
Keluarga kecil Zeehan telah kembali ke Jakarta. Hari ini, Lenka berencana akan mengantar Kenzio ke sekolah barunya, Sebuah sekolah Internasional, di Jakarta. Setelah surat pindah Kenzio dari Surabaya dikirim pihak sekolah.
"Sayang, aku ikut nggak jadi ikut ke sekolah Kenzio, ada rapat di Rumah sakit," kata Zeehan pagi itu sebelum berangkat ke Kantornya, di Rumah Sakit Darya Medika.
"Nggak Apa-apa, Sayang! Biar aku yang urus, kamu pergi saja," sahut Lenka sambil berhias di depan cermin.
"Aku pergi duluan ya!" Zeehan mengecup lembut kening Lenka dan mengusap perut besarnya.
"Hati-hati,Papa!" Lenka menirukan suara anak kecil dengan imutnya.
"Kalian juga hati-hati, aku akan menyuruh Pak Hendro mengantar mobil untuk mengantar Kenzio ke sekolah, Zio papa berangkat ya!"
"Ya Pa, " Zio mencium tangan Zeehan dengan takzim. Pria itu tersenyum mengusap kepala Zio dengan penuh kasih.
Zeehan berangkat ke rumah sakit lebih awal, hari ini ada rapat umum pemegang saham yang akan dia hadiri.
Sementara Lenka mengantar Kenzio ke sekolah dengan mobil barunya, yang dikirim Zeehan melalui seorang karyawan showroom.
"Mama, mobil baru ya?" tanya Zio excited, melihat sebuah mobil Mercedez Benz berwarna merah parkir didepan rumah.
"Iya, Zio suka?"
"Suka Ma, nanti kalau Zio sudah besar, Zio akan nyetir sendiri,"
"Boleh, ayo kita berangkat, sekarang!" ajak Lenka, membukakan pintu mobil untuk Kenzio.
"Ayo Mama, let's go!" Kenzio tampak bersemangat.
Lenka mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang, membelah jalanan ibu kota yang sibuk di pagi hari. Dengan menempuh perjalanan hampir 20 menit, mereka sampai di Jakarta Internasional School.
Lenka masuk ke ruangan Tata Usaha, untuk mengantar surat pindah putranya.
"Selamat pagi Bu Lenka, silahkan duduk dulu," kata Seorang pegawai Tata Usaha ramah, bernama Maharani.
"Terimakasih, Bu!" Lenka dan Kenzio duduk di ruangan TU, yang lebih luas dari sekolah Kenzio yang lama. Berbagai piala penghargaan berderet di dalam sebuah lemari pajangan di sudut ruangan. Dan piagam-piagam yang berjejer di dinding ruangan. Menunjukkan bahwa sekolah itu memiliki prestasi yang bagus.
"Bu Lenka, jadi sekarang Kenzio duduk di kelas 4 ya," kata pegawai TU itu.
"Iya Bu Rani, apa ada masalah?"
"Tidak, tapi saya harap Kenzio bisa menyesuaikan diri dengan teman-temannya yang notabene lebih besar dari usianya,"
"Ya, saya rasa anak saya bisa mengatasinya, bukan begitu sayang," tanya Lenka pada Kenzio.
"Ya Ma,"
"Kalau begitu, Kenzio silahkan ikut dengan Bu Shinta, beliau wali kelas 4," kata Bu Rani, menunjuk Bu Shinta yang baru masuk ke ruangan itu. Bu Shinta tersenyum manis, menyalami Lenka dan Kenzio bergantian.
"Saya Bu Shinta, wali kelasnya Kenzio nanti di kelas 4." Bu Shinta memperkenalkan diri."Ayo ikut ibu, Kenzio!"
"Baik Bu!" Jawab Zio patuh. Kenzio berdiri mengikuti Bu Shinta, setelah sebelumnya mencium tangan Lenka lembut.
"Bu Lenka, mohon di isi data siswa di formulir ini," kata Bu Rani, memberikan selembar kertas angket ke tangan Lenka.
"Oh ya, makasih Bu Rani," Lenka mengisi data diri Kenzio, untungnya dia sudah memperbaiki Kartu Keluarga mereka yang baru, atas nama Zeehan.
