
Lenka duduk di meja kerjanya, ada beberapa makanan menggugah selera tersaji didepannya. Monica asisten pribadinya memandang bosnya itu heran.
"Buk, makanannya banyak banget, nanti bakal habis nggak tuh," tanya Monica heran.
"Habis dong, Nic, kamu mau? Ambil saja!" kata Lenka tersenyum.
"Makasih Buk, nggak usah! Maaf Buk, apa ibu hamil?" tanya Monica, membuat Lenka tercekat. Dia ingat, dia akan melakukan check up hari ini, dia sudah membuat janji untuk bertemu dokter Via, temannya yang seorang dokter OBGYN.
"Aku lupa, aku akan check hari ini, makasih ya, Nic, udah ngingetin," Lenka berdiri keluar dari ruangannya.
"Buk, Makanannya gimana?" teriak Monica heran dengan tingkah bosnya itu.
"Nanti aku makan," sahut Lenka terus berjalan kearah kiri ruang kerjanya.
Lenka pergi ke ruangan dokter Via, kebetulan ruangan itu sudah sepi.
"Hai Via?" Lenka duduk di sisi tempat pemeriksaan.
"Kenapa Lenka, kamu hamil?" tanya Via.
"Iya, kayaknya sih, tapi aku nggak ada gejala, kayak orang hamil, mual juga nggak, tapi makanku banyak sekarang," kata Lenka.
"Berbaringlah, biar ku periksa," kata dokter Via. Lenka berbaring di atas tempat pemeriksaan. Dokter Via menempelkan alat deteksi jantung bayi di perut Lenka. Lalu memandangi layar monitor.
"Mm, kamu beneran hamil, Lenka, usianya sudah 16 Minggu, "
"Hah, 16 Minggu, kok aku nggak merasakan gejalanya ya!" Lenka menarik nafasnya panjang, kemudian menghembuskannya perlahan.
"Mungkin suamimu yang mengalaminya," kata dokter Via.
"Mungkin saja, emang bisa," jawab Lenka bingung.
"Bisa, itu namanya kehamilan simpatik," jelas Dokter Via. "Biasanya, suami lah yang merasakan mual dan tidak nafsu makan," jelas Via.
"Begitu ya!" Lenka manggut-manggut.
*****
Lenka mondar-mandir di kamarnya, dia ingin menghubungi dokter Han, tapi Lenka tidak mempunyai kontak pria itu. Lenka akhirnya menghubungi nomor Della.
"Lenka, tumben Lo nelpon gue, Lo dimana sekarang?" tanya Della senang.
"Ada deh," kata Lenka
"Ih, kok gitu sih, ya udah Lo mau apa?" tanya Della merungut..
"Del, Lo punya nomor ponsel dokter Han, nggak?" tanya Lenka.
"Punya, emang Lo mau ngapain," tanya Della curiga.
"Gue ada urusan penting sama dia,"
"Dokter Han lagi ke Surabaya!" kata Della.
"Oya, Lo tau tempat dia nginap?"
"Mana gue tahu, gue bukan istrinya,"
"Ish, ya udah, kirimin gue nomor ponselnya ya, please, gue butuh banget," mohon Lenka.
"Ya, ntar gue kirim!"
" Makasih Della sayang, udah ya bye!" Lenka menutup panggilannya.
__ADS_1
******
Seorang pria memasuki sebuah ruangan pertemuan di rumah sakit Ibu dan Anak, milik Belinda, bersama seorang asistennya. Hari ini dia akan menandatangi kesepakatan kerja sama dengan Rumah sakit itu.
"Selamat siang, Bu Belinda!" Pria itu mengulurkan tangannya dan menyalami Belinda.
"Selamat siang, Dokter Zeehan, terimakasih sudah mau datang ke Rumah sakit ini, saya merasa tersanjung," kata Belinda.
"Saya juga senang bisa bekerja sama dengan anda, Nyonya Belinda,"
"Silahkan duduk," kata Belinda.
Hampir satu jam, Zeehan berada di ruangan Belinda, membicarakan kerjasama pengadaan alat-alat kesehatan di rumah sakit itu. Setelah mencapai kesepakatan, keduanya menandatangi kerjasama itu.
