TAK SANGGUP MELUPAKANMU

TAK SANGGUP MELUPAKANMU
KEHILANGAN


__ADS_3

Seminggu berlalu, namun belum ada tanda-tanda jasad Zeehan di temukan. Lenka mulai hilang harapan.


Tim dari Basarnas telah mengentikan pencarian disekitar pantai Wane. Dan beberapa pulau terdekat.


Satu bulan pun telah dilewati, namun usaha pencarian jasad Zeehan tidak juga menampakkan hasil. Mama Maria dan Bibi Julia, membujuk Lenka untuk kembali ke Jakarta. Lenka mengikuti kemauan keluarganya. Berusaha untuk tegar demi anak-anaknya.


Papa Daniel, meminta lenka dan anak-anaknya tinggal di rumah utama, bersama mereka, agar Lenka tidak kesepian. Denis kembali di tarik Papa Daniel ke Jakarta untuk mengurus rumah sakit yang di tinggalkan Zeehan.


Enam bulan kemudian, Lenka melahirkan anak ketiganya. Seorang bayi laki-laki berwajah menggemaskan. Dan seperti pinta Zeehan, lenka memberinya nama Samudera Aryadinata.


Bersamaan dengan kelahiran bayi perempuan Denis dari pernikahannya dengan Judith, yang diberi nama Dheandra Avika Harley.


"Selamat ya! Cucu oma sama-sama lahir dihari yang sama," Mama Maria tampak bahagia dengan kehadiran cucu keduanya.


"Makasih ma!" Lenka mencoba tersenyum, walau hatinya sangat sedih, mengingat bayinya lahir tanpa kehadiran Zeehan di sisinya.


"Mama, adikku laki-laki ya!" Kenzio yang menemani mamanya lahiran tampak senang melihat adik kecilnya.


"Iya nak! Ganteng kayak abangnya!"


"Mirip papa ya Ma!" Celetuk Zio sumringah, Lenka hanya mengangguk.


"Nah, sekarang mama udah punya aku dan adik Samudera yang akan melindungi mama, mama jangan sedih lagi ya!"


Kenzio bicara seperti halnya Zeehan saat mereka masih berada di pulau sebelum Zeehan menghilang.


Lenka memeluk Kenzio erat dan berusaha menahan air matanya agar tidak tumpah.


Mama Maria dan Papa Daniel yang menyaksikan percakapan keduanya menjadi terharu. Papa Daniel juga sangat merasa terpukul atas kehilangan putra semata wayangnya. Namun, dia berusaha untuk menutupinya di depan semua orang


Kesibukan Lenka mengurus bayinya yang baru lahir, membuatnya melupakan sejenak rasa sakit kehilangan Zeehan.


Walau teman-teman Lenka datang silih berganti memberi semangat dan hiburan. Tidak mampu membuat Lenka melupakan begitu saja pria yang telah menjadi bagian dari hidupnya.


Di depan Kenzio dan Zee, Lenka selalu berusaha untuk tersenyum, namun setelah keduanya tertidur, sepanjang malam Lenka menangis sambil memeluk foto Zeehan hingga tertidur dengan sendirinya.


Wanita itu tampak makin kurus sekarang. Mama Maria tidak tahu harus berbuat apalagi untuk membujuk Lenka agar menerima kenyataan pahit yang menimpanya. Dan kembali menjalani hidup dengan normal.


"Ma, aku akan ikhlaskan Zeehan pergi untuk selamanya, asalkan aku bisa melihat jasadnya ma!"


"Mama mengerti nak! Tapi ini sudah terlalu lama."


"Aku masih berharap keajaiban itu ada," isak Lenka.


Bibi Julia dan Jovan akhirnya memutuskan untuk membawa Lenka dan anak-anaknya ke Australia. Karena menurut bibi Julia, di Australia tidak ada kenangan tentang Zeehan disana.


