TAK SANGGUP MELUPAKANMU

TAK SANGGUP MELUPAKANMU
KECEWA


__ADS_3

Zeehan mendengus kasar, sudah hampir 3 jam dia menunggu Lenka di dermaga. Tapi kekasih yang di tunggu tidak juga datang.


"Lenka, kenapa kamu tidak datang?" wajah Zeehan tampak berubah kesal.


Zeehan naik ke atas sepeda motornya.  Dengan kecepatan tinggi, Zeehan memacu kendaraan roda duanya menuju rumah Lenka.


Rumah dinas Keluarga Dokter Budi Santoso itu sepi.  Zeehan mendekati pintu rumah dan mengetuknya dengan perlahan.


"Permisi, Lenka...! Lenka...!" teriak Zeehan, namun tidak ada sahutan. Rumah itu sepi sekarang.


"Mau cari siapa, Nak?" tanya seorang wanita tetangga Lenka keluar dari rumahnya.


"Keluarga Pak Budi kemana ya Tan?" tanya Zeehan.dengan suara terdengar panik.


"Kamu siapa?" tanya wanita itu, penasaran.


"Saya temannya Lenka," jawab Zeehan


"lho, kamu tidak tahu, Pak Budi dan keluarganya sudah balik ke Jakarta, tadi malam," Kata Wanita itu.


"Tadi malam? Semalam kami masih bertemu di acara sekolah, Tante!" kata Zeehan menautkan alisnya.


"Iya, mereka pergi setelah acara, katanya pesawat mereka berangkat jam 06.00 pagi,"


Kata nya lagi.


"Kalau begitu, terimakasih Tante, permisi!" Zeehan melangkahkan kakinya gontai, menuju motor bututnya.


"Lenka, kenapa kamu tidak mengabari aku, kalau kamu pergi sekarang? Apa susahnya menghubungi aku," Zeehan merasa kecewa.


Cowok itu mencoba menghubungi Lenka dengan Ponselnya, namun nomor Lenka tidak aktif.  Zeehan menarik nafas kesal.


"Ada apa denganmu, Lenka? Kenapa kamu bersikap seperti ini, padahal kemaren kita baik-baik saja," geram Zeehan.


Zeehan kembali ke rumahnya, Sherly menyambutnya di depan pintu, dengan senyum genit.


"Dari mana saja Han, Ibumu dari tadi nanyain," tanya Sherly dengan gerakan tubuhnya yang menggoda.


"Ada apa emangnya kak?" tanya Zeehan menatap wanita itu jengah.


"Tanya saja sendiri?"  Zeehan masuk ke kamar ibunya dengan melewati Sherly dan berusaha agar tidak bersentuhan.


"Ibu nyariin aku, ada apa?" tanya Zeehan.


"Zeehan, kamu benar-benar mau kuliah ke Jakarta?".tanya sang Ibu.


"Iya, kenapa Bu?"


"Kalau kamu ke Jakarta, lalu ibu dengan siapa? Biaya kuliahmu bagaimana?"


"Aku kan dapat beasiswa ibu?"


"Ya, tapi kamu juga butuh biaya untuk ke Jakarta, ongkos pesawat, sewa kos,"


Zeehan terdiam, dia memang tidak punya ongkos untuk ke Jakarta saat ini.  Lalu kalau Zeehan pergi, siapa yang akan mengurus ibunya.


Zeehan menarik nafasnya yang terasa berat.


"Lalu, aku harus bagaimana, Bu? Aku harus bisa kuliah, aku akan bekerja nanti di Jakarta, aku akan mengirim ibu uang, kalau aku sudah bekerja,"


"Zeehan, kemaren ibu sudah bicara dengan orangtuanya Sherly, mereka mau meminjamkan uang untuk biayamu pergi ke Jakarta, tapi syaratnya kamu harus menikah dengan Sherly,"  Kata ibunya, Zeehan menatap ibunya tak percaya. Kemudian memandang ke arah Sherly yang berdiri di depan pintu dengan memangku kedua tangannya di dada.


Tersenyum manis ke arahnya.


"Ibu, aku belum mau menikah?" kata Zeehan menolak.


