
Dengan berat hati, akhirnya Lenka membiarkan Zeehan pergi membantu Clarissa, yang sedang di sekap Denis di rumahnya. Lenka merasa gelisah, dia berjalan mondar-mandir di dalam kamarnya.
Lenka mengambil ponselnya yang terletak di atas meja. Menggulir layar ponsel, mencari kontak Denis. Dengan cepat Lenka menghubunginya. Sekali panggilan, tidak ada jawaban dari Denis. Lenka mengulang sekali lagi, namun panggilan itu tidak dijawab.
"Denis, angkat dong!" Lenka kelihatan cemas,
Panggilan ke sekian kalinya, akhirnya Denis mengangkat telpon Lenka.
"Halo Val, tumben kamu nelpon aku, ada apa?" tanya Denis dengan suara parau, sepertinya laki-laki itu baru bangun tidur.
"Denis, apa benar kamu menyekap Clarissa di rumahmu," tanya Lenka tegang.
"Tidak, aku tidak bertemu dengannya sudah tiga hari," kata Denis jujur.
"Denis, kalau begitu Clarissa berbohong, baru saja dia menelpon Zeehan dan menangis minta tolong, karena kamu menyekapnya di kamar, tolong aku Denis, aku takut Clarissa dan Sherly merencanakan sesuatu untuk mencelakakan Zeehan," Nada suara Lenka mulai berubah serak.
"Ya...ya, aku akan menjemputmu ke rumah," kata Denis.
"Cepat ya Denis, aku tunggu ," Lenka segera keluar dari rumah dan menitipkan Zio pada Asisten rumah tangganya yang masih berada dirumah. Dengan perasaan tak menentu, Lenka menunggu Denis di depan gerbang rumahnya. Tak lama berselang, Denis datang menjemput Lenka dengan mobil sportnya...
"Cepetan Denis, aku takut mereka merencanakan hal buruk pada Zeehan," Lenka cemas.
"Iya, ....sabar dong, kamu kan lagi hamil, aku tidak mau kamu kenapa-kenapa," ujar Denis.
Lenka terpaksa diam, menarik nafas berat. Kecemasan sedang menghantui dirinya.
*****
Zeehan sudah berada di rumah Denis dan Clarissa. Rumah itu terkunci dari luar. Zeehan mencoba mendobraknya. Pintu itu terbuka lebar.
"Zeehan aku disini, tolong aku!" teriak Clarissa dari dalam kamar. Dengan berjalan perlahan, Zeehan sampai di depan pintu kamar, dimana suara Clarissa berasal. Pintu kamar.juga terkunci dengan rapat. Lagi-lagi Zeehan harus mendobrak pintu kamar itu. Zeehan melihat ke kiri dan ke kanan, tidak ada siapa-siapa disana.
Hingga pandangannya tertuju pada Clarissa yang terikat di sebuah kursi. Dengan mudah Zeehan membukakan ikatan Clarissa. Wanita itu menangis memeluk Zeehan.
"Terimakasih Zeehan, aku takut, Denis akan menangkap ku!" Isak Clarissa.
"Dia tidak akan berani menyakitimu lagi, Clarissa, aku akan bicara dengannya," kata Zeehan, melepaskan pelukan Clarissa dan keluar dari kamar.
Clarissa pun mengikuti Zeehan keluar dan mengambilkan Zeehan minuman dingin dari kulkas.
"Minumlah, Zeehan, kamu pasti haus," kata Clarissa menyodorkan minuman itu pada Zeehan. Tanpa curiga Zeehan meminum minuman itu sampai tandas.
Tiba-tiba Zeehan merasakan pusing yang teramat sangat. Matanya terasa berat untuk di bukakan.
"Clarissa, sebaiknya kamu pergi dari sini, sebelum Denis datang, aku pusing, aku mau pulang,"
__ADS_1
"Tidak baik, kalau membawa mobil dalam keadaan sakit seperti itu Zeehan, sebaiknya kamu tidur dulu di kamar tamu, biar aku antar," kata Clarissa. Zeehan menurut, saat.Clarissa.membawanya ke kamar. Dan mengunci pintu kamar dari luar.
