
Sesampainya Di Jakarta, Zeehan menemui David di kantornya. David menyambutnya dengan hangat. Walau dia agak kaget dengan kedatangan Zeehan.
"Hai zeehan, tumben kamu datang ke kantorku, biasanya juga nelpon, duduklah!" Sambut David ramah.
"Ada yang ingin aku tanyakan padamu?"
"Tentang apa?"
"Denis mengalami kecelakaan di Bali, apakah ada hubungannya denganmu?" Tanya Zeehan tanpa basa basi.
"Ha..ha.. tebakanmu benar kawan, apakah dia masih selamat?" David tertawa lebar.
"David, Denis tidak bersalah, dia tidak ada sangkut pautnya dengan kematian Davin," Zeehan menatap David lekat. Begitu juga dengan David.
"Bagaimana kau bisa tahu, Zeehan?"
"Denis sudah menceritakannya padaku, tentang pertemanannya dengan Davin, Rendy dan Adam, juga tentang Clarissa dan Sherly."
"OH YA, APA YANG DIA CERITAKAN? KEBAIKANNYA?" Cemooh David.
"Semuanya David, tentang pencurian Diamond, tentang pekerjaan mereka di club, kurasa Denis jujur, dia telah banyak berubah sekarang."
"Jadi, menurut dia, siapa yang ingin mencelakai Davin?" Tanya David ingin tahu cerita Denis.
Zeehan menceritakan tentang apa yang sudah diceritakan Denis, tanpa ada yang tertinggal. David mencocokkannya dengan cerita Rendy, memang banyak kesamaan, tapi David tidak mau terima kematian Davin dengan mudah.
"Secara tidak langsung, dia ikut terlibat dengan kematian Davin." ketus David.
"Ya, kebetulan sekali, mereka berada dalam lingkungan yang sama, tapi ku mohon, jangan ganggu Denis lagi, istrinya sedang hamil sekarang."
"Jangan ikut campur urusanku, Zeehan! Aku menghormatimu sebagai temanku."
"Karena kamu temanku, aku hanya ingin kamu tidak salah membalaskan dendam kematian Davin, kami membela saudaramu, aku juga membela saudaraku. Orang yang patut kamu curigai adalah Clarissa dan Sherly."
"Sherly tidak mungkin punya niat mencelakai Davin, karena saat itu, dia sedang mengandung anak Davin," bela David.
"David, kau itu begitu naif, saat itu Sherly hamil anaknya Davin, dan Davin tidak mau bertanggung jawab, kau pikir dia akan baik-baik saja, wanita mana yang tidak sakit hati."
David terdiam sejenak. "Davin sudah memberitahu alasannya tidak mau menikah dengan Sherly."
"Kalau begitu, Clarissa yang harus kau mintai keterangan, menurut Denis, mereka bersama sebelum kecelakaan." Zeehan mencoba mempengaruhi David.
David berpikir keras "Baiklah, aku akan mengampuni Denis. Aku melakukannya hanya karena kau temanku, Zeehan."
"Terimakasih David, aku doakan semoga kau bisa menemukan kebenarannya segera. Aku hanya mengingatkan, hati-hati dengan Sherly, dia bisa melakukan apa saja untuk mendapatkan keinginannya," pesan Zeehan. Zeehan pun berdiri dari tempat duduknya dan melangkah keluar dari ruangan David.
******
Sherly berjalan mondar-mandir di depan kamar David. Dia ingin bicara tentang Clarissa. Sepupunya itu baru saja menghubunginya dan mengajak Sherly untuk bertemu.
__ADS_1
"Ngapain lagi sih, anak itu menemui ku?" gerutu Sherly. Lebih baik aku Video Call saja, dari pada aku terlibat masalah." Gumam Sherly.
Sherly mencoba menghubungi nomor kontak Clarissa. Panggilan itu terhubung.
"Halo Sherly, ada apa?"
"Clarissa, maaf, aku tidak bisa menemui mu, aku takut David mencurigai kita,"
"Kamu dimana sekarang ?" Tanya Clarissa.
"Aku di rumahnya," ucap Sherly dengan suara pelan.
"Ngapain kamu dirumahnya David? Enak banget kamu ya!"
"Clarissa, please! aku harus mengikuti kemauannya David, agar putriku bisa hidup dengan layak, dan mendapatkan keluarga yang utuh.
"Jangan bilang kau jatuh cinta padanya,dasar ******!" Maki Clarissa.
"Tutup mulutmu, Clarissa, atau aku akan mengatakan pada David, bahwa kau terlibat atas kecelakaan yang terjadi pada Davin."
"Kau mengancam ku, Sherly! Baiklah, aku akan mengatakan pada David, bahwa anak yang kau kandung bukan anak Davin, kau tidur dengan banyak laki-laki, bagaimana bisa kau tahu, kenzhia anaknya Davin."
Sherly terdiam, "Ada apa Sherly, siapa yang nelpon?" Mama Dina datang menghampiri Sherly.
"Oh, hanya teman Ma, ada apa Ma?"
