
Dengan kesal, Lenka masuk ke dalam kamarnya, setelah Kenzio berada di kamarnya untuk beristirahat. Dia menangis sendiri di dalam kamar. Emosinya benar-benar naik, setelah Sherly menyebutnya pelakor. Walau itu tidak benar, namun cukup membuat Lenka sakit hati. Faktor kehamilan dirinya, juga membuat Lenka tidak bisa mengontrol emosinya. Dia marah, ingin meluapkannya, tapi tidak tahu pada siapa.
"Untunglah Zeehan segera pulang siang itu, mendapati Lenka yang sedang menangis, membuat Zeehan merasa tidak nyaman.
"Kenapa sayang?" tanya Zeehan lembut. Pria itu duduk disisi ranjang. Meraih pundak Lenka yang tidur sambil menutup wajahnya dengan bantal.
"Aku marah, aku kesal...!" Lenka bangkit dan duduk menghadap Zeehan, dan memukul pundak Zeehan dengan emosi. Air mata mengalir di sudut mata indahnya.
"Ada apa? bicaralah, aku akan mendengar kamu!" ucap Zeehan lembut.
"Aku marah, semua karena kamu,"
Zeehan memegangi kedua tangan Lenka dan memeluknya erat. Namun, Lenka menolaknya. Namun tenaga Zeehan lebih kuat darinya, hingga Lenka menangis di dadanya.
"Ada apa?? Kalau kamu tidak bicara, aku tidak bisa memahaminya," Zeehan menatap Lenka bingung. Namun, dia masih mencoba menenangkan Lenka, dengan membiarkan Lenka menumpahkan semua rasa kesalnya. Tak lagi bertanya, hanya menunggu Lenka untuk bicara.
"Aku bertemu kak Sherly di sekolah Zio,..." Lenka membuka mulutnya.
"Lalu....apa yang dia katakan?"
"Dia bilang aku pelakor....pada semua ibu-ibu yang datang menjemput anaknya. Dia bilang, aku yang menyebabkan kamu menceraikannya." Isak Lenka.
"Kalau kamu tidak nyaman berada di sana, pindahkan saja Kenzio ke sekolah lain," kata Zeehan.
"Tidak bisa, Zeehan, sekolah itu adalah sekolah terbaik," ucap Lenka.
"Kalau begitu, nggak usah nungguin Zio sampai pulang, jemput saja dia setelah bel pulang sekolah." saran Zeehan.
"Aku hanya ingin, memastikan Kenzio baik-baik saja selama satu Minggu ini, setelah itu aku tidak akan menemaninya di sekolah lagi, satu lagi, Putrinya yang bernama Kenzhia itu, juga sekolah di sana, Bu gurunya nanya, apakah Kenzio dan Zhia bersaudara, karena di akte lahirnya, tercatat namamu sebagai ayahnya," adu Lenka.
Zeehan menghela nafas panjang, dia tidak menduga, keputusannya menikahi Sherly, 7 tahun yang lalu akan menjadi bumerang bagi keluarganya.
"Aku akan menemui Sherly," kata Zeehan. Lenka menggeleng, "Jangan!" kata Lenka.
"Kita harus mengakhiri semua ini, Sayang! Dia tidak bisa seenaknya merendahkan mu,"
"Itu yang dia inginkan, Zeehan. Sherly ingin kamu menemuinya,"
"Makanya, aku akan menemuinya dan memberinya peringatan untuk tidak mengganggu keluarga kita lagi," ucap Zeehan.
"Aku tidak setuju, Zeehan!"
"Sayang, semua demi kebaikan kita, aku tidak mau kamu tertekan, aku tahu aku salah mengambil keputusan di masa lalu, tapi semuanya sudah terlambat, dan aku sendiri yang akan mengakhirinya," ucap Zeehan lantang.
__ADS_1
Lenka tidak bisa berkata lagi, "Baiklah, tapi hati-hati ya! Wanita itu licik," kata Lenka lirih.
"Maafkan aku ya! Semuanya salahku," bisik Zeehan lembut.
Lenka mengangguk, membenamkan wajahnya dalam pelukan suaminya.
Sebuah panggilan masuk, dari Clarissa, membuat Zeehan menguraikan pelukannya dari Lenka. "Clarissa...!" ucap Zeehan,
"Ada apa Clarissa?" tanya Zeehan langsung.
"Zeehan, tolong aku! Denis mengancam akan mencelakakan aku, jika aku tidak mau mengikuti kemauannya,"
"Kamu kenapa Clarissa?" tanya Zeehan bingung.
"Denis memaksaku kembali padanya, aku tidak mau, dia menyekap aku dan anakku di rumah, dia mengunci semua pintu dari luar," kata Clarissa sambil menangis terisak-isak.
"Kamu di mana sekarang?" tanya Zeehan.
"Di rumah kami yang di pinggir kota, aku takut Zeehan, tolong aku!" teriak Clarissa histeris.
"Aku akan kesana, secepatnya," kata Zeehan.
"Terimakasih Zeehan," Zeehan menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan. Dia memandang kearah Lenka yang juga menatapnya lekat. "Kamu akan pergi?" tanya Lenka.
