
Denis merasa lega setelah berada di rumah, rasa sakit ditubuhnya seolah lenyap, melihat senyum manis Judith. Gadis itu benar-benar telah membuat Denis jatuh cinta, gadis itu merawat luka ditubuh Denis dengan telaten.
Mama Maria memandang mereka dengan senyum. Dia bahagia karena Denis telah banyak berubah, dan menemukan kebahagiaannya bersama Judith, gadis yang lebih muda 7 tahun darinya.
"Judith, terimakasih sudah merawat Denis dan Dean, dengan baik." ucap Mama Maria tulus.
"Tidak perlu berterimakasih Aunty, Kak Denis juga telah banyak membantu saya selama ini,"
"Kapan kalian akan menikah?" tanya Mama Maria lagi.
"Setelah Judith mendapatkan dokumennya kembali Ma, "
"Baiklah, mama akan membantu kalian menyiapkan pernikahan kalian secepatnya! Tapi dokumen itu dimana?" tanya Mama Maria lagi.
"Dokumen itu ada pada Tuan Gary, Aunty!" jawab Judith.
"Iya Ma, aku akan menemui Pria itu besok di kantornya, Mama tidak usah khawatir."
"Ya nak."
Hari itu, Lenka dan mama Maria menemani Judith untuk berbelanja pakaian dan semua pernak-pernik pernikahan. Gadis berwajah blasteran itu tampak malu-malu saat Lenka membelikan beberapa helai lingerie.
"Kak Lenka, aku malu memakai ini kak!" katanya tersenyum tipis.
"Tidak Masalah Judith, memakainya kan hanya dikamar, " bisik Lenka.
Gadis itu tersenyum malu-malu.
******
Denis memasuki hotel milik Gary Arkana dengan langkah pasti. Dia akan kembali menemui Pria itu. Untuk meminta dokumen kependudukan Judith.
"Silahkan masuk, Pak! Anda sudah ditunggu!" kata sekretarisnya Gary Arkana.
"Terimakasih!" ucap Denis. Denis masuk ke ruangan kerja Gary dan duduk di hadapan pria itu.
"Selamat Siang, Tuan Arkana" Sapa Denis sambil mengangkat sebelah kakinya keatas paha kirinya.
"Tidak perlu berbasa-basi, Denis!" Gary Arkana memandang Denis dengan wajah penuh makna, wajah yang beberapa hari ini menghantui pikirannya. Wajah yang persis sama dengan Gary saat masih muda.
"Aku tidak berbasa-basi, Tuan Gary, langsung saja, aku hanya ingin meminta kembali dokumen Judith." Denis bicara to the point.
"Aku akan memberikannya, tapi aku meminta waktumu sebentar untuk berbincang-bincang," kata Gary Arkana.
Denis menarik nafas perlahan. Haruskah dia memanggil pria dihadapannya itu dengan panggilan Papa? Tidak. Pria itu tidak pernah merawatnya dari kecil, bahkan tidak menginginkan kelahirannya.
"Apa yang ingin anda bicarakan, Tuan Arkana?" Denis menatap pria itu tajam.
"Denis, aku minta maaf."
"Untuk apa?"
"Untuk semua kesalahan yang telah aku perbuat, terhadap Mamamu dan juga dirimu," kata pria itu tulus.
__ADS_1
"Anda tidak perlu meminta maaf padaku, Tuan Arkana, justru aku bersyukur, aku tumbuh besar tanpa kehadiranmu." ucapan Denis cukup menohok jantung Gary.
"Aku tahu, aku tidak ikut andil dalam merawat mu, tapi walau bagaimanapun dalam darahmu mengalir darahku....." kata Gary tenang.
Denis tersenyum mengejek."Bukankah kamu tidak menginginkan kehadiranku, Tuan Gary?"
"Aku tahu, aku pengecut....aku tidak berani bertanggung jawab, karena orangtuaku tidak merestui hubunganku dengan Mamamu,"
"Hah, sebuah alasan yang klasik, Tuan!" Denis tertawa kecil.
"Kau boleh percaya atau tidak, tapi begitulah kenyataannya. Tuhan telah memberiku karma, pernikahanku dengan istriku, hanya bertahan seumur jagung. Kamu bercerai karena istriku tidak bisa memiliki anak."
