TAK SANGGUP MELUPAKANMU

TAK SANGGUP MELUPAKANMU
ZEVANINA ARYADINATA


__ADS_3

.Lenka menarik nafas panjang, dia merasa menyesal dengan apa yang telah terjadi pada dirinya, memikirkan bayi kecilnya yang harus lahir secara prematur.


Tetes air mata jatuh disudut matanya yang sembab. Lenka sudah tidak tahan lagi berada ditempat itu, sementara dia tidak bisa berbuat apa-apa untuk bayinya.


"Sayang, jangan menangis lagi!" Suara Zeehan mengangetkan Lenka yang sedang melamun. Tiba-tiba pria yang telah menjadi suaminya itu duduk disampingnya, sambil mengusap mata Lenka yang basah.


Lenka tersenyum getir, " Aku hanya terbawa perasaan." Zeehan menangkap kedua istrinya dan memberikan sebuah kecupan manis di kening Lenka.


"Dengarkan aku, Sayang! Jangan bersedih lagi, Oke? Bayi kita akan baik-baik saja," Zeehan meyakinkan Lenka, memandang dalam ke balik kedua netranya.


Lenka mengangguk. menyandarkan tubuhnya dalam pelukan Zeehan, saling menguatkan.


"Kamu sudah memikirkan nama untuk anak kita?" tanya Zeehan.


"Ya, aku memberinya nama ZEVANINA ARYADINATA, kamu suka?" wajah Lenka berubah sedikit cerah.


"Nama yang bagus! Gabungan namaku dengan namamu, aku suka!" Zeehan tersenyum lebar. Dengan sayang Zeehan mempererat pelukannya, memberi ketenangan dan kenyamanan pada istrinya.


******


Sementara itu Denis sudah berada di Bali, disebuah rumah yang telah disiapkan Papa Daniel sejak lama.


Bersama putra kecilnya Deanza, Denis tinggal di sebuah rumah yang telah disiapkan untuknya. Denis sengaja meminta rumah yang tidak terlalu besar, agar dia mudah mengurusnya.


"Sebaiknya kita belanja dulu ya nak! Dean ikut Papa," Denis mengendong bayi Dean. Denis keluar dengan mobil, menuju sebuah Swalayan. Setelah selesai berbelanja, Denis masuk kedalam mobilnya dan menaruh Dean yang tidur di bangku belakang, setelah memuat barang belanjaan di dalam bagasi.


Tanpa sepengetahuan Denis, seorang gadis masuk ke dalam mobilnya dan bersembunyi dibawah bangku.


Beberapa orang pria datang mendekati mobilnya. Mereka berpakaian serba hitam.


"Sebentar Pak!, apakah bapak melihat seorang gadis berbaju hitam lewat didepan Anda," tanya seorang pria berbadan besar , menghentikan Denis yang hendak melajukan mobilnya.


"Maaf, saya tidak lihat," Denis membuka kaca jendela mobilnya. Ria itu celingak-celinguk ke dalam mobil.


"Nah, lihat sendiri kan pak, yang ada hanya bayi saya yang sedang tidur." Denis menyakinkan.


"Oh ya, maaf kalau begitu Pak,silahkan lanjutkan perjalanan anda." kata pria.berbadan tetap.


"Kenapa bisa.lolos sih, kerja kalian itu apa?" teriak salah seorang dari mereka, yang mungkin ketua mereka.


"Maaf bos, gadis itu sangat pintar dan licik, dia berhasil mengelabui kami."


"Dan kalian semua bodoh, menjaga satu gadis aja nggak becus, kalian semua akan dihukum oleh bos besar, kembali ke markas!" perintahnya.


"Baik bos!" Semua pria berpakaian hitam itu kembali ke mobil mereka, dan pergi menjauh.


Begitu sampai di rumah barunya, Denis memasukkan mobilnya langsung ke dalam garasi. Setelah menurunkan semua belanjaannya, dia membuka pintu belakang mobil. Dia kaget saat melihat seorang gadis berwajah blasteran berada di jok belakang sedang bermain dengan putranya Dean.


"Siapa kamu? Keluar dari mobilku!" bentak Denis. Gadis itu hanya diam tak bergeming.


"Keluar dari mobilku, aku mau mengambil anakku," Denis menepis gadis itu dan mengeluarkan Deanza dari dalam mobil.


"Pak, tolong saya, izinkan saya tinggal di rumah Bapak! Saya tidak mau orang-orang tadi menemukan saya!" gadis itu memohon.


"Itu bukan urusanku nona! Aku tidak mau berurusan dengan orang-orang itu, entah siapa mereka." Denis menutup pintu mobilnya, dan membawa Dean kedalam rumah. Gadis itu mengikutinya.


"Siapa yang menyuruh kamu mengikuti aku!" bentak Denis kesal.

__ADS_1


"Pak, tolong saya izinkan saya tinggal disini, saya mau kerja apa saja, jadi baby sister pun saya mau, please!" Gadis kira-kira berusia 20 tahun itu memohon di kaki Denis.


Denis berpikir sejenak, tenaga gadis itu bisa dia gunakan untuk membersihkan rumah dan juga merawat Dean, jika dia pergi bekerja.


"Baiklah, kamu boleh bekerja di sini, tapi jangan bawa-bawa aku jika kamu ditangkap orang-orang itu,"


"Makasih Pak, saya janji tidak akan merepotkan Bapak!' kata gadis itu tersenyum senang. Dengan bersemangat, gadis itu membawa barang belanjaan Denis ke dapur, dan menatanya di dalam kulkas yang masih kosong.


"Ternyata, Bapak ini baru pindah ke rumah ini, tapi kok nggak ada istrinya ya!" batinnya.


