TAK SANGGUP MELUPAKANMU

TAK SANGGUP MELUPAKANMU
AWAL JUMPA


__ADS_3

Lenka berbaring lesu di kamarnya, perutnya terasa bergejolak, semakin lama semakin menjadi. Dia mencoba memejamkan mata, berharap segera tertidur dan melupakan sejenak segala kekesalan hatinya terhadap Zeehan.


Ingatannya kembali melayang pada saat, Pertama kali bertemu Zeehan di desa Tolotangga 6 tahun yang lalu. Di hari pertama Lenka masuk sekolah. Di kelas XII IPA 1.


Setelah mengurus dokumen sebagai siswa baru, Lenka diantar oleh seorang majelis guru, bernama ibu Melia sekaligus wali kelasnya.


"Selamat siang anak-anak!" Bu Melia berdiri di depan kelas, bersama Lenka.


"Selamat siang, Bu!" jawab anak-anak kelas itu serentak.


"Perkenalkan teman baru kalian, namanya Valencia Kaynara, dan pindahan dari Jakarta, Lenka ayo kenalkan dirimu," Kata Bu Melia.


Lenka tersenyum mengangguk. Matanya mengitari sekeliling kelas, siswa di kelas itu hanya terdiri dari beberapa orang. Hanya 12 orang siswa perempuan dan 7 siswa laki-laki.


Sangat jauh berbeda dari sekolah yang pernah Lenka masuki sebelumnya.


"Selamat pagi teman-teman, perkenalkan nama saya Valencia Kaynara, kalian bisa memanggilku Lenka, aku pindah dari Jakarta,"


Aku harap, kalian bisa menerimaku di sekolah ini," ucap Lenka.


"Silahkan duduk di belakang Davina, Lenka," kata Bu Melia.


"Makasih buk!" Lenka duduk di bangku belakang, yang ditunjuk Bu Melia.


"Sekarang, kita absen dulu ya, ANITA, ANDRE, DAVINA, RAHMAT... HIDAYAT, " Bu Melia mengabsen siswanya satu persatu."ZEEHAN ARYADINATA!"


"Absen Bu!" teriak Rahmat alias Mamat, menjawab panggilan Bu Melia.


"Baiklah sekarang kita akan meneruskan pelajaran Biologi yang kemaren, tentang cara terjadinya perkembangbiakan pada manusia." Bu Melia mulai menulis di Papan tulis, Lenka menuliskan catatan di bukunya, walau sebenarnya dia sudah mempelajari tentang pelajaran itu sebelumnya.


"Siapa yang tahu proses terjadinya pembuahan pada manusia?"


"Saya Buk!" seru seorang cowok tampan berambut gondrong masuk kedalam kelas dengan percaya diri. penampilannya terkesan ciek dan acak-acakan.


"Kenapa terlambat lagi, Zeehan?" tegur Bu Melia.


"Biasa Buk, saya harus mengurus ibu saya dulu," jawab Cowok bertubuh tinggi kurus itu santai.


"Ya sudah, " cowok itu duduk di bangku sebelah kanan Davina.


"Coba jelaskan, bagaimana terjadinya perkembangbiakan pada manusia?"


"Sekalian prakteknya nggak Buk?" gurau Zeehan. Semua siswa kelas itu bersorak.


Lenka hanya tersenyum tipis.


"Zeehan...!" Bu Melia membelalakkan matanya.


"Maaf, bercanda buk, perkembangbiakan pada manusia terjadi saat bertemunya sp**ma dan sel telur di dalam rahim dan membentuk zigot dan berkembang menjadi bakal anak," jelas Zeehan.


"Ada yang bisa menambahkan?" tanya Bu Melia lagi.


"Saya Buk!" Lenka mengacungkan jari telunjuknya.