Tanpa sepengetahuan Zeehan, Sherly keluar dari kamar mandi, hanya dengan menggunakan selembar handuk yang hanya menutupi sebagian tubuhnya.
Dia berbaring di samping Zeehan, dan membuka pakaian Zeehan satu persatu.
"Zeehan, aku sudah menghabiskan banyak uang untuk mendapatkan mu, jadi kamu itu milikku. Tidak masalah, kalau kamu menceraikan ku, setidaknya aku masih bisa merasakan sentuhanmu," ucap Sherly tertawa lepas.
Jemari Sherly berselancar bebas diatas tubuh Zeehan yang diam tak bergerak. Pria itu masih setia memejamkan matanya. Sentuhan tangan Sherly membuat tubuhnya tiba-tiba merasa terbakar,
Zeehan membuka matanya, memandang Sherly samar yang tidur di sampingnya, tanpa sehelai benang pun.
"Sherly, apa yang kau lakukan padaku," teriak Zeehan marah, namun. Matanya sulit untuk terjaga.
"Zeehan, aku sudah berkorban banyak untukmu, untuk ibumu, tapi apa balasanmu, kau tidak pernah memberiku nafkah batin, kau tahu, aku menginginkanmu Zeehan. Aku ingin merasakan lagi sentuhanmu, saat malam pertama kita, tujuh tahun yang lalu," Goda Sherly.
Zeehan mencoba untuk mengumpulkan kesadarannya, dia mendorong tubuh Sherly agar menjauh darinya. Namun, tenaganya tidak begitu kuat. Sherly terus mencoba membangkitkan hasrat laki-laki itu. Sherly tersenyum, saat Zeehan telah terbakar api gairah.
Belum sempat Sherly merasakan kenikmatan surgawi nya, sebuah tarikan keras di rambutnya membuat Sherly terpekik. Dengan sekuat tenaga, Lenka menendang tubuh polos Sherly dari tubuh suaminya. Hingga terjengkang ke balik ranjang.
"Brengsek Kamu Sherly, ... Kamu itu tidak lebih dari seekor binatang," Maki Lenka.
""Kamu yang brengsek, Lenka, kalau saja kamu tidak kembali dalam hidup Zeehan, kami masih bisa bersama sampai sekarang," sahut Sherly marah. Dia berdiri, sambil menutup tubuhnya dengan handuk.
"Keluar kamu dari sini, brengsek!" Sherly mendekati Lenka dan menarik tangan Lenka untuk keluar dari kamar itu.
"Kamu yang harus keluar dari kamar ini, dasar ******, Zeehan suamiku dan aku akan membawanya pulang." Perkelahian kedua wanita itu tidak dapat di elakkan. Namun Lenka berhasil mendorong Sherly keluar kamar dan mengunci pintu dari dalam.
"Buka pintunya, Brengsek!" teriak Sherly memukul daun pintu dengan keras.
"Cukup Kak Sherly, sekarang pakailah pakaianmu dan keluar dari rumahku," kata Denis marah. Dia kaget melihat Denis sudah berada di luar.kamar, bersama Clarissa yang duduk diam sambil menundukkan wajahnya.
"Tapi Denis...!" Sherly tampak gugup.
"Tidak ada tapi-tapian Sherly,_ Clarissa, aku akan tetap menceraikanmu dan anak kita harus berada dalam asuhanku," kata Denis.
"Tidak bisa begitu Denis," protes Clarissa.
"Kenapa tidak? Kemaren aku masih berharap bisa mengajakmu dan anak kita mau pergi bersamaku ke Bali, tapi setelah melihat kelakuan kalian berdua, aku merasa malu, Clarissa.
"Denis, ...baiklah, aku mau minta maaf," kata Clarissa menangis.
"Itu tidak akan merubah keputusan ku." Denis membuka pintu rumah itu dan meminta keduanya keluar. Dengan terpaksa Clarissa keluar dari rumah itu.
