
Sherly berjalan memasuki sebuah restoran, tempat seseorang mengundangnya untuk bertemu siang itu.
Begitu masuk ke dalam restoran, ia mencoba menghubungi orang yang telah memintanya untuk datang, matanya mengitari sekeliling restoran. Seorang pria memakai kacamata hitam dan topi berwarna senada melambaikan tangannya, setelah panggilan ponsel mereka terhubung.
Sherly melihat pria itu, duduk di sudut ruangan yang sepi, dengan pemandangan lalu lintas kota Jakarta di luar jendela kaca.
"Selamat siang!" Sapa Sherly.
"Siang, Sherly duduklah!" Pria itu mempersilahkan Sherly untuk duduk di depannya.
"Maaf, anda siapa ya?" tanya Sherly, memperhatikan wajah pria itu yang tertutup Kaca mata hitam. Pria itu membuka kaca matanya perlahan, Sherly kaget dan menahan nafasnya yang terasa sesak.
"Kamu...!" Sherly berdiri dari duduknya hendak pergi meninggalkan pria itu.
"Sherly, duduklah dulu, aku bukan Davin, aku David, kembarannya Davin." David menahan pergelangan tangan sherly erat.
Sherly kembali duduk dan menatap pria yang bernama David dengan tajam.
"Lelucon macam apa ini, Davin!"
"Maafkan aku Sherly, aku bukan Davin, aku baru bisa menemukanmu sekarang, aku mendapatkan nomor ponselmu dari Lenka dan Zeehan,"
"Hah, kamu temannya bajingan itu!" Maki Sherly, tersenyum sinis
"Ya, aku berteman dengan mereka berdua, sejak kami kuliah. Kurasa Zeehan dan Lenka orang baik." David tidak setuju dengan ucapan Sherly yang menyebut Zeehan bajingan.
"Kami pasti membelanya, karena kamu temannya," ejek Sherly.
"Kamu mau pesan minuman, atau makanan?" Tawar David.
"Aku sudah kenyang, aku kemari hanya menemui mu sebentar, aku harus kembali ke tempat kerjaku," ketus Sherly.
"Baiklah, Zeehan sudah menceritakan semuanya, tapi topik kita bukan Zeehan, tapi Davin. Davin sudah meninggal, 5 tahun yang lalu, dia meninggal karena kecelakaan."
Sherly menelan Saliva nya kasar, dia tidak percaya kalau Davin meninggal. Semenjak Davin menolak menikahinya, pria itu tidak pernah lagi menghubunginya. Sherly pun tidak pernah lagi mencoba mencarinya.
"Dia mengalami kecelakaan mobil, saat kembali dari Kota Bima..." Sherly menahan nafas tegang. Itu artinya Davin mengalami kecelakaan setelah menemui Sherly untuk yang terakhir kalinya.
"Setelah kecelakaan, dia mengalami koma selama satu bulan, dan dia sering menyebut namamu, dan meminta membawamu padanya,"
Sherly masih mendengar cerita David dengan seksama. Sesekali Sherly menarik nafasnya perlahan.
"Dia memintaku menyampaikan permintaan maaf karena menolak menikahi mu, dia juga memintaku untuk merawat anaknya, jika anakmu lahir," Sherly menggigit bibirnya yang gemetar, air mata jatuh di pipinya yang pucat.
Haruskah dia memaafkan Davin sekarang, sementara pria itu tidak mau menerima keadaan Sherly yang sedang hamil. Davin dengan tegas memintanya menggugurkan bayi dalam kandungannya.
"Aku tidak bisa memaafkannya David, aku tidak bisa!" Sherly menggeleng. Wanita itu memalingkan wajahnya keluar jendela.
David menyerahkan selembar tisu ketangan Sherly, untuk menghapus air mata yang tak berhenti mengalir.
"Aku tidak akan memaksamu, Sherly. Tapi, setidaknya aku merasa lega sekarang, telah menyampaikan permintaan maaf saudaraku, lalu dimana putrimu sekarang?"
"Aku memasukkannya ke sekolah asrama, karena aku harus bekerja,"
"Bukankah, keluarga Zeehan membiayai biaya sekolah putrimu hingga kuliah?"
"Dulu ya, tapi sekarang tidak lagi, Zeehan menghentikannya,"
"Kalau begitu, sekarang biar aku yang bertanggungjawab atas kehidupan putrimu, siapa namanya?"
"Kenzhia," jawab Sherly singkat.
