
Kenzio sudah tertidur pulas di atas kasur busa yang sudah di gelar Lenka di bawah ranjang mereka. Karena tempat tidur itu tidak dapat menampung mereka bertiga.
Kamar yang mereka gunakan sekarang, adalah kamar Zeehan, yang dulunya hanya kamar kecil yang memiliki sebuah kasur kecil untuk Zeehan tidur.
Sekarang kamar itu sudah di perbesar oleh Zeehan dan mengisinya dengan ranjang Medium, saat Zeehan pulang pertama kali ke rumahnya.
"Kasurnya nggak nyaman ya!" tanya Zeehan, saat melihat Lenka tidur dengan gelisah.
"Bukan, tapi anak dalam kandunganku tidak bisa diam, jadi susah mau rebahan ke kiri atau ke kanan, " keluar Lenka, mengusap perutnya yang buncit.
Zeehan mengusap perut Lenka perlahan, bayi dalam perut Lenka menendang dengan kuat, membuat Lenka meringis.
"Sayang, nggak boleh nakal sama Mama, kasihan mamanya sakit," Zeehan berbicara sendiri sambil meraba-raba perut Lenka dengan lembut. Tapi gerakan bayi itu semakin kencang. Zeehan bisa merasakannya.
Lenka berbaring terlentang, membiarkan suaminya mengusap perutnya yang dibiarkan terbuka. Lenka memejamkan matanya sejenak, perutnya mulai terasa nyaman.
"Sayang, izinkan aku menjenguknya!" bisik Zeehan. Lenka membelalakkan matanya, saat tangan kokoh Zeehan sudah merayap di bawah perutnya.
"Boleh ya!" ucap Zeehan tersenyum menggoda. Tanpa persetujuan Lenka pun, pria itu akan tetap menjalankan aksinya. Dan Lenka tidak akan mampu menolak sentuhan pria yang telah menjadi suaminya.
"Kata orang, bercinta dengan ibu hamil, sensasinya luar biasa," ucap Zeehan.
"Kata siapa?" Lenka tertawa kecil.
"Kata aku, menurut ilmu yang aku pelajari di kampus dulu," Jawab Zeehan asal.
"Kenapa bisa begitu?" tanya Lenka.
"Karena, ibu hamil itu dipengaruhi oleh hormon estrogen dan progesteron, yang membuat gairah bercintanya lebih besar,"
"Kalau begitu mari kita buktikan," kata Lenka tersenyum menggoda.
"Aku suka melihat tubuhmu lebih padat dan berisi." Tangannya mulai bergerilya menyentuh titik-titik sensitif di tubuh Lenka.
Wanita muda itu mend***h.
"Pelan-pelan ya, Sayang!" bisik Lenka.
"Aku akan melakukan dengan pelan," suara Zeehan berubah serak, kedua matanya menatap Lenka dengan penuh gairah, saat keduanya sudah polos dibalik selimut malam yang hangat.
Hasrat keduanya sudah memuncak, saat kedua raga itu melebur menjadi satu, dalam cinta yang bergelora.
Bulir-bulir keringat membasahi kedua raga itu. Tidak ada yang bicara, yang terdengar hanya desa*** dan erangan manja Lenka, dan geraman Zeehan, saat hasrat keduanya sampai pada puncak nirwana yang indah.
Zeehan berbaring lelah di samping Lenka, senyuman indah terukir di wajah tampannya.
__ADS_1
"Aku mau mandi dulu, Sayang! Aku tidak mau Zio melihat kita seperti ini besok pagi," kata lenka bangkit dari tempat tidurnya.
"Pergilah, nanti aku nyusul," Zeehan memakai kembali celana pendeknya dan menyusul Lenka ke kamar mandi.
"Sayang, kamu mau ngapain?" Lenka kaget saat Zeehan tiba-tiba memeluknya dari belakang.
"Mandi bersama," jawab Zeehan santai.
"Sayang, jangan...!" Lenka tidak lagi meneruskan ucapannya, karena Zeehan sudah mengunci mulutnya dengan sebuah ciuman panas. Membiarkan suaminya kembali melampiaskan hasrat dalam dirinya yang sedang berapi-api. Karena jujur, Lenka juga menginginkan sentuhan pria yang di cintainya.
*******
Hari kedua mereka di pantai Wane, Zeehan mengajak Lenka dan putranya mengunjungi sekolahnya, mulai dari SD hingga SMA.
Para guru menyambut mereka hangat. Apalagi di SMA, Lenka sangat senang bisa bertemu kembali dengan Bu Melia.
"Apa kabar Zeehan, Lenka!" Bu Melia memeluk keduanya bergantian.
"Baik Bu Melia, ibu apa kabar?" tanya Lenka.
"Kami semua disini baik-baik saja, kamu sedang hamil, Lenka?" tanya Bu Melia,"
"Iya Bu,sudah hampir 7 bulan,"
"Sepertinya pelajaran biologi yang ibu berikan, hasilnya luar biasa!" goda Bu Melia, saat memasang Kenzio yang berparas tampan. Zeehan hanya tertawa kecil, dan Lenka bersemu merah.