"Ya, silahkan Lenka! " Lenka menjawab pertanyaan Bu Melia dengan lantang. Merasa mendengar nama yang baru di kelasnya, Zeehan menoleh ke belakang. Lenka pun memandang ke arah Zeehan, Pandangan mata mereka saling mengunci. Cowok itu menebarkan senyum termanisnya. Lenka membalas senyuman itu dan mengalihkan pandangannya ke depan kelas.


Zeehan berpindah duduk ke samping Lenka,


"Hai," sapanya. Lenka tersenyum membalas sapaan cowok berkulit sedikit gelap, "Hai."


"Zeehan, pacarannya nanti saja ya!" tegur Bu Melia. Di ikuti sorakan teman-teman sekelasnya.


"Ya Buk," jawab Zeehan patuh, namun matanya masih tertuju pada gadis cantik di sampingnya.


"Kamu pindah dari mana?".tanya Zeehan.


"Dari Jakarta! Kamu yang jualan ikan di pasar kemaren kan?" tanya Lenka.


"Iya, kenalkan namaku Zeehan Aryadinata, panggil aku Zeehan," cowok itu mengulurkan tangannya. "Valencia Kaynara, panggil aku Lenka," balas Lenka memberikan senyum terbaiknya. Zeehan memegang tangannya lama, dan memberikan sebuah kecupan yang lembut di punggung tangannya. Wajah Lenka memerah, dia tidak menyangka, Zeehan akan memperlakukannya seperti itu di awal pertemuan mereka.


"Sudah punya Pacar?" tanya Zeehan to the point. Lenka kagum dengan keberanian cowok itu, sangat gentle dan percaya diri.


"Sudah, tapi di Jakarta!" jawab Lenka.


"LDR?? Emang enak?'"


"Enak nggak enak," jawab Lenka seadanya.


"Tapi, masih ada kesempatan kan, untuk menjadi kekasihmu."


Lenka tertawa kecil, cowok itu benar-benar memiliki rasa percaya diri yang tinggi. Lenka menyukainya.


"Mm, bagaimana ya? Aku akan pikir dulu,"!


"Apakah dia lebih tampan dariku?" Zeehan memasang ibu jari dan telunjuknya di dagu.


"Tentu saja, kekasihku memiliki segalanya, tampan, putih, lembut tapi sayang tidak bisa bicara," kata Lenka.


"Oh ya?! Apakah dia bisu?" Zeehan menautkan alisnya.


"Bukan, dia hanya bisa mengeong!" kata Lenka tertawa. Tawa Zeehan meledak, "Meong ??"


"Zeehan ....!Lenka...!" tegur Bu Melia, saat tawa keduanya terdengar oleh seluruh penghuni kelas.


Keduanya terdiam, dan memalingkan wajah ke arah depan kelas.


Untunglah bel tanda pelajaran Biologi berakhir. Lenka menatap Zeehan sejenak. Senyum manis dan tawa renyahnya membuat Lenka terpesona. Lenka diam-diam menyukainya.

__ADS_1


Jam istirahat, sebagian anak-anak kelas IPA 1, mengerubungi Lenka untuk berkenalan.


"Hai Lenka, aku Anita!" seorang gadis berambut sebahu menyalami Lenka hangat.


"Hai Anita," balas Lenka tersenyum ramah.


"Aku Davina," para siswa dan siswi kelas IPA 1 menyalami Lenka bergantian, mereka semua ramah dan hangat.


"Udah-udah kalian semua bubar, aku mau


Hanya berdua dengan Lenka di sini," Zeehan pura-pura galak, mengusir teman-temannya keluar kelas.


"Kamu nggak ke kantin?" tanya Zeehan, setelah teman-teman mereka keluar dari kelas.


"Nggak, aku bawa bekal, makanlah! Aku bawa banyak," kata Lenka membuka kotak bekalnya.


"Sepertinya enak," Zeehan mengambil sepotong roti goreng dari dalam kotak bekal Lenka. Dan memakannya lahab.


"Mm, ambil lagi" Lenka mengambil sepotong roti untuk dirinya.