"Pernikahan ini hanya untuk menutupi aib keluarga Sherly, nak.  Kamu menikahi Sherly,  sampai anak yang di kandung Sherly lahir. Dan mengakui kalau anak itu adalah anakmu," kata sang ibu.


"Pernikahan  macam apa itu? Aku tidak mau, Bu!"


"Zeehan, aku mohon, tolong aku! Kekasihku pergi, dia tidak mau menikahi ku, sekarang aku hamil 3 bulan, jika tidak ada yang mau menikahi ku, anakku akan lahir tanpa ayah," Sherly duduk berlutut di depan Zeehan. Zeehan mengabaikannya.


"Iya nak, kasihan Sherly...ibu pernah berada di posisi Sherly, dan kamu tahu sendiri kan, apa yang ibu alami," kata Bu Ratna menghiba.


Zeehan duduk di sisi ranjang ibunya. Di satu sisi dia kasihan pada Sherly, tapi di sisi lain, dia belum mau menikah diusianya yang masih muda.  Sherly memang lebih tua lima tahun dari Zeehan.  Wajahnya manis, dan berkulit putih bersih.  Orang tua Sherly adalah


pemilik beberapa villa dan penginapan disekitar tempat wisata pantai Wane.  Mereka adalah orang terkaya di desa mereka.


"Jika kamu kuliah di Jakarta, aku janji akan mengurus ibumu di sini," kata Sherly.


"Kalau sekedar menikahi, aku mungkin bisa, tapi untuk menghidupi mu, aku belum sanggup kak Sherly," kata Zeehan.


"Aku tahu, aku hanya butuh pengakuan untuk anakku, setidaknya jika anakku lahir, dia punya ayah dalam akte kelahirannya." kata Sherly.


"Baiklah, ...tapi aku tidak akan menyentuhmu, kak Sherly!" kata Zeehan.  Wanita itu mengangguk mengiyakan, tapi dalam hatinya sedikit kecewa.


Zeehan menghempaskan tubuhnya kasar di ranjang.  Hatinya gelisah, kekecewaannya terhadap Lenka yang pergi tanpa kabar, belum hilang dari hatinya.


"Kamu sengaja mempermainkan aku Lenka?" Gumam Zeehan, memandang nanar ke arah langit-langit kamar.


"Aku sudah mencintaimu terlalu dalam, tapi kamu malah pergi meninggalkanku, mungkin kau merasa aku tidak pantas bersanding denganmu,"


Untuk yang kesekian kalinya Zeehan mencoba menghubungi Lenka, namun nomor yang pakai Lenka tidak bisa dihubungi.


""Apa kau sengaja melakukan ini, Lenka? Kau benar-benar membuatku gila,"  Zeehan membuka galery ponselnya.  Memandangi potret kebersamaan mereka di rumah pohon.


Zeehan memejamkan matanya sejenak, namun bayangan Lenka tak dapat hilang dari ingatannya.


"Arrgh....Lenka!" teriak Zeehan frustasi.


********


Zeehan akhirnya menerima perjanjian nikah dengan Sherly.  Dia bertekad untuk mencapai cita-citanya dan keluar dari garis kemiskinan, yang telah menghimpit keluarganya bertahun-tahun. Dia ingin membuktikan bahwa ia mampu mewujudkan cita-citanya menjadi seorang dokter.


Setelah menerima permintaan Sherly, kedua orang tua Sherly datang membicarakan tentang perjanjian nikah mereka.  Jika Zeehan menikahi  Sherly, mereka akan membiayai semua kebutuhan Zeehan selama kuliah di Jakarta. Dan Ibunya Zeehan, Ratna,  akan mereka urus dengan baik.


"Pak Edo, saya akan menikahi kak Sherly, tapi saya tidak bisa tinggal bersama, Karena saya masih terlalu muda untuk menikah, jadi saya harap kalian semua mengerti," kata Zeehan.


"Baiklah, tidak masalah Zeehan, sekarang mungkin tidak, siapa tahu lain kali, kamu berubah pikiran," kata Pak Edo tersenyum.


"Pernikahan kalian akan kita laksanakan 1 bulan dari sekarang, Saya ingin mengadakan pesta besar untuk merayakan pernikahan kalian," kata Pak Edo sumringah.


Berita pernikahan Zeehan dan Sherly sampai ke telinga Anita dan Davina, mereka  menemui Zeehan, karena penasaran.


