
Sherly duduk bersandar di kepala ranjang. Matanya tidak mau terpejam. Rekaman video terakhir itu tidak pernah sampai padanya. Setelah bertengkar dengan Davin saat itu, Sherly memblokir nomor ponsel Davin. Seminggu setelahnya, Sherly pulang ke Bima, membawa benih Davin di rahimnya. Dan tidak pernah lagi mendengar kabar tentang Davin.
Sherly berjalan mondar-mandir dengan gelisah. Dia harus memberi tahu David tentang rekaman itu.
"Apa David tidak pernah tahu tentang rekaman itu?" Batin Sherly.
"Aku harus memberitahu David, tapi kemana anak itu? Apakah dia jarang pulang kerumah?"
Lelah berjalan mondar-mandir, Sherly akhirnya tertidur dengan sendirinya.
Menjelang dini hari, David pulang kerumah, wajahnya tampak lelah dan mengantuk. Dia hampir saja bertabrakan dengan Sherly yang kebetulan keluar dari kamarnya.
"Baru pulang, David?" tanya Sherly gugup, saat jarak diantara mereka begitu dekat.
"Iya, semuanya baik-baik saja,kan?"
"Ya,"
"Jangan takut, Mami Linda tidak akan mengganggu kamu lagi," kata David.
"Mm, apa yang kamu lakukan padanya?" tanya Sherly tampak cemas.
"Hanya mengancamnya!"
"David," Sherly mencoba untuk berbicara.
"Ya, ada apa?"
"Boleh aku bertanya tentang kematian Davin?" Tanya Sherly.
David menatap Sherly, kemudian memicingkan matanya.
"Davin meninggal karena kecelakaan tunggal di jalan raya," jawab David.
"Bukan karena mobilnya di sabotase?" Tatapan David berubah tajam, keningnya berkerut.
"Apakah kamu mengetahui sesuatu Sherly? Atau Davin pernah mengatakan sesuatu padamu?" Tanya David penasaran.
"Jadi, kamu tidak mengetahui tentang rekaman suara Davin, Video Call Nya dengan seseorang dan pesan terakhirnya buatku."
David memegang kedua tangan Sherly,"Katakan apa yang kau ketahui, Sherly!" Matanya memancarkan aura tak terbaca.
Sherly menarik nafasnya sejenak. "Ikut aku!' Sherly menarik David ke dalam kamar Davin dan masuk kedalam ruangan rahasia dikamar itu.
"Aku baru tahu, Davin mempunyai tempat rahasia ini," gumam David, memandang sekeliling ruangan kecil itu, ruangan berukuran 2x3 meter persegi, dengan dinding yang dilapisi alat peredam suara. Komputer itu terletak diatas meja kecil, dari kayu berwarna coklat.
Sherly duduk didepan komputer dan menyalakan kembali komputer itu lalu memperlihatkan video-video rekaman suara Video call Davin dengan seseorang. David memperhatikan dari belakang Sherly.
David tampak antusias ingin melihat semua rekaman itu. Rahangnya mengetat, wajahnya memerah. Nafasnya terasa begitu sesak, "Rekaman ini dibuat, sehari sebelum Davin mengalami kecelakaan." kata David geram.
"Kamu mengenal orang itu?" Tanya Sherly.
"Tidak, dia memakai topeng, tapi....perbesar tampilan layarnya, Sherly!" Sherly memperbesar tampilan wajah orang yang melakukan video call dengan Davin, terakhir kalinya. Ada cahaya lampu berkelap-kelip di belakangnya.
"Sepertinya dia berada di sebuah club." ucap Sherly.
"Ya, tapi dimana? Catat nomor ponselnya," Perintah David. Sherly mencatat nomor yang digunakan pria bertopeng itu.
__ADS_1
"Sebentar, David aku mengenal tempat ini," seru Sherly, saat melihat sebuah tulisan kecil dibelakang kepala pria bertopeng.
"Ini club malam tempat aku dulu bekerja! Ini ruangannya Mami Linda, ya...ini ruangan wanita jadi-jadian itu David,"
"Lalu, apa hubungannya dengan Davin? Barang apa yang mereka bicarakan?" Kepala David dipenuhi tanda tanya besar.
