
Zeehan memenuhi permintaan Lenka untuk berlibur ke Bima. Tapi Kenzio ingin liburan bersama Jovan ke Australia.
"Kenapa tidak ikut ke Bima sayang! Nanti nyesel lo!" Kata lenka pada putra sulungnya itu.
"Mama, zio kan udah pernah ke sana, nanti saja, aku maunya ke tempat Grandma Julia,"
"Baiklah, Zio boleh ke pergi ke Australia, biar Daddy Jovan yang jemput!" Kata Zeehan mengalah.
"Makasih papa!" Seru Zio mencium pipi Zeehan lembut.
"Ya, tapi jangan merepotkan grandma sama grandpa ya!"
"Tentu saja tidak papa, aku kan anak baik!" Katanya narsis.
"Ya Papa tahu," Zeehan tersenyum mengacak rambut putranya gemas.
Lenka tersenyum memandang kedua pria kesayangannya itu saling bersenda gurau.
"Jadi kita kapan berangkatnya Pa?" Tanya Lenka.
"Setelah Jovan datang menjemput Zio!"
"Emang Jovan datangnya kapan?"
"Besok pagi udah take off, kita berangkat lusa saja, dengan penerbangan pertama."
"Baiklah, kalau begitu mama menyiapkan pakaian Zio dulu, Zee main sama papa ya!" lenka menyerahkan putrinya ke tangan Zeehan.
Keesokan harinya, Jovan datang menjemput Kenzio. Dan Zeehan serta Lenka dan Zee berangkat ke kampung halaman Zeehan di kota Bima.
Bang Heri menyambut mereka dengan hangat.
"Kenzio kok nggak ikut,Han?" Tanya Bang Heri.
"Dia ingin ke Australia ke tempat bibinya lenka."
"Oh,...kalian istirahatlah dulu, biar istriku menyiapkan makan siang buat kalian."
"Makasih bang, abang mau kemana?"
"Mau ke dermaga, buat memastikan pulau kosong, kalian mau kesana kan?"
"Ya, tahu saja Bang!" zeehan tersenyum. Tapi buat besok saja bang!" Teriak. Zeehan.
"Oke!" Bang Heri mengacungkan jempolnya.
Memang tujuan utama Lenka ke pulau itu adalah untuk merayakan hari pernikahannya dengan Zeehan. Bermalam dirumah pohon yang dulu pernah menjadi saksi cinta mereka.
Pulau kecil itu sudah banyak berubah, di sana terdapat beberapa buah cottage yang dibangun Zeehan untuk disewakan pada turis yang datang ke sana.
Disinilah Zeehan dan lenka sekarang, duduk bersandar di dada suaminya memandang jauh ke laut lepas.
"Sayang, Happy Anniversary!" Ucap Zeehan sambil memberikan ciuman lembut dipipi cubby istrinya.
"Sama-sama sayang, semoga hubungan kita berdua langgeng sampai kita menua,"
"Hanya maut yang akan memisahkan kita!"
"Mm," Lenka tersenyum.
"Kamu ingat pertama kali kita berdua di rumah pohon ini,"
"Tentu saja aku ingat sayang, saat itu aku baru pindah dari Jakarta, kamu yang membuatku bertahan tinggal di tempat ini.
Dan aku langsung jatuh cinta saat melihatmu pertama kali,"
"Kamu juga membuatku jatuh cinta pertama kali, hanya kamu yang tidak merasa jijik dekat denganku, karena aku bau ikan,"
__ADS_1
Lenka tertawa. "Sebenarnya agak nggak enak juga sih, tapi cinta mengalahkan semuanya, bagiku kamu adalah pria yang sempurna."
"Kamu juga wanita yamg sempurna, kamu mau berkorban demi ibuku, aku bahagia saat ibu kembali sembuh. Tapi sayang beliau malah membencimu, walau di akhir hayatnya, dia meminta maaf padamu,"
"Nggak usah di ungkit yang bikin sedih, sayang! Aku hanya ingin mengingat masa-masa bahagia kita," Lenka membalikkan tubuhnya dan mengalungkan kedua tangannya di leher Zeehan.
"Baiklah, yang bikin aku paling bahagia adalah mendapatkan dirimu seutuhnya." Zeehan mencium bibir istrinya lembut.