"Han, beneran Lo mau nikah sama kak Sherly?" tanya Anita.

__ADS_1


"Iya, emangnya kenapa, An?"


"Nggak, gue cuma heran, Lo pacarannya sama Lenka, tapi kok nikah sama Sherly, trus gimana dengan Lenka,"


"Lenka pergi An!" jawab Zeehan lirih.


"Pergi? Pergi kemana?"


"Kata tetangganya, mereka sudah balik ke Jakarta setelah malam perpisahan di sekolah kita, aku merasa aneh An! Kenapa Lenka pergi begitu mendadak dan tidak memberiku kabar?"


"Malam itu dia tidak bicara apa-apa padamu?' tanya Davina.


"Tidak, dia hanya menangis, dan mengucapkan selamat tinggal," kenang Zeehan.


Anita dan Davina saling pandang.  Keduanya mencoba menghubungi nomor Lenka, tapi hasilnya sama, nomor itu sudah tidak aktif.


"Karena itu,.Lo menerima lamaran keluarga Kak Sherly?" tanya Anita lagi.


"Aku menikahi Kak Sherly, hanya karena perjanjian, mereka akan membiayai kuliahku, dan menjaga ibuku, jika aku ke Jakarta nanti," ucap Zeehan sedih.


"Lalu, apa yang mereka harapkan dari Lo?" tanya Davina.


"Tapi jangan bilang siapa-siapa ya! Aku hanya akan menikahi Sherly sampai anak dalam kandungannya lahir," ucap Zeehan setengah berbisik.


Anita dan Davina melongo tak percaya.


"Ya udahlah, Zeehan, kami tidak bisa membantu Lo, kalau sudah begini, semoga Lo bisa mencapai cita-cita yang Lo impikan!" kata Anita.


"Makasih Anita, Davina!" ucap Zeehan tulus.


Pernikahan Zeehan dan Lenka berlangsung meriah di Balai Desa, Keluarga Sherly mengundang seluruh warga kampung dan relasinya dari kota.


Sherly tampak bahagia karena bisa menikah dengan Zeehan yang memiliki wajah tampan bak pangeran dari dongeng di cerita-cerita klasik. Berbeda dengan Zeehan, pria itu hanya tersenyum dipaksakan menyalami tamu-tamu yang datang di acara pernikahan mereka itu.


"Maafkan aku Lenka, aku terpaksa mengkhianati cinta kita," batin Zeehan.


Sherly memandang Zeehan yang tampak gundah.  Dia tersenyum samar, " Aku harus mendapatkan malam ini, Zeehan.  Setelah itu kamu boleh pergi ke Jakarta," batin Sherly.


Sherly sudah merencanakan sebuah jebakan untuk Zeehan, bersama ibu Ratna.  Dengan memberikan minuman berisi obat pe******Ng.


Pesta malam itu belum berakhir, Zeehan sudah tidak mampu untuk berdiri lama, kepalanya tiba-tiba pusing dan tubuhnya panas.


"Zeehan, kamu kenapa?" tanya Sherly, pura-pura tidak mengerti apa yang terjadi.


"Kepalaku pusing Kak Sherly aku mau istirahat dulu ya!" kata Zeehan melangkah keluar dari balai Desa.


"Kamu mau kemana, Zeehan?" tanya Sherly mengikuti langkah kaki pria muda yang telah menjadi suaminya itu.


"Aku mau pulang, Kak!"


"Biar aku antar!" kata Sherly memapah tubuh Zeehan yang mulai sempoyongan. Sherly justru membawa Zeehan kerumahnya yang tidak jauh dari balai desa.


Dengan susah payah, Sherly membawa Zeehan ke kamar pengantin mereka.  Sherly tersenyum puas, Zeehan sudah kepanasan.


"Kenapa tubuhku rasanya terbakar," Zeehan melucuti pakaian atasnya.


"Zeehan..." panggil Sherly lembut, sambil membelai dada pria itu yang telah terbuka.


Zeehan menggelengkan kepalanya berkali-kali.  Pandangannya mulai kabur, dia merasa melihat Lenka di hadapannya.


"Lenka, jawab aku! Kenapa kau menyiksaku, hah, Kenapa?" racau Zeehan kecewa.