Awalnya memang terlalu sulit untuk Lenka, namun kehadiran orang-orang yang menyayanginya membuat Lenka merasa terhibur dan mulai menata hidupnya kembali.


Mengantar Kenzio ke sekolah barunya, adalah rutinitas Lenka sejak tinggal di Melbourne. Kenzio bersekolah di Middle scholl, kelas 2. Zevanina baru berusia 3 tahun sekarang. Dan si kecil Samudera baru berusia 2 bulan.


******


Sementara itu, di suatu tempat yang jauh, seorang pria terbangun dari tidur panjangnya. Di tubuhnya terpasang alat-alat medis penunjang hidup.


"Anda sudah bangun, tuan?" Seorang wanita muda duduk disisi ranjang Zeehan.


Pria itu menoleh ke arah suara yang menyapanya.


"Dimana aku, anda siapa?" Tanyanya.


"Aku yang harus bertanya padamu Tuan! Apakah kamu ingat kamu siapa dan dari mana?" Tanya wanita itu.


Pria itu mencoba mengingat sesuatu, tapi dia tidak mengingat apapun.


"Aku tidak ingat apa-apa!" Pria itu menggeleng lemah.


"Kami menemukanmu di pesisir pantai 6 bulan yang lalu. Sekarang kamu berada di Australia." Kata wanita itu lagi.


"Terimakasih, sudah menolong saya!"


"Jika kamu sudah merasa lebih baik, kamu bisa bangun dan keluar untuk menghirup udara segar."


"Apakah aku bisa bangun sekarang?"


"Jika kamu tidak merasa pusing, kamu bisa bangun, panggil aku Catrine.

__ADS_1


Ya, pria itu adalah Zeehan, dia mengalami hilang ingatan setelah kecelakaan di laut, beberapa bulan yang lalu. Dia ditemukan oleh seorang penjaga pantai di Australia.


Dan membawa Zeehan pulang ke rumahnya. Kebetulan Penjaga pantai itu memiliki putri seorang dokter.


Bingung tidak mengingat siapa dirinya, Zeehan tampak frustasi.


Zeehan memejamkan matanya sejenak, kilasan kecelakaan speedboat yang ditumpanginya terlintas sangat cepat dan membuat kepalanya sakit.


"Kamu mengingat sesuatu?" Tanya Katrine, berdiri disamping Zeehan.


Zeehan menggeleng.


"Kalau begitu jangan dipaksakan," kata Katrine datar. Wanita itu menepuk pundak Zeehan pelan.


"Bagaimana keadaan pria itu Katrine!" Tanya Ayahnya.


"Dia sudah bangun, Dad! Tapi dia tidak mengenal dirinya sendiri.


"Bagaimana kalau kita posting di media sosial, jika ada keluarganya yang mengenalinya, mereka bisa menjemputnya kemari."


"Jangan Daddy, aku menyukainya! Bolehkah aku menikah dengannya?" Katrine berterus-terang pada Sang Ayah.


"Tapi, bagaimana kalau dia sudah punya istri dan anak." Ayah Katrine, Tuan Scoot keberatan dengan keputusan putrinya.


"Daddy, aku sulit untuk jatuh cinta pada seorang pria, makanya sampai sekarang aku belum menikah. Tapi pria ini, membuatku merasa berbeda Dad, aku menyukainya. Dia pasti pria baik-baik, Daddy tidak mau aku selamanya jadi perawan tua kan?" Ujarnya.


"Katrine maaf Daddy tidak mau kamu terluka nantinya, jika Pria itu kembali pada keluarganya,"


"Daddy, please, aku menyukainya, aku siap dengan resikonya, seandainya nanti dia kembali pada keluarganya." Katrine semakin keras kepala.


"Bagaimana dengan identitasnya?"


"Aku akan memberikan identitas mantan kekasihku untuknya."


"Baiklah, apapun akan ayah lakukan demi kebahagiaanmu nak, termasuk menyembunyikan pria ini." Kata Tuan Scot mengalah.