"Kamu sini, " teriak Denis yang duduk di sofa sambil memangku putranya.


"Saya Judith Pak," kata gadis itu menyebutkan namanya.


"Judith, sepertinya kamu bukan orang sini,"


"Saya dari Australia Pak, Ayah saya orang Bali," katanya.


"Oh, lalu kenapa kamu sampai dikejar-kejar sama orang-orang itu?"


"Saya tidak mau dibawa kembali ke Australia, Pak. Saya ingin mencari ayah saya!"


"Memangnya kamu belum pernah bertemu ayahmu?" tanya Denis lagi.


"Belum Pak, kami sudah berpisah selama 15 tahun, tapi saya masih ingat wajahnya,"


"Oh, ya sudah...sekarang kamu bantu saya mandiin Dean, dan tidurkan dia di kamarnya, di lantai atas!" perintah Denis.


"Baik, Pak..." wanita bernama Judith itu, membawa Dean ke kamar atas. Judith bingung bagaimana caranya memandikan bayi yang berusia tiga bulan itu. Dengan melihat tutorial di YouTube, akhirnya Judith bisa memandikan bayi Dean dan memakaikan pakaiannya hingga rapi.


Judith tersenyum manis memandang bayi mungil itu. "Kamu kok tampan banget sih, persis ayahmu, Tante jadi sayang sama kamu, jangan nakal ya sama Tante," kata Judith sambil mencium kening bayi itu lembut.


"Oh ya Pak," Judith memberikan susu itu kepada Dean. Bayi tampan itu menghisapnya kuat, hingga dalam beberapa detik, susu itu habis, dan di botol kedua, anak itu tertidur pulas.


Judith keluar dari kamar Deanza dan turun ke dapur. Denis sudah berada di sana dengan apron ditubuhnya yang tegap dan tinggi.


"Ada yang bisa saya bantu,.Pak?"


"Tidak ada, aku hanya membuat omelet,"


"Biar saya saja yang bikin pak, saya bisa kok!" Judith mendekat ke arah Denis dan berdiri disamping pria itu.


"Kalau kamu mau, tambahkan saja telurnya!" kata Denis. Judith mengangguk, dengan cekatan dia memasak makanan untuk Denis dan dirinya sendiri.


"Sepertinya enak!" puji Denis, saat Judith mengantar makanan ke meja makan.


"Makasih Pak," Judith tersenyum.


"Jangan panggil saya Bapak!" kata Denis menatap Judith horor.


"Trus, saya panggil apa Pak?


"Panggil saja Kak Denis," kata Denis sambil mencicipi makanan sederhana yang dibuat Judith.


"Enak, kak Denis?" tanya Judith deg degan.


"Lumayan, kamu makanlah, duduklah di situ!" Denis menyuruh Judith untuk makan bersamanya. Judith tersenyum.

__ADS_1


"Benar kamu mau bekerja sama saya?" tanya Denis menatap wanita bertubuh tinggi langsing yang ada didepannya.


"Iya Kak, saya akan melakukan pekerjaan rumah dan menjaga bayi anda dengan baik, asalkan saya diizinkan tinggal dirumah ini,"


******


Beberapa bulan kemudian, Lenka dan Zeehan bisa bernafas lega. Bayi mungilnya, Zevanina Aryadinata, bisa menghirup udara segar. Setelah cukup lama didalam inkubator.


Zeehan mengadakan syukuran dengan memanggil anak-anak yatim piatu, untuk merayakan kembalinya bayi Zee kembali kerumah.


Kenzio sangat menyayangi adik perempuannya. Dia akan selalu berada di samping Zee, setiap kali selesai belajar.


"Mama, adek bayinya, nggak sakit lagi kan?" tanya Kenzio mengusap rambut adiknya lembut.


"Tidak sayang, kalau Kenzio jagain Zee, adik bayinya akan sehat selalu,"


"Aku akan menjaganya, Mama!" kata Kenzio mencium kening Zee. Lenka tersenyum memeluk putra kesayangannya erat.


Zeehan masuk ke kamar putrinya, setelah kembali dari rumah sakit.


"Papa, udah pulang," Zio menghambur kedalam pelukan ayahnya.


"Papa, Mandi dulu sana, nanti adiknya sakit,"


Zio mengingatkan ayahnya.


"Iya, papa lupa, papa kangen sama anak-anak ganteng dan cantik papa," Zeehan tersenyum, menurunkan Kenzio dari pangkuannya dan kembali ke kamarnya untuk membersihkan diri.


Setelah membersihkan diri, Zeehan kembali ke kamar bayi mereka dengan memakai kaos oblong dan celana pendek. Kemudian mengangkat Zee, ke pelukannya.


"Cantiknya Papa!" Zeehan menciumi wajah mungil lembut.


"Bagaimana keadaan di rumah sakit, Pa?" tanya Lenka.


"Tidak ada masalah, sayang?"


"Syukurlah!, Bagaimana dengan Denis?"


"Denis sekarang lebih baik, rumah sakit sudah berkembang pesat. Mungkin bulan depan kita akan mengadakan syukuran di Bali.


"Oh ya, kita akan pergi semua?"


"Iya, ...mama dan papa juga,"


"Hore kita akan ke Bali!" seru Kenzio bersorak gembira.


Lenka tersenyum melihat aksi Kenzio yang melompat kegirangan.


"Pa, Zio boleh ngajak Daddy Jovan nggak!"


"Boleh? nanti Zio telepon Daddy ya!"


"Oke Papa!"


Si kecil Zee tampak tenang dalam pangkuan Zeehan, sesekali anak itu tertawa.


"Sayang, anak cantik Papa!" Zeehan memeluk bayi itu erat.

__ADS_1


Betsambung


__ADS_2