TAK SANGGUP MELUPAKANMU

TAK SANGGUP MELUPAKANMU
PERNIKAHAN DENIS DAN JUDITH


__ADS_3

Atas permintaan Gary, Denis dan Judith akhirnya menikah di rumah sakit. Pernikahan yang berlangsung secara sederhana, namun khidmat. Dihadiri, Papa Daniel, Mama Maria, Zeehan dan juga Lenka, serta Jennifer dan pengacara Marcel. Dan resepsi akan dilaksanakan di hotel Arkana, setelah Papanya Denis sembuh.


Zeehan dan Lenka kembali ke Jakarta, bersama kedua anaknya. Sementara Daniel dan Maria masih menikmati liburan mereka, di Bali, hingga pesta pernikahan Denis dan Judith dilaksanakan.


Zeehan tidak bisa terlalu lama meninggalkan rumah sakit di Jakarta yang menjadi tanggung jawabnya.


******


Denis menghempaskan tubuhnya yang lelah di atas ranjang kamarnya. Sudah 3 malam dia tidak berada di rumah, karena harus menjaga Ayahnya, yang masih dirawat.


Dia tidak mendengar suara Dean dan Judith dari kamar sebelah. Denis segera bangkit dan berjalan menuju kamar Judith. Wanita yang sudah menjadi Istrinya itu tertidur pulas di samping putranya Deanza.


"Maafkan aku Judith, aku tidak bermaksud mengabaikan mu. " bisik Denis ditelinga Judith. Gadis itu menggeliat, dia membuka mata dan tersenyum melihat Denis begitu dekat dengannya.


"Kak Denis, maaf aku tidak tahu, kalau kakak pulang malam ini, aku tidak masak,"


Judith merasa bersalah.


"Tidak usah dipikirkan sayang, aku bisa pesan makanan lewat online, kamu pasti capek ngurus Dean seharian," Denis mencium lembut daun telinga Judith. Judith mendesah. Suara ******* itu membangkitkan hasrat yang sudah beberapa hari ditahannya.


"Kak mandi dulu sana, bau tau!" Judith mendorong tubuh Denis agar menjauhinya dan pura-pura menutup hidungnya.


Denis membaui ketiaknya kiri dan kanan, memang dia belum mandi dari kemaren.


"Ya, aku mandi,... aku tunggu di kamar, aku merindukanmu." Bisik Denis ditelinga Judith. Wanita cantik itu tersenyum mengangguk.


Judith mengikuti Denis kekamar mereka, menyiapkan air panas di kamar mandi, dan pakaian tidur Denis seperti biasanya.


"Judith, tolong ambilkan handukku, aku lupa membawanya," teriak Denis dari kamar mandi.

__ADS_1


Judith melihat handuk Denis berada di atas tempat tidur. Lalu mengambilnya dan berdiri didepan pintu kamar mandi.


"Ini kak!" Judith menyodorkan handuknya dari balik pintu. Judith kaget saat Denis menariknya ke dalam kamar mandi. Dan memeluk Judith dari belakang. Judith bisa merasakan aroma buah dari sabun mandi yang digunakan Denis, harum dan menyegarkan. Tubuh Judith meremang, saat tangan kekar Denis yang dingin merayap di balik pakaian tidurnya.


Judith mendesah, saat kedua tangan itu bermain diatas pucuk dadanya.


"I want you, baby!" Bisik Denis, dengan nafas tertahan.


Judith berbalik, wajahnya memerah saat melihat pemandangan di depannya, Denis berdiri tanpa sehelai benangpun, handuknya sudah tergeletak di lantai kamar mandi yang basah.


Judith menyembunyikan wajahnya di dada polos Denis, karena malu. Denis mengusap punggung Judith yang sudah tak terhalang kain penutup. Wanitanya itu menengadahkan wajahnya, menatap netra hitam Denis yang sudah berkabut gairah. Pria itu mencumbu Judith dengan lembut, ******* bibirnya yang basah, terasa manis dan memabukkan. Sesekali Judith melepaskan pagutan bibir mereka, menghirup udara segar. Denis mengangkat tubuh ramping itu, keatas wastafel.


"Kak Denis ! Ahh..." Judith memejamkan matanya menikmati permainan lidah Denis di dadanya. Semakin lama semakin rakus, seperti bayi yang kehausan. Judith mencengkram erat rambut Denis dengan kuat.


"Kak, aku tidak tahan lagi," Judith sudah seperti cacing kepanasan, saat tangan dingin Denis bermain di tubuh bagian bawahnya.