"Entahlah, apakah wanita itu ada hubungannya dengan kematian Davin? Apa dia mengenalku sebagai kekasihnya Davin?" sherly berpikir sejenak, bagaimana awalnya dia bertemu dengan Mami Linda.
"Apa yang kamu pikirkan, Sherly?" David menatap Sherly gelisah.
Sherly menggeleng, "Aku tidak tahu, David!"
Suara Sherly terdengar bergetar, Wanita itu berdiri dari tempat duduknya. Dan keluar dari ruangan itu, diikuti David dari belakang.
"Aku akan menyelidiki mami Linda itu, aku akan membuatnya mengakui, apa dia ada hubungannya dengan kematian Davin," kata David menenangkan Sherly. "Tapi, kumohon jangan sampai Mama tahu tentang ini,* pinta David.
"Baik," jawab Sherly mengangguk lemah. Kemudian David keluar dari kamar Sherly dan beristirahat dikamarnya sendiri.
Sherly berbaring lesu di tempat tidur, terlalu banyak kenangan indah yang dia lalui bersama Davin. Begitu juga dengan luka yang dia tinggalkan, sulit untuk dilupakan.
Tapi, setelah dirinya mengetahui sebuah kenyataan bahwa Davin sangat mencintainya, Sherly merasa lemah, dan merasa kehilangan. Air mata kesedihan mengalir begitu saja tanpa bisa dicegah.
"Apa yang sebenarnya terjadi pada Davin?"
David pun tidak bisa tidur setelah mengetahui fakta yang dia temukan di kamar rahasia Davin. Dia memang tidak pernah masuk ke kamar Davin, setelah saudara kembarnya itu meninggal. David takut hatinya menjadi lemah, jika terus mengingat kematian Davin.
David tidak bisa berdiam diri dikamarnya, dia keluar dari rumah, pergi ke markasnya.
David duduk di kursi kebesarannya. menyalakan kembali suara rekaman VC Davin dan pria dengan wajah ditutupi topeng. Sebagai ketua mafia yang ditakuti, David merasa bodoh, karena tidak mengetahui saudara kembarnya punya musuh.
"Doni, kamu bawa pria bernama Rendy atau Mama Linda ke markas, tanyakan ada hubungan apa dia dengan saudaraku Davin!" Perintah David via telepon, di pagi buta.
"Hutang nyawa harus dibayar nyawa?" Gumam David, sambil menembakkan pistolnya ke arah target di dinding ruangannya.
Suara letusan senjata api itu membuat para anak buahnya yang sedang berjaga-jaga di luar markas kaget dan berlarian ke dalam ruangan.
"Ada apa bos?" Tanya seorang anggota mafia, pimpinan David. Pria itu bernama Gani.
"Tugas kalian, hancurkan club XSTAR, rata dengan tanah!"
"Baik Bos!"
"Jangan sampai ada korban nyawa, keluarkan semua orang-orang yang ada di sana!" Perintah David.
"Baik Bos, kami akan melaksanakannya segera," sahut anak buah David, segera keluar dari markas dan bergerak menuju Club XSTAR menggunakan beberapa buah mobil.
Para pengunjung XSTAR berhamburan keluar club, saat pasukan yang dipimpin Doni, datang mengobrak-abrik club malam itu.
"Yang tidak mau mendapat masalah, silakan keluar, aku beri waktu 15 menit, sebelum tempat ini rata dengan tanah," teriak Doni.
"Hei, siapa yang berani menghancurkan, tempat ike!" Seseorang waria keluar dari kamarnya dengan pakaian wanita yang seksi. Rambutnya acak-acakan, karena baru bangun dari tidurnya.
"Bos kami menginginkan anda, Madam Linda, ikut kami sekarang juga atau anda ingin dibawa secara paksa!" Doni menodongkan pistolnya ke depan Mami linda.
"Heh, bukankah kamu anak buahnya David Genola, bukankah urusan kita sudah selesai, ike tidak lagi menganggu Sherly," kata Mami Linda dengan suara aslinya.
"Saya tidak tahu, sekarang anda ikut kami, a tau kamu mau mati sia-sia,"
__ADS_1
Mami Linda, mengikuti Doni dan anak buahnya keluar Club dan membawanya ke markas The Dark. Doni mengurung wanita itu di dalam sebuah sel penyiksaan dibawah tanah. Mami linda atau nama laki-lakinya Rendy tergidik ngeri berada di dalam sel itu. Sebuah sel yang berbau pengap dan amis.