Katrine dan ayahnya masuk ke kamar Zeehan dirawat. Pria itu duduk bersandar di kepala tempat tidur sambil memejamkan matanya.


"Nak, apa yang kau pikirkan?" Tanya Tuan Scott.


Zeehan membuka matanya. Memandang Tuan Scot dan putrinya lekat.


"Kalau begitu, sampai ada orang yang mengenalimu, kuharap kau mau menggunakan identitas sementara, jika kau ingin keluar dari tempat ini."


Zeehan menerima sebuah kartu identitas, dari tangan tuan Scott, pria seumurannya, bernama Gerald wilson.


"Mulai sekarang namamu Gerald Wilson."


Zeehan mengangguk. Dan mengantongi identitas Gerald.


"Nah, Gerald, sekarang kamu bisa keluar dari rumah sekedar untuk berolah raga ringan di sekitar rumah kami."


"Terimakasih, Tuan Scott, Katrine!"


"Sama-sama Gerald," Katrine tersenyum.


Wanita berusia 27 tahun itu duduk didepan Zeehan.


"Jika kamu mengingat sesuatu, katakan padaku Gerald!" Kata Katrine.


"Baik Katrine, kau telah menyelamatkan hidupku, aku tidak tahu bagaimana harus membalas mu."


"Gerald, maukah kau menikah denganku? Hanya itu cara kamu membalas kebaikanku," kata Katrine tersenyum.


"Tapi, aku tidak tahu siapa aku, aku tidak punya pekerjaan."


"Tidak perlu memikirkan itu, Gerald. Kau bisa tinggal di rumah, biar aku yang bekerja. Kalau kau bosan, kau bisa menemani ayahku di pantai, kalau pengunjung sedang ramai."


"Baiklah, kalau itu bisa membalas jasa kalian, dan aku tidak akan merepotkan Kalian, biar aku bekerja membereskan rumah, jika kamu berangkat bekerja," kata Zeehan.


Katrine tersenyum sumringah, wanita itu menarik kedua tangan Zeehan ke dadanya.


"Terimakasih, Gerald!"


Katrine tampak bahagia, sang ayah hanya bisa menatap putrinya dengan senyum namun ada kekhawatiran di dalamnya.

__ADS_1


Esok harinya, saat Katrine berangkat ke Rumah sakit. Zeehan mengikuti Tuan Scott ke pantai. Matanya menatap nanar ke lautan lepas di hadapannya. Kepalanya terasa sakit, saat kilasan-kilasan peristiwa kapalnya yang karam dan dia berusaha menggapai pecahan kapal untuk tidak tenggelam.


"Gerald, kau baik-baik saja?" Tuan Scoot merasa khawatir melihat Zeehan yang duduk di pasir sambil memegang kepalanya.


"Aku mau pulang, Tuan Scoot."


"Aku akan mengantarmu."


Zeehan kembali kerumah, dia berbaring di ranjangnya. Berusaha memejamkan mata.


"Gerald, bicaralah! Apa aku perlu menelpon Katrine?"


"Tidak usah, Tuan! Obatku masih ada!" Zeehan meminum obat yang sudah disediakan Katrine diatas meja.


"Gerald, apakah kau serius ingin menikahi putriku?" Tuan Gerald memandang Zeehan lekat.


"Ya Tuan Scoot, aku serius," jawab Zeehan setelah dirinya sedikit tenang.


"Sebagai seorang ayah, aku cemas, Katrine akan kecewa, jika kau kembali pada keluargamu, mereka pasti menginginkan kamu kembali Gerald,"


"Aku tidak akan mengecewakan Katrine, Tuan Scott, aku berjanji."


"Tapi saat ini, kamu sedang hilang ingatan, bagaimana jika ingatanmu kembali?"


Zeehan tidak tahu harus menjawab apalagi, di satu sisi dia ingin membuat Katrine bahagia, tapi apakah mereka bisa bertahan, jika Zeehan bertemu kembali keluarganya.


