TAK SANGGUP MELUPAKANMU

TAK SANGGUP MELUPAKANMU
KECELAKAAN DENIS


__ADS_3

Zeehan baru saja selesai mengadakan rapat dengan jajaran direksi Rumah Sakit Darya Medika. Saat mendengar berita bahwa Denis mengalami kecelakaan mobil di Bali. Saat ini Denis sedang di rawat intensif, di rumah sakit miliknya.


Zeehan buru-buru pulang ke rumah, untuk meminta Lenka bersiap untuk berangkat ke Bali. Denis mengalami kecelakaan.


"Kenapa Denis bisa mengalami kecelakaan, Sayang?" Tanya Lenka kaget mendengar kabar yang dibawa Zeehan.


"Entahlah, aku juga tidak tahu, baru saja Judith menghubungiku, dan memintaku untuk datang." Zeehan duduk disamping istrinya.


"Sayang, tapi aku tidak bisa ikut, Zio sekarang sedang ujian. Zee sedang aktif-aktifnya, sementara aku...!" Lenka menghentikan ucapannya.


"Kamu kenapa Sayang?" Zeehan merangkul istrinya mesra.


"Nggak, aku hanya lagi capek," Zeehan memandang wajah cantik istrinya.


"Ada sesuatu yang kamu sembunyikan? Matamu tidak bisa berbohong," Zeehan tertawa. Lenka menyandarkan tubuhnya di pundak Zeehan.


"Sebenarnya aku ingin memberimu kejutan, tapi karena kami sudah mengetahuinya, baiklah aku akan mengatakannya."


Zeehan tersenyum lebar, saat Lenka meraih tangan Zeehan dan meletakkan tangan ZEEHAN Diperutnya. "Zhio akan punya adik lagi," ucap lenka tersenyum berseri.


"Benarkah? Sudah berapa bulan?" Zeehan penasaran.


"Mm, tiga bulan...!"


"Sayangku, aku sedang mendengarnya, kenapa harus dirahasiakan segala?"


"Bukan rahasia, hanya akan memberitahumu disaat yang tepat, saat ulang tahunmu bulan depan,"


"Aku senang mendengarnya Sayang, aku ingin punya banyak anak, karena aku anak tunggal, biar tua nanti kita tidak kesepian," ucap Zeehan tulus.


"Berapa yang kamu inginkan, empat,lima atau enam??" Tawar Lenka.


Zeehan tertawa, "Berapa pun kamu sanggup." Pria itu memeluk lenka erat, menciumi setiap inci wajah lenka dengan lembut. Hingga berlabuh di bibir lenka yang merah merekah.


"Kapan kamu akan berangkat ke Bali?" Tanya Lenka. Saat Zeehan menghentikan ciumannya.


"Kalau istriku tidak ikut, aku juga malas berangkat sendiri, biar papa dan mama saja yang pergi."


"Jangan begitu, pergilah! aku tidak masalah harus ditinggal."


"Ya udah, aku akan berangkat besok pagi dan sorenya langsung balik lagi, aku tidak mau lama-lama jauh dari istriku," bisik Zeehan.


"Aku juga tidak mau jauh dari suamiku!" Balas Lenka tersenyum merayu, dan mencium bibir Zeehan lembut. Sementara tangannya dengan nakal mengelus dada zeehan.


"Oh, ...kamu memancing gairahku, Sayang!" Bisik Zeehan dan mengangkat tubuh lenka ke kamar, dan membaringkannya di atas ranjang perlahan.


"Sayang, ini masih siang!" Lenka menggelengkan kepalanya menolak Zeehan.


"Kamu sudah membangunkan macan yang sedang tidur, jadi bersiaplah, selagi Zee masih terlelap," bisik Zeehan.


Lenka tidak bisa lagi mengelak, Zeehan sudah menguncinya erat. Melucuti seluruh pakaiannya, dan mencumbu setiap inci lekuk tubuh berisinya.


"Ah... Sayang!" Lenka mendesah panjang, saat merasakan kenikmatan surgawi nya.


Zeehan telah menyatukan tubuhnya dengan Lenka perlahan.


"I love you, Honey!" Zeehan melepaskan tubuhnya dari atas tubuh istrinya, setelah pergumulan panas mereka. Namun dia masih memeluk lenka erat. Seolah tidak rela melepaskan wanita yang telah menjadi candu baginya.


"I love you too!" Jawab Lenka tersenyum, semuanya masih tetap sama, rasa cinta, rasa sayang dan rindu diantara mereka berdua, tidak ada yang berubah.


"Sayang, aku kangen dengan rumah pohon kita, aku ingin merasakan kembali kenangan kita berdua, saat pertama kali bercinta disana," bisik Lenka.


"Mm, aku akan mewujudkan keinginanmu, Tuan putri, kapan kamu mau kita kesana?"


