TAK SANGGUP MELUPAKANMU

TAK SANGGUP MELUPAKANMU
David Genola


__ADS_3

Bercinta di siang hari, membuat adrenalin kedua pengantin baru itu berpacu dengan cepat. Menumpahkan kerinduan yang telah lama terpendam. Menyatukan diri dalam gelombang asmara yang menggetarkan jiwa dan raga. Rona bahagia terpancar dari wajah keduanya. Tidak ada lagi sakit hati dan amarah. Lima menit berlalu dengan cepat, mereka bercinta hampir 40 menit dan itupun tidak cukup membuat Zeehan puas.


"Sayang, ayolah, kita harus kerumah Kesya kan!" lirih Lenka setelah pergumulan panas mereka siang itu.


"Sebentar lagi sayang," Zeehan masih memeluk Lenka dengan posesif. Seolah tidak rela kemesraan itu berlalu.


"Kita lanjutkan nanti malam ya, nggak enak sama David, kita udah janji sama dia," ujar Lenka, menarik tubuhnya dari dekapan Zeehan. Zeehan hanya tersenyum menggoda. Lenka buru-buru lari ke kamar mandi dan membersihkan diri.


Tiga puluh menit kemudian, Lenka sudah kembali ke kamar dengan pakaian rapi. Dan menyuruh Zeehan untuk segera mandi.


*******


Zeehan dan Lenka sampai di sebuah rumah bergaya Eropa di kawasan elite di pinggir kota Jakarta. Keduanya turun dari mobil dengan  peralatan medis di tangan Zeehan. Mereka disambut David dengan gembira, "Ayo masuk, Han, …Mm, anda dokter Valen?" tanya Pria bernama David Genola itu.


"Ya, apa sebelumnya kita pernah bertemu ya?" Lenka mengingat-ingat. Rasanya dia pernah bertemu dengan pria itu, tapi entah dimana.


"Ya, kita bertemu saat kamu berangkat dari Nusa Tenggara ke Australia, sekitar 7 tahun yang lalu," sorak pria itu, tersenyum.


"Kamu nangis-nangis nggak jelas waktu itu." 


"Ya, aku ingat," kata Lenka ramah. 


David Genola adalah seorang putra pemilik perusahaan besar Genola Corp. Sayang saat tamat SMA, David memilih program studi kedokteran dan mengambil spesialis bedah. Jauh dari harapan sang ayah yang menginginkan anaknya menjadi seorang bisnisman.


"Silahkan masuk! Kesya ada di kamarnya mari saya antar," David mengantar Lenka ke kamar putrinya. Diikuti Zeehan dari belakang. Perlahan Lenka mendorong pintu kamar yang sedikit terbuka, gadis manis itu terbaring lemah di ranjang kecilnya.  Bocah kecil itu menoleh, 


"Bu dokter!" Kesya tampak gembira melihat kedatangan Lenka. 


"Kesya, sakit apa sayang?" Lenka duduk di sisi ranjang gadis kecil itu.


"Kesya hanya mengalami demam, beberapa hari yang lalu," kata seorang wanita tua, ibunya David. "Kesya tidak mau berobat kalau bukan sama dokter Valen," kata wanita itu menambahkan.


"Oh, jadi ceritanya Kesya kangen sama Bu dokter?" Kata Lenka. "Sini, biar ibu periksa!" Lenka meraba kening gadis kecil itu.  Kemudian meletakkan alat pengukur suhu tubuh, di mulutnya.


"38°C, sudah tidak terlalu panas, sayang," ujar Lenka memperhatikan angka yang tertera di termometer digitalnya. "Kesya ibu dokter kasih obat ya!" Lenka mengeluarkan beberapa lembar obat untuk pasien kecilnya.


"Iya Bu dokter," kata Kesya patuh. David tersenyum melihat putri kecilnya itu kembali ceria.


"Dia sering demam, kalau sudah mengingat almarhum ibunya," kata Mama David, memandang cucunya sedih.


"Begitu ya Bu," Lenka manggut-manggut, perlahan dia mengusap rambut gadis kecil itu lembut.


"Iya, dia bilang, dia ingin Bu dokter menjadi ibunya," kata wanita itu lagi.


"Iya Bu dokter, Bu dokter mau kan, jadi ibunya Kesya?" Gadis kecil itu memohon. Sama saat Lenka masih bekerja di Darya Medika beberapa bulan yang lalu.

__ADS_1


Lenka menatap Zeehan dan David bergantian. Dia bingung harus menjawab apa.


"Kalau Kesya mau jadi anaknya Bu dokter boleh saja, Kesya bisa datang ke rumah Bu dokter, bermain sama Kenzio, anaknya Bu dokter," kata Lenka pelan.


"Bu dokter sudah punya anak," tanya Kesya tampak kecewa. 


"Sudah, namanya Kenzio, lebih besar satu tahun dari umur Kesya, sekarang Bu dokter juga sedang hamil adiknya Kenzio," 


Kesya tampak cemberut dan marah. 


"Kesya, walau Kesya bukan anaknya Bu dokter, tapi Bu dokter mau kok berteman dengan Kesya," bujuk Lenka lagi.


"Nggak mau, Kesya maunya Bu dokter tinggal disini, sama papa, sama Kesya," kata Kesya egois.