"Senang bertemu dengan kamu lagi, Rendy!" David berdiri didepan Rendy yang tampak pucat melihat pria yang berdiri didepannya.
"Da....da...da..vi...vin!" Rendy tampak gugup.
"Urusan kita belum selesai, Rendy!" David tertawa menyeringai.
"Bu..bukankah...ka...ka..mu, su...sudah mati?" Rendy pucat ketakutan.
"Siapa yang bilang aku mati, ha..ha..! Rendy apa yang telah kamu perbuat dengan mobilku!" David mengambil sebuah bangku dan duduk di atasnya.
"Bukan aku...tapi... Clarissa!" Rendy menyebut nama Clarissa.
"Siapa Clarissa?" Bentak David.
"Ka..mu ti...dak kenal Clarissa? Saudara sepupunya Sherly? Kau bukan Davin??" Rendy mulai sedikit tenang.
"Tidak mungkin dia akan bekerja sendiri, jika bukan kau yang membantunya!"
"Ike tidak melakukannya, David...!"
"Jangan berbohong padaku,brengsek!" David mengeluarkan sebuah pisau dari dalam kantong celananya. Pisau kecil, namun dengan matanya yang sangat tajam.
"Bukan aku, bukan...!" Rendy makin ketakutan, tubuhnya gemetar. Celananya sampai basah karena kencing.
"Kau lihat ini!" David memperlihatkan sebuah video rekaman berisi Video Call antara Davin dan orang yang memakai topeng.
"Video Call ini, dari dalam ruangan mu, bukan?"
"I..iya, tapi, ampuni ike David, ike tidak bersalah," Rendy mulai menangis.
"KALAU BUKAN KAMU, SIAPA LAGI YANG TERLIBAT??" Bentak David marah.
"Semuanya berawal dari kecemburuan Clarissa pada Sherly, Clarissa menyukai Davin, tapi Davin menyukai Sherly. Dulu kami bekerja di tempat yang sama. Jujur aku juga menyukai Sherly. Clarissa memintaku menyingkirkan Sherly, agar dia bisa mendapatkan Davin. Tapi, aku tidak mau. Lalu Clarissa, meminta bantuan Denis, yang saat itu dekat dengannya. Kebetulan, saat itu Denis berseteru dengan Davin..!"
Rendy mengatur nafasnya yang sesak, kemudian mulai bicara lagi.
"Mereka memperebutkan sebuah Diamond, yang mereka curi dari sebuah toko,"
"Davin mencuri, kau jangan mengada-ada, Rendy!"
"Aku tidak mengada-ada, David, mereka semua adalah tamu di club milikku, Clarissa adalah anak asuhku, aku mengenal mereka,"
"Lalu, dimana Diamond itu?"
"Diamond itu di simpan Davin, aku pun tidak tahu dimana?
"Apakah Denis yang membunuh Davin?" tanya David .
"Tidak, Denis saat itu tertangkap polisi karena narkoba. Saat itu mereka berada di club, Davin melarikan diri dengan mobilnya, waktu itulah dia mengalami kecelakaan, polisi telah mamastikan tidak ada sabotase dengan mobilnya. Davin meninggal, murni karena kecelakaan, dia lalai saat mengemudi," Rendy bicara banyak tentang Davin.
David termenung sejenak, tak menyangka, saudara kembarnya itu tega membohongi mamanya. Tidak percaya jika Davin berbuat kriminal dengan mencuri perhiasan langka.
"Bagaimana dengan Clarissa?"
"Clarissa hanya menginginkan Davin menjadi miliknya, dia memanfaatkan panasnya hubungan Denis dan Davin, dan mengancam akan membunuh Sherly, jika mereka masih berhubungan. Davin seolah berpikir Denis yang akan mencelakai Sherly. hingga Davin memutuskan hubungannya dengan sherly."
__ADS_1
David menarik nafasnya yang terasa berat. Dia penasaran, dimana diamond itu tersimpan. Haruskah dia mencari Denis untuk meminta penjelasan.
Bersambung.