"Mama mau keluar sebentar, titip Keysha ya!"
Sherly berpikir keras, dia bimbang, Davin adalah orang pertama yang tidur dengannya. Di saat bersamaan dia juga pernah tidur dengan Adam dan pria lainnya.
Haruskah dia melakukan tes DNA. Tidak mungkin, karena Davin sudah meninggal. Yang penting sekarang, keluarga Davin menyayanginya dan Kenzhia, itu sudah cukup bagi Sherly sekarang.
Demi kebaikannya dan Kenzhia, Sherly harus mengambil hati David, atau menjerat pria itu untuk menjadi suaminya. Agar posisinya di rumah itu aman.
Kesempatan itu pun datang bagi Sherly. Mama Dina dan Keysha pergi ke Singapura untuk menghadiri acara salah seorang kerabat dari mamanya Keysha.
Sherly sendirian dirumah malam itu. Dia gelisah menunggu David yang tidak kunjung pulang, sejak kemaren. Bahkan sang ibu tidak sempat pamit ke Singapura.
Tiba-tiba, pintu di ketuk dengan keras dari luar. Buru-buru Sherly datang membuka pintu. David datang dalam keadaan mabuk.
"David, apa yang terjadi denganmu!" Sherly tampak cemas.
Tidak ada sahutan, pria itu terus berjalan sempoyongan. Sherly membantu David menaiki tangga menuju kamarnya di lantai atas.
Susah payah Sherly membawa David ke kamarnya. Kemudian membaringkan tubuh itu di tempat tidur. Disaat Sherly hendak turun dari tempat tidur, David menarik tubuhnya hingga jatuh tepat dalam pelukan Pria itu.
"David, apa yang kau lakukan!" Sherly menarik tubuhnya dari pelukan David.
"Sherly, tolong aku, aku kepanasan," David membuka pakaiannya dengan cepat. Selain mabuk, pria itu juga telah dipengaruhi obat perangsang. Siapa yang memberikan pria itu obat?
__ADS_1
"David, jangan!"
"Sherly, ...!" David tidak bisa lagi menguasai dirinya. Pria itu telah menahan tubuh Sherly agar tidak jauh darinya. Mencumbunya dengan lembut.
David yang sudah lama tidak bersentuhan dengan wanita, semenjak kematian istrinya, melampiaskan hasratnya yang menggebu-gebu pada Sherly, mantan kekasih kembarannya Davin. Tak cukup sekali, berkali-kali hingga Sherly tidak mampu lagi untuk memgimbangi permainan liar David. Sherly kelelahan dan tertidur pulas dalam pelukan David.
David terbangun, saat matahari sudah meninggi, dia kaget mendapati Sherly yang masih tidur disampingnya.
"Sherly...Sherly, bangun!" David mengguncang tubuh polos itu dengan pelan.
"Mm, ada apa?" Sherly membuka matanya yang masih terasa berat.
"Mandilah, nanti mamaku masuk dan syok melihat kita berdua disini," ucap David.
"Aku tidak kuat bangun, David! Kau membuatku hampir pingsan semalam," keluh Sherly.
"Maafkan aku, aku tidak bisa mengontrol diriku, seseorang memberiku obat perangsang," aku David. "Tapi, kau harus segera keluar, sebelum mama memergoki kita."
"Mamamu pergi ke Singapura, tadi pagi, jadi tenang saja," kata Sherly meneruskan tidurnya.
"Benarkah!?" David menarik nafas lega. Dia duduk bersandar di kepala ranjang. Mengusap wajahnya dengan kasar. Sherly berusaha untuk bangun dan berdiri.
Dengan tertatih-tatih dia melangkah kekamar mandi. Dan membersihkan diri.
Setelah berpakaian rapi, Sherly merapikan tempat tidur David, setelah pria itu mandi.
Kemudian melangkah ke dapur untuk menyiapkan sarapan untuk mereka berdua.
"Keysha juga ikut sama Mama?" Tanya David saat keduanya sudah berada di meja makan.
"Iya, Kenzhia juga di ajak sama Mama! Mama sudah menelpon kamu berkali-kali, tapi nggak diangkat."
"Aku sedang menghadiri pesta seorang teman, mereka menantang ku untuk minum."
"Oh pantas saja, kamu begitu buas semalam?"
David hanya memandang Sherly lekat. "Kamu tidak marah,"
"Bagaimana aku bisa marah padamu David, kau telah menyelamatkan hidupku dari Mama linda, telah menampung aku dan kenzhia di rumah ini,, seandainya kau meminta nyawaku, aku pasti akan memberikannya," sahut Sherly.
David hanya tersenyum simpul.
"Kalau aku memintamu jadi istriku,"
"Tentu saja aku bersedia, David. Tapi apakah mama Dina akan merestuinya. Kau tahu sendiri, aku hanyalah wanita malam."
"Aku akan menutupinya dari mamaku, kulihat Keysa menyukaimu,"
"Anak itu memang lucu dan menggemaskan!" Ucap Sherly tersenyum.
__ADS_1
Bersambung