuatku marah Clarissa, atau aku akan memukulmu,"
"Pukul saja kalau berani, suami macam apa kamu Denis, kau keterlaluan. Lihat anakmu, dia membutuhkanmu, kau pikir apa yang bisa ku lakukan, aku ingin bekerja tapi tidak bisa, karena dia masih terlalu kecil." Clarissa marah, sambil memukul dada Denis dengan keras.
"Jangan menantang ku Clarissa, aku sudah pernah bilang padamu, aku tidak mau kau atur, cepat kau berikan nomor ponsel Sherly, dan aku akan pergi,"
"Aku tidak mau," Clarissa meninggalkan Denis dan mengunci diri di kamarnya.
"Clarissa, buka pintunya atau akan ku dobrak," Denis tampak kesal.
"Clarissa," teriak Denis. Suara teriakan Denis membuat bayi mereka yang baru berusia 5 bulan menangis kencang.
Denis terdiam di depan pintu kamar, dia lupa kalau dirumah itu juga ada malaikat kecil, yang lahir dari pernikahannya dengan Clarissa.
Denis berkenalan dengan Clarissa saat menghadiri pesta ulang tahun temannya Denis di sebuah club malam. Denis yang tidak bisa diam jika melihat wanita cantik, memanfaatkan ketampanannya untuk menggoda wanita. Kali ini sasarannya adalah Clarissa. Gadis dengan Tubuh tinggi semampai dan berkulit putih. Tak perlu waktu lama bagi Denis mendapatkan Clarissa.
"Clarissa, buka pintunya!" Suara Denis sedikit melunak. Clarissa membuka pintu, sambil mengendong bayi kecil mereka.
"Lihat anakmu, Denis! Kau masih tidak mau mengakuinya? tanpa tes DNA pun orang-orang akan tahu bahwa dia anakmu,"
Denis menatap bayi kecil yang menangis dalam gendongan Clarissa.
Wajah kecil itu sangat manis dan tampan, matanya persis mata Denis, hidungnya dan juga bibirnya. Tapi dia tidak mengetahui siapa nama putranya.
"Jika kamu tetap ingin menceraikan ku, tidak apa Denis, tapi jangan pernah meminta hak asuh anakku, karena aku tidak akan mengizinkan kamu bertemu dengannya suatu saat nanti, agar dia tidak mengenal ayahnya yang tidak punya hati seperti kamu," sarkas Clarissa.
"Berikan nomor ponsel Sherly, aku akan mempertimbangkan akan menceraikanmu atau tidak," kata Denis memaksa.
"Aku tidak akan mengharapkan kamu lagi, Denis. Sudah cukup aku sakit hati karena ulahmu, sekarang pergilah aku tidak mau melihatmu lagi di rumah ini."
Clarissa mendorong Denis untuk keluar dari rumahnya. Namun pria itu tidak bergeming, karena tenaga Clarissa tidak cukup kuat untuk melakukannya.
"Clarissa, berikan nomor ponsel Sherly, aku tidak akan pergi sebelum mendapatkannya."
"Apa yang akan kamu lakukan pada kak Sherly?"
__ADS_1
"Itu urusanku, kamu tidak perlu tahu," geram Denis.
"Oh, ....aku tahu....kamu ingin menghancurkan Zeehan kan? Karena kak Sherly pernah menikah dengan Zeehan. Dan kau akan memanfaatkannya demi tujuanmu, kalau begitu aku tidak akan memberikannya padamu," Clarissa tertawa mengejek.
"Baguslah kalau kau tahu,"
"Ha..ha, Denis...Denis...aku harap, anakku tidak malu mempunyai ayah sepertimu, jika dia besar nanti, karena ayahnya adalah seorang pecundang."
Denis menatap Clarissa dengan tajam, kata-kata Clarissa cukup menohok jantungnya. Namun tidak ada yang salah dengan kata-kata istrinya itu. Sejak kehadiran Zeehan di tengah-tengah keluarganya, Denis tidak lagi bisa berbuat banyak, karena Papa Daniel membatasi semua gerak-geriknya. Tidak bisa lagi menggunakan uang perusahaan seenaknya. Yang biasa dia gunakan untuk menjerat wanita.
Setelah gagal menikah dengan Lenka, Denis kembali kepada Clarissa hingga anak mereka lahir, semata-mata hanya untuk melampiaskan hasrat bercintanya, dan dia kehabisan uang untuk membayar wanita panggilan.
Obsesinya untuk menikahi Lenka masih membayangi pernikahan mereka, apalagi setelah Denis tahu, kalau Lenka menikah dengan musuh bebuyutannya, Zeehan.
Keinginannya untuk menghancurkan hubungan keduanya semakin menjadi-jadi.
Akhirnya, Denis keluar dari rumah itu dengan perasaan marah dan kecewa.
Denis melangkahkan kakinya di rumah besar milik Daniel Aryadinata. Rumah yang pernah menjadi tempat tinggalnya sejak dia masih kecil. Namun sejak Mamanya Maria menggugat cerai Daniel, mereka harus pindah dari rumah besar itu.
"Pa...!" teriak Denis begitu masuk ke dalam rumah. Daniel memandang ke arah Denis yang datang dengan tergesa-gesa.
"Ada apa lagi Denis?" Daniel duduk di sofa bersama seorang asistennya.
"Pa, aku mau sahamku di Darya Medika menjadi 30%," katanya tanpa basa-basi.
"Denis, sekarang urusan rumah sakit bukan lagi urusan Papa. Papa sudah menyerahkan semuanya pada Zeehan. Dia sudah memberikan pengelolaan rumah sakit di Bali untuk kamu, kan?"
"Aku tidak mau, Pa, hidupku di sini,"
"Denis, Papa sudah memberikan, apa yang menjadi hak mu, tapi kamu sendiri yang menghancurkan kepercayaan Papa, dengan berfoya-foya dan bermain wanita. Sekarang, papa mau lihat, jika kamu mau berubah Papa akan meminta Zeehan memberikan 10% saham perusahaan untukmu. Tapi jika tidak, Papa tidak akan mengurus mu lagi," kata Daniel tegas.
"Apa yang harus aku lakukan?"
"Bekerja sebagai karyawan biasa di rumah sakit Darya Medika, atau kau terima tawaran Zeehan untuk berangkat ke Bali."
Denis berpikir sejenak, jika dia bekerja sebagai karyawan di rumah sakit Darya Medika, orang-orang akan mencemoohnya. Jika dia pergi ke Bali, dia akan kehilangan teman-teman nongkrong di club malam di Jakarta.
"Baiklah, aku akan ke Bali," kata Denis.
"Jangan lupa, bawa Clarissa dan anakmu juga."
"Lalu mamaku?"
"Mamamu boleh kembali ke rumah ini, jika dia mau,' jawab Daniel santai."Aku akan membatalkan gugatan cerai Mamamu, jika kau mau bertanggungjawab pada istri dan anakmu."
__ADS_1
"Aku pegang janjimu, Pa!" kata Denis sambil menarik nafas panjang.
Bersambung