TAK SANGGUP MELUPAKANMU

TAK SANGGUP MELUPAKANMU
KEYSA DAN KENZHIA


__ADS_3

Kehangatan yang diberikan keluarga David, terutama Mama Dina, membuat Sherly sedikit merasa nyaman. Namun, ada kekhawatiran dalam dirinya, bagaimana jika Mama Dina tahu latar belakang pekerjaannya selama ini. Sherly merasa tidak percaya diri. Si kecil Keysa, menyukai kehadiran Sherly di rumah itu.


"Aunty, bolehkah aku ikut denganmu menjemput kakak Zhia?" Tanya Keysa, saat David akan mengantar Sherly ke sekolahnya.


"Boleh sayang, Kak Zhia pasti senang, melihat keysa, kalian mirip!" Kata Sherly sumringah.


"Benarkah!?" Wajah Keysa tampak ceria.


Sherly mengangguk.


David menemani sherly ke sekolah putrinya Kenzhia sabtu itu. Bersama Mama Dina dan juga Keysa. David meminta Sherly untuk membawa Kenzhia keluar dari asrama dan tinggal bersama mereka di rumah keluarga David.


"Mama, mereka ini siapa?" Tanya Kenzhia, saat Sherly sampai disekolah putrinya.


"Sayang, ini Oma Dina, Omanya Kenzhia, ...!" sherly memperkenalkan mamanya David.


"Hai Zhia, apa kabar sayang?" mama Dina mencium pipi cucunya lembut.


"Aku baik Oma,..." Kenzhia menyalami David dan juga Keysa.


"Nah, yang ini Om David dan Keysa,"


"Hai kak Zhia, aku Keysa!" Gadis kecil itu menyalami Kenzhia dengan wajah bahagia, karena akan memiliki teman dirumahnya.


"Mereka mirip ya, kalau mereka seumuran, pasti mereka dibilang kembar," kata David.


"Iya, Oma tidak menyangka Davin sudah memiliki anak sebesar ini," Mama Dina memeluk Kenzhia haru.


"Setelah dari sekolah Kenzhia, David mengajak Keluarganya ke pemakaman, tempat Davin beristirahat dengan tenang.


Sherly terpaku menatap foto Davin yang terpasang di atas makam. Senyuman manis di foto itu, mengingatkan Sherly akan masa lalunya, saat pertemuan mereka di kota Jakarta. Saat itu, Sherly bekerja disebuah Restoran. Kebetulan Davin adalah pelanggan tetap disana. Pertemuan mereka berlanjut saat Sherly pulang ke Bima dan Davin juga berkunjung ke Bima untuk berlibur.


Hubungan keduanya semakin akrab dan intim, hingga Sherly tanpa berpikir panjang, menyerahkan dirinya pada Davin, walau tidak ada niat Davin untuk menikahinya.


Saat Sherly hamil, Davin terang-terangan menolak untuk bertanggungjawab dan meminta Sherly menggugurkan bayinya.


Sherly sangat hancur saat itu, kedua orang tuanya marah, namun masih berusaha mencari jalan keluar masalah mereka. Orang tua Sherly meminta Zeehan untuk menikahi Sherly hingga putrinya lahir. Dan berjanji akan membiayai kuliah Zeehan di Jakarta hingga selesai.


"Mama, ini makam siapa?" Tanya Kenzhia membuyarkan lamunan Sherly.


"Ini makam Papanya Kenzhia nak, papa Davin,' kata David.


"Bukankah papaku Papa Zeehan? Ma...??" Kenzhia menatap Sherly yang bingung, harus menjawab apa.


"Iya nak, ini makam papanya Kenzhia, Papa Davin, Papa Zeehan hanya ayah angkatnya Zhia," jawab Sherly akhirnya membenarkan ucapan David.


Sherly menangis menatap foto itu, foto pria yang telah menghancurkan hidupnya. Sakit hati, marah dan kecewa, masih menghinggapi hati dan jiwanya.

__ADS_1


David merangkul pundak Sherly dan menenangkannya.


