
Tap,...tap.. tap," derap langkah kaki seorang pria berpakaian serba putih terdengar lantang, menapaki lorong rumah sakit, Darya Medika. Hari ini adalah hari pertama pria itu bekerja di rumah sakit bergengsi di kota Jakarta. Setelah kemaren, dia menerima surat panggilan dari rumah sakit itu, dan menerima lamarannya.
"Selamat siang Pak! Ada yang bantu?" Seorang resepsionis menyambut pria itu dengan ramah.
"Apakah saya bisa bertemu dengan Pak Daniel, pemilik rumah sakit ini, saya Zeehan Aryadinata," kata pria itu ramah.
"Oh ya, anda sudah ditunggu, Pak Zeehan, silahkan Pak Daniel ada di ruangannya.
Pria berwajah tampan itu memasuki ruangan pemilik rumah sakit, setelah sebelumnya mengetuk pintu dengan sopan.
Pria baya itu menatap Zeehan dengan senyum.
"Selamat siang, Pak Daniel, saya Zeehan," Zeehan memperkenalkan diri dengan membungkukkan sedikit badannya.
"Silahkan duduk, Nak!" Katanya ramah.
"Terimakasih," Zeehan duduk di hadapan pria pemilik rumah sakit itu.
Pria itu membaca lagi file yang berisi data diri Zeehan.
"Kamu dari Bima, Nusa Tenggara Barat?" tanyanya.
"Ya pak!"
"Saya pernah KKN di sebuah desa di kota itu, 23 tahun yang lalu" cerita pemilik Rumah Sakit itu sumringah. Wajahnya menyiratkan kesedihan.
"Oh ya! Sebelum saya lahir itu pak!"kata Zeehan, mengangguk pelan.
"Iya," pria itu mengusap wajahnya sejenak. "Dan aku adalah ayahmu, Nak!" Batin Daniel. Namun kata-kata itu tercekat di tenggorokannya. Pria itu menatap Zeehan dengan hangat.
"Kamu bisa mulai bekerja sekarang, sesuai dengan profesimu, jika kerjamu bagus, saya akan menaikkan jabatanmu, sebagai manajer di rumah sakit ini," kata Pak Daniel, sembari berdiri mendekati Zeehan. Kedua tangannya masuk ke dalam kantong celananya.
"Terimakasih Pak, saya akan bekerja dengan baik, saya tidak akan mengecewakan anda," kata Zeehan lebih meyakinkan dirinya sendiri.
"Kalau begitu selamat bekerja, Zeehan, setelah dari sini, temui Pak Hendra di ruangannya, dia HRD di rumah sakit ini," Pak Daniel menyalami Zeehan dan memberikan sebuah pelukan hangat.
"Sekali lagi, terimakasih pak, saya permisi!" Zeehan pamit undur diri.
Pak Daniel Aryadinata, memandang kepergian putranya dan wajah berseri. Dia akan mendekati Zeehan secara perlahan, dia tidak ingin Zeehan mengetahui bahwa dia adalah ayah kandung Zeehan, dengan tiba-tiba. Takutnya anak itu malah akan menjauh darinya.
Beberapa hari yang lalu, Hendra, Kepala bagian HRD, mengusulkan penambahan dokter umum di rumah sakit Darya Husada, karena pasien rumah sakit itu makin hari semakin bertambah. Daniel menyetujuinya, dan membuka lowongan kerja baru, dari ratusan pelamar, Daniel tertarik dengan sebuah surat lamaran yang bertuliskan nama Zeehan Aryadinata.
Nama itu mengingatkannya dengan nama putranya yang dia tinggalkan di pulau Sumbawa, tepatnya di sebuah desa di kota Bima. Daniel membaca riwayat hidup, Zeehan dan dugaannya benar, Zeehan memiliki alamat yang sama dengan tempat dia KKN dulu.
"Putraku sudah dewasa sekarang. Aku akan menjadikanmu pemimpin di rumah sakit ini, Nak! Kau yang pantas berada di sini, bukan Denis," ungkap Daniel. Pria berusia 50 an itu menarik nafas panjang untuk kesekian kalinya.
*******
Di tempat yang sama, di ruangan yang berbeda, seorang wanita cantik dengan seragam serba putihnya, sedang sibuk melayani pasiennya, yang semuanya adalah anak-anak.
"Masih ada pasien, Rin?" tanyanya pada sang asisten.
"Masih ada 2 anak lagi, Bu Valen," jawab Asisten bernama Rina.
"Oh, ya udah kita selesaikan dulu, baru setelah itu kita makan," kata Valen.
