TAK SANGGUP MELUPAKANMU

TAK SANGGUP MELUPAKANMU
MIMPI ZEHAN


__ADS_3

Sementara itu, di kota Metropolitan Jakarta, Zeehan mulai kuliah di Fakultas Kedokteran UI, dia memilih untuk tinggal di rumah kos, agar dia bisa kuliah sambil bekerja.


Berkat kegigihannya, Zeehan di terima bekerja paruh waktu di sebuah cafe. Dan Zeehan bekerja setelah pulang kuliah hingga malam hari. Bahkan dia akan bekerja full time jika tidak ada jadwal kuliah hari itu.


Dengan kesibukannya di cafe, Zeehan bisa sedikit melupakan kegundahan hatinya setelah kepergian Lenka. Memang sulit melupakan seseorang yang telah menjadi bagian dalam hidupnya, apalagi Lenka pergi tanpa kabar dan menjadi tanda tanya besar dalam diri Zeehan.


Pemilik cafe Nirwana itu adalah seorang pria paruh baya, bernama Alfred. Dia menyukai cara Zeehan bekerja dan ketekunannya.


"Zeehan, ini gajimu bulan ini, aku suka dengan anak muda pekerja keras sepertimu," kata Bang Alfred, Zeehan biasa memanggil namanya.


"Terima kasih Bang, aku akan mengirimnya untuk ibuku sebagian," kata Zeehan.


"Kamu benar-benar anak yang berbakti, Zeehan, aku salut padamu!" puji Pria itu sambil menepuk pundak Zeehan dengan pelan.


Setelah cafe tutup pukul 02.00 dinihari, barulah Zeehan kembali ke tempat kos nya, yang terletak tidak jauh dari kampusnya.


Zeehan merebahkan tubuhnya di atas kasur lajang miliknya. Dia hanya sendiri di kamar itu, karena ruangannya kecil, hanya muat untuk dirinya sendiri. Dan Zeehan mendapat harga yang murah dari pada kamar yang lain.


Zeehan memejamkan matanya sejenak, tubuhnya merasa lelah. Hanya beberapa menit, tiba-tiba dia tersentak dari tidurnya, Zeehan membuka matanya, dan mengatur nafasnya yang terasa sesak.


Pelan-pelan, Zeehan menarik nafas melalui hidung dan menghembuskan lewat mulut perlahan-lahan. Sayup-sayup dia mendengar suara bayi baru lahir menangis.


Zeehan menggelengkan kepalanya, saat kesadarannya pulih, suara tangisan itu menghilang.


"Apa kak Sherly mau melahirkan ya? Eh...tapi kak Sherly sudah melahirkan sebulan yang lalu," batin Zeehan.


Zeehan kembali memejamkan matanya, kali ini dia melihat seorang anak laki-laki berlari kearahnya.


"Papa...!' teriak anak itu memeluk kaki Zeehan erat.


"Siapa namamu, nak?" Zeehan memandang wajah kecil itu samar.


"Namaku...!" tiba-tiba bayangan anak laki-laki kecil itu menghilang, saat seseorang mengetuk pintu kamar kosnya.


"Zeehan....!" suara temannya Aldo terdengar nyaring. "Zeehan, Lo kuliah nggak hari ini, udah siang nih," ulang Aldo membangunkan Zeehan.


"Ya, bentar Do! Gue mau mandi dulu, kalau Lo mau duluan nggak pa-pa," kata Zeehan membuka pintu kamarnya dengan matanya yang masih berat.

__ADS_1


"Oh ya udah, udah hampir jam 9, gue takut telat, gue duluan ya Han,' kata Aldo segera berlari ke arah kampusnya yang berjarak hanya beberapa meter dari tempat kos mereka.


Zeehan mengusap wajahnya kasar. "Kata Ibu, anaknya Kak Sherly perempuan, tapi yang ada dalam mimpiku, anak laki-laki." Zeehan membatin.


"Lenka, apakah kau menyembunyikan sesuatu dariku, hingga kau pergi tanpa pamit padaku," batin Zeehan. Hatinya kacau, apabila dia mengingat Lenka.


Zeehan segera mandi dan berpakaian rapi untuk segera menuju kampus tempat dia menuntut ilmu.


Zeehan melangkahkan kakinya lesu keluar dari ruang dosen pembimbingnya. Minggu ini, dia harus menyediakan uang untuk biaya praktek sebesar Sepuluh Juta Rupiah. Bingung harus meminjam uang kemana. Sementara orang tua Sherly tidak lagi mengiriminya uang bulanan.


Awalnya Zeehan bertekad untuk menyelesaikan pendidikan profesi nya tepat waktu yaitunya 11 semester. Tapi sekarang dia terkendala uang praktik yang tidak bisa ditanggung dengan beasiswanya.


"Bang, aku bisa minjam uang nggak, 10 juta buat biaya praktek di kampus," kata Zeehan malam itu pada Bang Alfred bos pemilik cafe tempat dia bekerja.


