
"Mama, papa, Valen melahirkan!" seru Denis pada ketua orang tuanya.
"Benarkah, kapan?" tanya Mama Maria senang.
"Semalam Ma, Valen melahirkan, bayinya prematur" kata Denis, suaranya terdengar khawatir.
"Kok Bisa?"
"Entahlah Ma, mungkin dia mengalami sesuatu yang menyebabkan, dia harus melahirkan sebelum waktunya, sebaiknya kita kesana sekarang ma! Pa!" kata Denis.
"Ayolah!" Mama Maria segera keluar rumah bersama Papa Daniel mengikuti Denis yang sudah menunggu di mobil.
Denis melarikan mobilnya segera menuju rumah sakit Darya Medika. Maria mengunjungi Lenka di kamar perawatannya, sementara Denis dan Papanya melihat bayi mungil Zeehan di ruang NICU.
"Zeehan mana Valen?" tanya Maria, begitu masuk ke ruangan Lenka, dimana menantunya itu berbaring sendirian.
"Mungkin lagi kerja, Ma!" Lenka mencoba untuk duduk bersandar di kepala ranjang.
"Bagaimana keadaanmu sekarang, nak?"
"Masih terasa ngilu, Ma, tapi udah mendingan," Ucap Lenka merapikan pakaiannya yang acak-acakan.
"Kamu belum melihat bayimu, nak?"
"Belum Ma, kata dokter, sebaiknya aku sembuh dulu, takutnya aku shock."
"Nggak apa-apa, yang sabar ya Val, semoga kamu cepat sembuh!" doa Mama Maria.
"Makasih Ma," kata Lenka tersenyum.
"Itu Denis, mama mau gantian melihat cucu mama," Mama Maria, beranjak dari tempat duduknya, digantikan Denis yang memandangnya hangat.
Denis duduk disisi ranjang Lenka, menggenggam tangan Lenka erat.
"Apakah karena kejadian kemaren?" tanya Denis, menatap Lenka sedih. Lenka mengangguk. Ingin marah, tapi percuma, semuanya tidak akan membalikkan keadaan.
"Iya Denis, aku kasihan melihat Zeehan, dia merasa bersalah dan terpukul."
"Bayi kalian akan baik-baik saja, dia sangat kuat," kata Denis.
"Terimakasih Denis, kapan kamu akan berangkat ke Bali?"Lenka mengalihkan pembicaraan mereka.
"Nanti siang, semoga kamu cepat sembuh Val," Lenka mengangguk dan berusaha untuk tetap tegar.
"Semoga kamu juga sukses disana Denis, buat Mama dan Papamu bangga," pesan Lenka.
"Tentu Val, aku berjanji padamu," Denis tersenyum pasti. Sebelumnya, dia sudah membuat komitmen untuk tidak lagi membuat Papa dan Mamanya kecewa. Meninggalkan minuman beralkohol dan bermain perempuan.
"Aku akan selalu mendukungmu, Denis!"
"Terimakasih, sebentar lagi aku akan berangkat, bersama Dean." Denis melepaskan pegangan tangannya dari Lenka.
"Hati-hati Denis, jika bayiku sudah sembuh, kamu akan mengunjungimu di sana," Lenka tersenyum haru. Dia merasa bahagia, melihat Denis mau merubah kebiasaan buruknya.
__ADS_1
*******
Zeehan mengajak Lenka untuk melihat bayi mereka di ruangan NICU. Setelah Lenka merasa lebih baik. Lenka duduk di atas kursi roda. Hatinya merasa teriris, menyaksikan bayi malang itu harus hidup ditopang alat-alat yang dipasang di tubuh lemahnya.
Zeehan memeluk Lenka, menguatkan wanita itu. Air mata mengalir di pipinya yang pucat pasi.
"Sabar ya, bayi kita akan baik-baik saja!" suara Zeehan terdengar menyakinkan, namun juga terselip keraguan. Sanggupkah bayi malang itu bertahan.
"Sayang, berapa lama bayiku berada didalam inkubator?" tanya Lenka lemah, tak ada gairah.
"Sampai dia cukup kuat untuk beradaptasi dengan dunia luar, mungkin bisa 2 atau 3 bulan," Zeehan mengusap lengan Lenka memberi kekuatan.
"Yang kuat ya sayang, malaikat kecil Mama," bisik Lenka, memandang wajah kecil itu dari balik kotak kaca, rapuh.
"Apakah aku bisa menggendongnya?" Lenka berharap bisa memeluk bayinya, untuk mencurahkan semua rasa kasih sayangnya.
"Belum bisa.sayang, nanti aku akan menanyakan pada dokter Via, apa bayi kita bisa di keluarkan dari boks atau tidak."
Lenka mendekati kotak kaca dan memasukkan tangannya ke dalam lobang kecil, dengan sebuah benda berupa sarung tangan, agar bisa menyentuh wajah bayinya.
"Cantik sekali anak mama! Cepat sembuh sayang, biar kita bisa berkumpul bersama.
Mama, Papa dan kak Zio," gumam Lenka. Zeehan meraih pundak Lenka dan membawanya kedalam pelukan. Lenka mengusap matanya yang basah.
"Jangan menangis!" bisik Zeehan. "Aku yakin, bayi kita akan melewati masa-masa kritis ini dengan baik, dia kuat seperti mamanya."
"Aku hanya sedih, tidak tega melihatnya seperti ini."
"Kita hanya bisa pasrah, sayang?"
Dokter Via mengizinkan lenka untuk menggendong bayinya sejenak. Hanya beberapa menit, Lenka tidak tega lagi melihat bayi mungil itu lemah.
