TAK SANGGUP MELUPAKANMU

TAK SANGGUP MELUPAKANMU
KEHILANGAN


__ADS_3

"Julia tinggal di Melbourne, suaminya punya restoran di dekat Universitas Melbourne, kenapa?" tanya Papanya Zeehan duduk di sofa di hadapan putranya yang tampak bingung.


"Aku akan mencari Lenka, Pa,"


"Ya, Pak Hendra bilang kamu memecat Lenka sebelum orang tuanya kecelakaan," 


"Ya," jawab Zeehan singkat.


"Kenapa kamu memecat Lenka? dia dokter anak terbaik di rumah sakit ini,  kamu punya dendam pribadi dengannya," kata Pak Daniel mengintrogasi Zeehan.


"Maaf Pa, aku hanya kesal padanya, dia pergi meninggalkanku, tanpa pesan dan yang lebih membuatku sakit hati, dia tidak memberitahukan kehamilannya,"


"Maksudnya,  Kenzio itu anakmu?" Pak Daniel tak percaya.


"Iya pa, dan aku baru saja mengetahuinya, waktu pulang ke kampung"


Daniel Aryadinata, mengusap wajahnya yang tampak lelah. "Pergilah nak, cari dia, bawa dia kembali. Papa tidak mau, apa yang terjadi padamu, terjadi juga pada anakmu Kenzio," nasehat papa.


"Ya Pa, aku akan mencari mereka,"kata Zeehan. 


"Papa akan mengirim alamat mereka di Australia padamu," Pria tua itu, mengambil ponsel di kantongnya, dan memberikan alamat bibi Julia pada putranya.


"Hari itu juga, Zeehan berangkat ke Australia, dengan penuh harapan, kalau Lenka akan memaafkannya. Dan mereka akan kembali bersama.


Namun sesampainya di Australia, Zeehan tidak menemukan Lenka dan juga Kenzio.


"Zeehan! ... Lenka dan Kenzio tidak ikut dengan kami kembali ke Melbourne, Kenzio tidak mau ikut, karena ingin bertemu denganmu, tapi kata perawat kau  pulang ke Bima," kata Bibi Julia.


"Tapi, mereka tidak ada di rumah, maupun di apartemen Lenka, Bi," 


"Sebentar, bibi panggil Jovan, mungkin dia tahu dimana anak itu berada," Wanita itu masuk ke kamar Jovan, tak lama dia keluar lagi bersama Jovan.  Jovan menatap Zeehan dengan sinis.


"Ada apa?" Katanya duduk di depan Zeehan sambil mengangkat sebelah kakinya.


"Aku ingin minta tolong, hubungi Lenka, dan mencari tahu dimana dia sekarang," kata Zeehan.


"Kenapa kamu tidak menghubunginya sendiri," ketus Jovan.


"Lenka memblokir nomorku," kata Zeehan sedih.


"Tentu saja dia memblokir nomormu, karena kamu sudah memaki dia, dengan menyebutnya murahan," sindir Jovan.


"Aku tahu aku salah, saat itu aku cemburu melihat kedekatan Lenka denganmu, aku pikir kamu itu pacar barunya, Karena Kenzio memanggil mu Daddy," tutur Zeehan.


"Hah,....asal kamu tahu, Zeehan.  Aku memang menikahi Lenka agar anaknya diakui, setelah Kenzio lahir, kami bercerai, tapi bukan berarti kamu bisa seenaknya menghina Lenka,"


"Maaf, aku tidak tahu sebelumnya," kata Zeehan menundukkan wajahnya. 


Jovan mengambil ponselnya, berusaha menghubungi nomor Lenka. Nomor pribadi yang hanya Jovan dan Bibi Julia yang menyimpannya.


"Halo Van, tumben nelpon, ada apa?" tanya Lenka.


"Kamu dimana?" tanya Jovan serius.


"Di Jakarta, kenapa?" 


"Jangan pernah berbohong denganku, Val!" 


"Ya, maaf, aku lagi di Surabaya!" Jawab Lenka jujur.


"Ada yang nyariin kamu dan Kenzio," ucap Jovan datar.


"Siapa?" tanya Lenka, walau dia sudah menduga kalau itu adalah Zeehan.


"Kamu tebak saja sendiri?" 


"Van, please jangan beritahu pada Zeehan kalau aku lagi di Surabaya," kata Lenka.


"Terlambat Vall, aku lagi pasang loud speakers," kata Jovan, menahan tawa di bibirnya.

__ADS_1


"Jovan, kenapa nggak bilang dari tadi," Lenka menutup mulutnya karena malu.


"Nih, bicara sendiri sama dia!" Kata Jovan.


"Aku tidak mau," Lenka memutuskan sambungan telpon itu sepihak.


Jovan meletakkan ponselnya di meja. 


"Kamu dengar sendiri, Zeehan, Lenka tidak mau bicara denganmu," kata Jovan menyeringai.


"Boleh aku meminta nomor ponselnya," kata Zeehan.