Sementara di dalam kamar tamu rumah Denis, Lenka sedang berusaha meredam hasrat Zeehan yang sudah di ubun-ubun. Meleburkan diri dalam hangatnya cinta, manisnya madu asmara. Berbagi peluh, berbagi kehangatan dan saling memuaskan. Keduanya mengerang panjang, saat telah mencapai puncak nirwana. Sebuah pendakian yang indah namun melelahkan.
__ADS_1
Zeehan membuka matanya perlahan, kepalanya masih terasa berat, Zeehan meremas rambutnya dengan kuat, berharap kesadarannya kembali pulih. Dia menoleh ke sebelah kanannya. Kaget bercampur senang, saat melihat yang ada disampingnya adalah Lenka, istrinya tercinta. "Sayang, sejak kapan kamu disini?"tanya Zeehan memeluk pinggang Lenka yang melebar. Lenka menatap Zeehan dengan perasaan cemas marah dan juga kesal.
"Untungnya aku dapat tepat waktu, kalau tidak,.aku akan pergi meninggalkanmu," ucap Lenka cemberut.
"Sayang, jangan begitu! Aku tidak tahu, Clarissa tega melakukan semua ini padaku," Zeehan bangkit dari tidurnya. Memakai kembali pakaiannya. Begitu juga dengan Lenka.
"Berterimakasih lah pada Denis, dia yang membantuku mendobrak pintu kamar ini." kata Lenka, keluar dari kamar tamu di rumah Denis. Di ikuti Zeehan di belakangnya.
"Dimana kedua wanita jahat itu" tanya Zeehan pada Denis yang duduk sendiri di ruang depan.
"Aku sudah mengusir mereka," kata Denis.
"Aku belum membuat perhitungan dengan Sherly, Denis," kata Zeehan marah.
"Sudahlah, percuma! sekali ular tetap saja ular, aku sudah mengancam mereka untuk tidak berada di kota yang sama dengan kita," kata Denis.
"Mereka mau kemana?" tanya Zeehan.
Denis mengangkat kedua bahunya, tanda tak tahu.
"Lalu anakmu!" tanya Zeehan. Denis menatap Zeehan lekat.
"Suatu saat dia pasti akan mengantar anak itu ke rumahku, Clarissa itu cewek manja dan nggak bisa ngapa-ngapain." kata Denis santai.
"Terimakasih sudah membawa Lenka kemari, Denis!" ucap Zeehan tulus.
"Ya, makasih kembali, besok aku akan berangkat ke Bali. Aku titip Mama, Zeehan." Denis berdiri dan berjalan menghampiri Zeehan. Sebelah tangannya terulur pada Zeehan. "Maaf, aku pernah berniat menghancurkan mu," Zeehan menerima uluran tangan Denis dan keduanya saling berpelukan erat.
"Aku juga minta maaf, aku tidak bermaksud menyingkirkan mu," Denis mengangguk.
Lenka tersenyum memandang kedua laki-laki bersaudara tiri itu. "Zeehan, jaga Valen! Jika kau menyakitinya, aku akan mengambilnya darimu," kata Denis tersenyum sambil melirik Lenka. Sepertinya, Denis masih memiliki perasaan untuk Lenka.
"Kau tidak perlu khawatir tentang itu, Lenka adalah hidupku, aku tidak akan sanggup hidup jika tidak ada Lenka disisi ku," Zeehan merangkul Lenka dengan erat. "Aku tidak akan menyerahkan Lenka padamu."
"Terimakasih Denis, kami pulang dulu, kasihan Kenzio sendirian di rumah," kata Lenka menyalami pria yang pernah menjadi calon suaminya.
"Boleh aku memeluknya sebentar?" Denis meminta izin Zeehan untuk memeluk Valencia. Zeehan mengangguk.
"Hati-hati Val, jaga ponakanku, jika dia lahir, kabari aku, oke!" kata Denis.
"Tentu, Denis! Dia pasti akan bangga, memiliki paman sepertimu, kami akan mengunjungi mu di Bali, jika bayiku sudah lahir nanti," kata Lenka.
Zeehan membawa Lenka keluar dari rumah Denis, membantunya baik ke atas mobil. Zeehan melambaikan tangannya pada Denis yang mengantar mereka hingga pintu gerbang.
Bersambung
__ADS_1