TAK SANGGUP MELUPAKANMU

TAK SANGGUP MELUPAKANMU
KEDATANGAN SHERLY


__ADS_3

Setelah mendapatkan apa yang dia inginkan, Denis kembali pulang ke rumah mama Maria.


Dia masuk ke kamar dan mengunci diri disana. Maria membiarkan putranya itu sendiri hingga keesokan harinya.


"Mama, aku akan menerima tawaran Papa untuk berangkat ke Bali," kata Denis saat sarapan pagi itu.


"Baguslah, Mama yakin kamu bisa menjalankan tugasmu di Rumah sakit itu, Denis, karena pada dasarnya kamu itu pintar," kata Maria.


"Aku akan berusaha, Ma! Aku akan buktikan pada pak tua itu, kalau aku bisa seperti Zeehan."


"Baguslah, sekarang kamu kembalilah pada Clarissa, kasihan anakmu, Denis. Jangan sampai dia mengalami apa yang terjadi denganmu, karena memiliki ayah yang tidak bertanggung-jawab," ujar Mama Maria sedih.


"Ma, ceritakan tentang Ayah kandungku," pinta Denis. Wajahnya tampak tegang, namun berharap, Maria mau menceritakannya.


Maria menarik nafas perlahan, dengan suara serak, Maria mulai menceritakan tentang ayah kandung Denis. Denis menyimak dengan seksama


"Namanya Gery Hermawan, dia kekasih mama saat kuliah. Dia juga temannya Papamu Daniel. Gery adalah putra seorang pejabat daerah, dia seorang Playboy, mama tahu itu, tapi mama sudah jatuh cinta padanya, dan kami pacaran. Tapi saat mama hamil, dia tidak mau bertanggungjawab, dan pergi keluar negeri." Mama Maria diam sejenak, sambil sekali-sekali mengusap air matanya.


"Mama terpaksa menjebak Daniel, karena saat itu orang tua Daniel menjodohkan Daniel dengan mama. Mereka membawa paksa Papamu kembali ke Jakarta, yang ternyata sudah menikah dengan ibunya Zeehan di pulau Sumbawa," jelas Bu Maria.


"Terus, kenapa Papa Daniel mau saja menerima Mama?" tanya Denis.


"Karena Mama bilang, mama hamil anaknya, Orang tuanya mengancam akan menghancurkan Ratna dan anaknya, jika papamu masih tinggal bersama istrinya di Pulau Sumbawa itu,"


"Apakah mama tahu, dimana pria bernama Gery itu sekarang?"


"Entahlah,.mama tidak pernah mencarinya,"


Maria menghela nafas sejenak, "Maafkan Mama, Denis!" kata Mama Maria menundukkan wajahnya dalam-dalam.


"Semua semua sudah berlalu Ma, andai saja waktu bisa di putar kembali, Mama juga tidak ingin semua ini terjadi, bukan?"


"Mama merasa bersalah pada Zeehan dan ibunya, apalagi setelah Zeehan dengan mudah memaafkan Mama, bahkan berjanji akan menganggap Mama sebagai ibunya, dan meminta Mama kembali pada Papa Daniel." lirih Maria.


Denis memeluk ibunya erat, "Denis juga minta maaf sudah sering membuat Mama kecewa dan terluka, Denis berjanji akan berubah menjadi lebih baik dan membanggakan mama," janji Denis.


"Ya, mama akan selalu mendoakan yang terbaik untuk Denis, cobalah untuk menyayangi Clarissa dan berhentilah untuk bermain perempuan," nasehat Mama Maria.


"Denis akan mencobanya, Ma!" janji Denis.


Maria menatap putranya dengan lembut, matanya berbinar setelah Denis berjanji untuk tidak mengecewakannya.


"Mama mau kembali pada Papa?" tanya Denis. Maria mengangguk.


"Ya, Zeehan berjanji akan meminta Papamu untuk tidak menceraikan mama."


"Ku harap anak itu menepati janjinya."


"Kapan kamu akan berangkat ke Bali, Denis?" tanya Mama Maria. Sembari membereskan meja makan setelah mereka menyelesaikan sarapan pagi.


"Mungkin Senin depan, Ma!"


Selesai sarapan, Denis keluar lagi dari rumah, kali ini dia kembali ke rumah Clarissa, namun rumah itu telah kosong, tidak ada tanda-tanda kehidupan di sana.


"Kemana kamu Clarissa?" geram Denis. Pria itu mencoba menghubungi nomor telpon Clarissa, namun wanita itu telah memblokir nomornya. Akhirnya, Denis pergi dari rumah itu dengan perasaan hampa.