"Maaf Zeehan, kalau sebanyak itu Abang tidak punya," kata Bang Alfred.


"Apa aku harus cuti saja dulu ya, Bang!" kata Zeehan lesu.


"Sayang sekali Han, kuliahmu tinggal 2 semester lagi, kan? Coba saja kamu pinjam uang secara online," usul Bang Alfred.


"Saya tidak berani Bang, bunganya terlalu besar," kata Zeehan.


"Tidak apa-apa, Bang," jawab Zeehan mencoba untuk tersenyum.


Zeehan, sedang berbaring lesu di tempat tidurnya. Dia baru saja pulang dari Cafe. Waktu sudah menunjukan hampir pukul 03.00 dini hari. Pikirannya menerawang kemana-mana. "Haruskah aku menghubungi Kak Sherly lagi? Tidak, aku tidak boleh mengharapkan bantuan mereka lagi," Zeehan merasa dilema.


Zeehan keluar dari kamarnya dan duduk di teras depan rumah kos tempat dia tinggal.


"Nggak bisa tidur Han?" tanya Aldo yang baru datang entah dari mana.


"Dari mana Lo, do?' Zeehan balik bertanya.


"Dari club X Star," jawab Aldo setengah berbisik.


"Ngapain Lo di Club, mabuk?"


"Gue kerja di sana, Han! Pusing gue mikirin duit, waktu itu gue baca di loker online, ada kerjaan di Club, gue masuk, gajinya lumayan," kata Aldo.

__ADS_1


"Berapa?" tanya Zeehan penasaran.


"Dua sampai tiga juta semalam," jawab Aldo tersenyum.


"Emang kerjaannya apa?" tanya Zeehan lagi.


"Yah, kerjanya gampang...cukup pamer body full naked, saweran datang Lo ba...."


"Stop, Aldo, jangan bilang Lo jadi penari Striptis di sana!" potong Zeehan merasa kaget.


"Yah, harus bagaimana lagi, Han! Kita butuh duit, kalau kerja halal, uangnya dikit dan ngumpulin nya lama, apalagi dalam keadaan terdesak seperti ini," Aldo duduk disamping Zeehan dengan menundukkan wajahnya ke lantai.


"Gue kerja hanya sampai yang semester gue terkumpul, Han, setelah itu gue out, dari pada gue di D.O," kata Aldo.


Zeehan menarik nafas dalam-dalam. Haruskah dia juga mengikuti jejak Aldo, agar bisa mendapatkan uang dengan mudah? Tidak, Zeehan menggeleng. Membayangkan saja Zeehan sudah merasa jijik.


"Kalau cowok kayak Lo, bakal laku banyak, Han, secara Lo itu tampan, tinggi, tegap berkulit eksotis lagi," kata Aldo memuji.


"Nggak Al, gue nggak mau, sorry ya, gue ngantuk, gue masuk dulu," Zeehan segera meninggalkan Aldo yang masih duduk diluar.


Zeehan membuka dompetnya, hanya ada beberapa lembar uang lima puluh ribuan disana. Itupun akan dia gunakan untuk membayar uang kos bulan depan. Tak sengaja matanya terpaku pada sebuah foto selfi dirinya dan Lenka berlatar belakang pantai di pulau kecil yang dia klaim miliknya.


Zeehan mengeluarkan foto itu dan dibalik foto itu tertulis tanggal mereka jadian. Zeehan ingat nomor itu pernah dia gunakan untuk menarik sejumlah uang milik Lenka, untuk pengobatan ibunya.


Zeehan masih menyimpan kartu ATM itu.


"Aku akan mengeceknya besok di ATM," batin Zeehan.


Dengan semangat, Zeehan memasuki sebuah ATM, dan mengecek saldo yang ada di dalam tabungan Lenka. Dan jumlahnya sangat mengejutkan Zeehan. Ada 150 juta lebih saldo Lenka di sana.


"Maaf, Lenka, aku meminjam uangmu, jika aku punya uang, nanti aku kembalikan," kata Zeehan bicara sendiri.


"Aku hanya butuh 10 juta, sebaiknya aku transfer langsung ke rekening kampus," gumam Zeehan. Zeehan menarik nafas lega, setelah uang itu berhasil ditransfer.


Lenka mengecek, Mobile Banking-nya, saat sebuah notifikasi masuk. Bahwa uang sebesar Sepuluh juta rupiah keluar dari rekeningnya. Tujuannya, rekening atas nama kampus UI. Lenka tersenyum, "Mungkin Zeehan butuh biaya untuk kuliahnya," batin Lenka. "Kamu boleh menggunakannya jika kamu butuh, Zeehan."


Senyum bahagia mengambang di bibir Zeehan, akhirnya dengan segala keterbatasannya, Zeehan berhasil menamatkan studinya, dan menggapai impiannya menjadi seorang dokter.

__ADS_1


*************


__ADS_2