TAK SANGGUP MELUPAKANMU

TAK SANGGUP MELUPAKANMU
RUMAH POHON KENANGAN


__ADS_3

"Aku mencintaimu, sayang" Zeehan memeluk tubuh istrinya erat. Seolah tidak ingin melepaskan. Lenka tersenyum bahagia, tidak ada lagi rasa gundah dalam jiwanya.


"Aku juga mencintaimu, Sayang, lebih dari apapun. Aku tidak akan sanggup bila harus jauh darimu." Lenka menyandarkan tubuhnya di dada bidang itu. Menghirup aroma tubuh Zeehan, yang membuatnya tenang dan nyaman.


"Sayang, seharusnya hanya kita berdua yang datang ke sini," ucap Zeehan.


"Kenapa?" Lenka memandang Zeehan bingung.


"Biar kita bisa mengulang kenangan kita, 8 tahun yang lalu, ditempat ini kita mendapatkan Kenzio," kata Zeehan sumringah.


"Ish, bilang sama kamu ingin bercinta disini," Lenka memukul pundak Zeehan pelan. Wajahnya merona malu.


"Mm,...sayangnya ada Kenzio, kapan-kapan kita akan datang ke tempat ini berdua." bisik Zeehan di telinga Lenka. Lenka menganggukkan kepalanya setuju.


"Mama! Papa! ayo turun, kita bermain pasir, bantu Zio membuat istana," teriak dari Kenzio dari bawah pohon. Kedua suami istri itu saling pandang dan tersenyum. Raut wajah bahagia terpancar dari kedua mata mereka.


"Ya, sebentar sayang, Papa dan Mama akan turun," jawab Zeehan.


"Ayo kita turun, kasihan Kenzio sendirian dibawah." Lenka mengangguk, mereka saling mengurai pelukan. Zeehan membantu istrinya untuk turun dari atas pohon. "Hati-hati, sayang."


Lenka menghampiri, Kenzio yang sedang membangun istana pasirnya. Anak itu tampak bahagia. "Ayo Mama, bantuin!"


"Iya, ... Mama bantuin, ayo Papa!" Lenka menarik Zeehan untuk bergabung dengan putra mereka. Ketiganya asyik membangun sebuah istana pasir yang seperti di inginkan Kenzio. Setelah selesai, Kenzio meminta Zeehan untuk memotretnya.


"Ye,...nanti setelah sampai di Jakarta, aku akan memamerkannya pada teman-temanku Mama," kata Zio tersenyum puas.


"Mereka pasti suka melihatnya," kata Lenka, sembari mengusap kepala bocah itu.


"Jangan lupa kirim fotonya sama Daddy, Mam!" kata Kenzio lagi.


"Oke, tapi nggak bisa sekarang sayang, sinyal ponsel disini kurang bagus, nanti setelah sampai di rumah baru kita kirim," Lenka menjadi fotografer dadakan untuk kedua pria berbeda generasi itu. "Sekarang kita bertiga, ayo Pa," Zio sibuk berpose bersama Zeehan dan Lenka.


"Zio, kita bermain ombak yuk!" ajak Lenka.


"Ayo, siapa takut," Kenzio berlarian ke bibir pantai, menyentuh ombak yang bergulung-gulung memecah pantai. Zio tertawa riang, saat ombak menyentuh kakinya dan menyeretnya ke dalam. Ketiganya tertawa cerah, secerah siang itu di pulau cinta.


Melupakan sejenak beban yang ada di hidup mereka. Yang ada hanya kebahagiaan dan cinta. Menikmati liburan singkat ditempat yang menjadi saksi cinta antara Zeehan dan Lenka.


Menjelang sore, Zeehan membawa keluarga kecilnya kembali keluar dari pulau cinta.


Setelah mengembalikan speedboat pada petugas di dermaga. Mereka kembali kerumah Zeehan dengan berjalan kaki.


Disepanjang jalan, Zeehan menyapa dengan ramah, para tetangganya, memperkenalkan anggota keluarganya.


"Han, bagaimana kabar Sherly sekarang, apakah kamu tidak bertemu dengan Sherly di Jakarta?" tanya salah seorang warga yang Zeehan kenal adalah saudara sepupu ibunya Sherly. Zeehan memandang Lenka sejenak.


"Saya bertemu Kak Sherly, waktu resepsi pernikahan kami kemaren, Bi Ratih, Kak Sherly baik-baik saja?" jawab Zeehan ramah.

__ADS_1


"Bagaimana dengan Zhia?" tanya wanita bernama Ratih itu memandang mereka sinis.


"Siapa Zhia?" seru Zeehan, kedua alisnya bertaut.


"Masa kamu nggak kenal anakmu sendiri, kebangetan." sindir wanita itu, dengan wajah yang memperlihatkan rasa tidak sukanya pada Lenka.


Zeehan meminta Lenka dan Kenzio untuk pulang terlebih dahulu, Zeehan tidak ingin Kenzio dan Lenka mendengar omongan para tetangganya yang memihak Sherly," Lenka menurut, meninggalkan Zeehan bersama para ibu-ibu itu.


"Maaf, Bi Ratih! Sebagai saudaranya kak Sherly, bibi pasti tahu apa yang terjadi sebelum saya menikahi kak Sherly. Kami sudah bercerai secara agama dan negara, jadi saya tidak berkewajiban atas diri Zhia, karena dia bukan anak saya, saya harap bibi mengerti, agar tidak terjadi fitnah," kata Zeehan tenang.


"Kalian sudah punya anak berumur 7 tahun, emangnya kalian menikahnya kapan?" Bibi Ratih seolah tidak puas merecoki rumah tangganya.