"Bersiaplah sayang," Dengan sekali hentakan Denis melakukan penyatuan dengan tubuh mungil Judith yang sudah polos didepannya. Judith mengerang. Tubuhnya bergetar hebat, menikmati setiap hentakan demi hentakan di **** *-nya. Awalnya Denis melakukannya dengan sangat pelan, karena takut menyakiti istri kecilnya. Makin lama makin cepat, hingga Denis berhenti setelah keduanya mencapai klimaksnya. Menaburkan benih cinta, yang menunggu waktu untuk tumbuh dan berkembang di dalam rahim Judith.


Denis tersenyum merapikan surai hitam panjang Judith kebelakang. Menyeka keringat yang membasahi lehernya.


Denis menurunkan Judith dari atas wastafel, menyalakan shower dan berdiri dibawah air yang memancar, masih dalam posisi saling berpelukan. Judith menikmati setiap belaian tangan Denis ditubuhnya. Mandi bersama sejenak, tanpa melakukan penyatuan. Denis mengendong Judith kembali kekamar dan menjatuhkan tubuh ramping itu diatas ranjang. Tak ada yang bicara, hanya bahasa tubuh yang menginginkan satu sama lain, pergumulan panas itu terjadi lagi, untuk yang kesekian kali.


Setelah melewati malam panas mereka, Judith masih berbaring disamping Denis, yang juga belum tidur. Pria itu sibuk dengan ponselnya. Namun tidak lama, Denis menaruh kembali ponsel itu di atas nakas.


"Kak, apakah Kak Lenka pernah menjadi kekasih kakak?" Tanya Judith. Sebuah pertanyaan yang telah dia simpan sejak pertama kali melihat foto Denis bersama Lenka.


"Kenapa menanyakan itu?" Denis memperhatikan raut wajah Judith yang sedikit cemburu saat menyebut nama Lenka. Denis tersenyum, dia merengkuh kembali tubuh Judith dalam pelukannya.


"Aku menemukan foto kakak berdua di lemari pakaian," jawab Judith jujur.

__ADS_1


"Aku dan lenka, dijodohkan orang tua kami dari kecil, tapi sayang kita tidak berjodoh sebagai pasangan suami istri. Walau saat itu kami pernah mau menikah," jawab Denis jujur.


"Kakak mencintainya?" Judith melihat jauh ke dalam bola mata hitam Denis, menanti sebuah kejujuran.


"Kurasa hubungan kami bukan cinta, dia tidak pernah mencintaiku, dia lebih memilih Zeehan dari pada aku,"


"Berarti Kakak dan kak Lenka tidak berjodoh ya!"


"Mm, dan Tuhan mengirim kamu untuk menjadi jodohku," kata Denis. Judith tersenyum mengangguk.


"Bagaimana dengan ibunya Dean, kak?" tanya Judith lagi.


"Ibunya Dean, namanya Clarissa, dia seorang wanita yang materialistis, disaat aku sudah tidak punya apa-apa, dia meminta cerai dan meninggalkan Dean bersamaku, aku menceraikannya, dan pergi ke kota ini, untuk mengurus rumah sakit Darya Medika, seperti keinginan Papa Daniel."


"Jadi rumah sakit itu milik Papa Daniel?"


"Iya, aku disuruh Papa menjalankan rumah sakit itu."


"Ha...ha..aku pikir kakak hanya seorang pegawai kantor biasa!" kata Judith tertawa.


"Bukan hanya itu Honey, Papa Gary juga mewariskan semua perusahaannya padaku, aku tidak tahu, apakah aku akan mampu menjalankannya atau tidak."


"Kamu pasti bisa Kak, aku akan mendukungmu," kata Judith tersenyum bangga. Judith benar-benar tidak menyangka, jika Denis mewarisi beberapa perusahaan besar dan juga pemilik rumah sakit Darya Madika Bali.


"Apakah kamu ingin kita pindah kerumah yang lebih besar sayang!" bisik Denis.


"Tidak kak, aku merasa nyaman di rumah ini.".


"Baguslah, tapi aku ingin membeli rumah yang besar kita semua, kamu tidak perlu bekerja, menyapu, membersihkan rumah. Kita akan mencari Asisten rumah tangga untuk mengurus semua keperluan kita. Kamu akan menjadi Ratu di rumah tangga kita sayang?"

__ADS_1


"Terimakasih Kak, aku merasa tersanjung," ungkap Judith memandang Denis dengan senyum.


Bersambung.


__ADS_2