"Nggak, udah kenyang, rotinya enak," puji Zeehan.


"Mama yang bikin, Mama selalu membuat banyak kalau aku masuk ke sekolah yang baru,"


"Mamamu pasti orangnya baik!"


"Sangat baik, Papaku juga baik,"


"Emangnya Papamu disini kerja apa?" Zeehan menatap Lenka seolah menunggu jawaban.


"Papaku dokter di rumah sakit daerah,"


"Oh! Pasti orangnya pintar,"


"Kok tahu?"


"Buktinya orangtuamu pintar melahirkan anak yang cantik dan manis seperti kamu," gombal Zeehan.


"Bisa aja!" Lenka tersenyum malu, Wajahnya memerah.


"Jadi, ceritanya belum punya pacar kan?" Zeehan merebahkan kepalanya di meja sambil menatap wajah Lenka tak berkedip, membuat gadis itu salah tingkah.


"Udah! Namanya Denis, kami sudah dijodohkan sejak kami masih kecil, kami sering bersama, kalau aku di Jakarta."


"Kamu mencintainya?"


Lenka diam sejenak, hubungannya dengan Denis, memang tidak seperti kebanyakan pasangan yang lain. Mereka jarang kencan berdua, bahkan bertemu pun hanya di sekolah.


"Aku tidak tahu, apakah itu cinta atau bukan, kami jarang pergi bersama, dia sedikit kaku dan juga arogan." Lenka memang tidak pernah berjalan berduaan, bahkan tidak ada kata cinta di antara mereka.


Jika Denis, memiliki ketampanan ala oppa-oppa Korea. Namun Zeehan, adalah cowok dengan ketampanan lokal, berkulit eksotis dan yang paling Lenka suka, senyum dan tawa yang selalu menghias bibirnya.


"Akan ku pikirkan! Aku tidak tahu apakah Papa dan Mamaku akan mengizinkan aku pacaran dengan cowok selain Denis. Aku hanya tidak mau kamu akan kecewa dan terluka,"


"Jika kamu bilang ya, aku akan memperjuangkan cintamu," kata Zeehan tanpa basa-basi.


"Beri aku kesempatan untuk berpikir, Zeehan! Ini terlalu cepat bagiku."


"Baiklah, aku tunggu sampai pulang sekolah," kata Zeehan bercanda. Lenka mendelik. Cowok itu kembali tertawa renyah. Sesuatu yang akan di rindukan oleh Lenka nantinya.


Bel tanda jam pelajaran berikutnya berbunyi, Keduanya saling diam dan fokus pada pelajaran Matematika yang di ajarkan Bapak Herman. Sesekali, Lenka mencuri pandang pada cowok yang telah mencuri perhatiannya, begitu juga Zeehan. Kehadiran Lenka di kelas nya, memberi warna sendiri dalam diri Zeehan. Mematahkan prinsipnya, bahwa pacaran itu ribet.


Bel pulang sekolah berbunyi nyaring, semua anak-anak berhamburan keluar kelas. Zeehan berdiri setelah semua orang keluar kelas, begitu juga dengan Lenka.


"Pulangnya sama siapa?" tanya Zeehan.


"Mama yang jemput, tuh udah nungguin di depan," Lenka menunjuk Mama Rekha yang sudah menunggu di atas motor Maticnya.


"Halo Tante, saya Zeehan, teman baru Lenka,"


Zeehan mencium tangan mama Rekha takzim.


"Hai Zeehan, ...kamu yang kemaren jualan ikan di pasar kan?" tanya Mama Rekha ramah.


"Iya Tante, kalau hari Minggu, saya membantu tetangga saya jualan di Pasar,"


"Oh, baguslah, yang penting, kamu punya semangat yang kuat untuk sekolah," puji Mama Rekha.


"Makasih Tante, ...lain kali, kalau Tante tidak keberatan, saya yang akan mengantar Lenka pulang," tawar Zeehan. Lenka membelalakkan matanya, malu.