"Di tempat ini, kita pertama kali bercinta," bisik lenka. "Dan aku ingin mengulangnya,"
"Seperti keinginanmu, sayang!" Zeehan mulai mencumbu setiap jengkal wajah Lenka.
Suasana pulau yang sepi, menambah hangat suasana di pulau itu. Suara deburan ombak dipinggir pantai, mengiringi indahnya cinta keduanya yang berapi-api.
"Sayang, kamu masih sama seperti kita bertemu dulu, Aku makin sayang padamu!" Bisik zeehan mengakhiri penyatuannya.
Lenka tersenyum, "Karena aku selalu merawatnya untukmu, aku tidak mau kamu kecewa denganku. Dan mencari wanita lain."
"Itu tidak akan terjadi sayang! Aku akan selalu mencintaimu, untuk pertama dan yang terakhir."
Zeehan berubah melankolis, Pria itu menciumi wajah lenka berkali-kali. seolah tidak ingin semuanya berakhir.
"Sayang, aku tidak akan selalu bersamamu, dalam senang maupun sedih."
"Izinkan aku memelukmu!" Zeehan memeluk lenka erat. Agak berlebihan memang, tapi Lenka menikmatinya, wajahnya bersandar di dada bidang Zeehan, mencium aroma maskulin suaminya. Hangat dan nyaman.
"Sayang, kalau nanti anak ketiga kita lahir, aku ingin seorang anak laki-laki lagi, biar ada dua jagoan yang jagain Mamanya, seandainya aku tidak ada nanti."
"Ngomong apa sih? Sayang, kamu membuatku takut!" lenka merasa nada bicara Zeehan sedikit melantur.
"Aku hanya berandai-andai, jika anak ketiga kita lahir aku ingin memberinya nama Samudera Aryadinata. Seperti hamparan yang luas di depan kita."
"Ya,...aku akan memberi namanya Samudera, tapi jangan ngomong seperti yang tadi lagi ya!"
Zeehan diam seribu bahasa, tidak ada yang berbicara lagi. Hanya menikmati hembusan angin yang bertiup dari samudera. Membelai wajah mereka dengan lembut dan melenakan.
"Kebetulan kalian sudah pulang, kita makan sama-sama yuk, makanan sudah siap!" Ajak Bang Heri.
"Sebentar ya Bang! Aku ganti baju dulu!" zeehan masuk ke kamar dan berganti pakaian.
"Sayang! Kamu lihat Hp ku?" Tanya Zeehan, setelah keluar dari kamar.
"Lho, kan tadi Papa yang bawa ke pulau?"
"Waduh, itu berarti hpku ketinggalan di pulau, bagaimana ya?"
"Makan dulu, Han! Nanti kita jemput!" Kata Bang Heri.
"Sekarang saja Bang, ntar keburu gelap!" Kata Zeehan.
"Sayang makan dulu!" Ajak lenka.
"Kalian makan duluan, biar aku yang pergi sendirian,"
Zeehan buru-buru keluar rumah dan berlari menuju dermaga. Dengan menggunakan Speedboat yang ada, Zeehan membawa kendaraan air itu menyeberang ke pulau Cinta.
Dia tidak menyadari, kalau speedboat itu kehabisan bahan bakar. Kapal itu berhenti di tengah laut. Zeehan panik, saat awan mulai gelap, hujan badai datang secara tiba-tiba. Speedboat itu oleng dan tubuh Zeehan seketika hilang ditelan ombak besar.
Lenka mondar-mandir didepan rumah, Bang Heri keluar mencari Zeehan di dermaga. Sudah hampir satu jam Zeehan belum muncul juga.
Apalagi Bang Heri pulang kerumah sendirian.
"Bagaimana Bang?" Tanya Lenka panik.
"Tenang dulu, Lenka! Kita tunggu sampai hujan reda, barangkali Zeehan masih di pulau, menunggu badai berhenti," Bang Heri dan istrinya berusaha menenangkan Lenka.
Lenka duduk di sofa, karena kakinya kram karena terlalu lama berdiri. Si Kecil Zee menangis tidak henti, hingga tertidur dengan sendirinya karena kelelahan.
__ADS_1
Lenka berdoa dalam hati, semoga badai segera berlalu dan dapat melihat suaminya kembali. Tak terasa Lenka tertidur hingga pagi.
