
Lenka merasa lebih baik pagi itu setelah bangun dari tidurnya yang nyenyak, seolah teror semalam tidak menggentarkan jiwanya. kebahagian begitu terlihat nyata diwajahnya.
Selesai mandi dan berpakaian, Lenka memasak sarapan pagi di dapur. Semua peralatan di dapur masih serba baru, belum pernah digunakan, maklum Zeehan hanya sendiri an dirumah itu. Dan lebih sering makan diluar rumah.
Lenka mengambil bahan makanan yang ada di kulkas rumah Zeehan, berpikir sejenak, apa yang akan dia buat untuk sarapan pagi itu. Isi kulkas lumayan penuh, Zeehan baru membelinya kemaren.
Lenka mengeluarkan roti tawar dan selai kacang serta mentega. Lenka membuat roti bakar dan tiga gelas susu murni.
"Masak apa?" Suara Zeehan tiba-tiba mengagetkan Lenka yang sedang sibuk menata meja makan. Pria itu memeluknya hangat dari belakang.
"ZEEHAN, kaget tau," seru Lenka mengusap dadanya yang berdegup kencang.
"Sorry," Zeehan tertawa lepas. Zeehan menyandarkan dagunya dipundak Lenka dengan mesra. Sesekali mencium leher wanitanya dengan gemas.
"Zio belum bangun?" Lenka berbalik memeluk pinggang pria itu posesif.
"Sudah, dia sudah memakai seragam rapi, sebentar lagi juga turun,"
"Dapurmu bagus,.aku suka," puji Lenka.
"Itu dapurmu, aku meminta orang mendekorasinya untukmu, agar kamu nyaman menggunakannya."
"Aku tidak sabar untuk segera tinggal bersamamu,"
"Kita akan menikah besok, hari ini juga boleh kalau kamu mau, aku juga tidak sabar menjadikanmu Nyonya besar di rumah ini." Zeehan tersenyum memeluk wanita kesayangannya itu erat.
"Terlalu cepat Zeehan, aku ingin bibi Julia dan keluarganya hadir di pernikahan kita."
"Setelah kita menikah, kita akan mengadakan resepsi, semua orang akan kita undang, termasuk Bibi Julia. Kamu tahu aku sudah memasukkan semua dokumen kita ke kantor pencatatan sipil, sejak bertemu denganmu di Surabaya. Hanya tinggal menunggu persetujuan mu," kata Zeehan bersemangat.
"Baiklah, kapan?"
"Pagi ini, aku tidak mau menunda lagi,"
"Hah, pagi ini??" Lenka membulatkan kedua bola matanya. "Jangan bercanda, Zeehan!"
"Aku serius, Sayang! Kalau kamu tidak percaya ayo ikut denganku," kata Zeehan.
Lenka mengernyitkan dahinya bingung, apa mungkin sebuah pernikahan bisa dilangsungkan dalam satu hari. Mustahil bagi Lenka, tapi tidak dengan Zeehan. Pria bertubuh tegap itu sibuk menghubungi nomor orang-orang yang Lenka tidak mengetahuinya.
Namun, Lenka hanya mengangguk mengiyakan.
__ADS_1
"Mama, mama disini?" Seru Kenzio saat turun dari lantai atas rumah Zeehan, kemudian berlari memeluk Lenka erat.
"Iya, dari semalam," Lenka mencium lembut kening putranya.
"Kok, Zio nggak tahu mama datang," bocah itu mendongakkan wajahnya memandang Lenka dengan riang.
"Itu karena Zio tidurnya nyenyak, ayo kita sarapan dulu," ajak Lenka, menarik kursi meja makan untuk Kenzio dan Zeehan.
"Ma, hari ini, Zio akan mengikuti olympiade Sains di Universitas Bina Nusantara," kata Zio.
"Oh ya, perginya sama Bu guru kan?" tanya Lenka.
"Iya, tapi, Zio nggak jadi nginap di hotel, Zio pulang kerumah saja, tinggal sama Papa dan Mama," kata Zio lagi.
"Nggak pa pa, nanti Papa jemput Zio ke sana, pulangnya jam berapa?" tanya Zeehan setelah menyimpan kembali ponselnya.
"Belum tau, Pa, nanti kalau sudah selesai Zio akan telpon Papa,"
"Oke, Boy, semangat ya! Semoga menjadi juara," Zeehan mengusap rambut putra kecilnya itu bangga. Lenka tersenyum bahagia melihat kedua pria berbeda generasi itu berbicara, layaknya dua orang sahabat lama.
"Makasih Pa! Aku bangga punya orang tua seperti Papa!" Akunya.
"Papa juga bangga punya anak pintar seperti Zio,"
"Mama adalah mama terhebat di dunia, Zio sayang sama Mama," Kenzio mencium kedua pipi Lenka bergantian.
"Mama juga sayang sama Zio," Lenka tersenyum bahagia.