"Kalian belum memberikan nama untuk bayi kalian," tanya Dokter Via.
"Kami belum sempat mencari nama, dok! Kamu punya nama untuk anak kita?" tanya Zeehan menggenggam tangan Lenka erat-erat.
"Aku belum memikirkan namanya, Sayang, nanti kita cari, aku ingin kembali ke kamar dulu.'
"Baiklah aku antar," kata Zeehan sambil mendorong kursi roda Lenka ke kamar dia dirawat.
Zeehan membantu Lenka untuk naik ke tempat tidurnya. Dan duduk bersandar di kepala ranjang. Air matanya lagi-lagi jatuh tanpa diundang.
"Sayang,?" Zeehan mengusap kening istrinya lembut, membiarkan wanitanya menumpahkan segala kegelisahan jiwanya.
Hingga tangisan Lenka berhenti dengan sendirinya. Zeehan masih setia disisinya.
"Jangan takut, anak kita akan baik-baik saja,* bisik Zeehan. "Sekarang kuatkan dirimu, ingat ada Kenzio yang juga masih butuh perhatian kita, dia sedih melihatmu seperti ini."
Lenka mengangguk, membiarkan Zeehan mengusap air matanya.. Hingga air mata itu mengering. Dia merasa beruntung memiliki suami yang baik dan pengertian. Lenka mencoba untuk tersenyum. Memeluk tubuh suaminya erat, bersandar di dada Zeehan yang bidang, menghirup aroma tubuhnya yang menenangkan.
"Istirahatlah, aku akan menjemput Kenzio ke sekolah," Zeehan melirik jam tangannya.
Lenka mengangguk, sudah dua hari ini, dia tidak memperhatikan Kenzio, karena sedih melihat bayinya harus dirawat di NICU.
__ADS_1
"Pergilah, hati-hati!" Lenka melepas diri dari pelukan Zeehan. Zeehan tersenyum lebar, tak lupa memberikan ciuman mesra di pipi Lenka.
Begitu Zeehan keluar, David datang bersama Kesya dan neneknya.
"Bu dokter,.adik bayinya mana?" tanya Kesya.
"Adik bayinya lagi dirawat sayang, di kamar sebelah." kata Lenka dengan suara serak.
"Adik bayinya sakit ya !"
"Iya, nanti kalau adik bayinya sembuh, Kesya bisa bermain dengannya." kata Lenka.
"Benarkah?? Aku mau Bu dokter!" Keysa tersenyum riang.
"Kesya, ayo kita lihat adik bayinya!" kata ibunya David. Sementara David duduk disisi ranjang menatap Lenka penuh arti.
"Kesya memaksaku untuk mengunjungimu," David membuka pembicaraan mereka. Lenka mengangguk dan tersenyum ramah.
"Tidak apa-apa David, terimakasih sudah datang, Zeehan baru saja keluar, menjemput Kenzio ke sekolah,"
"Ya, aku tadi bertemu dengannya di depan, apa yang terjadi?" tanya David.
"Hanya kecelakaan kecil, aku tidak berhati-hati," jawab Lenka sedikit berbohong, namun David mengetahui kalau dia berbohong.
"Itu bukan kecelakaan kecil Lenka, itu fatal!" kata David menaikkan nada suaranya. ",Ada yang sengaja mencelakai mu?"
"Tidak ada, hanya ...." Lenka menarik nafas panjang. Dia tidak tahu harus mulai bicara apa, karena tidak mungkin menceritakan tentang kebrutalan Zeehan melampiaskan hasrat bercintanya.
"Seseorang memberi Zeehan obat p******ng, untuk mendapatkan Zeehan. Tapi aku dan Denis berhasil menggagalkan niat jahat wanita itu, tapi justru aku yang harus...." Lenka menjeda lagi ucapannya.
"Oke, aku mengerti....., Siapa yang melakukan semua ini pada kalian," tanya David kesal mendengar cerita Lenka.
"Namanya Sherly, dia pernah menikah dengan Zeehan, 6 tahun yang lalu. Hanya sebuah pernikahan kontrak, tapi dia tidak terima, Zeehan menceraikannya."
"Sherly??"
"Ya, Sherly Amanda, sepupunya Clarissa, mantan istrinya Denis," jelas Lenka.
David mengernyitkan keningnya, dia merasa pernah mendengar nama itu.
"Dia hamil oleh kekasihnya, namun kekasihnya itu tidak mau bertanggungjawab, untuk menutupi aibnya, orang tua kak Sherly, meminta Zeehan untuk menikahi putrinya, hingga anak itu lahir, tapi Kak Sherly malah tidak mau bercerai dari Zeehan." Lenka melanjutkan ceritanya.
"Kamu punya fotonya?" tanya David.
"Tidak, tapi kamu bisa melihatnya di IG-nya," jawab Lenka. "Kamu mengenalnya?"
"Entahlah, tapi nama itu tidak asing, aku akan menyelidikinya."
"Ada hubungannya denganmu?" Lenka penasaran dengan sikap David, yang antusias ingin mencaritahu tenang Sherly.
"Bukan, tapi kakakku, aku punya seorang kakak laki-laki, dia meninggal saat kecelakaan 5 tahun yang lalu." nada suara David berubah sendu.
"Maaf David, aku tidak tahu,"
__ADS_1
"Tidak apa-apa, bukan salahmu, nanti aku ceritakan tentang kakakku, sekarang istirahatlah! Aku akan menyusul Keysa dan ibu,"
"Terimakasih sudah mengunjungi ku, David!" ucap Lenka tulus.