"Aku sudah ada.disini. Zeehan," kata Sherly.


"Jangan pergi lagi, aku mencintaimu sayang!" Zeehan mencumbu Sherly dengan buas, dia merasa yang di hadapannya adalah Lenka kekasihnya.


Tapi, bagi Sherly tidak masalah, setidaknya dia masih bisa menikmati malam pertama pengantin mereka, walau Zeehan selalu menyebut nama Lenka setiap kali mencapai puncak kenikmatannya.


Sherly tersenyum puas, setelah berhasil membuat Zeehan menunaikan tugasnya sebagai seorang suami.  Berbeda dengan Zeehan, dia tertegun saat terbangun. Melihat Sherly yang masih tidur disampingnya dengan tubuh di penuhi jejak percintaannya.


Zeehan menarik nafas dalam-dalam.  Dia mencoba mencerna apa yang terjadi.  Sebagai pria yang baru tamat SMA, dia tidak mengerti dengan apa yang terjadi pada dirinya.  Dengan cepat Zeehan memakai pakaiannya kembali dan keluar dari kamar pengantin mereka.


"Mau kemana, Zeehan?" Zeehan menoleh pada seseorang yang memanggilnya.


"Ibu, Ibu disini?" Zeehan memandang ibunya heran.


"Iya, Sherly mengajak ibu tinggal disini, jadi jika kamu pergi ke Jakarta nanti, Sherly ada temannya," kata Ibu Ratna tersenyum sumringah.


"Oh, ya udah, aku mau pulang ke rumah kita, Bu, aku akan bersiap untuk berangkat ke Jakarta," kata Zeehan.


"Kapan kamu akan berangkat ke Jakarta?" tanya Ibunya.


"Besok," jawab Zeehan singkat.


Bersambung.


Rasa sakit yang mendera Zeehan beberapa hari belakangan ini, membuat Zeehan harus beristirahat total. Hingga dia harus izin untuk kuliah dan bekerja.


"Sebenarnya Lo itu sakit apa sih, Han?" tanya Aldo, teman sebelah kamar kosnya.


"Gue juga bingung, Do, badan gue lemes seolah nggak ada tenaga, dan anehnya dokter bilang gue nggak kenapa-kenapa. Setiap malam gue mimpi yang sama, seorang anak kecil berlari ke arah gue dan memanggil gue papa," jelas Zeehan.


"Apa Lo pernah menghamili anak orang?" tanya Aldo frontal.


"Nggak lah, tapi...!" Zeehan mengernyitkan dahinya. Zeehan termenung sesaat ingatannya kembali pada saat dirinya dan Lenka berada diatas rumah pohon. Dengan sadar mereka telah melakukan hubungan suami istri. Lenka tidak menyesalinya, karena cintanya pada Zeehan mengalahkan rasa takut dalam dirinya.


"Tapi apa? Lo pernah tidur dengan cewek Lo?" tanya Aldo.


"Pernah, tapi dia tidak pernah menuntut tanggung jawab dari gue, itu artinya dia tidak hamil kan?" Zeehan menarik nafas panjang,


Bukan hanya sekali mereka tidur bersama tapi, sudah beberapa kali, tidak menutup kemungkinan Lenka hamil.


"Dia tidak mengatakan apapun sama Lo," tanya Aldo lagi.


Zeehan kembali mengingat, saat terakhir kali mereka berada di pulau, Lenka muntah-muntah dan pusing. Tapi Lenka bilang, dia hanya masuk angin.


"Aku akan membencimu Lenka, jika saja benar kau menyembunyikan kehamilanmu dariku," batin Zeehan geram.


Sebagai calon dokter, Zeehan mulai bisa menganalisa perubahan-perubahan pada Lenka beberapa waktu yang lalu. Zeehan menyesal dia terlambat menyadarinya.


Sementara itu, di desa kelahiran Zeehan, sang ibu mulai sakit-sakitan, namun Sherly tidak lagi mengacuhkan mertuanya itu. Sejak Zeehan jarang mengabarinya. Uang yang dikirim Zeehan, di pergunakan Sherly untuk dirinya sendiri dan putri kecilnya.


"Maaf Bu Ratna, aku dan anakku akan pindah ke rumah orang tuaku, aku nggak bisa lagi mengurus ibu," kata Sherly sinis.