"Ayo kita berangkat," Ajak Zeehan, Ketiganya berjalan menuju garasi mobil Zeehan, yang berada disisi kanan rumah besar itu.
Setelah mengunci pintu rumah, Zeehan mengemudikan mobilnya, keluar halaman, Lenka memandang ke arah di mana mobilnya semalam parkir. Namun mobil itu sudah tidak ada.
"Zeehan, mobilku semalam mana?" Tanya Lenka.
"Sudah dibereskan oleh anak buahnya David," jawab Zeehan santai.
"Oh," Lenka menjawab singkat, Lenka bersyukur, Zio tidak melihatnya. Untunglah anak itu sibuk dengan buku bacaan yang ada di tangannya.
Setelah mengantar Zio ke sekolah barunya, Zeehan mampir ke Rumah sakit, sebentar. Kemudian mereka membawa Lenka ke suatu tempat, yang telah dia pilih, menjadi tempat pernikahannya. Sungguh di luar dugaan Lenka, Pak Daniel Aryadinata, ayahnya Zeehan sudah berada di tempat itu bersama seorang pendeta dan beberapa orang saksi. Yang akan menjadi saksi pernikahan mereka.
Setelah keduanya mengikat janji sehidup semati dalam sebuah ikatan pernikahan yang terkesan mendadak dan rahasia. Lenka memindahkan barang-barangnya kerumah masa depannya.
__ADS_1
"Sayang, aku meminta penyalur tenaga kerja untuk membantu kita mengurus rumah," kata Zeehan setelah selesai membawa pakaian Lenka ke kamar.
"Berapa orang?" tanya Lenka duduk di atas sofa, sambil menaikkan kedua kakinya.
"Kamu maunya berapa? Aku hanya tidak ingin kamu kelelahan." Zeehan memijit kaki Lenka perlahan.
"Mm, tiga orang kurasa cukup, tapi aku mau mereka bekerja dari pagi hingga sore, nggak usah nginap," pinta Lenka.
"Kenapa?"
"Aku hanya tidak mau kalau malam ada yang gangguin kita,"
"Baiklah, tapi tidak masalah kan, kalau kamu berhenti bekerja."
Lenka berpikir sejenak, dia juga tidak mungkin bekerja sekarang, Karena perutnya yang mulai membesar. Jika dia melahirkan nanti, tentu Lenka tidak bisa mengurus rumah besar itu seorang diri.
"Baiklah, aku hanya akan mengurus anak-anakku dirumah," kata Lenka tersenyum bahagia.
"Trus, yang ngurusin Papanya siapa?"
"Tentu saja aku sayang." Lenka duduk di pangkuan pria yang telah menjadi suaminya dan mengalungkan kedua tangannya dileher Zeehan.
"Sepertinya kamu tidak sabaran untuk malam pertama," goda Zeehan.
"Nggak ada malam pertama, sudah mau punya anak dua juga," Lenka mengerucutkan mulutnya.
"Yah, malam pertama pernikahan kita," Zeehan menyibak rambut hitam Lenka ke belakang leher dan memberikan sebuah kecupan di lehernya yang jenjang. Lenka meremang, dia menggeliat manja.
"Sayang, bukankah kita sudah berjanji untuk menengok Kesya," kata Lenka mengingatkan, sebelum hasrat bercintanya naik ke ubun-ubun.
"Oh ya, aku hampir lupa." Zeehan melirik jam tangannya. "Kita berangkat sekarang," Lenka turun dari pangkuan Zeehan. Setelah Zeehan mendaratkan sebuah ciuman manis di bibir istrinya.
"Tapi, aku mau ganti baju dulu ya!" Lenka berjalan cepat ke lantai atas, dimana kamar Zeehan berada. Lenka mencari pakaian di lemari. Pilihannya jatuh pada sebuah gaun berwarna putih selutut, dan sebuah blazer berwarna coklat muda.
Lenka membuka pakaiannya, belum sempat dia memakai kembali gaunnya, Lenka dikejutkan dengan tangan kekar suaminya yang memeluk tubuhnya dari belakang.
"Sayang, aku mau ganti baju nih, nanti kita terlambat, " Lenka menolak pelukan Zeehan.
"Lima menit, tidak terlalu buruk," Zeehan mencium tengkuk Lenka berkali-kali.
"Zeehan....jangan sekarang," erang Lenka manja. Bibirnya menolak, namun tubuhnya tidak dapat mengabaikan sentuhan-sentuhan jemari Zeehan yang sudah merayap di atas.tubuh Lenka yang hanya tertutup pakaian dalam. Dengan mudah Zeehan melepaskan penutup tubuh bagian atas Lenka dan mengangkatnya ke tempat tidur.
__ADS_1
Zeehan merebahkan tubuh Lenka, terlentang di tempat tidur big size-nya. Membawa Lenka kini dalam kungkungannya. Tidak ada lagi yang bicara, keduanya sudah tenggelam dalam kemesraan dan hasrat bercinta yang bergelora. Saling berpacu, menggapai indahnya surga dunia.
Bersambung