"Bukankah dengan uangmu, kau bisa membeli wanita?" ejek Denis.
"Ya, aku bisa ....tapi untuk dijadikan pendamping hidup, tidak ! Semuanya tidak ada yang tulus mencintaiku, hanya demi uang."
Denis kembali menarik nafas, Dia juga pernah berada di posisi seperti ayahnya, bermain perempuan, karena memiliki banyak uang.
Tidak ada yang tulus, semua karena uang, begitulah hubungannya dengan wanita-wanita yang ingin dekat dengannya, termasuk Clarissa. Tapi dengan Judith, Denis yakin Judith belum mengetahui siapa dia sebenarnya. Judith hanya menganggap Denis seorang pegawai kantor biasa. Apalagi Denis tinggal dirumah yang tidak terlalu besar.
"Denis, maukah kamu memaafkan aku, agar aku bisa tenang dan tidak dihantui rasa bersalah."
Denis menundukkan wajahnya, kemudian mengangkatnya kembali, menatap tajam kearah netra hitam Gary Arkana.
"Maaf Tuan Gary, aku bisa saja memaafkan kamu, tapi untuk memanggilmu Ayah, aku belum bisa, aku hanya akan mendengarkan kata mama, jika dia mengizinkan, dengan senang hati aku akan melakukannya, tapi jika Mama tidak mengizinkannya, maaf sekali Tuan, aku tidak akan berani menyakiti hati mamaku," jawab Denis tajam.
"Yah, sekarang memang tidak, tapi kuharap lain kali kamu bisa memaafkan aku, Denis! Aku tidak punya siapa-siapa dalam hidupku, aku sendirian. Aku kesepian, aku butuh pewaris untuk menjalankan semua Bisnisku! Dan aku bersyukur bisa bertemu denganmu, walaupun di usiaku yang sudah tua ini."
Gary Arkana tampak lemah, dibalik tubuh tegap dan sikap keras nya, dia memiliki jiwa yang rapuh. Pria itu tampak mengeluarkan air mata. Air mata penyesalan. Denis berusaha untuk tidak luluh, walau hatinya merasa kasihan melihat ayah biologisnya itu
"Ini dokumen milik Judith, kapan kalian akan menikah?" tanyanya lemah.
"Dalam Minggu ini, kau boleh datang di acara pernikahanku, Tuan Arkana?"
"Tentu saja aku akan datang, walaupun kau tidak mengundangku," kata Gary tersenyum.
Tampaknya Denis masih menghargai dirinya sebagai seorang ayah, walau bicaranya sedikit angkuh. Sama persis dengannya.
"Kau bisa menggunakan hotel ini untuk pesta pernikahanmu, Denis. Kamu tidak perlu memikirkan biayanya!" kata Gary lagi.
"Aku tidak perlu dikasihani Tuan Arkana, aku bisa membayar hotelmu dua kali lipat" Denis mendengus kasar.
Gary Arkana tersenyum tipis.
"Jangan begitu Denis! persiapkan dirimu, aku sudah merubah surat warisanku, atas namamu," kata Gary. Pria itu duduk di sofa, sambil menelpon seseorang dari ponselnya.
"Apakah aku sudah bisa pergi, Tuan Arkana?" Denis bangkit dari tempat duduknya semula, membalikkan tubuhnya. Netranya menatap Gary yang tampak memegang dadanya. Sepertinya dia kesakitan. Namun pria itu berusaha untuk tidak memperlihatkannya pada Denis.
"Tunggu sebentar, Denis! Aku akan memperkenalkan mu dengan seseorang, dia adalah pengacaraku, namanya Marcel Aditama." suara Gary terdengar bergetar.
"Tuan Arkana, apakah anda yakin aku adalah putra anda, bagaimana kalau anda salah?"
"Hah....ikatan batin orang tua dan anak, tidak bisa diragukan, Denis. Aku sering didatangi orang-orang yang mengaku anakku, yah...mungkin itu adalah karma, karna aku sering bermain perempuan. Tapi, aku tidak pernah merasakan perasaan yang saat ini aku rasakan. Sifatmu, cara bicaramu, gestur tubuhmu, semuanya sama denganku."
