TAK SANGGUP MELUPAKANMU

TAK SANGGUP MELUPAKANMU
Bertemu Denis


__ADS_3

Lenka pergi ke pusat perbelanjaan siang itu, untuk membeli semua kebutuhan dapur rumahnya. Maklum persediaan makanan di kulkas sudah tidak ada, karena rumahnya sudah lama dibiarkan kosong. Setelah memilih dan membayar belanjaan, Lenka duduk disebuah gerai minuman, karena haus setelah berkeliling, hampir setengah hari. Tanpa sengaja Lenka bertemu Denis di sana.


"Hai, Val," panggil Denis, saat Lenka duduk di sambil menikmati segelas jus Apel kesukaan nya.


"Hai Denis, apa kabar?" tanya Lenka berbasa-basi menyalami pria yang pernah hampir menjadi suaminya itu.


"Baik, kamu kemana saja? Aku tidak melihatmu di rumah sakit Darya Medika," Denis duduk di kursi di depan Lenka, sambil menyilangkan kedua kakinya.


"Aku di pecat," jawab Lenka santai.


"Sama siapa, orang kaya baru itu?"sindir Denis, tanpa mau menyebutkan nama Zeehan.


"Ya, siapa lagi?" Lenka menyedot minuman.dingin dari jus apel kesukaannya.


"Kok bisa, kamu mengenalnya?" tanya Denis penuh selidik.


"Dia orang dari masa laluku," jawab Lenka datar.


"Oh, Aku juga membenci orang itu, sejak kehadirannya, Papa mengabaikan aku dan ibuku, aku akan membalas dendam padanya, Valen, maukah kau menolongku," kata Denis.


"Aku!" Lenka menunjuk dirinya sendiri "Tidak Denis, aku tidak mau membuat masalah dengannya," tolak Lenka. Yang benar saja, Lenka tidak akan pernah menyakiti Zeehan, walaupun dia membenci pria itu.


"Aku akan menyingkirkannya," Denis kelihatan marah dan dendam. Kedua tangannya mengepal keras.


"Denis, apa yang akan kau lakukan?" Lenka tergidik ngeri. Hatinya gelisah.


"Kau tidak perlu tahu, kita lihat saja nanti," ucap Denis tersenyum tipis.


Lenka menarik nafas panjang. "Zeehan dalam bahaya, apakah aku harus memberitahunya, agar berhati-hati, atau membiarkan Denis menjalankan rencananya? Tidak, walau bagaimanapun, Zeehan adalah ayah anak-anakku," batin Lenka. Hatinya bimbang.


"Denis, kau tidak boleh menyakitinya, bagaimana pun Zeehan adalah saudara tirimu," nasehat Lenka.


"Aku tidak punya saudara brengsek seperti itu, Val, kau tahu, aku sakit hati melihatnya, Tiba-tiba dia datang menghancurkan semua impianku. Aku harus membuat perhitungan dengannya, setidaknya aku harus memiliki sebagian warisan Papa." Mata Denis menyiratkan kemarahan dan kebencian kepada Zeehan. Lenka tidak bisa membayangkan apa yang akan dilakukan Denis pada Zeehan.

__ADS_1


Lenka gelisah, dia berjalan mondar-mandir di depan pintu rumahnya. Sudah hampir malam, namun Zeehan belum mengantar Kenzio kembali ke rumahnya. Lenka mencoba menghubungi nomor ponsel Zeehan.


"Ada apa, Lenka?" tanya Zeehan saat menerima panggilan itu, suara Zeehan terdengar merdu.


"Kamu dimana? Kenapa Zio belum diantar kemari? aku mencemaskannya, apakah kalian baik-baik saja?" Lenka memberondong Zeehan dengan pertanyaan yang bertubi-tubi.


"Kami ada di rumahku, Zio sedang tidur, karena seharian tadi kami berbelanja di Mall." Suara itu begitu tenang dan menghanyutkan.


"Syukurlah! Aku mengkhawatirkan kalian," Ucap Lenka jujur.


"Apakah ada sesuatu, yang membuatmu mencemaskan ku, Lenka?" tanya Zeehan tersenyum samar saat mendengar kekhawatiran tersirat dalam nada bicara Lenka.


"Oh...tidak, aku mencemaskan anakku," Lenka mencabut kembali kata-katanya. Zeehan tertawa renyah. Membuat degup jantungnya bertambah kencang.


"Baiklah, setelah Zio bangun aku akan mengantar Kenzio ke rumahmu," kata Zeehan.


Berbagai pikiran buruk, melintas dalam pikiran Lenka, setelah mendengar Denis merencanakan sesuatu yang buruk kepada Zeehan. Bagaimana kalau Denis menyabotase mobil Zeehan, pria itu dan anaknya akan mengalami kecelakaan seperti kedua orangtuanya.


"Tidak Zeehan, biar aku saja yang menjemput Kenzio, aku akan segera kesana," kata Lenka.


Lenka memarkir mobilnya di depan rumah besar itu. Rumah itu sangat nyaman, karena di kelilingi pohon-pohon yang rindang. Lenka menyukai rumah itu. Zeehan membukakan pintu untuk Lenka, begitu mendengar suara mobil Lenka berhenti di depan rumah.


"Mana Zio?" Lenka menanyakan keberadaan putranya, tanpa melihat ke arah Zeehan.


"Zio masih tidur, masuklah dulu!" kata Zeehan, membuka pintu rumahnya dengan lebar. Wangi sabun mandi beraroma buah, menyeruak indra penciuman Lenka begitu melangkahkan kaki kedalam rumah itu.


