TAK SANGGUP MELUPAKANMU

TAK SANGGUP MELUPAKANMU
TAK SANGGUP MELUPAKANMU


__ADS_3

Seperti janjinya malam itu, pagi-pagi sekali Zeehan bersiap untuk keluar rumah.


"Mau kemana, sayang?" Katrine menatap Zeehan heran.


"Aku mau berolah raga disekitar komplek Katrine, kau mau ikut?"


"Tidak, aku sedang menstruasi,"


"Oh ya baiklah, aku pergi dulu!" Zeehan tahu, Katrine tidak akan keluar dari rumah, jika dia sedang kedatangan tamu bulanannya. Jadi kali ini zeehan merasa aman.


"Hati-hati sayang!" Seru Katrine melambaikan tangannya saat Zeehan sudah berada di pintu gerbang.


LENKA pura-pura tidak melihat kepergian Zeehan. Dia sibuk menyiapkan bekal untuk sekolah Kenzio dan Zevanina.


"Ma, aku berangkat ya! Mungkin aku agak lama, soalnya ada acara orang tua di sekolah Zee! Lenka titip Samudera ya," Pamit lenka, pada mama Maria.


"Oh ya! Hati-hati sayang!"


"Kenzio pamit ya Oma!" Zio dan Zee bergantian menyalami omanya.


"Aunty,kami berangkat ya!" Kedua anak itu menyalami Katrine dengan hormat. Wanita itu tersenyum.


Lenka pun tersenyum pada Katrine, tanpa bicara.


Lenka menyetir mobilnya sendiri, setelah mengantar Kenzio ke sekolah. Lenka mampir ke rumah yang pernah dia tempati dengan Zeehan sebelum Zeehan kecelakaan dan menghilang.


Lenka tersenyum, saat melihat Zeehan sudah berada di dalam rumah. Pria itu menatap sekeliling isi rumahnya.


Dia mengambil sebuah foto dirinya dan lenka dengan seragam SMA, yang terletak di atas meja pajangan.


"Itu foto saat pertama kali kita bertemu!" Kata Lenka. Zeehan menoleh kearah Lenka yang baru saja datang.


"Aku ingat!"


"Benarkah!?" Lenka tidak dapat menyembunyikan rasa senangnya. Dia memeluk Zeehan dari belakang.


Zeehan membalikkan tubuhnya, menghadap kearah Lenka. "Ingatanku mungkin belum sepenuhnya pulih, tapi hatiku tidak bisa berbohong, di hatiku masih ada namamu, Valencia Kaynara."


"Zeehan, jangan tinggalkan aku lagi, aku tidak sanggup bila harus melupakanmu."


"Aku juga tidak sanggup melupakanmu, Lenka, aku masih mencintaimu,"


Lenka tersenyum haru, dia menyandarkan tubuhnya dalam pelukan suami yang begitu dia rindukan.


"Aku merindukanmu, Zeehan,"


"Ayo kita ke kamar!" Ajak Zeehan, menarik tangan Lenka menaiki tangga ke lantai atas.


"Kau masih mengingat kamar kita?" tanya Lenka heran.


"Tentu saja, sayang! Aku ingat, rumah ini aku yang mendesignnya."


Lenka tersenyum, Zeehan membuka pintu kamar mereka perlahan. Lenka kaget melihat tempat tidur mereka yang bertabur kelopak bunga mawar.


"Sayang! Kapan kamu mengerjakan semua ini?" Lenka tampak sumringah.


"Pagi-pagi aku sudah berada disini, Pak Setyo membantuku mencarikan bunga mawar, dan mendekorasi kamar kita."


"Kita seperti pengantin baru!"


"Mm, kamu suka?"


"Sangat suka!" Lenka duduk diatas tempat tidur di ikuti Zeehan yang memeluknya erat.


Sebuah ciuman yang lembut mendarat di bibir Lenka yang merekah. ******* bibir itu dan menggigitnya kecil. Lenka tersenyum membalas ciuman itu.

__ADS_1


*Aku merindukanmu, Sayang!" Bisik Lenka.


"Aku juga merindukanmu, I love you!" Keduanya saling mengungkapkan perasaan masing-masing. Perasaan cinta dan rindu yang telah lama mereka pendam.


"Sayang!" Lenka mendesah manja, saat jari jemari Zeehan telah melepaskan seluruh kancing kemeja lenka. Tangan dingin itu mulai bergerilya menyusuri setiap lekuk tubuh istrinya.


"Kamu kurus sekarang, Sayang?" Bisik Zeehan.


"Karena aku tidak bisa berhenti memikirkan suamiku yang hilang dalam waktu yang lama,..." Lenka


"Maaf!" Bisik Zeehan di tengkuk lenka, wanita itu merinding.