Zeehan keluar dari ruangan Belinda, tak lama Lenka masuk ke ruangan itu, dia melihat sekilas pria itu dari belakang.
"Lagi ada tamu ya Bel?" tanya Lenka mendekati Belinda yang duduk di meja kebesarannya.
"Ya, tamu dari Jakarta, tumben kamu ke sini, ada apa?" tanya Belinda.
"Aku mau izin keluar sebentar, sekalian jemput Kenzio,"
"Ya udah, pergilah!"
"Makasih, Belinda," Lenka keluar dari ruangan Belinda dan berjalan cepat menuju parkiran.
Lenka masuk ke dalam mobilnya dan membawanya menuju sebuah restoran.
Lenka duduk di sudut ruangan yang sedikit privat. Dia mencoba menghubungi nomor kontak dokter Han. Panggilan itu tersambung. Zeehan yang berada di restoran yang sama dengan Lenka, mengerutkan keningnya, saat sebuah panggilan masuk dari Lenka. Tumben wanitanya itu meneleponnya duluan, Zeehan membatin.
Zeehan mengangkat panggilan itu, dengan sedikit merubah warna suaranya. "Halo,.dengan siapa ya?" Zeehan pura-pura bertanya.
"Dokter Han, ini aku dokter Valen!" jawab Lenka.
"Oh, ada apa dokter Valen, kenapa tiba-tiba anda menghubungi saya,"
Zeehan melayangkan netranya ke sekeliling restoran, dia melihat Lenka duduk sendirian di private room.
"Maaf, dokter Valen, saya sekarang sedang sibuk, saya tidak punya banyak waktu di Surabaya, besok saya akan kembali ke Jakarta,"
"Dokter Han, sebentar saja, saya ingin bicara sesuatu yang penting dengan anda, "
"Bicara saja sekarang, saya akan mendengar anda,"
"Saya tidak bisa membicarakannya di telepon, dokter Han, please,"
"Baiklah, tapi bagaimana kalau besok pagi saja, anda bisa datang ke hotel tempat saya menginap pukul 5 pagi, soalnya jam 7 saya sudah harus ke Bandara,"
"Jam lima?? Saya tidak bisa datang ke hotel jam segitu, nanti orang akan bicara yang tidak-tidak tentang saya,.jika ada yang melihat saya keluar dari hotel pagi-pagi," tolak Lenka.
"Saya hanya punya waktu 2 jam besok pagi, dokter Valen, maaf saya tidak bisa bertemu anda,"
"Baiklah, saya akan kesana besok pagi," kata Lenka pada akhirnya.
Lenka keluar dari restoran dengan tergesa-gesa, Zeehan membuntutinya. Wanita itu berdiri di gerbang sekolah, menunggu Kenzio keluar dari kelasnya.
"Hai Mam," Kenzio berlari keluar gerbang sekolah memeluk ibunya.
"Bagaimana sekolahmu, nak?"
"Seperti biasa, menyenangkan Mama,"
"Anak mama memang yang terbaik," puji Lenka.
__ADS_1
Zeehan tersenyum menyaksikan pemandangan yang begitu menggugah hatinya.
Setelah mengikuti Lenka ke apartemennya, Zeehan kembali ke hotel tempat dia menginap.
******
Pagi-pagi sekali, Lenka mendatangi hotel tempat Zeehan menginap. Sambil celingak-celinguk ke kiri dan kanan, Lenka mengetuk pintu kamar Zeehan perlahan.
"Masuk saja, tidak.dikunci!' sahut Zeehan dari dalam.
"Dokter Han!' panggil Lenka, pria itu masih berbaring di tempat tidurnya dengan bagian atas tubuhnya yang terbuka. Lenka mengalihkan pandangannya.
"Maaf, dokter Valen, sebentar saya akan ke kamar mandi, duduk saja dulu di sofa," Zeehan segera ke kamar mandi dan membersihkan dirinya.
Tak lama dia keluar dari kamar mandi dengan hanya memakai handuk yang hanya menutupi tubuh bagian bawahnya.
Lenka duduk dengan gelisah, otaknya tercemar melihat perut sixpack milik pria itu, hormon estrogen dan progesteron nya meningkat dua kali lipat, apalagi sekarang dia sedang hamil.
