
Warga disekitar tempat tinggal Zeehan berhamburan keluar rumah, mendengar suara ledakan di rumah Zeehan. Polisi datang ke TKP setelah mendengar laporan dari Zeehan dan memberi garis polisi di sekitar mobil yang Lenka yang terbakar.
"Selamat malam Pak!" seorang polisi bernama Sandi, menyalami Zeehan dan mulai menginterogasi.
"Selamat malam, Pak, saya Zeehan! Silahkan masuk, sebaiknya kita bicara di dalam," Zeehan mengajak dua orang petugas polisi masuk ke dalam rumah.
"Sekarang coba ceritakan kronologinya pak Zeehan!" kata polisi Sandi.
"Ya, mobil itu sebenarnya bukan punya saya, tapi istri saya, dia sedang berkunjung ke sini, untuk menjemput putra kami, dia hanya beberapa menit disini, kemudian mau pulang, belum sempat dia sampai di mobil, mobil itu meledak," terang Zeehan.
"Apakah istri anda mempunyai musuh sebelumnya," tanya polisi.
"Saya rasa sasaran orang ini bukan dia, tapi saya, mereka salah sasaran,"
"Anda mencurigai seseorang,"
"Tidak, saya merasa tidak mempunyai masalah dengan orang lain," jawab Zeehan tenang.
"Bolehkah kami bicara dengan istri anda!" kata polisi itu.
"Maaf pak, istri saya sedang syok, saya tidak mau dia stres, jadi biarkan dia istirahat dulu, nanti kalau dia sudah siap, saya sendiri yang akan mengantarnya ke Kantor anda, untuk memberi keterangan," ucap Zeehan bijak.
"Baiklah, Pak Zeehan, terimakasih atas waktu anda, kami akan melanjutkan penyelidikan kasus ini nanti, setelah mendapat keterangan dari istri anda,"
Zeehan mengangguk. Dia menghela nafas panjang. Zeehan sebenarnya tahu siapa dalang di balik teror yang menimpa keluarganya. Tapi dia tidak mau menyebut nama itu, karena menyangkut keluarga besar ayahnya.
Zeehan kembali ke kamar di lantai atas, dimana Lenka dan Zio berada. Zio pulas dalam tidurnya. Sementara Lenka duduk sambil memeluk kedua lututnya, raut wajahnya masih memancarkan kecemasan.
"Tidak bisa tidur?" Zeehan duduk di sisi ranjang. Mengusap rambut hitam Lenka dengan lembut. Lenka mendongak, memandang Zeehan dengan sedih, air matanya mengalir deras, Lenka memeluk pria itu erat, dan menyandarkan wajahnya di dada bidang Zeehan. Zeehan mengusap punggung Lenka dengan perlahan. membiarkan Lenka menumpahkan segala kegelisahan dan ketakutan nya. Agar wanita itu tenang.
Tidak ada pergerakan dari Lenka, Zeehan mulai menyadari kalau wanitanya itu telah terlelap. Perlahan Zeehan membaringkan Lenka di tempat tidur. Menyelimutinya dan memberikan sebuah kecupan lembut di keningnya.
"Jangan pergi!" racau Lenka sebelum matanya terpejam. Zeehan berbaring disisi Lenka. Mengapit Lenka antara Zio dan dirinya.
Zeehan berbaring terlentang dengan meletakkan sebelah tangannya di bawah kepala, sebelahnya lagi menutupi matanya, Zeehan terpejam sejenak, namun tak lama netranya kembali terbuka merasakan pergerakan Lenka, yang gelisah dalam tidurnya. Keringat dingin membahasi kening wanita itu.
Zeehan memandangi wajah Lenka yang sedikit pucat. "Tidaaak," Lenka bangun dari tidurnya dengan nafas yang terengah-engah. Keringat dingin membasahi tubuhnya.
"Mimpi buruk?" Suara lembut Zeehan membuat Lenka menoleh, dia merasa tenang, ternyata dia tidak sendiri sekarang. Lenka menarik nafas perlahan.
Lenka menyandarkan kepalanya di bahu Zeehan, menghirup aroma tubuhnya yang menenangkan. Tidak bisa dipungkiri, Lenka membutuhkan pria itu saat ini. Dia tidak punya siapa-siapa lagi selain Zeehan sekarang. Ayah dari anak-anaknya.
"Zeehan, aku takut," Lenka memejamkan matanya gelisah.
"Tidak usah takut, mereka hanya mengancam, mereka tidak akan berani membunuh kita," ucap Zeehan tenang.
__ADS_1
"Kamu tahu siapa yang melakukan teror pada kita?"
Zeehan mengangguk, "Sebenarnya sasaran mereka adalah aku, bukan kamu," kata Zeehan mengusap pelan lengan kiri Lenka.
"Denis yang melakukan semua ini," kata Lenka lirih."Tadi siang aku bertemu dengan Daniel di Mall, dia memintaku membantunya untuk menyingkirkan mu, tentu saja aku menolaknya," ucap Lenka.
"Aku tahu, tapi aku tidak akan membalasnya, walau bagaimanapun, dia adalah saudaraku,"
"Aku takut kehilanganmu," ungkap Lenka jujur. Zeehan tersenyum, perlahan dia meraih dagu Lenka, memandanginya dengan lekat. Sepertinya kebekuan hatinya mulai mencair.
"Aku tidak akan pernah meninggalkanmu, tetaplah disini bersamaku, kita akan menghadapi semua masalah ini bersama," janji Zeehan.
Lenka mengangguk, menatap dalam netra hitam itu, tidak ada keraguan, tidak ada kebohongan. Masihkah Lenka menolak untuk hidup bersama Zeehan, pria sederhana yang telah membuatnya jatuh cinta begitu dalam. Cinta yang mampu memecahkan batu karang. Cinta yang telah menghadirkan sosok pria kecil yang begitu tampan dan jenius, diantara mereka.
