
Lenka melangkahkan kakinya di gerbang kampus Melbourne University. Hari ini, dia mulai tercatat menjadi salah seorang mahasiswa di kampus itu, dengan mengambil program studi kedokteran.
Dia akan mengajukan kuliah online, hingga bayi dalam kandungannya lahir. Sekarang usia kandungan Lenka berjalan 34 Minggu. Itu artinya 3 Minggu lagi, Lenka akan melahirkan bayinya.
Bibi Julia dan putranya Jovan sibuk mempersiapkan semua kebutuhan Lenka untuk melahirkan. Mereka juga telah membooking tempat untuk Lenka melahirkan di sebuah rumah sakit.
"Lenka kamu mau kamarmu di ganti warna cat nya," tanya bibi Julia yang tampak bersemangat menyambut hari kelahiran Lenka.
"Tidak usah, Bi....itu saja sudah cukup!" kata Lenka
"Memangnya bayimu laki-laki atau perempuan Val?" tanya Jovan, putra bibi Julia satu-satunya. Cowok berparas bule itu lebih suka memanggil Lenka dengan nama awalnya Valen.
"Menurut USG laki-laki," kata Lenka.
"Aku suka kalau anakmu laki-laki, aku jadi punya teman untuk bermain bola!" tutur Jovan.
Jovan adalah sepupu Lenka satu-satunya, mereka tumbuh bersama sedari kecil, usia mereka hanya terpaut beberapa hari. Jovan memiliki wajah bule dan berkulit putih, berambut kecoklatan, turunan dari ayahnya. Ayah Jovan adalah orang Australia asli, bernama Jhoni Richardson. Ayah Jovan memiliki usaha Restoran dan cafe, di tanah milik orang tuanya.
"Mami maunya perempuan, Jovan, jadi ada yang menemani Mami di rumah memasak," kata Bibi Julia.
"Ih Mami...nggak kreatif banget sih, kenapa Mami tidak hamil saja lagi, biar aku punya adik perempuan," protes Jovan.
"Soalnya Mami susah dapet anak, buat dapetin kamu saja, mami nungguin selama 5 tahun," celetuk Bibi Julia
Lenka hanya tersenyum mendengar bibi Julia dan Jovan sepupunya memperdebatkan calon bayinya.
"Emang susah kalau jadi anak tunggal," keluh Jovan.
"Susah apanya?" Lenka mengernyitkan keningnya.
"Susah, kemana-mana sendiri, jauh dikit nggak boleh, pulang lama, ditanyain," ujar Jovan kesal.
"Nggak boleh gitu dong, Van, Bibi Julia pasti tidak ingin anaknya kenapa-kenapa," kata Lenka.
"Betul Lenka, Bibi tidak mau, Jovan bergaul dengan teman-teman dari geng motor itu," sahut Julia.
"Kamu ikut-ikutan geng motor, Van?" tanya Lenka.
"Ya, tapi geng motor ini, bukan geng yang brutal kayak di TV itu, tapi geng motor Harley, banyak mengadakan aksi sosial." jawab Jovan.
"Kalau itu sih, nggak masalah Bi!" bela Lenka.
"Iya sih, tapi Jovan kalau sudah berada di markas geng motornya, lupa pulang," kata Bibi Julia.
"Mami aku habis kuliah kan, mampir dulu di markas, buat menyelesaikan tugas, lagian jarak dari kampus ke markas kan dekat," lagi-lagi Jovan membela diri.
"Ya sudahlah, terserah kamu saja, sekarang ada Lenka menemani Mami di rumah," kata Bibi Julia akhirnya mengalah.
"Nah gitu dong, Mam, thanks ya Val, " Kata Jovan. "Ngomong-ngomong, cowok yang bikin kamu hamil tidak mau tanggung jawab ya!" tanya Jovan.
"Bukannya tidak mau, Van, tapi aku nggak pernah ngasih tahu dia, kalau gue hamil," kata Lenka sedih.
"Kenapa?" tanya Jovan bingung, "Sementara setiap wanita yang hamil, pasti menuntut kekasihnya untuk bertanggung jawab, tapi kok...?"