"Jika Zio liburan kenaikan kelas nanti, perutku belum terlalu besar. Setelah itu, kita berangkat ke Australia, aku kangen sama Bibi Julia, Jovan dan uncle Jo."

__ADS_1


"Baiklah sayang, aku akan mengatur jadwal untuk pekerjaan, agar kita bisa liburan lebih lama."


"Sebaiknya kamu mencari seorang asisten, agar pekerjaanmu lebih ringan." Usul Lenka.


"Sulit mencari orang yang bisa dipercaya, tapi aku akan memberi kesempatan pada Pak Hendra menjadi wakilku," kata Zeehan.


"Ya, Pak Hendra memang orang yang sangat patut untuk naik jabatan, dia orang baik dan loyal pada pimpinan." Lenka setuju dengan rencana menaikkan jabatan Hendra.


"Hanya saja, aku belum bisa melepaskan tanggung jawab begitu saja. Kita lihat saja bulan depan! Kalau seandainya kamu mau bekerja lagi di rumah sakit, aku akan mengizinkan, kami bisa menggantikan posisi pak Hendra,"


"Tidak sayang, aku sudah berjanji untuk mengabdikan diriku untuk menjadi istri dan ibu yang baik untukmu dan anak-anak kita, aku ingin mereka mendapat kasih sayang yang utuh dari kita."


"Tidak masalah, aku hanya tidak ingin kamu terbebani dengan urusan anak-anak, sesekali kamu butuh refreshing kan?"


"Sayang, kebahagian ku adalah berkumpul bersama kalian semua, suamiku dan anak-anakku.


Perbincangan ringan ditempat tidur terhenti , saat keduanya mendengar tangis Zee di kamarnya.


"Biar aku yang lihat Zee." Zeehan bangkit dari tidurnya dan memakai kembali pakaiannya. Kemudian berjalan kearah kamar Zevanina. Sementara itu, membersihkan diri dikamar mandi.


"Kenapa nangis, Sayang?" Zeehan mengendong putri kecilnya dan membawanya kekamar dimana Lenka berada.


"Mama, Zee udah bangun nih!" Zeehan memberikan Zee ketangan Lenka yang sudah selesai berpakaian.


"Zee haus ya?" Lenka mengambilkan susu untuk putrinya.


"Sayang! habis mandi aku kembali ke kantor ya!" Zeehan segera ke kamar mandi.


Setelah mandi dan berpakaian rapi, pria tampan itu bersiap-siap untuk pergi.


"Jangan lupa jemput kakak Zio ya Pa!" Pesan Lenka menirukan suara baby Zee dengan imut.


"Iya sayang, sini cium dulu anak cantik Papa!" Zeehan mencium Zee dengan lembut. Bayi kecil berusia satu tahun itu tertawa geli.


******


Denis terbaring lemah dirumah sakit, kaki dan tangannya mengalami patah tulang, akibat kecelakaan mobil yang dialaminya kemaren, dalam perjalanan dari rumah sakit ke rumahnya.


"Sebenarnya apa yang terjadi, Denis!" Tanya Zeehan, saat saudara tirinya itu sadar dari pingsannya.


"Aku tidak tahu, Zeehan. Tiba-tiba ada truk yang menyalip mobil dari arah berlawanan hendak menabrak ku, aku kehilangan konsentrasi dan membanting stir ke kiri, hingga aku menabrak pohon dipinggir jalan."


"Truk itu berhenti?" tanya Zeehan.


"Tidak, truk itu kabur!"


"Denis, apakah kau punya musuh?"


"Mungkin, aku tidak ingat,... yang aku ingat, orang yang hendak menabrak ku, berpakaian sama dengan orang yang menculik ku, beberapa waktu yang lalu," kenang Denis.


"Benarkah?!" Zeehan mengernyitkan dahinya.


"Iya, beberapa hari ini, aku merasa ada yang membuntuti aku."


Zeehan berpikir sejenak, jika yang menculik Denis beberapa bulan yang lalu adalah David, lalu sekarang? Apakah David lagi? Lalu ada masalah apa antara David dan


Denis, hingga David ingin mencelakai Denis.


"Kau mengenal David Genola?" Tanya Zeehan, menatap Denis penuh selidik.


"Tidak, aku mengenal kembarannya Davin, dulu kami berteman, kenapa kau menanyakan itu," David menaikkan sebelah alisnya.


"Tidak, hanya ingin tahu, apakah kecelakaan yang menimpamu, ada hubungannya dengan David."


Denis memijat kepalanya yang sedikit pusing. "Aku dan Davin pernah berseteru, karena memperebutkan sebuah Diamond, kami mencurinya dari sebuah galery, dia berjanji akan membaginya denganku, Rendy dan Adam, tapi dia mengambilnya sendiri untuk dirinya, dan tidak pernah lagi datang ke club."

__ADS_1


"Kau mencuri?" Netra hitam Zeehan membola. Memandang Denis tak percaya.