"Baik Bu!"
Valencia Kaynara, wanita itu telah menjelma menjadi wanita cantik nan anggun. Wanita itu telah mengubur masa lalunya, dan sekarang dia memperkenalkan dirinya dengan nama Valen.
Setelah kembali ke pelukan orang tuanya, Lenka juga kuliah di kedokteran mengambil profesi kedokteran anak, karena kecintaannya pada anak kecil. Dengan menghadapi pasien-pasien kecilnya setiap hari, membuat Lenka bisa mengobati rasa rindunya terhadap putra kecilnya Kenzio.
"Pasien selanjutnya Rin,"
Seorang wanita tua masuk bersama seorang anak kecil, gadis manis berambut panjang, dengan pita merah di rambutnya.
"Kesya, sakit apa sayang?" Lenka menyambut pasien kecilnya dengan ramah.
"Bu dokter Kesya itu tidak sakit, dia hanya ingin bertemu Bu Dokter," Kata sang nenek merasa tidak nyaman.
__ADS_1
"Oh, ingin bertemu Bu dokter, boleh! Sini, Kesya mau apa?" Lenka bangkit dari tempat duduknya, dan mendekati Kesya dengan sayang.
"Kesya mau peluk Bu Dokter!" Katanya manja.
"Oh sayang, ayo sini Bu dokter peluk! Anak manis," Lenka mengusap rambut gadis kecil itu, lembut.
"Sudah, Kesya, Bu dokter harus bekerja, nak, sekarang kita pulang ya!" Kata wanita tua itu.
"Bu Dokter, besok Kesya ke sini lagi ya, Kesya mau kenalin Bu dokter sama Papa Kesya," ucap gadis itu dengan suara imutnya.
"Boleh," ujar Lenka tersenyum.
"Maafkan cucu saya Bu dokter, dia kesepian sejak ibunya meninggal, dia ingin papanya menikah lagi dengan Bu dokter, katanya dokter Valen cantik dan baik," kata nenek Kesya.
"Tidak apa-apa, Bu! Namanya juga anak-anak," kata Lenka.
Lenka menarik nafas panjang, dan menghembuskannya perlahan. Dia teringat akan Kenzio, putra kecilnya yang tinggal bersama bibi Julia di Australia. Karena tidak ingin berpisah dengan Jovan.
"Bu Valen, pasiennya sudah nggak ada, ibu mau makan siang sekarang," tanya Rina.
"Kita makan sekarang Rin," Lenka berdiri dari tempat duduknya. "Kita makan di kantin saja ya!"
"Baik Bu!" Lenka dan Rina berjalan keluar dari ruangannya, menuju kantin rumah sakit.
"Valen sini!" seseorang memanggil namanya, Lenka menoleh.
"Hai Della, Maya," Lenka mendekat ke arah Della dan duduk bersama kedua sahabatnya itu.
"Val, tau nggak di ruangan ku ada dokter baru, namanya Dokter Han, orangnya masih muda dan tampan pastinya," seru Della riang.
"Oh ya!"
"Iya Val, orangnya tinggi, bodynya oke, jika kamu melihatnya, pasti langsung jatuh cinta!" Kata Maya menambahkan.
"Dah, buat kalian aja, aku kan sudah punya calon suami," Lenka mengabaikan ucapan teman-temannya.
"Kalau begitu buat Lo aja, Del, Lo kan masih jomblo," kata Lenka.
"Pengen sih, tapi orangnya kayak es batu, dingin," keluh Della.
"Masa sih!" Lenka penasaran.
"Iya, dia jarang ngomong, kalau ngomong, wajahnya datar gitu," tambah Maya.
"Tuh orangnya!" Bisik Della. Lenka berbalik memandang ke arah pintu masuk kantin. Seorang pria memakai kacamata dan masker bedah yang menutupi sebagian wajahnya. Kemudian, kembali ke posisi asal, karena tidak melihat dengan jelas wajah pria itu.
"Sombong sekali" bisik Della, masa usah masuk kantin gini, masih pake masker."
"Dah, biarin aja, yuk makan!" Kata Lenka saat pesanannya datang.
Selesai makan, Della dan Maya serta Rina, pindah tempat duduk, saat Denis datang menghampiri Lenka.
"Hai sayang," Denis duduk di samping wanita itu.
"Hai Denis, sudah makan?" tanya Lenka.
"Udah, aku baru saja dari luar, ada pertemuan dengan para relasi papa di hotel Darya, pekerjaanmu sudah selesai,"
"Udah, hanya tinggal beres-beres,"
"Kalau begitu, kita pulang bareng ya, kalau sudah selesai kerjanya, telpon saja aku!"
