
Valencia baru bekerja di rumah sakit Darya Medika, sebulan sebelum Zeehan masuk, menggantikan ayahnya Hubungan yang baik dengan keluarga Denis, membuat Lenka dengan mudah mendapatkan pekerjaan di rumah sakit itu. Apalagi hubungannya dengan Denis juga sangat baik, saat ini.
Rencana pernikahan yang telah di siapkan Keluarga Denis, tidak bisa di tolak oleh Valencia. Karena memang, mereka sudah dijodohkan sejak kecil.
Valencia hanya menganggap Denis sebagai sahabatnya. Setelah berpindah-pindah sekolah, karena harus mengikuti Papanya. Lenka sempat satu sekolah dengan Denis di sebuah SMA swasta di Jakarta, saat awal kelas X.
AWAL PERTEMUAN DENGAN DENIS
"Denis, tungguin!"Lenka mengejar langkah kaki Denis, yang berjalan cepat menyusuri koridor sekolah, tanpa mengacuhkannya."Denis, nyebelin banget sih Lo," gerutu Lenka mensejajarkan langkahnya dengan Denis.
"Ada ada sih, Val?" Denis justru menghentikan langkahnya.
"Kapan kita belajar kelompoknya, tugas matematika itu kan harus dikumpul besok."
"Iya gue tahu, udah gue bikin sendiri, ribet harus ngumpul dulu, yang penting kalian semua dapat nilai," jawab Denis angkuh.
Denis memang memiliki otak yang cerdas dan selalu juara umum di sekolahnya. Namun, satu yang tidak Lenka sukai dari Denis. Arogan.
"Yang namanya tugas kelompok itu harus di bikin bareng-bareng, Denis! Bukan sendirian, lalu yang lain gimana ?"
"Udahlah, yang lain terima-terima saja," Denis meneruskan langkah kakinya ke dalam kelas, tanpa memperdulikan Lenka. Lenka mendengus kesal.
Lenka duduk di bangku paling depan, dengan wajah cemberut.
"Kenapa lu, Val, muka lu kayak benang kusut,"
"Males banget gue sama Denis, tugas kelompok kita dia bikin sendiri," ketus Lenka.
"Yah, lo kayak nggak kenal Denis saja, Lo pacaran nggak sih sama Denis?"tanya Stella, teman satu mejanya.
"Nggak, malas banget gue pacaran sama dia, sombong, arogan, nggak ada romantis-romantisnya. Hanya karena orang tua kita sering mengadakan pertemuan, aku terpaksa harus bertemu dengannya."
"Makan hati banget lo, jadi pacarnya Denis," sahut Della.
"Gue juga nggak jelas dengan status gue sama Denis, di bilang pacaran, jika jarang berduaan, apalagi kencan. Dibilang nggak, dia sudah mengklaim gue, nggak boleh dekat sama cowok lain."
Denis, memandang ke arah cewek-cewek yang menggosipkannya. Della dan Stella menjauh dari Lenka, saat Denis duduk di samping Lenka dengan kepala tegak.
"Ada apa lagi, ngambek?"
"Nggak, gue malas ngomong sama Lo, gue mau putus," ketus Lenka.
__ADS_1
"Ya udah, terserah, ...!"kata Denis angkuh."Masih banyak cewek kok, yang mau sama gue, gue kan tampan, keren, pintar...apalagi, seminggu juga bakal minta balikan."
Lenka menatap Denis jengah, Denis memang memiliki segalanya, namun sifat angkuhnya yang membuat Lenka ilfil.
"Gue juga nggak mau pacaran sama Lo, capek, makan hati, masih banyak kali, cowok yang mau sama gue," gerutu Lenka.
"Begitu ya, tapi sayang nggak bakalan ada yang berani deketin lo,..soalnya mereka tahu Lo itu milik gue," ucap Denis, semakin membuat Lenka kesal dan marah.
"Terserah!" Lenka berdiri dan keluar dari ruang kelas menuju kantin. Denis hanya tersenyum menyeringai.
Lenka memang mengenal Denis dari kecil, juga sifat aslinya. Kedekatan kedua orang tuanya, yang membuat mereka dekat, walau tidak begitu akrab. Sifat arogan Denis, membuatnya tidak memiliki seorang pun teman di rumah maupun di sekolah. Hanya Lenka satu-satunya teman yang mengerti sifat buruk Denis.
"Sayang, pulang-pulang kok cemberut gitu?" mama Rekha menghampiri putrinya yang tiduran di ranjang, dengan wajah cemberut.