"Kesha jangan begitu sayang, Kesya tidak boleh memaksakan kehendak pada Bu dokter, karena Bu dokter sudah menikah," kata David menenangkan putrinya.


"Kesya tidak mau tahu," 


"Bisa tinggalkan kami berdua" kata Lenka pada Zeehan dan David. Kedua pria tampan itu keluar dari kamar Lenka.


"Zeehan, Lo  tahu dengan siapa dokter Valen menikah?" Tanya David begitu mereka duduk di ruang tamu.


"Mm, dia istriku, Vid," aku Zeehan tersenyum.


"Kapan kamu menikah, Han? Kenapa kamu tidak mengundangku,"tanya David.


"Oh, sorry, gue pikir dokter Valen masih lajang, soalnya dia tidak seperti wanita beranak satu," Kata David, ada nada kekecewaan dalam hatinya, jujur dia menyukai Lenka, saat pertama kali bertemu di Australia.  Tapi sayang, saat itu Lenka mengabaikannya. 


"Anakmu sudah mau dua, Vid,.istriku sedang hamil anak kedua," kata Zeehan bangga.


"Oh ya Han, Denis sudah kami beri sedikit pelajaran, dia mengaku menyuruh orang meneror Lo," David mengalihkan pembicaraan mereka.


"Trus, dimana dia sekarang?" tanya Zeehan.


"Sudah dipulangkan ke rumahnya, dia berjanji tidak akan menganggu Lo lagi," 


"Terimakasih, David, gue sebenarnya hanya malas berantem, karena masih menganggap dia saudara gue," 


"Sepertinya, dia diperalat ibunya,"


"Ya, ibu Maria tidak terima, semua warisan Papa jatuh ke tangan gue, dan Papa hanya memberikan sebagian kecil saham untuk Denis,"


Cukup lama Zeehan dan David ngobrol, mulai hal-hal ringan bahkan sampai ke masalah perusahaan. Hingga Lenka keluar dengan senyum manis di wajahnya. Kesya keluar bersamanya. Bocah kecil itu duduk di pangkuan Lenka, sambil tersenyum ceria.


"Anak Papa, sepertinya bahagia sekali," David mengacak rambut putrinya.

__ADS_1


"Papa, jangan," Kesya menepis tangan ayahnya dari atas kepala.


David tertawa, "Papa senang, melihat Kesya bahagia."


"Pa, Bu dokter akan mengajak Kesya bermain ke rumah Bu dokter, kalau Kesya sembuh, boleh ya Pa?" Ucap Lenka dengan suara imutnya.


"Tentu saja boleh," 


"Kesya mau bermain sama Kak Zio, nanti kalau Kesya udah besar, Kesya mau jadi temannya Kak Zio dan jadi anaknya Bu dokter," kata Kesya senang.


"Mm, jadi ceritanya Bu dokter mau  dijodohin Kesya  sama kak Zio!" Seru David tersenyum.


"Emang boleh, Pa!" 


"Tentu saja boleh," 


"Hore, makasih Pa, makasih Bu dokter, Om dokter," kata Kesya gembira.


Zeehan ikut tersenyum melihat keceriaan gadis kecil itu. 


"Memangnya, anak lo kelas berapa sekarang,Han?"


"Baru masuk SD, tapi loncat kelas kelas tiga, sekarang dia mengikuti Olimpiade Sains di Universitas Bina Nusantara," beber Zeehan bangga.


"Jenius juga anakmu, Han. Tapi nggak heran gue, Lo kan pintar juga, apalagi Mamanya," puji David. Lenka hanya tersenyum sambil memainkan rambut Kesya yang ikal.


"Lo juga nggak kalah pintar, Vid, Lo kan kesayangannya dosen Stevia," ungkap Zeehan bernostalgia.


"Bukannya Elo," ledek David.


"Elo lah, gue bukan nggak pernah meladeni chat  dia, hingga dia marah, dan ngatain gue sombong,"


"Emang kenapa, Lo nolak dia," kata David.


"Yang pasti gue nggak bisa move on dari wanita cantik di sebelah ini, gue bertahan selama itu, demi cinta pertama gue, Valencia Kaynara," Zeehan melirik Lenka yang masih bermain bersama Kesya.


"Jadi kalian sudah pacaran lama," David tidak yakin sebelumnya.


"Ya, sejak kelas XII SMA," jawab Zeehan.


"Oh, gue juga bertemu mamanya Kesya saat masih kelas XII SMA, tapi sayang dia meninggal saat melahirkan Kesya," ungkap Zeehan sedih.


"Aku turut berduka cita, Vid," ucap Lenka.


"Makasih, aku tidak mau Kesya memiliki ibu sambung yang tidak menyayanginya. Makanya aku tidak bisa sembarangan memilih wanita, pengganti ibunya Kesya, semua aku serahkan pada Kesya, kalau dia menyukai seseorang untuk menjadi ibunya, aku tidak akan menolaknya," ujar David.

__ADS_1


Lenka memandang David dengan perasaan gundah. Lenka tidak mengerti, kenapa Kesya begitu menginginkan dirinya, untuk menjadi ibu sambungnya. Untunglah, sekarang dia sudah menikah dengan Zeehan, jadi dia punya alasan untuk menolak keinginan Kesya.


Bersambung


__ADS_2