"Oke," Lenka tertawa renyah.
Zeehan, membalikkan tubuhnya, saat mendengar tawa itu, suara yang begitu di hafalnya dengan baik.
"Lenka!" Zeehan mematung di tempat duduknya, saat melihat dengan jelas, Wajah yang begitu dia rindukan.
Lenka memandang ke arahnya, wanita itu tersenyum mengangguk. Zeehan kembali membelakangi Lenka yang sedang bersama Denis. Untunglah Lenka tidak mengenalnya, karena wajahnya tertutup masker bedah.
__ADS_1
Zeehan menarik nafas perlahan, mengatur irama jantungnya yang berdetak kencang. Lenka yang dia lihat sekarang adalah seorang wanita yang cantik dan elegan. Tubuhnya sekarang lebih berisi dan seksi. Tidak ada tanda-tanda, kalau wanita itu pernah melahirkan, batin Zeehan.
"Syukurlah, kamu lebih bahagia sekarang Lenka," ucap Zeehan dalam hati.
Zeehan menundukkan wajahnya, saat Lenka dan Denis berjalan keluar kantin yang melewati tempat duduknya.
Diam-diam Zeehan mengikuti Lenka, wanita itu masuk ke ruangan khusus anak-anak.
"Akhirnya cita-citamu menjadi dokter anak, kesampaian juga, Lenka, jika kita masih bersama, mungkin cerita kita akan berbeda,"
"Dokter Han!' Della menatap Pria itu heran, karena berada di tempat pemeriksaan pasien anak.
"Eh, Bu Della, aku sepertinya kesasar, ruanganku sebelumnya di mana ya," kata Zeehan, beralasan.
"Oh, dari sini, balik lagi, Dokter Han, nanti belok kiri," kata Della.
"Oya, terimakasih!" Zeehan segera meninggalkan tempat itu, sebelum ketahuan kalau dia membuntutinya Lenka.
******
Zeehan sedang berada di ruangannya, pagi itu. Saat seorang office boy memanggilnya, untuk datang ke ruangan Presdir.
Zeehan segera ke ruangan pak Daniel,
"Bapak memanggil saya?" tanya Zeehan berbasa-basi.
"Ya nak, duduklah!"
Zeehan duduk di hadapan, Sang Presiden Direktur Darya Husada.
"Bagaimana pekerjaanmu, nak! Apakah kamu betah bekerja disini?" Tanya Pak Daniel.
"Pekerjaan saya baik, Pak! Terima Kasih sudah banyak mengajari saya, saya jadi makin betah bekerja disini,"
"Syukurlah, kamu sudah berkeluarga Zeehan?" tanya Pak Daniel lagi.
"Dulu pernah Pak, tapi kami sudah bercerai," kata Zeehan.
"Keluargamu ada disini, atau di kampung?"
"Sekarang masih di kampung, Pak! Bulan depan, setelah gajian, saya akan menjemput ibu saya,"
"Kalau begitu, kamu bisa membawa ibumu tinggal di rumah dinas, Zeehan, kebetulan ada satu rumah yang belum ditempati,"
"Terima kasih banyak, Pak! Dengan senang hati saya menerima tawaran bapak," ujar Zeehan tersenyum lepas.
"Permisi Pa," Denis masuk ke ruangan Pak Daniel membawa sebuah amplop besar.
"Ada apa Denis?"
"Ini, file yang Papa minta kemarin,"Denis menyerahkan Amplop itu ke tangan ayahnya.
"Oya, Denis, kenalkan ini dokter Han, di baru bekerja disini, Han, ini Denis putra saya," Pak Daniel memperkenalkan kedua putranya itu.
"Senang berkenalan dengan anda Pak Denis," Zeehan menyalami pria yang tadi dilihatnya bersama Lenka.
"Selamat datang di rumah sakit kami, Han, semoga kamu betah bekerja di sini," balas Denis.
"Terima kasih!" Zeehan mengangguk.
"Bulan depan, Denis ini akan menikah, Han,"
"Oya, selamat ya, Denis," Zeehan menelan saliva nya kasar. "Istri anda nanti, pasti bahagia mendapatkan suami seperti anda," puji Zeehan.
"Ku harap begitu, dokter Han, dia juga bekerja disini, namanya Dokter Valen," Kata Denis bangga."Nanti akan ku kenalkan kau dengannya,"
Zeehan hanya tersenyum tipis.
Bersambung
__ADS_1