"Aku tahu, tidak mudah bagimu melupakan rasa sakit hati itu, aku tidak akan memaksamu untuk menerima permintaan maaf kami," ucap David.


Sherly tidak menjawab, hanya menarik nafas berkali-kali. Disatu sisi, dia berhutang budi pada David yang telah menyelamatkan hidupnya dari Mama Linda. Disisi lain, wajah David yang sama dengan Davin, membuat Sherly selalu mengingat kenangan pahit hidupnya di masa lalu.


Seolah mengerti apa yang dipikirkan Sherly, David mencoba memeluk wanita itu, tidak ada penolakan. Sherly justru menangis di pelukan David, menumpahkan semua rasa kesal dan amarahnya.


"Lepaskan semua amarah dan sakit hatimu, Sherly, anggap saja aku Davin, kamu boleh memukulku, apapun yang kamu ingin lakukan."


Sherly tidak bergeming, dia makin terisak-isak. Tidak ada gunanya lagi membenci orang yang sudah meninggal. Setidaknya, sekarang keluarga Davin mau menerima kehadiran Sherly dan anaknya.


Setelah merasa tenang, sherly melepaskan pelukannya dari David. Mengusap air mata yang telah mengering.


"Sherly, atas nama Davin, mama meminta maaf, atas apa yang telah dilakukan Davin padamu," Mama Dina memeluk Sherly erat.


Sherly hanya mengangguk. Tidak tega menolak permintaan tulus mama Dina.


"Kamu jangan khawatir, kamu dan Zhia akan menjadi tanggung jawab kami, David siap untuk itu," ungkap Mami Dina lagi.


Mereka kembali kerumah David, menjelang sore hari. Asisten Rumah Tangga David, menyiapkan sebuah kamar di lantai atas untuk Sherly dan bersebelahan dengan kamar David, sementara Kenzhia tidur di kamar Keysa, karena Keysa menginginkannya.


Wajah ceria tergambar di wajah anak-anak. Kenzhia dan Keysa bermain bersama di ruangan bermain. Keduanya tampak akrab dan bermain dengan gembira. Seolah mereka telah bertemu sejak lama.


Sementara Sherly dan Mama Dina, berbicara tentang masa kecil Kenzhia, yang banyak kesamaan dengan cucunya Keysa.


"Sherly, sebelum ini kamu kerja dimana?" Tanya Mama Dina, membuat Sherly tersedak.


"Oh, tidak masalah Sherly, tidak perlu malu, David benar, sebaiknya kamu tinggal disini, mama tidak kuat lagi, jika harus antar jemput Keysa sekolah.


"Iya Ma, aku akan menjaga Keysa bersama Kenzhia," jawab Sherly.


"Sherly, jika ada ada masalah apapun, cepat hubungi aku, atau Doni asistenku, nomor Doni ada dibuku telepon diatas meja," ucap David.


"Ya!" Jawab Sherly singkat.


"Ma, aku keluar sebentar ya!" David mencium tangan Mama Dina takzim,


"Jangan lama-lama ya, Vid!" Pesan Mama Dina.


"Sekarang kan ada yang sherly yang menemani Mama, Kenzhia juga!"


"Bukan berarti kamu bisa pulang seenaknya, Vid. Ingat, Keysa kalau udah ngambek, bikin mama pusing."


"Oke Ma, aku akan cepat pulang, jika urusanku sudah selesai, Sherly, tolong jagain mama ya!"


Sherly mengangguk tersenyum. Sherly masuk kekamar Keysa dan Kenzhia. Kenzhia sedang membacakan buku dongeng untuk Keysa.

__ADS_1


"Baca dongeng apa kak?" Tanya Sherly pada putrinya.


"Mama, ...sini! keysa kagi pingin di bacain, kisah kancil dan buaya,"


"Iya Tante!" Jawab Keysa.


"Sini, biar Tante yang bacain,..." Sherly duduk disisi ranjang. Membacakan dongeng untuk mereka berdua, hingga keduanya tertidur dengan pulas.


Sherly menyelimuti kedua anak itu dan keluar dari kamar dan mematikan lampu.