"Tidak, tanpa seizin Vallen," kata Jovan tegas.


"Baiklah, aku akan mencarinya sendiri ke Surabaya," kata Zeehan. Berdiri kemudian langsung keluar dari apartemen Bibi Julia, setelah berpamitan pada wanita itu.


*******


Pagi itu Lenka pergi ke Rumah sakit Ibu dan Anak Medika, setelah mengantar Kenzio ke sekolah. Dia ingin menanyakan tentang surat lamarannya yang belum ada penjelasan.


"Lenka, kamu Lenka kan?" seorang wanita cantik berpenampilan elegan, menghampiri Lenka yang celingak-celinguk di depan lobby rumah sakit.


"Iya, kamu…Belinda?" Lenka tersenyum senang, karena ada yang Mengenalnya di rumah sakit itu.


"Iya Lenka, siapa yang sakit?" Tanya Belinda menyalami sahabatnya itu.  Belinda adalah sahabat Lenka saat merek duduk di bangku SMP, saat papa Lenka bertugas di kota itu.


"Nggak ada yang sakit, beberapa hari yang lalu, aku mengajukan surat lamaran, untuk bekerja di rumah sakit ini, tapi belum ada tanggapan," kata Lenka.


"Kamu melamar sebagai apa?" Tanya Belinda.


"Dokter spesialis anak," jawab Lenka.


"Oh, ayo ikut aku!" Belinda mengajak Lenka ke ruangannya. "Duduklah!" Kata Belinda mempersilahkan Lenka untuk duduk di sofa, sementara dia menghubungi seseorang di taliannya.


Tak lama seorang pria berusia 50 tahunan, masuk ke ruangan itu membawa sebuah map.


"Ini, Bu Belinda!" Pria itu menyerahkan map itu pada Belinda.


"Mm, CV-mu terselip di tempat berbeda dengan file pelamar, aku tidak melihatnya, kamu boleh mulai bekerja besok," kata Belinda.


"Belinda, kamu punya rumah sakit ini?" Tanya Lenka tak percaya.


"Rumah sakit ini milik papaku, aku hanya menjalankannya saja," kata Belinda.


"Terimakasih Belinda, tapi maaf nanti kalau misalnya sering izin, untuk menjemput anakku ke sekolah," kata Lenka.


"Kamu sudah punya anak?" Tanya Belinda menaikkan alisnya.


"Iya, sekarang sudah kelas satu SD," kata Lenka.


"Ya udah tidak masalah, selagi tidak mengganggu pekerjaan," kata Belinda lagi.


"Terimakasih sekali lagi," kata Lenka tersenyum bahagia.


Pagi itu, Lenka bersiap untuk berangkat bekerja, 


"Zio, sudah siap sayang?" Lenka mengunjungi Zio di kamarnya, anak itu sudah bisa berpakaian sendiri dengan rapi. 


"Sudah Ma, Zio udah ganteng belum, Ma? Katanya mematut diri di cermin.


"Anak mama selalu ganteng setiap hari, udah pintar pake baju sendiri, makan sendiri, Mama bangga sama Zio," Lenka mencium pipi anak itu dengan lembut.


"Mama, nggak boleh cium, nanti pipi Zio merah, Zio nggak mau di tertawakan sama teman-teman," Kenzio membersihkan pipinya dengan tisu.


"Nggak bakal merah, lipstik Mama anti lengket," kata Lenka tertawa, dengan ulah putranya.


"Ayo kita berangkat! Hari ini, Mama kerja di Rumah sakit, nanti kalau pulang sekolah, Zio mainnya di tempat kerja mama saja," kata Lenka.


"Ya Ma," jawab Zio patuh.

__ADS_1


Setelah mengunci apartemen, Lenka menemani Zio untuk menunggu bus jemputan sekolah di halte. Sekalian Lenka menumpang bus itu, Karna  rumah sakit tempatnya bekerja tidak jauh dari sekolah Zio.


Hari pertama Lenka bekerja, dia mendapat sambutan yang baik dari karyawan rumah sakit itu. Kecuali seorang wanita paruh baya, bernama Yunita, menatapnya dengan sinis.


******


Zio sangat disenangi teman-temannya disekolah, karena Zio anak yang baik dan suka menolong.


Dia sangat unggul di setiap mata pelajaran, apalagi pelajaran matematika dan sains.


Diusianya yang baru memasuki tujuh tahun, Kenzio sudah mampu memecahkan soal-soal olympiade untuk anak kelas di atasnya. Membuat para guru bangga, Sekolah itu berencana akan mengikutsertakan Kenzio untuk mengikuti olympiade sains di Jakarta.


Rumah sakit Darya Medika, Jakarta.


Zeehan melemparkan berkas yang ada di depannya. Kepalanya terasa mau pecah, banyak persoalan yang mendera saat ini, dan dia tidak mampu memecahkan semua permasalahan itu, karna otaknya sedang buntu.