*******

__ADS_1


Resepsi pernikahan Zeehan dan Lenka diadakan hari Sabtu siang di sebuah restoran bintang lima. Kedua pasangan itu tampak bahagia, berdiri di atas pelaminan megah. Bersama Kenzio, Daniel Aryadinata dan ibu Maria.


Pesta itu juga di hadiri oleh teman-teman mereka dari kampung halaman Zeehan di Pulau Sumbawa. Mereka sengaja di datangkan Zeehan dengan sebuah pesawat carteran, untuk berbagi kebahagiaan bersama.


"Selamat ya Zeehan, Lenka!" Anita datang bersama Andre suaminya dan bayi kecil mereka.


"Makasih An, terimakasih sudah mau datang," kata Lenka tersenyum manis menyambut teman-teman saat masa SMA nya di Bima.


"Sama-sama, semua juga karena kalian, karena sudah mengundang kami dan memberi kami fasilitas untuk datang kemari,"


"Kalian pantas mendapatkannya, karena kalian adalah teman-teman kami yang baik," sahut Zeehan sambil memeluk pinggang Lenka erat.


Semua orang tampak berbahagia dalam acara pesta pernikahan mereka. Setelah berfoto-foto bersama. Mereka menikmati hidangan yang telah disediakan.


Menjelang sore, acara pesta itu usai, sebagian tamu sudah keluar dari ruangan pesta, sementara teman-teman Zeehan masih berada di sana.


Seorang wanita datang mengejutkan Zeehan dan semua orang di ruangan pesta, bersama seorang anak perempuannya. Yang kira-kira seumuran Kenzio.


"Kak Sherly," Zeehan membulatkan matanya tak percaya, rahangnya sekonyong-konyong mengeras. Lenka pun tidak kalah kaget, Zeehan memegang tangannya erat.


"Apa kabar Suamiku?" katanya santai, senyum manis mengembang di bibirnya yang merah merona.


"Apa maksudmu kak Sherly?" Zeehan merasa tidak nyaman dengan kehadiran wanita itu. Sementara Lenka memandangnya gelisah.


"Zeehan, apa kau lupa, bahwa kita pernah menikah dan kita belum bercerai,"kata Sherly.


"Kita menikah dengan perjanjian kontrak bukan? setelah anakmu lahir, aku sudah mengirimkan surat gugatan cerai padamu,"


"Sayang sekali, aku belum menandatangi surat cerai itu, Zeehan. Jadi statusku sekarang masih nyonya Zeehan Aryadinata."


Lenka tampak syok, dia duduk di kursi tamu sambil memegang perutnya yang terasa kram.


"Sayang, kamu baik-baik saja?"


"Aku tidak apa-apa," suara Lenka terdengar serak. Zeehan berusaha menenangkan Lenka dengan memeluknya erat.


"Kak Sherly, tolong pergilah dari sini, kita akan menyelesaikan masalah ini secepatnya."


"Kau mengusirku Zeehan, setelah apa yang keluargaku lakukan padamu dan ibumu, hingga kamu bisa berdiri disini sekarang. Jika tidak, kau mungkin hanya akan menjadi nelayan di pulau Wane selamanya," teriak Sherly.


Semua mata memandang ke arah mereka, penuh tanda tanya.


"Ada apa ini?" Pak Daniel datang menengahi keduanya. "Kamu siapa?" tanya Papanya Zeehan penasaran.


"Saya Sherly Om, saya istrinya Zeehan, kami sudah menikah 8 tahun yang lalu," kata Sherly tanpa rasa bersalah.


"Baiklah, sekarang kita pulang dulu, kita bicarakan semua ini dirumah baik-baik," kata Daniel menenangkan Sherly.


"Apa yang kamu inginkan, Sherly_uang?" Zeehan tampak marah.


"Aku hanya butuh pengakuan Zeehan, bahwa aku masih istrimu dan Zhia adalah putrimu," kata Sherly menatap Zeehan lekat. Zeehan memandang ibu dan anak itu bergantian.


"Sudahlah, Nak! Mari kita pulang, kita selesaikan semua ini di rumah," kata Daniel bijak.


Zeehan membantu Lenka untuk berdiri dari tempat duduknya dan menuntunnya keluar ruangan pesta. Wajahnya tampak tegang. Sementara Kenzio mengikutinya dari belakang. Anak itu hanya diam meski dia bisa memahami apa yang terjadi pada orangtuanya.