Pria itu berdiri di belakangnya. Lenka berbalik, tubuhnya hampir saja menabrak tubuh Zeehan yang hanya memakai bathrobe, sepertinya Zeehan baru saja mandi. Lenka terkesiap, dia mundur ke belakang, namun naas sebelah kakinya menyenggol kaki meja, Lenka oleng ke belakang, tubuhnya melayang hampir menyentuh lantai, untunglah Zeehan dengan sigap menangkap tubuh wanitanya.


"Terimakasih," Lenka menarik nafas panjang tiga kali, aliran darahnya terasa mengalir lebih kencang. Saat tubuhnya berada dalam dekapan Zeehan. Manik hitam Zeehan menatap mata Lenka dalam, seolah ingin tenggelam di dalamnya. Wajah mereka begitu dekat. Saking dekatnya, Lenka bisa merasakan hembusan nafas Zeehan diwajahnya.


Kening keduanya bertemu, Lenka hendak memalingkan wajahnya, namun gerakannya justru membuat bibirnya bersentuhan dengan bibir Zeehan. Lenka memejamkan matanya, hatinya ingin menolak, tapi reaksi tubuhnya berkata lain. Zeehan memagut bibir Lenka dengan lembut, Lenka mendesah. Lenka merasa wajahnya mulai memanas, karena d*****n yang keluar begitu saja dari mulutnya.


Zeehan tersenyum, "Tetaplah disini bersamaku, Lenka!" bisik Zeehan. Lenka membuka matanya, dia menyadari apa yang telah dia lakukan, Lenka mendorong tubuh Zeehan dengan keras. Dan duduk di sofa dengan wajah cemberut.

__ADS_1


Zeehan mengikuti Lenka untuk duduk disampingnya, keduanya saling diam, Lenka menundukkan wajahnya dalam.


"Apakah tidak ada lagi kesempatan buatku, untuk membahagiakan kamu dan anak-anak kita?" ucap Zeehan sambil melirik Lenka, yang sedikit menjauh darinya.


Lenka tidak tahu harus menjawab apa, dia belum siap dengan pertanyaan itu.


"Aku akan membawa Kenzio pulang," kata lenka, mengalihkan pembicaraan mereka.


"Dia sedang tidur nyenyak sekarang, biarkan dia tidur bersamaku malam ini," pinta Zeehan lembut.


"Kenapa kamu tidak bilang dari tadi?" Lenka murka, jika tadi Zeehan mengatakan kalau Zio tidur di rumah itu, dia tidak perlu menyusul Zio kerumah Zeehan.


"Agar kamu mau datang kemari," kata Zeehan tersenyum tipis.


Lenka menatap tajam kearah Zeehan, seolah ingin menelan Zeehan bulat-bulat. Zeehan berusaha untuk tetap tenang,


"Apa yang kau inginkan dariku, Zeehan? Kau hanya ingin tubuhku bukan, kau hanya ingin tidur dengan ****** ini, karena kau tahu aku lemah jika sudah berada dalam pelukanmu," erang Lenka berapi-api. Matanya berkaca-kaca, dadanya naik turun menahan amarah.


"Sst... itu tidak benar, sayang, kamu tahu aku mencintaimu lebih dari apapun di dunia ini," Zeehan memegangi kedua tangan Lenka, membawanya ke dadanya. Zeehan mencium kedua tangan Lenka dengan lembut. Lenka menarik tangannya, menghempaskan tangan Zeehan kuat.


"Lenka, aku sudah minta maaf padamu, kan, jadi tolong....maafkan aku!" Zeehan menahan lengan Lenka agar tidak pergi.


"Lepaskan Zeehan! Aku tidak mau jatuh lagi dalam pelukanmu, aku membencimu," teriak Lenka dengan suara yang lantang.


"Lenka, aku mencintaimu, dan kau juga mencintaiku, Please, kita menikah, demi Zio dan demi anak kita yang akan lahir," Suara Zeehan melunak, sekali lagi dia memohon.


Namun Lenka tetap pada pendiriannya, dia bergegas keluar meninggalkan Zeehan.


Belum sempat Lenka sampai dimana mobilnya terparkir, suara dentuman keras terdengar dari dalam mobilnya. Lenka berdiri terpaku, "Lenka, Awas!" teriak Zeehan menarik tubuh Lenka menjauh dari mobilnya yang terbakar dan mobil Lenka hancur berkeping-keping, karena dahsyatnya ledakan itu.


Lenka syok, Zeehan kembali mendudukkan Lenka di sofa dan memeluknya erat. Kali ini Lenka tidak menolaknya. Bibirnya bergetar, diwajahnya membayang ketakutan. Zeehan menenangkan Lenka, membelai kepala Wanita itu dengan lembut.


"Sebaiknya kamu istirahat di kamar, aku akan memberikan keterangan pada polisi," Zeehan mengantar Lenka ke kamar dimana Zio sedang tertidur pulas di ranjang yang empuk. Sepertinya anak itu tidak terganggu oleh suara ledakan di luar rumah.

__ADS_1


"Istirahatlah," kali ini Lenka menurut, dia merebahkan tubuhnya di samping Kenzio. Zeehan menyelimutinya dan segera keluar dari kamar itu. Zeehan masuk ke kamarnya untuk berganti pakaian. Kemudian segera menghubungi pihak kepolisian.


Bersambung


__ADS_2