"Apa kabar, Lenka?" sapa Zeehan mendekati wanita kesayangannya itu. Lenka mendongak, saat mencium aroma maskulin dari tubuh pria dihadapannya itu. Netranya membola,
"Zeehan...??" Lenka terpaku di tempat duduknya, jantungnya seolah hendak melompat keluar, saat Zeehan duduk di sampingnya. Aroma tubuh pria itu sangat mengusik penciumannya.
Ingin rasanya memeluk pria itu, tapi rasa sakit di hatinya kembali berkuasa. Lenka menarik nafas berat, dia beranjak menjauhi Zeehan.
"Lenka!" Zeehan menahan tangan wanita itu dan mendekati Lenka lebih intim.
"Lepaskan, Zeehan!" Lenka menepis tangan Zeehan.
"Aku tidak akan melepaskan mu lagi, Lenka, mulai saat ini, kita akan bersama, kamu, aku, Kenzio dan anak kita yang ada dalam rahimmu," ucap Zeehan.
"Bagaimana kamu bisa tahu aku sedang hamil," tanya Lenka heran.
"Karena aku yang mengalami morning sick, ngidam dan semua yang ibu hamil alami, yang pastinya, aku yang tidur bersamamu, saat kamu mabuk," jawab Zeehan dengan wajah serius.
"Aku tidak percaya padamu, Zeehan, lepaskan aku, biarkan aku pergi,"
"Lenka, maafkan aku, aku tidak bermaksud menghinamu saat itu, aku merasa cemburu melihat kedekatan mu dengan Jovan, aku pikir dia adalah ayahnya Kenzio," terang Zeehan.
Lenka berusaha untuk melepaskan diri, namun Zeehan memeluknya erat. "Aku merindukanmu, Sayang!" bisik Zeehan, mengecup lembut kening wanitanya.
"Lepaskan aku Zeehan, aku tidak mau melihatmu lagi," Lenka masih berusaha untuk berontak, namun tenaganya tidak sebanding dengan kekuatan Pria itu.
Zeehan mengusap perut Lenka, yang baru mulai membesar. "Aku akan menikahi mu secepatnya Lenka, aku ingin mendampingi mu melahirkan anak kita, yang dulu tidak aku lakukan saat kamu melahirkan Zio," kata Zeehan.
"Aku tidak mau menikah denganmu, Zeehan, aku membencimu, tolong lepaskan aku, atau aku akan berteriak," ancam Lenka.
"Lenka, please, beri aku kesempatan, aku menyesal telah menyakitimu, kamu adalah alasan utamaku, kenapa aku masih bertahan dan tidak membuka hati untuk wanita lain,"
Zeehan memperlakukannya dengan lembut. Menciumi wajahnya di setiap incinya, hingga berhenti di bibirnya yang basah. Lenka merasa lemah.
"Kamu tahu sayang, aku harus mencuri seragam mu di apartemen, karena aku mengalami mual dan muntah sepanjang hari, di awal-awal kehamilanmu," kata Zeehan.
Lenka tak percaya, menggeleng tak percaya.
"Aku selalu membawanya kemanapun, sekarang ada di tempat tidurku, tak percaya?" Zeehan menarik Lenka ke atas ranjang. Dia memperlihatkan seragam putih Lenka, yang ada diatas bantalnya.
Lenka tergidik nyeri, dia melihat Zeehan seperti seorang psikopat yang sedang memburunya.
"Dengan mencium aroma dari baju itu, rasa mual itu akan hilang," kata Zeehan jujur.
"Lepaskan aku Zeehan, please," Lenka memohon dengan suara melemah.
"Lenka, kau membuatku hampir gila, aku mencari mu kemana-mana, aku mengkhawatirkan Kenzio juga,"
__ADS_1
"Zeehan," Lenka meremang, saat Zeehan menciumi leher dan tengkuknya. Lenka tidak dapat membohongi hatinya, dia mendambakan sentuhan pria itu. Zeehan tahu kelemahan Lenka, wanitanya itu tidak bisa menahan diri, jika Zeehan sudah membelai seluruh tubuhnya.
Bersambung