"Saya rasa itu bukan urusan anda bibi, maaf saya permisi," Zeehan meninggalkan kumpulan ibu-ibu rumpi itu, dengan kesal.


"Hah, udah pasti itu anak h***m, kalau sekarang usianya 7 tahun, itu berarti wanita itu hamil saat masih SMA," celoteh Bi Ratih pada teman-temannya yang berkumpul di depan rumahnya sore itu.


"Iya, anak-anak sekarang memang bikin geleng-geleng kepala, pergaulan mereka terlalu bebas, dan mereka menganggap itu biasa," sahut seorang ibu bertubuh gemuk, dengan rambut pendek menimpali.


"Sudahlah, ibu-ibu, nggak baik ngomong begitu, sebaiknya kita jaga saja anak-anak kita agar tidak terjerumus dalam pergaulan bebas," kata seorang wanita berkulit gelap, sok bijak.


Zeehan meninggalkan para ibu-ibu yang sibuk menggunjingkan dirinya. Menyusul Lenka dan Kenzio kembali kerumah. Lo Bang Hery dan istrinya telah menunggu di sana dengan hidangan yang istimewa.


"Wah, sepertinya enak, kak Reva!" puji Zeehan mencium aroma khas masakan kampungnya.


"Pasti Zeehan, istriku kan jago masak," kata bang hery sumringah. Disambut senyum manis Reva istrinya.


Kedua orang yang di cintainya itu sudah selesai mandi dan berpakaian. Lenka duduk di depan meja rias, sambil menyisir rambutnya yang panjang dan hitam.


"Pakaian gantiku mana, Sayang?" Zeehan menghampiri Lenka dan memberikan sebuah kecupan di pucuk kepalanya.


"Mandilah dulu, nanti aku siapkan," Lenka menyerahkan handuk pada Zeehan, pria itu menurut. Setelah selesai mandi dan berpakaian rapi, mereka keluar dari kamar dan menuju ruang makan.


Lenka membantu kak Reva menyiapkan makan malam, membawa piring dan peralatan makan.


"Ayo kita makan!" ajak Bang Heri.


"Jangan lupa berdoa dulu ya, Om!" kata Kenzio.


"Iya, mari kita berdoa!" ucap Bang Heri, tersenyum.


Mereka makan dengan tenang. Kenzio tampak menikmati makanan laut yang disediakan Kak Reva, Udang goreng dan juga Lobster. Anak itu bahkan menghabiskan udang goreng satu piring penuh.


"Ma, aku udah kenyang!" kata Zio memegang perutnya.


"Syukurlah, kalau udah kenyang, sekarang Zio minum susu ya, setelah itu kita istirahat dikamar." kata Lenka mengusap punggung putranya lembut.


Setelah membantu Reva membereskan peralatan makan, Lenka dan Kenzio masuk ke kamar untuk beristirahat. Sementara, Zeehan masih berbincang-bincang dengan Bang Heri dan juga Mamat di teras rumahnya.

__ADS_1


"Mama, aku mau menelpon Daddy, boleh ya?" kata Zio mengambil ponsel Lenka di atas meja rias. Kemudian duduk di samping Lenka di kepala tempat tidur.


"Boleh, ...kangen ya, pakai Video Call saja,"


"Iya Ma, ...Zio ingin bercerita banyak pada Daddy,"


Begitu panggilan mereka tersambung, "Daddy...! It.s Me Kenzio!" seru Zio girang saat melihat wajah Jovan.


"Hi Boy, how are you?'' Suara Jovan terdengar ceria mendengar suara Zio.


"Aku baik-baik saja Dad, tebak aku sama mama dan papa ada dimana?"


"Di Australia? Atau Amerika?" tebak Jovan.


"Tidak keduanya, Daddy! Kami sedang berada di kampung halamannya Papaku! Tempatnya indah dan menyenangkan,"


"Oh ya! Is it a very beautiful island?"


"Ya Dad, Daddy harus datang kemari, bersama grandma dan Grandpa,"


"Oke, suatu hari nanti, Daddy akan kesana...mana Mama?"


"Ada, tapi Daddy harus mendengar ceritaku dulu, baru boleh bicara sama mama," kata Zio, membuat Lenka tertawa lepas.


"Oke Boy, Daddy mendengar kamu," suara Jovan terdengar menahan tawanya.


"Tadi kami ke pulau Dad, ....!" Kenzio tidak berhenti bercerita tentang kebahagiaannya selama berada di Pantai Wane.


"Daddy senang mendengar ceritamu, Zio, sayang sekali Daddy tidak bisa kesana sekarang, Daddy baru saja mendapat pekerjaan,"


"Oh ya, Congratulations Daddy, I'm pleased to hear it! Jangan lupa gaji pertama Daddy buat Grandma dan juga aku, he...he..!" seloroh Zio.


"Course Boy, Daddy akan membelikan alat-alat untuk membuat robot,"


"Benarkah!? Oh, thank you Dad, I love you," teriak Zio melompat-lompat kegirangan.


"Ada apa ini, sepertinya ada yang sedang bahagia," Zeehan masuk ke kamar, setelah selesai berbincang-bincang dengan Bang Heri.


"Papa, itu Daddy Jovan lagi telpon, dia mau membelikan ku, alat untuk membuat robot,"


"Oh ya!" Zeehan duduk di samping Lenka, melambaikan tangannya ke arah kamera, Zeehan merangkul Lenka, agar bersandar di dadanya.


"Zio udah ya, besok kita bicara lagi, Daddy mau kembali bekerja, bye Zio!" Jovan melambaikan tangannya.


"Bye, Daddy!" Kenzio membalas lambaian tangan Jovan dengan senyum bahagia.


Bersambung...

__ADS_1


"


__ADS_2