"Boleh, ... Asal selamat sampai dirumah," kata Mama Rekha memberi lampu hijau untuk Zeehan. "Tante pulang duluan ya!"


"Itu pasti Tante, makasih, hati-hati, Tante!" Zeehan membungkukkan tubuhnya hormat.


melambaikan tangannya ke arah Lenka dan memberikan sebuah ciuman jauh. Lenka tersenyum lebar."*


Sesampainya di rumah, Lenka merebahkan tubuhnya di atas tempat tidurnya yang empuk. Perjalanan dari rumah ke sekolah, memakan waktu 20 menit, cukup melelahkan, karena jalannya berbatu dan berlubang.


"Lenka, makan dulu nak!" Mama Rekha masuk kedalam kamar putrinya.


"Masih kenyang, Ma, nanti saja!


"Mm, mikirin anak yang tadi ya, senyum-senyum sendiri," goda Mama Rekha.


"Mama, nggak kok!" Lenka tersenyum malu menutupi wajahnya yang bersemu merah.


"Cie, ada yang jatuh cinta nih,"

__ADS_1


"Mama, jangan gitu ah, Lenka kan jadi malu," Lenka menutupi wajahnya dengan bantal.


Pesona seorang Zeehan memang mampu membuat Lenka tidak bisa berhenti memikirkannya. Berbeda dengan Denis, Lenka tidak begitu merindukan cowok itu. Tapi Zeehan, sehari saja bertemu dengannya, mampu membuat jantung Lenka berdebar-debar. Apalagi, Zeehan adalah seorang yang humble dan mudah bergaul.


Berada di dekat Zeehan, mampu membuat hatinya cenat-cenut, kehilangan oksigen yang membuat nafasnya seolah berhenti berdetak.


Apakah itu yang dinamakan jatuh cinta?? Sebuah rasa yang belum pernah Lenka rasakan terhadap Denis, ataupun cowok lainnya.


********


Keesokan harinya, pagi-pagi sekali, Lenka sudah berangkat ke sekolah, berharap akan dapat bertemu dengan Zeehan, lebih awal.


Namun sayang, cowok itu belum hadir di dalam kelas. Sementara Anita dan Andre sudah duduk berduaan di bangku mereka. Sepertinya mereka berpacaran, batin Lenka.


"Hai Anita, hai Andre!" sapa Lenka.


"Hai Lenka," balas Anita.


"Mm, Zeehan belum datang ya?" Lenka memberanikan dirinya untuk bertanya, walaupun sedikit gugup.


"Belum, Zeehan biasanya pagi ini, baru pulang melaut, setelah di rumah dia mengurus ibunya yang sedang sakit," jawab Andre.


"Oh, ibunya sakit apa ya? Kalau boleh tahu," tanya Lenka.


"Depresi." jawab Anita setengah berbisik.


"Depresi?? Kok bisa?" Lenka duduk dibelakang Anita.


"Ya begitulah, ibunya mengalami depresi sejak Zeehan masih kecil,"kata Anita.


"Trus, gimana dia bisa menghidupi dirinya sendiri." tanya Lenka lagi.


"Zeehan bekerja sebagai nelayan pada malam hari dan siangnya bekerja di perkebunan."


"Sepertinya ada yang ngomongin aku nih!" suara yang menjadi favorit Lenka sekarang terdengar terdengar dalam ruangan, Lenka mendongak, Mata Lenka menangkap sesuatu yang berubah pada diri Zeehan. Ya, penampilannya lebih rapi dari pada kemaren.


Lenka memandangnya tersenyum, "kangen ya!" katanya lagi, sambil mendaratkan bokongnya di kursi samping kiri Lenka.


"Gimana ya, mau jawab jujur atau bohong," tanya Lenka.


"Dua-duanya kalau tidak keberatan."