"Pa, aku akan mengantar Lenka dan Kenzio pulang ke rumah dulu," kata Zeehan pada papanya.

__ADS_1


"Ya, pergilah! ... Sherly, kamu ikut saya ke rumah," kata Pak Daniel mengajak Sherly mengikutinya keluar hotel dan masuk ke mobilnya bersama Ibu Maria.


"Sayang, apa kita perlu ke rumah sakit?" kata Zeehan melihat Lenka yang meringis memegang perutnya, yang sudah membesar.


"Tidak perlu, Han, obatku ada di rumah," Zeehan menatap Lenka cemas, dia mengusap perut Lenka dengan sebelah tangannya.


Zeehan memacu mobilnya agar cepat sampai di rumah. Dia mengkhawatirkan keadaan emosional Lenka. Sesampainya di rumah, Zeehan membawa Lenka ke kamarnya, dan membaringkan Lenka ditempat tidur, setelah sebelumnya membantu mengganti pakaian pengantin Lenka.


"Maafkan aku, Sayang! Aku tidak menyangka, kak Sherly akan datang mengganggu pernikahan kita,"


Lenka hanya diam, memandang kosong ke arah jendela.


"Sayang, jawab aku! jangan diam seperti ini," Zeehan menggenggam kedua tangan Lenka dengan lembut.


"Aku tidak tahu harus berkata apa, Zeehan!"


"Setidaknya beri aku kekuatan menghadapi masalah ini, cukup dengan dukunganmu, aku akan menghadapi wanita itu," kata Zeehan wajah tegang. Zeehan menunggu reaksi Lenka, dia tahu istrinya itu sekarang sedang terluka, namun Lenka menyembunyikannya.


"Aku akan mendukungmu, aku percaya padamu," kata Lenka kemudian, Zeehan tersenyum lega.


"Terimakasih sayang," Zeehan ikut berbaring di sisi Lenka dan memeluknya erat. Menciumi wajah cantik itu dan membelai perut Lenka lembut.


Lenka memejamkan matanya sejenak, hatinya begitu tenang, merasakan lembutnya belaian tangan Zeehan di perut buncitnya. Jabang bayi dalam perutnya bergerak aktif, memberikan respon. Seolah ingin menguatkan kedua orang tuanya. Lenka tersenyum bahagia.


"Sayang, dia bergerak_aku bisa merasakannya," ucap Zeehan sumringah. Sejenak dia melupakan tentang masalahnya.


"Sayang, bagaimana kalau kita pulang ke kampung ku, aku akan memperlihatkan rumah pohon kita pada Kenzio." kata Zeehan, sembari duduk bersandar di kepala ranjang dan mengangkat tubuh Lenka agar berbaring di pangkuannya.


"lalu, bagaimana dengan masalah kita dengan kak Sherly,"


"Aku akan menghubungi pengacaraku yang dulu mengurus surat perceraian ku dan Sherly, aku merasa ada yang janggal, kenapa dia baru datang sekarang, bukan sejak dulu, ketika kita belum menikah, kurasa ada yang menghasut kak Sherly," gumam Zeehan.


"Baiklah, kita pergi sekalian bulan madu, kan?" kata Lenka tersenyum.


"Mm, boleh juga, kita akan bermalam di rumah pohon, aku sudah merenovasinya dan memberinya penerangan."


"Aku sudah tidak sabar untuk berada disana, dan membuka kotak rahasia kita,"


"Sayang, maaf ya! Aku sudah membukanya," Zeehan menatap Lenka dengan wajah memelas.


"Kapan?"


"Beberapa bulan yang lalu, dari situ aku tahu, kalau kamu pergi dengan membawa rahasia kehamilanmu," ucap Zeehan.


"Maaf, saat itu aku hanya ingin, kamu bisa melanjutkan studimu, karena jika kita menikah saat itu, kita akan selamanya berada di desa, dan kehilangan masa depan kita," ungkap Lenka.


"Tapi, aku merasa, kamu pasti kesulitan merawat kehamilanmu seorang diri."


"Tidak juga, karena ada bibi Julia dan Jovan yang mendukungku,"


"Aku cemburu pada mereka," kata Zeehan tersenyum lebar.


"Aku mencintaimu, Zeehan!" Lenka mendongak meraba wajah tampan itu.


"Aku lebih mencintaimu, Sayang_ terimakasih, aku berjanji akan selalu membahagiakanmu." Zeehan menciumi wajah Lenka dengan lembut, mengabaikan masalah yang datang menimpa mereka saat ini.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2