Zeehan mengerti kekhawatiran Tuan Scott.


******


Pernikahan Zeehan dan Katrine berlangsung sederhana di sebuah Capel tak jauh dari rumah Tuan Scott. Janji suci itu telah terucap. Rona kebahagian terpancar diwajah cantik Katrine. Dengan memakai gaun pengantin berwarna putih, Katrine tampak anggun berdiri di samping Zeehan yang tampak gagah di balik Tuxedo putihnya.


Pesta pernikahan hanya dihadiri keluarga terdekat keluarga Katrine dari pihak Ayahnya. Dan melarang keluarganya untuk mem post foto-foto pernikahannya dengan Zeehan di media sosial mereka.


Di saat bersamaan, Lenka baru saja terbangun dari tidurnya. Wajahnya dibasahi keringat dingin. Dia baru saja mendapat mimpi buruk. Zeehan datang kepadanya tanpa bicara, sambil mengandeng seorang wanita lain. Dan berbalik meninggalkannya.


"Zeehan...!" Teriak Lenka dengan nafas tersengal.


"Mama!" kenzio datang saat mendengar teriakan mamanya.


"Zio...!" Lenka memeluk putranya erat.


"Mama mimpi Papa lagi ya!" Zio mengusap air mata di wajah Lenka, dengan tangannya.


"Iya sayang! Mama mimpiin Papa,"


"Jangan nangis lagi Mama! Zio sedih melihat mama seperti ini, ikhlaskan papa ya!"


Tangisan lenka makin tak terbendung, dengan ucapan Kenzio yang mengharukan.


*Kamu tahu sayang, sebelum papa menghilang, Papa pernah berkata, kalau dia ingin mempunyai dua anak laki-laki, yang akan melindungi mama, jika Papa pergi, dan sekarang papa benar-benar pergi, dan tidak akan pernah kembali pada kita lagi."


Kenzio mendekap Lenka erat, membiarkan Sang Mama mengeluarkan semua kegundahan harinya. Hingga tangisan itu reda dengan sendirinya.


"Mama, Zio minta, ini terakhir kalinya mama menangisi Papa, sekarang ada Zio yang akan menemani Mama, jangan sedih lagi, mama harus bahagia, demi Zio, demi Zee dan Samudera, kami masih butuh kasih sayang mama."


Lenka mengusap air matanya dengan sapu tangan. Dan mencoba untuk tersenyum.


"Nah, gitu dong Ma, besok Mama datang ke sekolah aku ya!"


"Ada apa di sekolah, Kenzio?"


"Zio memenangkan olimpiade Sains Australia dan bulan Depan, Zio akan berangkat ke Amerika, untuk mewakili Australia di olimpiade Sains sedunia."


"Mama akan pergi sayang! Mama bangga pada kenzio."


"Makasih Mama! Zio juga bangga punya Mama, Zio sayang sama Mama!"


"Mama juga sayang sama Kenzio!" Lenka menciumi pipi putranya lembut.


******


Ditengah malam, Zeehan terbangun dari tidurnya. Dia termenung sejenak, melihat Katrine yang tertidur pulas disampingnya. Dia tidak tahu, kenapa hatinya gelisah setelah melewati malam pertama dengan Katrine.


"Oh Tuhan, beri aku petunjuk, siapa diriku sebenarnya. Apakah aku melakukan kesalahan. Pernikahan ini tidak membuatku bahagia." Batin Zeehan.

__ADS_1


Satu tahun pun berlalu, walau rumah tangga Zeehan dan Katrine terlihat bahagia, namun Zeehan menyimpan keresahan dalam jiwanya. Ada yang hilang dalam dirinya, dan entah itu apa, dia tidak mengerti. Setiap kali memorinya mengingat kepingan masa lalu, kepalanya terasa mau pecah dan K diaatrine akan memberinya obat penghilang rasa sakit.


BERSAMBUNG


__ADS_2