"Hampir mirip dengan putriku, putriku bernama Keysa, kebetulan sekali bukan,"
Sherly hanya tersenyum tipis. Pria dihadapannya memang sangat mirip dengan Davin, hanya saja Davin memiliki bekas luka di dahi kirinya. Davin memiliki sifat temperamen, tapi David begitu tenang dan berkharisma.
"Bolehkah aku bertemu putrimu, aku rasa putriku akan senang bertemu dengan saudarinya, mamaku juga ingin melihat cucunya."
__ADS_1
"Aku akan membawanya nanti, begitu dia libur sekolah," janji Sherly. "Ada lagi, David? Kalau sudah selesai, aku akan pergi." Sherly bangkit dari tempat duduknya.
"Baiklah, terimakasih atas kedatanganmu, jika kamu butuh bantuanku, hubungi saja aku," David ikut berdiri membiarkan Sherly pergi. David kembali duduk di tempatnya semula.
"Doni, kamu ikuti wanita itu, cari tahu dimana dia bekerja," titah David, pada anak buahnya yang berjaga diluar.
"Baik Tuan!"
Anak buah David mengikuti Sherly yang pergi dengan menaiki taxi. Taxi itu berhenti disebuah hotel. Sherly turun dari taxi itu dan masuk ke dalam hotel. Dan langsung menuju sebuah kamar hotel.
Doni menunggu hingga wanita itu keluar, hingga 2 jam berlalu. Sherly keluar dengan pakaian yang berbeda. Bersama seorang pria paruh baya.
Doni masih terus mengikuti Sherly, kali ini sherly masuk ke dalam sebuah club malam. Doni duduk di depan meja barista. Dan memesan minuman dengan kadar alkohol rendah.
"Mau ditemani, bos?" Doni dikagetkan oleh suara wanita disampingnya yang merangkul pundaknya mesra. Pakaiannya sera minim dan dandanan yang menor.
"Oh, maaf nona, saya menunggu teman saya!" Doni menolak wanita itu.
"Oh ya udah, sebentar juga boleh, atau kamu juga pelanggannya Susan?"
"Siapa Susan?" Tanya Doni dengan nada datar.
"Itu wanita yang baru saja masuk sama bos, bayarannya mahal, sekali ngamar jutaan."
"Oh, aku tidak tertarik, aku menunggu kekasihku, kebetulan kami janji ketemu disini sebelum kencan," jawab Doni asal.
"Baiklah, kalau begitu saya cari yang lain dulu, dah!" Wanita berpakaian minim itu, pergi meninggalkan Doni.
Doni hendak keluar dari club itu, tiba-tiba tangannya di tahan dari belakang.
"Hai, dari tadi aku melihatmu, kamu mengikuti aku terus," wanita bernama Sherly itu mengagetkan Doni.
"Ah, ya! Sebenarnya aku tertarik untuk memesan jasamu, kata temanmu tadi, harga mu mahal, jadi aku batalkan saja, maaf." Jawab Doni beralasan.
"Oh ya, berapa yang dikatakan temanku?'
"Dia berlebihan, bisa ditawar kok!" Kata Sherly tersenyum menggoda.
"Boleh aku minta nomor ponselmu," kata Doni.
"Mm, nomor Mami Linda saja, dia yang akan memberikan harga padamu, ini nomornya." Sherly mengeluarkan sebuah kartu dari dalam tasnya.
"Baiklah, nanti aku akan menghubungimu,makasih nona...!
"Panggil aku Susan!" Kata Sherly tersenyum.
"Oh ya, nona Susan...!" Doni bergegas keluar club, dan mengemudikan mobilnya menuju kediaman David.
"Kemana saja kamu, Doni. kenapa tidak mengabari aku?"
"Maaf Tuan, saya mengikuti Sherly sampai ke club, dia bekerja di club malam XSTAR, dan dia juga wanita panggilan, nama samarannya Susan," lapor Doni.
"Club XSTAR?? Kenapa dia menjual diri nya ditempat itu?" Batin David.
"Kamu punya kontaknya, Doni?"
"Ini Tuan, ini nomor mucikarinya, kata temannya, Sherly memasang tarif diatas 50 jutaan untuk bisa tidur dengannya." David mengerutkan dahinya, dan memijatnya perlahan.
David menarik nafas panjang. Tak habis pikir dengan apa yang terjadi dengan Sherly, hingga dia harus terjerumus ke lembah hitam protitusi.
"Baiklah, terimakasih Doni!"