"Yah, saat itu aku lari dari rumah, karena bertengkar dengan papa. Papa memblokir semua kartu kredit dan ATM, sementara aku tidak bisa berhenti bermain perempuan. Aku kehabisan uang, begitu juga teman-temanku yang ada club XSTAR." Denis menjeda ceritanya.


"Denis, aku tidak menyangka kamu akan tega mempermalukan papa!" zeehan tampak marah, dia mengepalkan kedua buku jarinya.


"Aku tahu aku salah, aku sudah berusaha memperbaiki diri, Zeehan. Kau lihat sendiri kan, aku tidak pernah lagi berhubungan dengan alkohol, perempuan malam dan club." Denis membela diri.


"Lalu, dimana Davin sekarang?"


"Dia meninggal, karena kecelakaan mobil, saat melarikan diri dari kejaran Polisi,"


"Apakah David menuduh kalian yang mencelakai Davin?"


"Sebelumnya tidak, karena kecelakaan itu murni kesalahannya sendiri, walau Adam sempat mengancam akan membunuhnya, jika tidak memberikan sebagian hasil penjualan Diamond itu."


"Apa ada masalah yang lain? Perempuan?"


"Sebelum meninggal, Davin mempunyai hubungan dengan seorang wanita bernama Sherly. Clarissa menyukai Davin, dan memintaku untuk mencelakai Sherly, tapi aku tidak melakukannya. Clarissa meminta bantuan Adam, aku tidak tahu lagi, sejak saat itu aku tidak berhubungan lagi dengan mereka."


"Bagaimana kamu bisa mengenal Clarisa dan Sherly?"


"Mereka berdua bekerja di sebuah restoran milik Adam, mereka juga sering ke Club untuk mencari pria-pria kaya untuk mereka kencani, dengan imbalan bayaran yang mahal."


Zeehan mengangguk, mencoba memahami apa yang terjadi dengan Denis, dia akan menemui David nanti, begitu sampai di Jakarta.


"Itu artinya, kau sudah mengenal Clarissa dan Sherly, sebelum kau menikah dengannya."


"Ya, aku pernah tidur dengan Clarisa, dia hamil, dan memintaku bertanggungjawab atas kehamilannya. Dan sherly hamil oleh Davin, tapi Davin tidak mau bertanggungjawab dan Sherly pulang ke kampung halamannya di Bima."


"Ya, orang tua Sherly memintaku untuk menikahi Sherly, sampai anaknya lahir." Kenang Zeehan.


"Kedua wanita itu memang licik."


"Jika memang kecelakaan yang kau alami ada hubungannya dengan David, aku akan meminta pertanggung jawabannya, walaupun dia temanku sendiri." Tekad Zeehan.


"Aku rasa, Clarissa lah yang harus menjelaskan kematian Davin, karena sebelumnya mereka pergi bersama, setelah Davin meninggalkan Sherly." Ujar Denis.


"Aku bingung dengan circle kalian saat muda dulu," kata Zeehan memijit pelipisnya.


"Ya, aku juga menyesal Zeehan, saat itu aku membuat Mama dan Papa kecewa dengan bermain dengan banyak wanita, alkohol, menghambur-hamburkan uang papa," wajah Denis tampak sendu.


"Semuanya belum terlambat kan? Sekarang kamu harus menjaga Dean dan Judith, jangan sampai mereka terluka dan kecewa, Judith sangat tulus mencintaimu, walaupun usianya masih muda, tapi dia bersikap dewasa dari pada kamu."


"Aku akan menjaga mereka dengan sepenuh hatiku, Zeehan. Kau tidak perlu khawatir."


"Paman Gary sudah mengetahui kecelakaan yang kau alami, Denis?"


"Sudah, dia mengirimkan anak buahnya untuk menjagaku!"


"Syukurlah, aku bisa tenang sekarang, soalnya aku harus kembali ke Jakarta, kasihan Lenka harus menjaga anak-anak sendiri, sekarang dia juga sedang hamil, jadi tidak dapat menjenguk mu," Zeehan tersenyum sumringah.


"Oh ya! Selamat kalau begitu, Judith juga sedang hamil, aku melarangnya datang ke rumah sakit, dia marah dan ngambek," cerita Denis tertawa kecil.


"Biarkan saja, itu tandanya dia peduli padamu," Zeehan ikut tertawa.


"Aku takut, jika ada yang mencelakainya,"


"Kalau begitu biar aku yang bicara dengannya, pulang nanti, aku akan mampir ke rumahmu, apakah Mama ada disana?"


"Ya, aku meminta mama menemani Judith, maklum kehamilan pertama, dia sering mual dan muntah,"


"Baiklah, cepat sembuh ya Denis, lain kali hati-hati!" Pesan Zeehan, menepuk pundak Denis pelan. Dan keluar dari ruangan tempat Denis dirawat.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2