"Sudah Bu! Ini formulirnya," Lenka kertas yang berisi data lengkap Kenzio. Bu Rani membacanya sebentar, keningnya berkerut, memikirkan sesuatu.
"Ada masalah, Bu Rani?" Lenka menyadari wajah Bu Rani yang sedikit heran.
__ADS_1
"Maaf, Bu Valencia, apakah ...Kenzhia adiknya Kenzio?" tanya Bu Rani berhati-hati.
"Kenzhia?" Lenka balik bertanya.
"Iya, dia siswa kami di kelas satu, namanya Kenzhia Aryadinata, nama ayahnya juga sama, Zeehan Aryadinata," jelas Bu Rani. Lenka berpikir sejenak, dia tahu yang dimaksud Bu Rani adalah Putrinya Sherly.
"Bukan, Bu Rani, mungkin kebetulan saja, Kenzhia baru berumur 7 tahun sekarang," jawab Lenka tersenyum menutupi kegundahan hatinya.
"Oh begitu ya, Bu, ya udah saya minta maaf, ibu bisa pulang setelah ini," kata Bu Rani merasa tidak enak.
Lenka duduk di ruang tunggu sekolah, dia ingin menunggu Kenzio untuk pulang bersama, di hari pertama masuk sekolah itu.
Lenka duduk sendiri, sambil bermain dengan ponselnya. Tak terganggu oleh suara hiruk pikuk anak-anak yang berlarian di lapangan sekolah, pada saat jam pelajaran olah raga.
Seorang anak kecil berwajah cantik, dengan rambut panjang berkepang dua, dihiasi jepitan lucu diatasnya, berlari mengejar bola yang berada dibawah kaki Lenka.
"Maaf Tante, Zhia mau ambil bola," katanya dengan suara imutnya.
"Oh ya, maaf Tante nggak liat bolanya jatuh kemari," Lenka merunduk mengambilkan bola dibawah kakinya, dan menyerahkan pada Anak kecil itu.
"Terimakasih, Tante!" ucapnya tulus, memandang Lenka dengan bola mata berbinar.
"Sama-sama sayang, " Lenka menatap gadis kecil itu hingga menjauh.
"Mama," Kenzio mendekati Lenka yang duduk di ruang tunggu, saat jam istirahat tiba. "Mama belum pulang?"
"Belum sayang, bagaimana kelasnya," Lenka membersihkan keringat yang menetes di kening Kenzio.
"Menyenangkan kok Ma, kakak-kakak nya baik-baik," kata Kenzio senang.
"Syukurlah, Zio mau makan sayang?"
"Zio belum lapar, nanti saja! Zio mau main sama teman-teman ya Ma."
"Nggak kok Ma, Zio mau main sama anak seumuran Zio kok."
Anak kecil itu berlari kearah anak-anak yang bermain di lorong kelas, tidak waktu lama bagi Kenzio untuk beradaptasi dengan
Teman-teman barunya. Karena anak itu sangat extrovert dan humble. Gadis kecil yang tadi menyapa Lenka, tampak berkenalan dengan Zio. Anak itu mengulurkan tangannya, Zio menyambutnya senang.
"Aku Zhia, kamu siapa? tanya anak itu manis.
"Aku Zio.." Zio.memperkenalkan diri.
"Zio, Zhia, kalian saudaraan ya! Namanya hampir sama, Kenzhia dan Kenzio? tanya salah seorang anak bertubuh gempal.
"Tidak, mungkin kebetulan saja," kata Zio.
"Kamu kelas berapa Zio?" tanya Zha.
"Kelas empat, kebetulan aku lompat kelas," kata Zio bangga.
"Wah, kamu hebat," puji anak-anak itu.
"Makasih, aku masuk kelas dulu ya, bel sudah berbunyi," kata Zio bergegas meninggalkan teman-teman barunya.
Berada di kelas tinggi di usianya yang masih seumuran anak kelas satu, tidak membuat Kenzio gentar. Dia di sukai oleh anak-anak kelasnya karena wajahnya yang tampan dan imut, bahkan tidak sedikit anak-anak perempuan mencubit pipinya karena gemas.
"Zio, kamu kok imut banget sih," seorang anak perempuan bertubuh kecil, duduk disamping Kenzio. Bernama Khanza.