"Mereka sudah tidur, Sherly?" Tanya Mama Dina, begitu Sherly keluar dari kamar anak-anaknya.


"Sudah Tante! keduanya tertidur setelah aku bacain dongeng."


"Keysa memang suka di bacain dongeng, dia tidak akan tidur sebelum dibacakan dongeng."


"Sama kayak Kenzhia, Tante."


"Jangan panggil Tante, panggil saja Mama! Mama Dina menepuk pundak Sherly pelan. Ya udah, sekarang istirahatlah, itu kamarnya Davin."


"Ya Ma, terimakasih, sudah menerima kehadiran kami dirumah ini," ucap Sherly.


"Sama-sama, jangan sungkan jika kamu butuh sesuatu." Mama Dina berlalu dari hadapan Sherly dan masuk ke dalam kamarnya.


"Ya!" jawab Sherly pelan. Kemudian ikut masuk ke dalam kamar yang sudah disediakan untuknya.


Sherly duduk disisi ranjang big size, dengan alas berwarna putih. Kamar yang bersih dan rapi, dengan cat dinding berwarna putih. Dia tidak menemukan foto Davin disana. Mungkin Mama Dina menyimpannya, pikir Sherly.


Sherly tertarik dengan sebuah lemari buku di dinding kamar. Banyak buku bacaan di sana, dari Novel Best seller hingga buku tentang sains dan teknologi. Tak sengaja Sherly menekan tombol di dinding lemari buku, hingga lemari itu berputar dan membuka jalan masuk kesebuah ruangan rahasia.


Sherly merasa takut untuk masuk, tapi dia penasaran untuk mengetahui isi ruangan itu. Sherly masuk dengan perlahan, tanpa bersuara, dia menemukan perangkat komputer yang sepertinya masih berfungsi diatas meja, namun tertutup oleh debu. Sherly duduk di depan komputer itu, dan menyalakannya. Komputer itu menyala, Sherly membuka sebuah folder yang bertuliskan My Love.


Di Folder itu terdapat beberapa Video yang berisi tentang keseharian Davin di kampusnya. Sherly tersenyum melihat David dan Davin bercanda bersama, dengan riang. Di Video terakhir, dia melihat video seseorang dengan wajah tertutup topeng. Orang bertopeng itu berkata dengan lantang, sepertinya Davin merekam pembicaraan mereka yang sedang melakukan Video Call.


"DENGAR DAVIN, SERAHKAN BARANG ITU PADA KAMI. JIKA TIDAK, KEKASIHMU AKAN MATI!"


"JANGAN GANGGU KEKASIHKU, DIA TIDAK TAHU APA-APA TENTANG MASALAH INI, AKU TIDAK AKAN MENYERAHKAN BARANG ITU PADA KALIAN."


"KALAU BEGITU, KAU YANG AKAN MATI DAVIN,"


"BERANINYA KAU MENGANCAMKU, BRENGSEK, AKU SUDAH BERSUSAH PAYAH MENDAPATKAN BENDA ITU, KALIAN YANG MENIKMATI HASILNYA, ENAK SAJA!"


"AKU AKAN MEMBUNUHMU, DAVIN!"


"COBA SAJA KALAU BERANI, KAU YANG AKAN LEBIH DULU MATI DITANGANKU, KU TUNGGU KAU MARKAS, BESOK! SATU LAWAN SATU!"


Video call itu berakhir. Di Video terakhirnya, Davin duduk didepan komputernya dan merekam dirinya sendiri.

__ADS_1


"Sherly, maafkan aku! Aku tidak bermaksud menyakitimu. Bukan aku tidak mau bertanggung jawab dengan kehamilanmu, tapi demi keselamatanmu dan anak kita, aku terpaksa melakukannya, agar kau tidak mencariku ke Jakarta, karena nyawa kalian dalam bahaya, maaf, aku hanya bisa mengirim video ini sebagai ganti diriku, jika terjadi sesuatu padaku, iklaskan kepergianku, Aku mencintaimu, Sherly!


Wajah Sherly berubah pucat.


__ADS_2