"Jujur iya, " jawab Lenka. Zeehan tersenyum, oh, senyuman yang membuat Lenka meleleh.


"Aku tidak membutuhkan jawaban kedua, aku juga kangen sama kamu, kangen sama mata indah kamu, senyum manismu, dan semua yang ada padamu," ucap Zeehan sedikit gombal.


"Aku suka penampilanmu hari ini,"puji Lenka.


"Terimakasih," Keduanya tampak bicara dengan hangat, senyum mengembang di wajah keduanya. Sesekali terdengar tawa lepas Lenka, setiap kali Zeehan melemparkan sebuah joke yang lucu.


Tak butuh waktu lama, bagi Zeehan mendapatkan Lenka. Gadis itu telah membuatnya jatuh cinta, begitu juga Lenka, dia meyakinkan diri bahwa perasaannya untuk Zeehan adalah cinta.


Pertemuan yang singkat, telah menimbulkan benih-benih cinta di antara keduanya,. seolah-olah mereka telah saling mengenal sejak lama.


Sudah hampir 20 menit, guru yang mengajar di kelas mereka belum juga datang. Siswa kelas IPA 1 sibuk dengan kegiatan masing-masing.


Terdengar suara dari speaker sekolah, bahwa sekolah dibubarkan, Karena ada rapat guru. Anak-anak bersorak gembira dan pulang kerumah masing-masing.


"Lenka, kita main ke Pantai yuk!" ajak Anita dan Andre yang sudah berdiri di samping mereka.


"Boleh," kata Lenka bersemangat.


"Lo mau ikut, Han" tanya Andre.


"Iya dong, kita kan udah jadian, ya nggak Yang,"


"Ih, Zeehan...kok di bilangin sih," Lenka tersenyum malu.


"Ya nggak Pa pa, biar semua orang tahu, bahwa gadis cantik ini, sudah menjadi milik Zeehan Aryadinata."


Berempat mereka berangkat ke pantai, Lenka berboncengan dengan Zeehan, dan Anita berboncengan dengan Andre. Pantai yang terletak tidak jauh dari sekolah mereka.


"Wah, pantainya indah sekali, ...aku suka!" teriak Lenka berlarian di pinggir pantai berpasir putih, menyentuh air laut yang datang menghempas.


"Sayang, buka sepatumu biar tidak basah," seru Zeehan. Lenka menurut, kemudian kembali ke bibir pantai dan bermain air.


Zeehan mengejarnya, dan menangkap Lenka dari belakang. "Zeehan, malu tahu, sama Anita dan Andre," Lenka berusaha melepaskan diri dari pelukan Zeehan.


"Mereka juga lagi Pacaran kali, Sayang! Mereka menghilang," Lenka memandang sekeliling. Benar saja, Andre dan Anita tidak terlihat di dekat mereka.


Berdua di tempat yang sepi, membuat Lenka jantung Lenka berdegup kencang. Apalagi jarak mereka begitu intim.


"Lenka, I love you!" suara Zeehan terdengar lembut di telinga Lenka.


Lenka berbalik dan menatap Zeehan lekat, mencari kejujuran di matanya. "I Love you, Too." Zeehan tersenyum, mencoba menyentuh wajah Lenka dengan jemarinya. Sebuah ciuman manis mendarat di bibirnya yang ranum. Tidak ada penolakan, Zeehan ******* bibir itu lembut.


"Kamu mengambil ciuman pertamaku, Zeehan!" wajah Lenka berubah memerah.


"Kamu juga yang pertama bagiku, Lenka!" Zeehan menyibak rambut panjang Lenka ke belakang telinganya.


"Benarkah?" Lenka tak percaya.


"Benar, tanya saja pada semua orang!"


Lenka tersenyum simpul. Membiarkan Zeehan memanjakan dirinya. Lenka tidak menyangka akan begitu mudah jatuh kedalam pelukan seorang cowok sederhana seperti Zeehan.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2