__ADS_1
"Itu karena aku masih kecil kak," kata Zio santai.
"Emang, umur kamu berapa?" tanya Khanza lagi.
"Tujuh tahun, kalau kakak?"
"Sepuluh tahun, kamu pindahan dari mana?tanyanya lagi.
"Dari Surabaya, kak!"
"Oh, kalau begitu selamat belajar ya, mudah-mudahan kamu betah di kelas kita," kata Khanza ramah.
"Makasih kak!" Kenzio tersenyum ramah, memperlihatkan deretan giginya yang putih dan rapi.
Kehadiran Kenzio di kelas itu, membawa warna tersendiri bagi anak-anak kelas empat A. Mereka kagum dengan kepintaran Kenzio, yang mampu menyelesaikan soal-soal latihan yang diberikan guru dalam waktu singkat.
Sementara itu di luar kelas, Lenka masih duduk dengan setia di bangkunya. Masih sibuk dengan ponselnya. Dia tidak menyadari seseorang duduk di sampingnya.
"Nungguin anaknya ya Bu?" sapa seseorang dari samping kirinya. Lenka menoleh, matanya membulat sempurna, melihat seseorang yang tidak ingin dia lihat dalam hidupnya.
"Kak Sherly?" Lenka berusaha menenangkan diri dari rasa terkejutnya.
"Ternyata kamu!" katanya sinis.
Lenka hanya diam, tidak ingin bicara dengan wanita itu.
"Dunia ini ternyata sempit ya, tidak kusangka kita bertemu di sekolah ini," Sherly tersenyum mengejek.
"Mbak Sherly, udah datang duluan jemput Zhia, kok nggak nungguin," beberapa orang ibu-ibu datang menghampiri mereka.
"Aduh, aku pikir Kamu udah jalan duluan, Rena, maaf ya! Oya kenalin nih, ada teman baru kita, namanya Valencia," Sherly memperkenalkan Lenka pada teman-temannya. Lenka hanya tersenyum ramah.
"Anaknya kelas berapa?" tanya wanita berbadan gemuk, bernama Bu Ajeng.
"Kelas 4, Bu," jawab Lenka.
"Kelas empat?? Ibunya masih muda begini, emang anaknya lahir tahun berapa?" tanya wali murid lain sedikit julid.
"Anak saya baru tujuh tahun ibu-ibu, tapi dia lompat kelas, jadi sekarang anak saya duduk di kelas empat," terang Lenka. Lenka berdiri, mencoba untuk menghindari ibu-ibu itu agar tidak terlalu banyak bicara dengan mereka yang penasaran dengannya.
"Maaf ibu-ibu, saya mau ke toilet sebentar," kata Lenka. Lenka berjalan beberapa langkah, samar-samar dia mendengar Sherly berkata,"Wanita itu yang telah merebut suamiku, hingga suamiku meninggalkan aku dan Kenzhia.
"Oh, jadi dia itu pelakor ya! Nggak di sangka, keliatannya polos banget, tapi ternyata suhu juga," timpal ibu-ibu lainnya.
"Pantesan dia tidak nyaman duduk bersama kita," celetuk Bu Ajeng.
Lenka buru-buru meninggalkan tempat itu dan berjalan ke ruang kelas Kenzio. Untunglah bel tanda pelajaran usai berbunyi, Lenka segera mengajak Zio pulang, dengan berjalan menghindari kelompok ibu-ibu yang memandangnya tajam, seolah ingin mengulitinya.
"Mama, Zio lapar, kita makan dulu ya, Zio mau makan ayam goreng," punya Zio.
"Baiklah, kita mampir di KFC saja ya!"
"Oke Ma!...Mama kenapa? Wajahnya kok murung begitu?" tanya Zio melihat Lenka yang tampak tidak bersemangat.
"Nggak apa-apa, perut Mama sedikit kram,"
"Kalau begitu, makannya nanti saja dirumah, kasihan kalau mama sakit," kata Kenzio pengertian.
"Kita bungkus saja ayamnya, nanti makannya dirumah, nggak apa-apa kan?"
__ADS_1
"Ya udah, nggak masalah Ma."
Bersambung