"Itu Ma, Denis..."adu Lenka.
"Kenapa? Kalian berantem lagi?"
"Kesel aja tau Ma, masa, ada tugas kelompok dia kerjain sendiri, katanya ribet kalau bikinnya rame-rame, sementara yang lain nggak berani protes, males banget kan ma?"
"Trus, gimana?"
"Ya, Lenka kan jadi sebal Ma, Lenka minta putus, bukan hanya itu Ma, dia juga makin sombong dan arogan, Lenka nggak boleh temenan sama orang yang nggak dia suka, mama tau sendiri kan, Denis itu seperti apa?"
"Bilangin sama Papa, Lenka nggak mau dijodoh-jodohkan, apalagi sama Denis, Lenka kan jadi bahan olok-olokan teman-teman di sekolah."
"Ya...ya...nanti mama sampaikan, jangan cemberut gitu dong, yuk kita makan siang dulu, mama udah nyiapin makanan kesukaan kamu,"
"Udang crispy ma?" Lenka tersenyum cerah.
"Mm, ayok! Tapi ganti dulu seragamnya, mama tunggu di meja makan." Mama Rekha keluar dari kamar Lenka.
"Baik Ma," Lenka segera bangkit dari tempat tidurnya dan mengganti pakaian seragamnya.
Sesampai di meja makan, Papanya Lenka, Budi Santoso sudah duduk disana, sambil menatap nya dengan senyum.
"Papa, tumben makan di rumah?" Lenka mencium tangan papanya takzim.
"Papa habis dari rapat di kantor walikota, dalam waktu dekat, Papa akan di mutasi lagi,"
"Oh ya, kemana Pa?"tanya Lenka penasaran.
__ADS_1
"Kita makan dulu saja, nanti kita bicarakan selesai makan," Kata Pak Budi.
Lenka mengangguk. Keluarga kecil itu makan dengan diam dan tertib. Lenka menghabiskan hidangannya tanpa sisa, karena memang dia menyukai udang goreng krispi buatan ibunya.
"Nambah lagi, Sayang?"
"Nggak Ma, udah kenyang?"
"Ya udah, bantu mama beresin meja makan ya!"
"Oke Mam, biar Lenka yang nyuci piringnya,"
Gadis manis itu membantu ibunya membereskan meja makan dan mencuci piring, karena memang dirumah itu mereka tidak mempekerjakan asisten rumah tangga. Mama Rekha lebih senang mengerjakan pekerjaan rumahnya sendiri. Di samping berhemat tentunya. Lenka pun dituntut untuk mandiri.
Selesai beres-beres, keluarga itu berkumpul di ruang keluarga.
"Bagaimana sekolahmu, nak?" tanya Papa lembut.
"Biasa saja Pa, seperti yang kemaren, cuma Denis yang selalu bikin Lenka kesal,"
"Kenapa dengan Denis?" tanya Papa Budi.
"Ya itu Pa, Lenka nggak suka sama sifat arogannya."
"Ya, Denis memang dari dulu seperti itu, mudah-mudahan suatu saat dia bisa berubah," kata Pak Budi bijak.
"Sepertinya sudah Pa? Makanya, dia tidak punya teman di sekolah. Sampai-sampai Lenka nggak boleh temenan sama cowok lain,"
"Anak itu memang keras kepala, tapi setidaknya dia punya kepercayaan diri yang tinggi, kamu nggak bakal menyesal jika bersama Denis, Nak!"
Lenka menarik nafas panjang. Dalam hati dia kesal karena sang ayah selalu membela Denis.
"Jadi bagaimana, hasil rapatnya Pa?" tanya Mama Rekha mengingatkan. Mengalihkan pembicaraan tentang Denis.
"Ya, mungkin dalam waktu dekat, Papa akan di pindah tugaskan ke kota Bima, Nusa tenggara Barat, disana kekurangan dokter ahli penyakit dalam, Jadi, Papa harus kesana."
"Pindah lagi?" Lenka menatap papanya dengan ekspresi wajah tidak setuju.
"Ya sayang, kita akan pindah ke kota Bima, dalam waktu dekat ini," kata Papa tenang.
"Lenka nggak mau Pa!" wajah Lenka semakin cemberut.
__ADS_1
Namun akhirnya, Lenka menerima keputusan Papa Budi untuk pindah ke kota Bima. Dan di desa terpencil itu, Lenka menemukan Zeehan cinta sejatinya. Dan melupakan tentang Denis.
Bersambung