
Denis berjalan mondar mandir didepan ruangan ICCU, tempat Gary Arkana dirawat.
Denis mengintip dari balik jendela, sang ayah yang baru saja dia temui, tergolek lemah tak berdaya. Alat-alat bantu medis tersambung di sekujur tubuh demi menunjang hidup.
Raut wajah Denis berubah sedih, kecemasan menghinggapi jiwanya. Takut terjadi apa-apa dengan Gary, takut pria itu akan pergi meninggalkannya disaat dia baru saja mengenal sisi lain ayahnya. Itulah hubungan batin yang sebenarnya.
"Drrttt..." Ponsel denis bergetar di kantong celananya. Nama Judith tertulis di layar ponsel.
"Halo Judith, ada apa sayang?" Suara Denis terdengar lemah.
"kak, kaka ada dimana? Kakak baik-baik saja kan, Aunty Maria mencemaskan kakak?"
"Hanya Aunty Maria??" Sempat-sempatnya dia menggoda Judith disaat cemas seperti itu.
"Ya, aku juga kak, kakak dimana?" Ulang Judith.
"Aku ada di rumah sakit,"
"Kakak kerja atau ...pria tua itu mencelakai kakak?"
"Tidak Judith, Tuan Gary sedang di rawat di rumah sakit Darya Medika, ...tolong berikan ponselnya sama Mama!"
"Ya Kak, sebentar ya!" Judith menyerahkan ponselnya pada Maria.
"Mama, ....aku minta maaf sebelumnya, Papa ada dirumah sakit sekarang!"
"Maksudmu, Gary?"
"Iya Ma, Papa mendapat serangan jantung, Mama datang ya! Papa udah minta maaf, padaku dan Mama."
Maria menarik nafas panjang, rasa sakit hatinya memang sudah hilang seiring berjalannya waktu. Tapi, memaafkan orang yang telah menyakiti rasanya sulit untuk dilakukan.
Maria tak habis pikir, begitu mudahnya Denis menerima permintaan maaf pria itu. Apa Gary benar-benar sekarat sekarang? Dari suara Denis, anak itu mencemaskan ayahnya.
"Ada apa Ma?" Tanya Zeehan, melihat ibu sambungnya itu bingung.
"Ayahnya Denis sekarang di rawat dirumah sakit, Mama bingung, apa mama harus kesana?"
"Denis bilang apa?" Tanya Zeehan lagi.
"Dia meminta mama untuk datang,"
"Kalau begitu mari Zeehan antar Ma, sekalian Zeehan meninjau rumah sakit itu,"
"Mama harus izin sama Papamu dulu." Maria menemui Daniel di kamar, pria itu sedang beristirahat sambil bermain ponsel.
"Pa, apa aku boleh ke rumah sakit? Ayahnya Denis sedang dirawat disana," Maria berbicara dengan pelan.
"Oh ya? sejak kapan?" Daniel bangkit dari tempat tidur dan memakai kaos berkerahnya.
"Baru saja Denis menelpon, dan memintaku untuk datang dan memaafkan Gary."
"Kalau begitu, kita pergi sama-sama!" pak Daniel keluar dari kamar di ikuti Maria.
__ADS_1
"Zeehan, antar Papa ke rumah sakit," titah Daniel.
"Ya Pa!" Zeehan bangkit dari tempat duduknya. "Pa, Zio ikut ya?" kenzio tidak mau ketinggalan.
"Ya udah, ayo, izin sama mama dulu sana, mama lagi dikamar, "
"Oke Papa!" Setelah Kenzio menemui Lenka, Kenzio segera mengejar Zeehan keluar rumah. Di ikuti Daniel dan Maria.
Tidak sampai 15 menit, mereka sampai di rumah sakit Darya Medika. Para dokter dan perawat di rumah sakit itu menyambut bos mereka dengan ramah.
"Dokter Hadi, bagaimana keadaan pasien bernama Gary Arkana, kamu mengenalnya?" Tanya Daniel.
"Ya, saya yang menangani beliau, Pak Daniel, beliau masih di ICCU sedang kritis."
"Memangnya beliau sakit apa?" tanya Daniel.
"Pak Gary sebelumnya memiliki riwayat penyakit jantung, ginjalnya juga bermasalah."
"Kalau begitu, lakukan yang terbaik, dokter Hadi," titah Daniel.
"Baik pak!"
Denis tersenyum melihat kedatangan Mamanya Maria. "Terimakasih sudah datang, Mama, Pa!" Denis memeluk mamanya erat.
"Tidak perlu berterimakasih Denis,"
"Mama, maafkan Papaku ya, aku kasihan melihatnya, papa tidak punya siapa-siapa lagi selain aku,"
"Marcel...!" Panggil Maria, pria itu menoleh,
"Kak Maria?" Marcel berdiri dan menyalami Maria dengan hormat.
"Mama mengenal Marcel?" Tanya Denis memperhatikan interaksi keduanya.
"Ya, dia sepupu Mama dari keluarga kakekmu," Mama Maria menerangkan.