*****
Malam minggu, David menghubungi nomor kontak Mami Linda, yang tertera di kartu namanya. Di dalam kartu nama itu, tertera pekerjaan Mami Linda sebagai Pemilik event organizer. Yang menyewakan tenda dan segala hal yang berbau pesta, termasuk menyediakan catering, berikut pelayannya.
"HALO, selamat malam, dengan mami Linda disini, ada yang bisa mami bantu, sayang?" Suara Mami linda terdengar begitu manja.
__ADS_1
"Mami, bisakah aku memesan anak asuh mu bernama Susan?" Tanya David.
"Oh, tentu sayang 60 juta, sekali pelayanan, langsung transfer ke rekening Mami, kapan maunya?"
"Sekarang bisa nggak Mam, aku tunggu di hotel GH, dalam 10 menit aku akan berada di sana, kamar nomor 205." David mentransfer uang lewat mobile Banking Nya. Dan bersiap-siap menuju hotel tempat dia berjanji dengan Sherly
Sepuluh menit, David menunggu. Akhirnya Sherly datang juga.
"Apa sudah lama menunggu, Sayang?" Sherly masuk kedalam kamar hotel, dan menutup pintu dan menguncinya dari dalam.
"Belum terlalu lama!" Jawab David santai.
Sherly kaget melihat David, yang tidur diatas ranjang dengan bertelanjang dada.
"David, kau?"
"Kenapa kaget? Apa benar namamu Susan?" Tanya David menyelidiki.
"Ya...itu nama samaran ku!" Jawab Sherly ketus.
David tertawa kecil. "Aku tidak menyangka, wanita yang akan menemaniku malam ini adalah kakak iparku sendiri."
"David, kamu mengikuti ku?" Sherly memandang David tajam.
"Tidak, seorang teman merekomendasikan tempatmu bekerja, jadi aku mencoba memesannya," David bangkit dari tempat tidurnya. Berjalan ke arah Sherly yang terpaku ditempatnya berdiri.
"Ku pikir, kamu adalah seorang yang profesional, jadi tidak perlu memandang siapa yang membayar mu, bukan!"
Sherly menundukkan wajahnya, dia merasa tidak nyaman, jika harus melayani David, pria kembaran mantan kekasihnya.
"Maaf David, aku akan mengembalikan uangmu," kata Sherly mencoba melepaskan dirinya dari pelukan David.
Namun David memegangnya dengan kuat.
"Aku rasa Mamimu tidak akan mau mengembalikan uang yang telah aku keluarkan.
"Baiklah, seperti yang kau inginkan David!" Sherly membuka pakaiannya di depan David. Dan mendorong David ke atas tempat tidur.
David berbalik dan menjatuhkan Sherly dibawah kungkungannya.
"Pakailah pakaianmu kembali Sherly!" David turun dari atas ranjang dan melemparkan pakaian Sherly ke atas kasur. Pria itu duduk di sofa, dan menyulut sebatang rokok yang terletak diatas meja.
Sherly memakai kembali pakaiannya dan duduk di samping David, dengan wajah tertunduk.
"Kenapa kamu harus menjalani pekerjaan seperti ini, Sherly?" tanya David memandang wanita itu iba.
"Aku butuh uang, untuk bertahan di kota besar ini, David! Setelah bercerai dari Zeehan, aku tidak punya siapa-siapa lagi, orang tuaku meninggal dan meninggalkan banyak hutang. Aku harus membayar semua hutang itu, hingga aku bertemu dengan Mami Linda, dia seorang mucikari yang berkedok event organizer."
"Bukankah, Zeehan sudah mengembalikan uang ayahmu,"
"Itu tidak cukup, David! Pendidikanku uang hanya tamatan SMA, membuatku sulit untuk mendapatkan pekerjaan yang bagus. Jadi aku terpaksa bekerja di club itu."
David menarik nafas perlahan,
"Aku akan memberimu pekerjaan layak, atau kau punya keahlian memasak, membuat kue atau apa saja, aku akan memberimu modal untuk itu.
Sherly diam, dia tidak mau dikasihani,
"Berhentilah bekerja di tempat itu, apakah kamu tidak takut, jika suatu saat Kenzhia mengetahui pekerjaan ibunya, dia akan bertanya tentang itu." Lanjut David.
"Aku akan memikirkannya," jawab Sherly lemah. "Tapi, aku takut, Mami Linda akan marah, jika aku keluar dari tempat itu. Dia tidak akan mengizinkanku keluar,"
"Jika dia macam-macam, dia akan berurusan denganku," kata David tegas.
"Terimakasih David," Ucap Sherly datar.
Bersambung
__ADS_1