"Aku nggak mau impianku hancur dan Zeehan akan kehilangan beasiswanya jika dia harus menikahi aku," jawab Lenka jujur.
"Memangnya, Zeehan itu kuliah dimana?" tanya Jovan lagi.
"Dia mendapat beasiswa penuh di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia,"
"Pintar juga dia," puji Jovan.
"Ya, dia juga seorang pekerja keras, dari kecil dia sudah terbiasa hidup susah, tanpa ayah yang menafkahi keluarganya, Zeehan harus membiayai ibunya dan dirinya sendiri,"
"Apa yang bisa dia lakukan?" tanya Mami Julia ikut nimbrung pembicaraan keduanya.
"Pulang sekolah, dia bekerja di perkebunan, malam hari dia melaut untuk mencari ikan, dan paginya dia akan menjualnya di tempat pelelangan ikan." terang Lenka.
"Kalau Bibi jadi kamu, bibi juga tidak mau hidup susah seperti itu, Lenka, hidup ini harus realistis, kita tidak bisa hanya mengandalkan cinta untuk bisa bahagia, kita semua butuh uang, untuk mencukupi kebutuhan kita."
"Ya Bibi , tapi suatu saat, aku pasti akan memberitahu Zeehan tentang anaknya, "
"Jika dia menolak mengakui anaknya, akan ku hajar dia," kata Jovan mengepalkan tangannya.
"Terimakasih atas dukungannya Bibi, Jovan, kalian masih mau menerimaku, kalau aku Masih di Jakarta, aku pasti akan jadi bahan gunjingan orang sekampung," kata Lenka tulus.
__ADS_1
"Ya sayang, Bibi mengerti bagaimana rasanya berada di posisimu, semoga kamu akan menemukan kebahagiaan kelak," doa Bibi Julia.
"Aamiin,"
********
Sementara itu, di kota Metropolitan Jakarta, Zeehan mulai kuliah di Fakultas Kedokteran UI, dia memilih untuk tinggal di rumah kos, agar dia bisa kuliah sambil bekerja.
Berkat kegigihannya, Zeehan di terima bekerja paruh waktu di sebuah cafe. Dan Zeehan bekerja setelah pulang kuliah hingga malam hari.
Dengan kesibukannya di cafe, Zeehan bisa sedikit melupakan kegundahan hatinya setelah kepergian Lenka.
Pemilik cafe Nirwana itu adalah seorang pria paruh baya, bernama Alfred. Dia menyukai cara Zeehan bekerja dan ketekunannya.
"Zeehan, ini gajimu bulan ini, aku suka dengan anak muda pekerja keras sepertimu," kata Bang Alfred, Zeehan biasa memanggil namanya.
"Terima kasih Bang, aku akan mengirimnya untuk ibuku sebagian," kata Zeehan.
"Kamu benar-benar anak yang berbakti, Zeehan, aku salut padamu!" puji Pria itu sambil menepuk pundak Zeehan dengan pelan.
Setelah cafe tutup pukul 02.00 dinihari, barulah Zeehan kembali ke tempat kos nya, yang terletak tidak jauh dari kampusnya.
Zeehan merebahkan tubuhnya di atas kasur lajang miliknya. Dia hanya sendiri di kamar itu, karena ruangannya kecil, hanya muat untuk dirinya sendiri. Dan Zeehan mendapat harga yang murah dari pada kamar yang lain.
Zeehan memejamkan matanya sejenak, tubuhnya merasa lelah. Hanya beberapa menit, tiba-tiba dia tersentak dari tidurnya, Zeehan membuka matanya, dan mengatur nafasnya yang terasa sesak.
Pelan-pelan, Zeehan menarik nafas melalui hidung dan menghembuskan lewat mulut perlahan-lahan. Sayup-sayup dia mendengar suara bayi baru lahir menangis.
Zeehan menggelengkan kepalanya, saat kesadarannya pulih, suara tangisan itu menghilang.