"Itu sudah tugas ibu, Lenka! ibu bangga pada kalian, kalian sudah berhasil meraih impian kalian. Putra kalian sudah kelas berapa sekarang?" tanya Bu Melia.
"Kelas 4, Bu Melia, kebetulan Zio lompat kelas." Jawab Zeehan.
"Wah, ibu tidak menyangka, bocah tampan ini sudah kelas 4, pintar ya!" Bu Melia mengusap kepala Kenzio lembut.
"Iya, aku juga juara olimpiade Sains di Jakarta lho Bu!" ungkap Zio bangga.
"Oya! Ibu senang mendengarnya," seru Bu Melia bangga.
Acara reuni di sekolah SMA Tolotangga berlangsung dadakan. Teman-teman Zeehan berdatangan, saat mendengar Zeehan mengunjungi sekolah mereka. Setelah beramah tamah dengan semua majelis guru, Zeehan meninggalkan sejumlah uang untuk para guru.
Hari ketiganya, tanpa sepengetahuan Lenka malam harinya, Zeehan dan Kenzio mengikuti Bang Hery berlayar ke laut untuk mencari ikan. Mereka keluar dengan mengendap-endap saat Lenka tertidur lelap.
Saat bangun, Lenka tidak melihat suami dan anaknya di kamar. Lenka keluar dari ruangan itu dan mencari Reva di dapur.
"Kak Reva, kakak ngeliat Zeehan sama Zio nggak?" tanya Lenka gusar.
"Mereka ikut bang Hery melaut, memangnya Zeehan nggak bilang?" tanya Reva.
__ADS_1
"Kemaren bilang mau ikut sih, tapi aku nggak ngizinin kak, mereka jadinya pergi diam-diam," gerutu Lenka.
"Paling sekarang juga sudah di tempat pelelangan ikan, Lenka!"
"Iya, aku mau menyusul mereka ke sana ya kak,"
"Pergilah, hati-hati ya! jalannya licin." Reva mengingatkan.
Lenka berjalan perlahan keluar dari rumah, yang ditempati bang Hery dan istrinya. Menuju ke pinggir pantai pulau Wane, dimana para kapal nelayan melabuhkan kapal mereka.
"Mama...!" teriak Kenzio, saat melihat Lenka berjalan kearah pantai.
"Mama, ngapain kemari," tanya Zio.
"Ngajakin Kenzio pulang, mana papa?" tanya Lenka lembut. Namun, hatinya kesal karena Zeehan dan Zio.membohonginya.
"Itu papa," Kenzio menunjuk Zeehan yang sedang berbicara dengan teman-teman sesama nelayan dulu. "Papa,.!" panggil Zio lantang. Zeehan menoleh, ia tersenyum kecil menyambut kedatangan istrinya.
"Ngapain senyum-senyum," Lenka memasang wajah cemberut.
"Jangan marah dong sayang, aku mengikuti kemauan Zio." Zeehan mencium bibir istrinya lembut.
"Aku mencemaskan kalian tau nggak," Geram Lenka.
"Iya maaf, sekarang kita kan sudah pulang, Kenzio ingin naik kapal nelayan itu," Zeehan mencoba merayu Lenka.
"Ayo kita pulang! Pukul 2 nanti kita sudah harus berada di Bandara!" Lenka mengingatkan, bahwa mereka akan kembali ke Jakarta sore ini.
"Ayolah! ...kita pulang!.... Bang kita duluan ya!" Zeehan melambaikan tangannya ke arah Bang Hery dan teman-temannya. Sembari merangkul Lenka dan Kenzio meninggalkan tempat itu. Para nelayan itu membalas lambaian tangan Zeehan serentak.
"Mama, semalam itu asyik Lo ma, Papa dapat ikan banyak, tapi Zio ketiduran semalam, taunya kapal itu sudah berada di pinggir pantai," Cerita Zio. Lenka tidak menyahut.
"Mama masih marah Zio, sebaiknya Zio ceritanya nanti saja sama Daddy Jovan," ujar Zeehan, melihat wajah Lenka yang masih cemberut.
"Ya Pa," sahut Zio singkat.
Lenka telah selesai membereskan barang-barang mereka kedalam travel bag, sebelum Bang Hery pulang kerumah. Setelah makan siang, mereka berangkat ke Bandara dengan diantar Bang Hery dan keluarganya.
"Kami pergi dulu ya, Bang! Kalau Abang butuh sesuatu, jangan sungkan-sungkan untuk menghubungi saya," kata Zeehan.
"Baik, Zeehan, Abang harap kamu bisa sering pulang ke desa kita,"
"Doain saja Bang, Terimakasih atas layanannya, Terimakasih Kak Reva!" Zeehan menyalami kedua orang baik itu.
"Kamu yang harus berterimakasih padamu, Zeehan." Bang Hery menepuk pundak Zeehan pelan. "Hati-hati di jalan, kalau sudah sampai, kasih kabar Abang ya!"
__ADS_1
"Baik Bang!"
Bersambung