Lenka mengangguk.
*******
BEBERAPA SAAT SEBELUMNYA
Atas permintaan Ibunya Maria, Denis berusaha mencari Clarissa kembali ke rumahnya, namun usahanya sia-sia, karena Clarissa menghilang tanpa jejak.
Bahkan Sherly, sepupunya mengaku tidak mengetahui kemana Clarissa pergi bersama putranya. Saat ini, Denis berada di rumah Clarissa, berharap istrinya kembali pulang. Namun Clarissa tidak pernah kembali lagi ke rumah itu.
Denis kembali menemui Sherly dirumahnya. Wanita itu menyambut Denis dengan wajah masam. Namun tetap mempersilahkan pria itu masuk.
"Ada apa lagi, Denis! Maaf, aku tidak bisa lagi membantumu, karena Zeehan terlalu kuat untuk aku lawan." tutur Sherly, sambil mendudukkan bokongnya di sofa.
"Lupakan! aku datang kemari, hanya mau menanyakan keberadaan Clarissa, siapa saja saudara yang biasa dia hubungi, kalau lagi ada masalah?" Denis duduk di hadapan Sherly, sembari menyilangkan kedua kakinya.
"Biasanya dia akan mencari ku, tapi karena Clarisa tahu kamu sering menemui ku, dia menjauh dariku,"
"Apakah dia cemburu padamu?" Denis menyipitkan matanya.
__ADS_1
"Tidak, dia marah aku membantumu, menghancurkan hubungan Lenka dan Zeehan, kau menyakitinya Denis," tukas Sherly.
"Jika aku bertemu dengannya, aku akan meminta dia kembali padaku, hanya itu." Denis memandang Sherly yang tampak tak acuh.
"Ku harap dia mau menerimamu kembali, Clarissa begitu terluka, dengan ulahmu," ketus Sherly. Denis menarik nafas panjang. "Atau jangan-jangan, Clarissa dijadikan syarat oleh papamu untuk mendapatkan warisannya," Sherly tertawa mengejek.
"Ya, kamu mungkin kamu benar, tapi aku juga ingin kembali bersamanya, karena tidak mungkin lagi meraih Valencia," keluh Denis.
"Kau hanya menjadikan Clarissa sebagai pelampiasan, Denis! Hah…aku tidak percaya ada laki-laki bajingan seperti kamu di dunia ini," maki Sherly.
"Aku akan meminta maaf padanya, dan mengajaknya untuk tinggal bersama di Bali, karena aku akan mengurus rumah sakit Papa yang ada disana." Denis mencoba menyakinkan Sherly, walau wanita itu tampak tidak mempercayai ucapannya.
"Baiklah, aku akan menyampaikan pesanmu padanya, jika dia menghubungiku nanti," kata Sherly.
"Aku akan berangkat ke Bali, Minggu depan, dengan atau tanpa Clarissa," tegas Denis. Pria itu berdiri tegak dan melangkah keluar dari rumah Sherly dengan perasaan kecewa.
Sherly menghubungi nomor ponsel baru Clarissa. "Dia sudah pergi," kata Sherly kemudian menutup ponselnya kembali.
Tak lama, Clarissa datang dari arah belakang, wanita itu bersembunyi di gudang yang terdapat di belakang rumah Sherly. untunglah bayi kecilnya tidur dengan pulas.
"Denis bilang apa, Kak?" Tanya Clarissa penasaran dengan pembicaraan Denis dengan sepupunya itu.
"Dia akan memimpin rumah sakit Papanya yang di Bali, dia ingin kamu pergi bersamanya,"
"Lalu aku harus bagaimana, kak?" Clarissa meminta pendapat dari Sherly.
"Itu terserah padamu, Clarissa. Jika kamu yakin dia akan berubah, kamu ikut saja, tapi jika tidak, lebih baik kamu menjauh darinya," pesan Sherly.
Clarissa menghela nafas perlahan. Dia mencoba berpikir sejenak, "Aku akan menemui Mama Maria kak, siapa tahu dia bisa membantuku menyelesaikan masalahku."
"Itu lebih baik, Clarissa, aku hanya ingin kamu tidak menderita lagi, karena Denis hanya menjadikanmu pelampiasan, setelah gagal mendapatkan Lenka," hasut Sherly.
"Iya Kak, aku jadi penasaran seperti apa wanita bernama Lenka itu, sepertinya semua pria jatuh cinta padanya," gumam Clarissa.
"Tadi aku bertemu dengannya di sekolah Kenzhia," Ujar Sherly sambil menatap Clarissa lekat. "Aku ingin memberinya pelajaran, Clarissa!" Sherly tersenyum jahat.
"Apa yang akan kamu lakukan, kak?" tanya Clarissa penasaran.
"Sesuatu yang tidak akan dia sangka-sangka," sahut Sherly.
"Apa itu, beritahu aku kak!" Sherly membisikkan sesuatu di telinga Clarissa. Wanita itu mengangguk-angguk tanda setuju.
"Baiklah, aku akan menelpon Zeehan, Kak Sherly." Clarissa tersenyum penuh arti.
__ADS_1
Bersambung...