"Tidurlah kembali, aku akan menjagamu disini," ucap Zeehan tulus. Lenka mengangguk, seraya membaringkan tubuhnya kembali ditempat tidur. Zeehan menghela nafas panjang. Zeehan beranjak dari tempat tidur, berjalan perlahan menuju sofa. Kemudian membaringkan tubuhnya disana, lelah.
Jam di dinding kamar baru saja menunjukkan pukul 12 malam. Zeehan bangun lagi dari tidurnya. Mengambil ponsel dari dalam kantongnya. Cukup lama dia menggulir layar ponselnya. Jemarinya berhenti pada sebuah nama David Genola,
David adalah teman baik Zeehan saat mereka bertemu saat awal kuliah di Universitas Indonesia. Zeehan adalah seorang mafia, dibalik profesinya menjadi seorang dokter bedah.
"Halo, Apa kabar, Bro? Tumben nelpon gue malam-malam," jawab suara dibalik telponnya.
"Lo dimana sekarang, Vid? Gue butuh bantuan Lo," Zeehan memijit keningnya yang terasa pusing.
"Gue ada di Jakarta, di rumah sakit Bakti Kencana, apa yang bisa gue bantu," tanya David.
"Lo mencurigai seseorang?"
"Ya, saudara tiri gue, dia marah karena gue mewarisi seluruh kekayaan Papa gue, dia tidak bisa mengalahkan gue, karena dia bukan anak kandung Papa, sekarang dia meneror gue, namanya Denis,"
"Oke, apa yang bisa gue lakuin buat Lo?"
"Beri dia sedikit pelajaran dan berhenti mengganggu keluarga gue!"
"Baiklah, gue akan menyuruh anak buah gue membereskannya," ucap David.
"Terimakasih, David, gue akan mengirimkan bonus buat anak buah Lo," ucap Zeehan berbasa-basi.
"Ha ..ha..gue nggak butuh duit Lo, Han, duit gue juga udah banyak kali," David tertawa lepas.
"Truss, apa dong?"
"Gue pengen minta bantuan Lo,"
"Bantuan gue, apa yang harus gue bantu?" Zeehan penasaran.
__ADS_1
"Anak gue Kesya, dia sakit, dia tidak mau berobat sama dokter, selain dokter dirumah sakit Lo,"
"Oh ya, siapa namanya?"
"Kata mama gue, namanya dokter Valencia, Kesya menyukainya, dia sering menemui dokter Valen, walau dia tidak sakit sama sekali," ungkap David.
"Mm, baiklah, gue akan membawa dokter Valen ke rumah Lo, besok siang,"
"Oke, thank you, Han, gue tunggu," kata David tersenyum.
"Sama-sama,Vid!" Zeehan tersenyum tipis.
Zeehan menarik nafas panjang, dia melirik Lenka yang terbangun dari tidurnya.
"Apakah suaraku mengganggu tidurmu?" Kata Zeehan mendekat dan duduk di sisi ranjang.
"Tidak, hanya saja aku tidak bisa tidur," Lenka pun bangkit dari tidurnya, kemudian duduk disamping Zeehan. "Siapa yang nelpon?" Tanya Lenka, sembari merapikan Surai hitamnya yang berantakan. Zeehan membantu menyisir dengan jemarinya perlahan, menatap wanita cantik itu dengan kagum.
"Seorang teman, namanya David, anaknya sedang sakit, dia ingin bertemu denganmu, Katanya dia hanya ingin berobat sama kamu," terang Zeehan.
"Oh ya? Siapa?"
"Namanya Kesya, katanya dia sering menemui mu di Rumah sakit Darya Medika,"
"Kesya! Oh, ya …anak perempuan itu, dia sangat manis dan lucu, dia memintaku untuk menjadi ibunya, karena ibunya sudah meninggal," Lenka tersenyum sendiri membayangkan wajah imut Keysa yang memelas, memintanya menjadi ibunya.
"Aku tidak tahu, kalau istri David sudah meninggal," ujar Zeehan.
"David Genola, dokter Bedah itu?" tanya Lenka menautkan kedua alisnya.
"Mm, kamu mengenalnya," Zeehan mendekatkan wajahnya ke wajah Lenka, menatap manik hitam Lenka yang bercahaya.
"Tidak begitu, hanya pernah mendengar namanya."
"Ku pikir kamu kenal baik dengannya, aku jadi takut, dia akan menjadikan Kesya sebagai alat untuk mendapatkanmu," ucap Zeehan, ada nada kekhawatiran dan kecemburuan disana.
"Hei, kenapa berpikiran seperti itu, kamu tahu hatiku Zeehan, aku tidak akan bisa berpaling darimu, Aku milikmu!"
"Entahlah, pikiranku berkata seperti itu," Zeehan menghela nafas berat.
"Aku selalu menjaga hatiku untukmu, percayalah!" Lenka memberanikan diri untuk mencium pipi pria itu lembut.
"Aku percaya padamu!" bisik Zeehan. Sebelah tangannya menyusup ke balik tengkuk Lenka, menahannya agar tidak bergerak, dengan lembut Zeehan ******* bibir manis itu. Lenka mendesah.
"Maafkan kesalahanku yang lalu, Aku meninggalkanmu tanpa pamit," ucap Lenka di sela jeda ciuman mereka.
__ADS_1
"Aku juga minta maaf telah berkata kasar padamu," Lenka mengerjapkan matanya tersenyum manis. Keduanya saling berpelukan erat, seolah tidak ingin berpisah lagi.
Bersambung.