Menyadari hari telah berganti, Lenka buru-buru keluar rumah dan berlari ke dermaga. Bang Heri dan teman-temannya telah bersiap untuk mencari Zeehan ke pulau,
"Bang, aku ikut!" Teriak Lenka, saat melihat Bang Heri sudah naik ke atas kapal cepat.
"Jangan ikut Lenka, tunggu saja disini!"
"Tidak Bang, aku tidak akan tenang, sebelum melihat Zeehan, aku harus ikut!" lenka bersikeras untuk ikut dan menerobos kerumunan orang-orang untuk naik ke kapal yang dibawa Heri.
Kapal itu sampai di pulau, namun tidak ada tanda-tanda Zeehan datang ke tempat itu. Hanya serpihan boat yang digunakan Zeehan kemaren berserakan di pinggir pantai.
"Kapalnya pecah Bang," kata Mamat, memungut puing-puing boat yang pecah itu. "Sepertinya Zeehan belum sempat ke mari, ponselnya masih ada disini." Mamat menyerahkan ponsel itu ketangan lenka.
"Boat itu kemaren belum diisi bahan bakar," kata Bang Rico. "Itu artinya Zeehan kehabisan bahan bakar di tengah laut,"
Bang Heri memandang iba Lenka yang duduk berlutut di pasir. Air matanya mengalir menatap laut lepas yang telah menelan suaminya.
"Kita akan mencari Zeehan sampai ketemu, Lenka!" Kata Bang Heri memcoba menenangkan wanita itu.
"Temukan Zeehan Bang!" ratap Lenka.
"Ya, kami akan berusaha, sebaiknya kamu kembali ke rumah?"
"Aku akan menunggu disini, Bang!" lenka sedikit keras kepala.
"Lenka, kasian anakmu, dia pasti menangis karena tidak melihatmu, ayolah dengarkan kata-kata Abang, percayalah, kami akan mencarinya."
Dengan berat hati, Lenka meninggalkan pulau itu. Lenka merasa lemah, dia pingsan begitu sampai di dermaga.
Istri Bang Heri membawa Lenka pulang kerumah. Setelah sadar, Lenka menelpon Jovan dan Denis, mengabarkan hilangnya Zeehan.
Keesokan harinya, seluruh keluarga Lenka dan Zeehan datang ke kota Bima untuk menemani Lenka yang tampak terpukul.
"Sayang, bagaimana ceritanya Zeehan bisa hilang di laut?" Tanya Mama Maria yang juga datang bersama Papa Daniel, dan juga Denis.
Lenka menceritakan tentang kejadian sore itu setelah mereka kembali dari pulau, dengan air mata yang tidak dapat dibendung.
"Sabar ya, Val! Aku akan membantu mencari Zeehan. Papa telah menghubungi Tim SAR untuk menyisir pantai," kata Denis.
Lenka hanya mengangguk.
"Mama!" Teriak Kenzio yang baru datang bersama Jovan dan Bibi Julia.
"Zio, ...!" Lenka memeluk putranya erat.
"Apa Papa bisa ditemukan lagi Ma?" Tanya Zio.
"Semoga saja nak! Zio doain Papa biar selamat," lenka berusaha menghibur putranya. Dan berusaha menghapus air matanya, agar Kenzio tidak melihatnya menangis.
"Ya Ma!"
"Sabat ya, Val!" Jovan memeluk sepupunya erat.
"Makasih Jo,"
"Daddy tidak ikut kemari, Val! Daddy akan membantu mencari di pesisir pantai di Australia," tambah Jovan.
Lenka sedikit tenang dengan kehadiran keluarga besarnya. Kenzio yang begitu kuat, membesarkan hatinya.
"Mama jangan khawatir ya! Zio akan melindungi mama, jika Papa tidak ada!" Kata Kenzio yang membuat tangisan Lenka kembali pecah.
Dia masih ingat kata-kata Zeehan yang menginginkan dua orang anak laki-laki yang akan menjaga Ibunya jika dia tidak ada.
"Sayang!" Bibi Julia memeluk Lenka erat, membiarkan wanita muda itu menumpahkan semua kegundahan hatinya.
Bersambung.
__ADS_1