"Oh, itu artinya anda pamanku, paman Marcel" Denis memeluk Marcel hangat.
"Iya Denis, tidak ku sangka kita akan bertemu disini." Marcel sumringah.
"Sejak kapan paman menjadi pengacara Papaku?" Tanya Denis.lagi.
"Sejak beliau mulai membangun bisnisnya di kota ini. Tuan Gary, sudah sakit sejak 5 tahun yang lalu, tapi beliau tidak pernah mengeluh, apalagi memperlihatkan kelemahannya pada orang lain." Cerita Marcel.
"Begitukah? Apa Papa tidak pernah menikah lagi?"
"Tidak, setelah bercerai dari Nyonya Arum, Tuan Gary tidak pernah menikah lagi."
"Apa hubungan Papaku dengan Jennifer?' tanya Denis lagi.
"Nyonya Jennifer dulunya seorang turis yang sedang melancong ke kota ini, beliau menikah dengan seorang pria lokal, bernama I Made Astawan, yang mempunyai seorang anak perempuan bernama Judith. Pak Made Astawan bekerja di hotel Arkana, sebagai manajer. Untuk memenuhi tuntutan hidup Jennifer yang tinggi, pak Made berhutang pada Tuan Gary..." Marcel menarik nafas sesaat dan meneruskan ceritanya.
"Karena tidak mampu membayar hutangnya, Pak Made menceraikan istrinya, dan menyerahkannya pada Tuan Gary. Pak Gary sepertinya juga menyukai ibu Jennifer, Tuan Gary setuju, tapi tidak dengan wanita itu. Dia memberikan Judith sebagai pengganti hutang-hutang Pak Made," terang Marcel.
__ADS_1
"Dimana Pak Made Astawan itu sekarang?" Denis penasaran.
"Kabar terakhir yang aku tahu, dia ke Australia, tempat istri pertamanya, yaitu ibunya Judith.
Denis manggut-manggut, mendengar kisah Gary Arkana dari Marcel.
Perbincangan hangat di antara mereka terhenti saat seorang dokter keluar dari ruangan ICCU.
"Bagaimana dengan Ayah saya dokter Arman?" Tanya Denis mengikuti langkah dokter Arman.
"Syukurlah, masa kritisnya sudah lewat, Pak Denis."
"Hah, syukurlah,"Denis menarik nafas lega.
"Tapi kemungkinan untuk kembali sehat itu sangat kecil, beliau harus beristirahat total." Kata dokter Arman.
"Kami akan merawatnya, dok!" Kata Denis yakin.
Seorang wanita cantik berambut pirang, berkulit putih kemerahan menghampiri Denis dan keluarganya. Dia adalah Jennifer Hartley.
"Denis, apa yang terjadi dengan Mr. Gary?"Tanyanya.
"Papa baru saja melewati masa kritis, Aunty Jenny."
"Syukurlah, Denis, sebagai permintaan maaf saya, izinkan saya merawat Mr. Gary, jika kamu butuh orang untuk merawatnya." Jennifer menawarkan diri.
"Kita akan lihat seperti apa kondisinya nanti, Aunty, terimakasih, sudah peduli sama Papa!" Denis tersenyum.
"Saya juga merasa bersalah, telah memanfaatkan kebaikan beliau, untuk kepentingan pribadi saya," akunya jujur.
"Sekarang doakan saja semoga Papa bisa cepat sembuh, Aunty!" Pinta Denis.
Gary Arkana, akhirnya sadar dari koma, dan sudah dipindahkan ke ruang inap. Denis menempatkan ayahnya di ruang VVIP, agar ayahnya merasa nyaman selama berada di rumah sakit. Gary setuju, Jenifer merawatnya disana, jika denis harus bekerja dan menemani putranya di rumah.
"Denis, terimakasih sudah merawat ku, maukah kamu memanggilku Papa?" tanya Gery lirih.
Denis mengangguk dan tersenyum, "Ya, Papa!" Pria itu menangis haru. "Jangan menangis Pa, aku jadi sedih." Denis mengusap air mata Gary dengan tisu.
"Papa terharu dengan kebaikan hatimu, nak! Kamu sudah mau menerima dan merawat papa, walaupun Papa tidak pernah merawat mu."
"Lupakan semua itu, Pa, sekarang kita melihat ke depan, Papa harus sehat, harus kuat. Aku akan membantu Papa menjalankan semua bisnis papa, aku perlu belajar banyak hal dari Papa, sebelum benar-benar mewarisi semua kerjaan bisnis yang sudah papa bangun dengan susah payah." Denis menyemangati ayahnya.
"Kamu benar, nak! Papa akan berjuang untuk sembuh," ucap Gary tersenyum.
"Papa juga harus melihatku menikah, dan melihat cucu papa dari pernikahanku sebelumnya,"
Pria baya itu menganggukkan kepalanya lemah.
"Aku juga ingin, melihat Papa menikah dengan Aunty Jenny, sepertinya Papa menyukainya," goda Denis.
Gary Arkana tersenyum manis.
Bersambung
__ADS_1