"Sherly, kenapa kamu tiba-tiba berubah," tanya Bu Ratna heran.

__ADS_1


"Aku capek Bu, Zeehan tidak pernah menganggap ku istrinya, seharusnya sebagai seorang ibu, ibu bisa mengajari Zeehan tentang tanggung jawabnya sebagai seorang suami, bukan hanya nafkah lahir, tapi juga nafkah batin," kata Sherly dengan nada kesal.


"Ibu sudah bicara dengannya tentang itu, dia bilang perjanjian pernikahan itu hanya sampai anakmu lahir, bukan?"


"Ya, dan itu artinya tugasku menjaga ibu juga sudah selesai kan, tapi kalau ibu bisa membujuk Zeehan untuk menerimaku sebagai istrinya, aku akan mempertimbangkan untuk menemani ibu disini," kata Sherly.


Ibu Ratna hanya diam, sejak tinggal bersama Sherly. Ibu Ratna selalu melakukan pekerjaan rumah sendiri, termasuk melayani semua kebutuhan menantunya itu.


Sherly menganggap, semua uang yang telah dikeluarkan oleh keluarganya untuk biaya kuliah Zeehan harus dibayar dengan tenaga Bu Ratna. Karena Zeehan tidak akan mampu membayar semua uang itu.


Bu Ratna hanya pasrah, dan melakukan semua pekerjaan rumah dengan ikhlas. Dia tidak pernah mengadukan perlakuan Sherly pada Zeehan.


Sekarang Bu Ratna tinggal sendiri di rumahnya, Sherly sudah pergi ke rumah orang tuanya membawa putri kecilnya yang bernama Kenzhia Putri Devano.


Bang Heri dan Mamat yang sering memberi Bu Ratna makanan, karena ibunya Zeehan itu sudah tidak bisa lagi bekerja.


"Bu Ratna, apa aku harus memberitahu Zeehan kalau ibu sakit," kata Mamat.


"Nggak usah Mat, ibu tidak mau mengganggu kuliahnya Zeehan, tidak apa dia tidak pulang, biaya dari Jakarta ke Sumbawa juga mahal," kata Bu Ratna sedih.


"Kalau ibu butuh sesuatu, bilang saja padaku atau Bang Heri, " kata Mamat.


"Terimakasih ya, Mat!"


"Ya Bu, semoga Zeehan sukses di Jakarta, Bu!" kata Mamat lagi


"Amin," balas ibu Ratna tersenyum lemah.


Sherly mengadu kepada orang tuanya, jika Zeehan tidak peduli padanya.


"Apa kamu sudah mengabarkan kalau anakmu sudah lahir? Tanya Bu lita ibunya Sherly.


"Sudah Ma, dia hanya bilang selamat, " kata Sherly cemberut.


"Ibu akan bicara dengannya, jika dia menolak untuk melanjutkan pernikahan, Ibu akan meminta ayahmu menghentikan bantuan biaya kuliahnya." kata Ibu lita merasa geram.


"Ya Bu, cowok sombong itu harus dikasih pelajaran," kata Sherly memanas-manasi ibunya.


Malam itu, Bu Dina menghubungi Zeehan lewat ponselnya. Cowok itu mengangkat sambungan itu dengan malas.


"Ada apa Bu?" tanya Zeehan.


"Zeehan, kata Sherly kamu menolak untuk melanjutkan pernikahan kalian," kata Bu Dina to the point.


"Maaf Bu, bukankah perjanjiannya hanya sampai anak kak Sherly lahir, dan anak kak Sherly sudah lahir kan? Dan di Akte Kelahirannya juga sudah ada namaku sebagai ayahnya, lalu apa lagi," kata Zeehan kesal.


"Zeehan, ingat ya! Jika kamu tidak melanjutkan pernikahan dengan Sherly, itu artinya biaya kuliahmu selama di Jakarta juga akan kami hentikan, termasuk ibumu, bukan tanggung jawab kami lagi," ancam Bu lita


Zeehan menarik nafas panjang, cepat atau lambat hal itu pasti akan terjadi dan Zeehan sudah menduganya.


"Baik Bu, tidak apa-apa, saya tetap akan bercerai dengan kak Sherly, karena saya tidak mencintainya," kata Zeehan jujur.


