TAK SANGGUP MELUPAKANMU

TAK SANGGUP MELUPAKANMU
KEDATANGAN TAMU DARI JAKARTA


__ADS_3

Denis tampak lebih bersemangat memasuki kantornya pagi itu. Pria bertubuh tinggi tegap itu menyapa dengan hangat setiap karyawan yang dijumpainya. Senyum manis mengembang di wajahnya yang berseri tanpa cela. Setelan Jas berwarna abu-abu dan kemeja putih menambah elegan penampilannya.


"Selamat pagi Pak, orang yang Bapak minta untuk mengisi jabatan di keuangan sudah datang," kata Mery, sekretarisnya. Sesaat akan masuk ke dalam ruangannya.


"Suruh mereka ke kantor saya Mery!" Jawab Denis ramah. Aura bahagia terpancar di wajahnya.


"Baik Pak!" Mery ikut tersenyum, melihat suasana hati bosnya yang lagi baik pagi ini.


Dua orang pria masuk ke ruangan Denis, dengan membawa dokumen masing-masing.


"Saya rasa, saya tidak perlu memeriksa CV, anda berdua, karena Mery sudah memberitahu tentang prestasi anda, jadi sekarang, anda bisa menempati posisi yang kosong. Pak Arya, anda saya tunjuk sebagai kepala Divisi yang baru menggantikan yang sebelumnya. Dan Pak Made bisa membantu Pak Arya menyusun ulang anggaran pengadaan Ambulans dan gaji karyawan dan para dokter di Rumah sakit ini."


"Terimakasih atas kepercayaan Anda Pak Denis, saya berjanji akan bekerja dengan baik dan sepenuh hati," Ucap Arya.


"Saya juga Pak Denis, terimakasih sudah menerima saya bekerja kembali di rumah sakit ini," ujar Pak Made.


"Sama-sama, tugas kalian sekarang, perbaiki semua dokumen yang ada diatas meja saya, setelah selesai bawa kembali kemari untuk saya periksa."


Kedua orang tersebut mengangguk dan membawa tumpukan File yang ada di atas meja Denis.


Setelah Arya dan Made keluar dari ruangannya. Denis memeriksa email yang masuk ke Ponselnya. Konsentrasinya terganggu saat melihat sebuah panggilan dari Judith. Denis tersenyum dan segera menjawab panggilan Judith.


"Ada apa, sayang?"tanya Denis lembut.


"Kak, ada tamu dari Jakarta, katanya saudara Kakak, namanya Kak Zeehan dan Kak Lenka!" Kata Judith.


"Baiklah, akan segera pulang!"


"Ya udah, hati-hati ya kak!" Pesan Judith. Denis tersenyum cerah.


Bergegas Denis keluar dari ruangannya.


"Mery, jika ada yang mencari saya, katakan saya ada urusan keluarga," pesan Denis pada sekretarisnya.


"Baik Pak!"


Sebelum pulang, Denis mampir ke sebuah swalayan untuk membeli cemilan dan makanan siap saji di sebuah gerai Fast food.


"Uncle Denis!" teriak Kenzio begitu Denis masuk ke dalam rumah. Menenteng kantong berisi makanan. Judith mengambil tentengan Denis dan membawanya ke dapur.


"Hai Boy, how are you?" Denis mengangkat Kenzio dalam gendongannya.


"I'am fine, uncle?"


"Kamu makin tampan saja, Sayang! seperti Papa Zeehan," puji Denis.


"Of Course Uncle, like father like son!" kata Kenzio tertawa.


"Apa kabar Denis?" Zeehan memeluk saudaranya hangat.


"Kabar baik, mana ponakan cantikku?" Denis mengendong bayi Zee dalam pelukannya.


"Halo cantik, nggak rewel kan selama di perjalanan?"


"Nggak, dia malah senang," jawab Lenka tersenyum.


"Apa kabar Val?" Denis memeluk Lenka hangat.

__ADS_1


"Seperti yang kamu lihat, berat badanku bertambah lima kilo," ujar Lenka tertawa kecil.


Denis ikut tertawa, memang benar Lenka tampak lebih gemuk sekarang.


"Denis, kamu berhutang penjelasan pada kami, siapa gadis itu?" bisik Lenka saat melihat Judith datang membawa makanan dan minuman.


"Judith, sini!" panggil Denis. "Kenalkan ini Valencia, aku senang memanggilnya Valen, sementara dia suka dipanggil Lenka, dan suaminya Zeehan, Val, ini Judith, dia calon istriku," Denis merangkul Judith tanpa ragu.


"Oh ya?! Kebetulan sekali, mumpung kita masih disini, kita rayain sekalian, kapan kalian akan menikah?" tanya Zeehan senang.


"Aku mau secepatnya, Han! Aku sudah tidak sabar memberi adik perempuan untuk Dean," jawab Denis absurd, membuat Judith tersipu malu.


"Aku akan membantu menyiapkan dokumen pernikahan kalian, kebetulan aku punya teman disini yang bisa aku andalkan!" kata Zeehan, tampak bersemangat.


"Terimakasih Zeehan, tapi sekarang masalahnya, Judith tidak memiliki dokumen disini, karena dia lari dari Ibunya." jelas Denis.