Seminggu sudah dia berada di Surabaya, namun hasilnya sia-sia, Zeehan tidak menemukan wanita yang dia cintai itu disana.


"Ya Tuhan, tolong aku, beri aku petunjuk tentang keberadaan mereka," batin Zeehan.


Zeehan hampir putus asa. Akhirnya dia kembali ke Jakarta, untuk mencari tentang petunjuk keberadaan Lenka di surabaya. Beberapa hari belakangan ini tubuhnya serasa lemah, Mual dan muntah sering menderanya. Hingga Zeehan harus dirawat dirumah sakit.


"Ada apa denganmu,Han?" Daniel merasa khawatir dengan kondisi putranya yang tampak lemah.


"Aku tidak tahu Pa, belakangan ini aku sering lupa makan, mungkin mag-ku kambuh," kata Zeehan.


"Tapi, kalau kamu Mag, tidak muntah setiap pagi kan, …Papa pernah mengalaminya saat ibumu hamil, namanya kehamilan simpatik atau jangan-jangan kamu menghamili anak orang lagi Han," 


Zeehan diam, terakhir kali dia  tidur dengan Lenka, saat malam itu Lenka mabuk setelah lari dari pernikahannya yang gagal. "Apakah Lenka hamil lagi," batin Zeehan. "Di mana kamu Lenka, jangan siksa aku seperti ini," gumam Zeehan, memijit kepalanya yang makin pusing.


"Jika keadaanku seperti ini, aku tidak bisa melakukan apapun, Pa?" ucap Zeehan lemah.


"Pergilah ke apartemennya, mungkin kamu bisa mencari petunjuk tentang keberadaan Lenka disana." Saran Papa Daniel.


"Iya Pa, jika aku sudah sehat, aku akan ke sana," kata Zeehan.


Dengan tubuh masih terasa lemah, Zeehan pergi ke Apartemen Lenka, dengan meminta bantuan petugas apartemen untuk memberikan kunci cadangan.


Disinilah Zeehan sekarang, di kamar Lenka.  Pria itu membuka lemari pakaian Lenka, mencari sesuatu yang dia sendiri tidak tahu apa. Zeehan hanya mengikuti nalurinya.


Tidak banyak pakaian Lenka di sana, matanya terpaku pada sebuah seragam SMA yang terlipat rapi di rak paling atas.  Zeehan mengambilnya, mencium aroma floral dari seragam itu. Aroma tubuh Lenka yang menenangkan pikirannya.


Zeehan membaringkan tubuhnya di ranjang Medium Size milik Lenka, Dia terlelap di sana, sangat nyenyak. Sambil memeluk seragam SMA Lenka. Seragam yang pernah di pakai Lenka saat mereka bersama di rumah pohon di pulau kecilnya.


Zeehan terbangun dari tidurnya setelah hari sudah mulai gelap. Zeehan merenggangkan tubuhnya yang terasa lebih segar. "Maaf Lenka, aku mengambil seragam mu," kata Zeehan, memasukkan baju kemeja putih itu kedalam tasnya. Dia lupa tujuan utamanya ke apartemen Lenka adalah untuk mencari petunjuk keberadaan Lenka. 


Zeehan meninggalkan apartemen Lenka setelah malam mulai larut.


*******""


Lenka baru saja selesai melayani pasien kecil terakhirnya. Perutnya terasa lapar, padahal dia baru saja makan.  Lenka tidak tahu, kenapa belakangan ini, nafsu makannya meningkat dua kali lipat.


"Mama, mama kok gendut sekarang?" tanya Kenzio.


"Masa sih, biasa saja," kata Lenka.


"Coba deh mama berdiri di kaca, jelek, Zio nggak suka?" Kata anak itu cemberut.


Lenka hanya tersenyum, mengacak rambut putranya, "Mama bawaannya sekarang lapar terus, Zio,"


"Iya, mama makannya banyak sekarang, kemaren mama makan di restoran, sampai nambah 2 kali," ujar Zio.


"Ya deh, mulai besok mama diet," kata Lenka tersenyum.


Lenka berdiri di depan kaca, mematut pakaiannya yang tidak ada lagi yang muat, Karena perutnya sudah membesar.


"Apa jangan-jangan aku hamil ya, sudah 4 bulan ini, tamu bulananku tidak datang," batin Lenka 


"Ya Tuhan, jangan sampai, Jovan pasti tidak mau membantuku kali ini. Kenapa aku harus hamil lagi,sih!" gerutunya. Lenka menarik nafas dalam-dalam. Sebuah pertanyaan konyol, yang Lenka sendiri tidak mengerti jawabannya. 

__ADS_1


"Apa aku harus menemui Dokter Han untuk meminta pertanggungjawabannya kali ini? Aku tidak mau, anakku lahir tanpa ada ayahnya," batin Lenka. "Apa yang harus kulakukan sekarang? Aku benci situasi seperti ini," gumam Lenka.


Bersambung.


__ADS_2