"Apa kak Sherly mau melahirkan ya? Eh...tapi kak Sherly sudah melahirkan sebulan yang lalu," batin Zeehan.
Zeehan kembali memejamkan matanya, kali ini dia melihat seorang anak laki-laki berlari kearahnya.
"Papa...!' teriak anak itu memeluk kaki Zeehan erat.
"Siapa namamu, nak?" Zeehan memandang wajah kecil itu samar.
"Namaku...!" tiba-tiba bayangan anak laki-laki kecil itu menghilang, saat seseorang mengetuk pintu kamar kosnya.
"Zeehan....!" suara temannya Aldo terdengar nyaring. "Zeehan, Lo kuliah nggak hari ini, udah siang nih," ulang Aldo membangunkan Zeehan.
"Ya, bentar Do! Gue mau mandi dulu, kalau Lo mau duluan nggak pa-pa," kata Zeehan membuka pintu kamarnya dengan matanya yang masih berat.
"Oh ya udah, udah hampir jam 9, gue takut telat, gue duluan ya Han,' kata Aldo segera berlari ke arah kampusnya yang berjarak hanya beberapa meter dari tempat kos mereka.
"Lenka, apakah kau menyembunyikan sesuatu dariku, hingga kau pergi tanpa pamit padaku," batin Zeehan. Hatinya kacau, apabila dia mengingat Lenka.
Zeehan segera mandi dan berpakaian rapi untuk segera menuju kampus tempat dia menuntut ilmu.
*******
Lenka melahirkan seorang bayi laki-laki, tepat di awal bulan Oktober. Seorang bayi laki-laki tampan, memiliki kulit sedikit gelap seperti ayahnya, Zeehan. Namun wajahnya tampan dan menggemaskan.
Mama Rekha datang dari dari Jakarta untuk menemaninya selama Lenka di masa pemulihan.
"Cucu Oma, tampan sekali, namanya siapa ya?" tanya Mama Rekha mengendong bayi mungil itu dalam pelukannya.
"Aku akan memberinya nama Kenzio, Ma!" jawab Lenka.
"Kenzio? Nama yang bagus,"
"Kenzio Zeehan Aryadinata," gumam Lenka.
"Aryadinata?perasaan mama pernah mendengar nama itu, tapi dimana ya?" gumam Mama Rekha.
"Itu nama belakang Zeehan, Ma."
"Oh,"
"Kamu tidak mau memberitahu ayahnya kalau kamu sudah melahirkan Val?" tanya Zeehan.
"Tidak sekarang, Jovan,"jawab Lenka lirih
*******
__ADS_1
Sementara itu, di kota Metropolitan Jakarta, Zeehan mulai kuliah di Fakultas Kedokteran UI, dia memilih untuk tinggal di rumah kos, agar dia bisa kuliah sambil bekerja.
Berkat kegigihannya, Zeehan di terima bekerja paruh waktu di sebuah cafe. Dan Zeehan bekerja setelah pulang kuliah hingga malam hari.
Dengan kesibukannya di cafe, Zeehan bisa sedikit melupakan kegundahan hatinya setelah kepergian Lenka.
Pemilik cafe Nirwana itu adalah seorang pria paruh baya, bernama Alfred. Dia menyukai cara Zeehan bekerja dan ketekunannya.
"Zeehan, ini gajimu bulan ini, aku suka dengan anak muda pekerja keras sepertimu," kata Bang Alfred, Zeehan biasa memanggil namanya.
"Terima kasih Bang, aku akan mengirimnya untuk ibuku sebagian," kata Zeehan.
"Kamu benar-benar anak yang berbakti, Zeehan, aku salut padamu!" puji Pria itu sambil menepuk pundak Zeehan dengan pelan.
Setelah cafe tutup pukul 02.00 dinihari, barulah Zeehan kembali ke tempat kos nya, yang terletak tidak jauh dari kampusnya.
Zeehan merebahkan tubuhnya di atas kasur lajang miliknya. Dia hanya sendiri di kamar itu, karena ruangannya kecil, hanya muat untuk dirinya sendiri. Dan Zeehan mendapat harga yang murah dari pada kamar yang lain.