"Kok bisa?".Lenka menatap keduanya bingung.


Denis menceritakan tentang keluarga Judith, dari awal pertemuan hingga sekarang.


"Kalau begitu, mau tidak mau kamu harus menghadapi mamanya Judith, Denis!" ujar Zeehan.


"Aku juga maunya begitu, tapi sekarang mereka sudah menjual Judith pada pria tua bernama Gary Arkana."


Lenka tampak berpikir sejenak. "Judith, siapa nama belakangmu?" tanya Lenka.


"Hartley kak,"


"Hartley?, kamu anaknya aunty Jenny Hartley?" tanya Lenka.


"Aku mengenal Jonathan Hartley, ayahnya Jovan,"


"Dia Pamanku kak, tapi Hubungan mama dan Uncle Jo tidak begitu baik."


"Aku akan menemui Gary Arkana!" kata Denis.


"Ide yang bagus!" sahut Lenka.


******


Denis memasuki hotel berbintang lima di kawasan Denpasar. Sekretarisnya Mery sudah membuat janji dengan Gary Arkana, dengan alasan untuk menyewa hotel untuk melaksanakan pernikahan.


"Selamat Siang Pak Denis, Tuan Gary sudah menunggu anda di dalam kantornya. Sekretaris Gary Arkana, sudah menyambutnya di depan lobby.


"Terimakasih," Denis menarik nafas sejenak.


kemudian masuk ke dalam ruangan kantor pria bernama Gary Arkana.


"Selamat siang, Tuan Gary! Saya Denis Aryadinata, Presdir Darya Medika." Denis mengulurkan tangannya, menyalami Pria itu.


"Silahkan duduk Denis," ujar pria itu ramah.


Denis menatap pria itu lekat, begitu juga dengan pria itu. Keduanya diam sejenak, saling memandang. Denis menyadari ada kesamaan di antara mereka. Dari mata dan bentuk bibirnya. Tapi, apakah pria itu juga menyadari hal yang sama.


"Kamu dari Jakarta?" tanya pria itu, mencoba memindai wajah Denis dengan seksama.


"Ya, saya kemari untuk menanyakan biaya sewa gedung untuk pernikahan saya, sekalian tempat menginap kerabat saya dari Jakarta,"

__ADS_1


"Kami sudah menyediakan paketnya, ada di brosur yang sudah kami sediakan,"


"Memang, tapi saya kurang mengerti, jadi terpaksa saya menemui anda, sekalian ingin menjalin hubungan kerja sama dengan anda,"


"Baiklah, saya menawarkan harga special buat anda, berapa kamar yang akan anda sewa."


"Saya belum bisa memastikannya sekarang," kata Denis.


"Kapan pernikahan anda dilangsungkan?" tanya Gary.


"Saya ingin secepatnya, tapi masalahnya dokumen kekasih saya berada di tangan anda!" ucap Denis. Pria itu mengerutkan keningnya.


"Apa maksudmu?"


"Ya, kekasih saya bernama Judith Harley, putri dari Jenifer Hartley dan ayahnya I Made Astawan, Mamanya memaksa Judith untuk menikah dengan anda bukan?"


"Dimana anak itu sekarang?" tanya Gary tampak berang.


"Saya tidak akan memberitahu anda Pak, sebelum anda menyerahkan semua dokumen kependudukan kekasih saya," Denis mencoba untuk bersikap santai.


"Saya akan menyerahkan dokumen itu, jika keluarganya mampu mengembalikan uang saya sebanyak 2 Milyar rupiah! Perempuan itu telah menipu saya, " Gary Arkana bangkit dari duduknya dan berjalan mengitari Denis.


"Atau kau mau membayar hutang keluarga kekasihmu itu, ku rasa kau tidak sanggup membayarnya?" kata Pria itu tertawa meremehkan.


"Baiklah, aku akan membayarnya, tapi aku akan memastikan pada Mamanya Judith, apakah benar hutangnya begitu banyak, dimana wanita itu?"


"Dia ada di tempat saya, dibawah pengawasan saya,"


"Apakah saya bisa menemuinya?"


"Bawa Judith kemari, aku akan mempertemukan mu dengan ibunya," sahut pria itu menyeringai.


"Saya akan bicarakan dengan Judith, saya permisi," kata Denise.


Denise berdiri dari tempat duduknya, dan hendak keluar dari ruangan itu.


"Saya beri waktu 2 x 24 jam, jika kamu tidak datang, Judith akan menjadi milik saya!" kata Gary Arkana arogan.


Denis hanya tersenyum tipis.


*****


Saat Denis kembali ke rumahnya, dia tidak menemukan Judith dirumah.


"Zeehan, kamu melihat Judith?" tanya Denis tampak cemas. Zeehan sibuk dengan laptopnya di ruang tamu.


"Dia menjemput Papa dan Mama ke Bandara, bersama Lenka?"


"Kamu nggak ikut?"


"Aku ada kerjaan, Denis? kenapa panik begitu!"


"Aku takut, orang-orangnya Gary Arkana, menangkapnya,"


"Mudah-mudahan, tidak terjadi apa-apa Denis, tenanglah!" kata Zeehan, menenangkan saudaranya itu.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2