"Kalau begitu, kami terpaksa menghentikan bantuan kuliahmu, Zeehan!" Kata Bu lita lagi.


"Ya, tidak apa-apa Bu, Terimakasih untuk semuanya, saya berjanji akan mengganti semua uang yang telah Bu lita dan Ayahnya kak Sherly keluarkan, jika saya sudah bekerja nanti," kata Zeehan menutup sambungan teleponnya sepihak.


"Sombong sekali tuh anak!" geram Bu lita kesal. "Dasar tidak tahu diri."


********


Melbourne 07.00


Mama Rekha baru saja selesai membantu Lenka memandikan bayi mungilnya. Kemudian memakaikan pakaian lengkap dengan kaos dan topinya.


"Sayang, anak Mama udah ganteng!" Lenka memeluk bayi mungil itu dalam pelukannya, wangi aroma bayi itu membuat Lenka nyaman dan menghirupnya berkali-kali.


"Zio sayang, nanti kalau mama tinggal jangan nakal ya! Mama mau kuliah, Zio tinggal di rumah sama Oma, " Lenka mengajak bayi kecilnya itu bicara. Baby Zio menatap matanya intens. Lenka tersenyum, sambil mengecup kening bayi itu berkali-kali.


"Zio, maafkan Mama ya, mama belum bisa memberitahu Papamu, kalau kamu ada saat ini," butir air mata jatuh di pipi Lenka.


"Lenka, mama akan kembali ke Jakarta besok pagi, kamu tidak apa-apa kan mama tinggal," kata Mama Rekha.


"Nggak apa-apa, Ma!" jawab Lenka.


"Kasihan papamu, terlalu lama di tinggal, nggak ada yang urus,"


"Iya Ma, pergilah, kan ada Tante Julia juga,"


"Iya, kamu jaga Zio baik-baik ya!" pesan sang Mama.


"Pasti Ma, " sahut Lenka tersenyum cerah.


Kehadiran Kenzio dalam hidupnya, membuat Lenka merasa ceria dan bahagia. Dikelilingi oleh orang-orang yang menyayangi mereka, Lenka menjalani hari-hari nya tanpa mengeluh walau tanpa kehadiran seorang suami disisinya.


Baby Kenzio tumbuh dengan cepat, dia sudah bisa berjalan sekarang. Dan Jovan senang mengajaknya bermain di taman. Apalagi Zio memanggilnya dengan sebutan Daddy. Kedua nya sudah seperti ayah dan anak saja.


"Zio, panggil Uncle Jovan ya!" kata Lenka suatu hari.


"Dad...dy!" kata Kenzio dengan suara imutnya.


"Biar saja Val, aku nggak masalah?" kata Jovan.


"Nggak enak dong, Van! Nanti cewek kamu pikir Zio itu anakmu," kata Lenka.


"Nggak pa pa, sekalian buat menguji, mereka tulus sama aku atau tidak," kata Jovan tertawa.


"Maksudnya?" tanya Lenka.


"Ya nanti, kalau aku bilang aku duda punya anak satu, aku mau lihat reaksi mereka seperti apa," jelas Jovan.


"Kalau menurutku sih, nggak bakalan ada yang percaya Zio itu anakmu, soalnya Zio nggak ada tampang bulenya, kulitnya juga nggak putih-putih amat," celetuk Lenka.


"Iya sih,...tapi dia sangat tampan dan menggemaskan," puji Jovan.


"Iya dong, anak siapa dulu, Valencia!" Lenka menunjuk dadanya. Jovan memanyunkan bibirnya. "Zio sini sayang," Lenka mengendong putra kecil itu ke dalam pangkuannya.


"Mm, anak tampan Mama, " Lenka menciumi wajah mungil itu dengan sayang. Anak itu tertawa kegelian.


"No...Mama," Kenzio menarik wajahnya dari wajah Lenka.


"Why?"


"I'm tickled, Mam!" Lenka tertawa kecil, dia merasa bangga, putra kecilnya itu fasih berbahasa Inggris, karena Jovan selalu membawanya kemana pun Jovan pergi jika sedang tidak ada kuliah.


"Sorry dear, I love you," Lenka memeluk Kenzio dengan erat.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2