__ADS_1
Pria itu mengeluarkan sebuah potret lawas, dari dalam kemejanya dan memberikannya kepada Denis.
"Itu fotoku waktu seumuran kamu, tidak ada bedanya bukan?" Denis melirik foto itu, dia mengiyakan dalam hati.
"Tapi tetap saja tidak merubah perasaanku padamu, Tuan!"
"Tidak masalah Denis, cukup kau mau menerima semua warisanku, aku sudah bisa tenang, jika aku harus meninggal sekarang, aku ikhlas, aku bisa pergi dengan tenang, karena aku sudah bertemu denganmu, anakku!"
Darah Denis mengalir dengan cepat, ucapan Gary yang menyebutnya 'anakku' membuat hati Denis bergetar. Dia terpaku ditempat dia berdiri.
Seorang pria masuk ke dalam ruangan kerja Gary Arkana, memecah kesunyian diantara keduanya.
"Selamat siang, Tuan Gary?" sapanya.
"Siang, Marcel, duduklah, kenalkan ini putraku, Denis Aryadinata," kata Gary bangga.
"Halo Pak Denis, saya Marcel, pengacaranya Pak Gary."
"Halo Marcel, saya Denis," Denis menyalami pria berkacamata itu.
"Silahkan duduk Marcel!" Gary mempersilahkan Marcel untuk duduk. "Denis, duduklah, nak!"
Denis akhirnya duduk di depan Marcel, pengacara Gary. Marcel membacakan daftar kekayaan Gary Arkana, di Bali, Jakarta dan Australia. Denis tercengang mendengarnya. Tak percaya, kekayaan ayahnya melebihi kekayaan Daniel Aryadinata.
"Itulah semua harta Tuan Gary Arkana, Pak Denis, jika anda menolak, itu artinya, semua kekayaan Tuan, akan kami sumbangkan kepada yayasan sosial dan panti asuhan. Tapi harta itu akan habis begitu saja, kami tidak akan tahu, bagaimana nasib ribuan karyawan yang menggantungkan hidupnya di perusahaan ini, jika nanti Pak Gary tidak ada,"
"Benar Denis, tapi jika kamu menerima, Aku yakin kamu mampu menjalankan semua Bisnisku, karena kamu punya bakat untuk menjadi seorang pemimpin."
Denis diam sejenak, "Bolehkah aku bicara dengan Mama sebelum menerima semua warisan anda?" tanya Denis bimbang.
"Aku tidak punya waktu lagi, Denis! Setelah memastikan kamu memiliki semuanya, aku akan pergi jauh!" Gary menarik nafasnya yang mulai terasa sesak.
"Tuan!" Marcel menenangkan Gary yang tampak pucat,
"Denis, Maafkan Papa nak! Tanda tangani lah surat itu, papa harap kamu tidak membenci Papa, jangan kecewakan papa!" suara Gary mulai serak dan lemah..
"Baiklah! Dimana aku harus tanda tangan," kata Denis.
Marcel menyodorkan beberapa lembar surat pengalihan kekuasaan pada Denis. Denis menandatanganinya dengan cepat.
Tuan Gary tersenyum, "Terimakasih, nak!" bisiknya, suara itu makin lemah dan akhirnya diam.
"Tuan Gary!" Marcel menahan tubuh pria itu yang hampir rubuh ke lantai.
"Papa!" Denis kaget dan membantu Marcel membaringkan tubuh Ayahnya di sofa dan membuka kancing kemeja atasnya.
"Marcel, panggil ambulance, kita bawa Papa ke rumah sakit sekarang!" Denis berusaha untuk tidak panik.
"Kerumah sakit mana Pak?"
"Darya Medika, cepetan" Marcel menghubungi ambulan dan Denis mengendong tubuh ayahnya keluar dari ruang kerja melewati lift khusus pimpinan perusahaan dan keluar dari pintu belakang, agar tidak terjadi keributan.
Di halaman belakang sudah menunggu ambulan dan setelah Denis dan Marcel masuk, ambulan itu melaju dengan kecepatan tinggi menuju rumah sakit.
__ADS_1
Bersambung.