Zeehan memejamkan matanya sejenak, tubuhnya merasa lelah. Hanya beberapa menit, tiba-tiba dia tersentak dari tidurnya, Zeehan membuka matanya, dan mengatur nafasnya yang terasa sesak.
Pelan-pelan, Zeehan menarik nafas melalui hidung dan menghembuskan lewat mulut perlahan-lahan. Sayup-sayup dia mendengar suara bayi baru lahir menangis.
Zeehan menggelengkan kepalanya, saat kesadarannya pulih, suara tangisan itu menghilang.
"Apa kak Sherly mau melahirkan ya? Eh...tapi kak Sherly sudah melahirkan sebulan yang lalu," batin Zeehan.
Zeehan kembali memejamkan matanya, kali ini dia melihat seorang anak laki-laki berlari kearahnya.
"Papa...!' teriak anak itu memeluk kaki Zeehan erat.
"Siapa namamu, nak?" Zeehan memandang wajah kecil itu samar.
"Namaku...!" tiba-tiba bayangan anak laki-laki kecil itu menghilang, saat seseorang mengetuk pintu kamar kosnya.
"Zeehan....!" suara temannya Aldo terdengar nyaring. "Zeehan, Lo kuliah nggak hari ini, udah siang nih," ulang Aldo membangunkan Zeehan.
"Ya, bentar Do! Gue mau mandi dulu, kalau Lo mau duluan nggak pa-pa," kata Zeehan membuka pintu kamarnya dengan matanya yang masih berat.
"Oh ya udah, udah hampir jam 9, gue takut telat, gue duluan ya Han,' kata Aldo segera berlari ke arah kampusnya yang berjarak hanya beberapa meter dari tempat kos mereka.
"Lenka, apakah kau menyembunyikan sesuatu dariku, hingga kau pergi tanpa pamit padaku," batin Zeehan. Hatinya kacau, apabila dia mengingat Lenka.
Zeehan segera mandi dan berpakaian rapi untuk segera menuju kampus tempat dia menuntut ilmu.
*******
Sementara itu di kamar kosnya di Jakarta, Pria muda itu tersedak saat sedang menikmati makan siangnya.
"Kenapa Lo, Han?" tanya Aldo, teman kos disebelahnya.
"Nggak tau gue, Do! Tiba-tiba gue tersedak gini, "
"Ada yang ngomongin Lo kali,"
"Kali aja, mungkin ibu gue," Zeehan meneguk segelas air putih, agar tenggorokannya tidak serak.
Malam itu, Zeehan tidak pergi ke Cafe untuk bekerja, karena merasa kurang enak badan. Dia merasa tubuhnya sangat lemah. Setelah meminum obat penurun panas, Zeehan meringkuk dalam selimut.
Dalam tidurnya, Zeehan kembali melihat anak kecil yang berjalan dengan tertatih-tatih, sambil tertawa riang dan memanggilnya Papa.
Zeehan berlutut di depan anak kecil itu dan memegang wajah yang begitu mirip dengannya.
"Siapa namamu, nak!" Anak itu tidak menjawab, dia hanya tersenyum lugu.
"Zio, kemari sayang, mainnya jangan jauh-jauh!" teriak seorang wanita yang mengejarnya dari belakang.
"Lenka??" Zeehan kaget saat wanita itu mendekat dan mengambil anak itu dari pegangannya. Namun bayangan itu segera menjauh dan menghilang sekejap mata.
"Lenka...!" teriak Zeehan, namun suaranya tertahan di kerongkongan.
Zeehan terbangun dengan nafas tersengal.
"Hah, kenapa aku memimpikan anak itu lagi," Zeehan mengusap wajahnya. "Dan kenapa aku memimpikan Lenka juga? Padahal sebelumnya aku tidak pernah memimpikannya." Zeehan bicara sendiri.
"Lenka, dimana pun kamu berada sekarang, semoga kamu baik-baik saja," doa Zeehan tulus.
__ADS_1
Bersambung
"