"Mm," lenka memejamkan matanya saat, wajah Zeehan berada di dadanya. Lenka tidak dapat lagi mengendalikan dirinya. Sudah lama dia tidak mendapatkan sentuhan dari suaminya. Dia mulai bergerak liar, mengimbangi permainan ranjang Zeehan yang seolah tidak ada puasnya.


Cukup lama mereka bercinta, dalam berbagai posisi dan gaya. Hingga keduanya terhempas kelelahan dan saling berpelukan.


"Sayang, aku harap dalam rahimmu, tumbuh benih cinta yang disemaikan hari ini," ucap Zeehan sambil mengusap perut Lenka yang datar.


"Kamu akan mendapatkannya," Lenka tersenyum. Menyandarkan tubuh polosnya nya dalam pelukan Zeehan.


Sementara itu di rumah utama, Katrine tampak khawatir karena Zeehan belum juga pulang. Sudah hampir setengah hari, pria itu meninggalkan rumah.


"Ada apa, Katrine?" Mama Maria melihat wanita itu mondar-mandir dengan gelisah.


"Ma, kenapa Zeehan belum pulang juga?"


"Mungkin dia mampir di suatu tempat," kata Mama Maria.


"Hah, aku takut terjadi apa-apa padanya, Mama,"


"Dia akan baik-baik saja, percayalah." mama Maria menenangkan Katrine.


Setelah dari rumah mereka, Zeehan dan Lenka menghadiri acara untuk orang tua wali murid di sekolah Zio dan Zee.


Keduanya duduk di barisan paling depan, meyaksikan acara demi acara yang menampilkan bakat putra-putri di sekolah internasional itu.


Lagu ini, Kenzio persembahkan untuk Papa tercinta, Semoga Tuhan mengembalikan Papa seperti dulu lagi. Dan mama yang luar biasa, Zio sayang sama mama dan Papa,"


Kenzio membawakan sebuah lagu berjudul Ayah Ibu, dengan penuh penghayatan, semua yang menyaksikan menitikkan air mata penuh haru.


Zeehan memejamkan matanya sejenak, mengingat putra kecilnya yang telah tumbuh remaja. Zeehan naik keatas panggung dan memeluk Putranya erat.


"Kenzio, Papa juga sayang sama Zio nak,"


"Papa sudah ingat padaku!"


"Papa tidak akan pernah bisa melupakan putra kecil Papa yang luar biasa."


"Terimakasih Tuhan, Tuhan telah mengabulkan doa-doa Zio!"


Lenka tersenyum haru menyaksikan kedua laki-laki yang dicintainya itu saling berpelukan. Tepuk tangan meriah mengiringi keduanya saat turun dari atas panggung.


******


Menjelang malam mereka kembali ke rumah utama. Di sambut tatapan sinis Katrine dari lantai atas. Wajahnya cemberut saat Zeehan masuk ke kamarnya.


"Kenapa harus membohongiku, Gerald! Kau bilang kau pergi berolah raga, tapi kau baru kembali sekarang!" Omel Katrine.


"Maaf Katrine, aku terpaksa, karena kamu tidak pernah memberi aku waktu untuk bisa berkumpul bersama istri dan anak-anakku, Mereka membutuhkan aku,"


"Oh, jadi ingatanmu sudah kembali?" Katrine tampak kecewa.


Zeehan hanya diam, dia masih belum bisa mengingat seluruhnya, tapi dia berusaha untuk membuat Katrine percaya.


"Kalau begitu, aku akan kembali ke Australia, Gerald, aku akan menunggu surat cerai darimu,"

__ADS_1


"Katrine, maafkan aku!" Ucap Zeehan tulus.


"Ya, kau benar! Setiap anak membutuhkan kasih sayang seorang ayah, begitu juga anak-anakmu," kata Katrine akhirnya.


"Aku telah banyak berhutang budi padamu, Katrine, aku tidak akan melupakan semua itu. Terimakasih untuk semuanya."


"Aku tahu, kau menikahi ku hanya karena balas budi, hutang nyawa. Tidak ada cinta," Katrine berdiri menghadap keluar jendela.


Hatinya penuh dengan rasa kecewa.


"Aku akan mengantarmu ke bandara besok!" Kata Zeehan.


"Aku bisa pulang sendiri!" Kata Katrine ketus.


"Baiklah, terserah padamu saja!" Zeehan keluar dari kamar Katrine dan masuk ke kamar Lenka.


"Sayang, kau sudah bicara dengan Katrine?" Sambut lenka saat sang suami menghampirinya.


"Ya, dia akan kembali ke Australia, besok,!"


"Apakah dia marah?"


"Tidak, hanya kesal, dia tidak berhak marah padamu Sayang!"


"Kamu tidak menyakitinya Kan?" Lenka mengawatirkan keadaan Katrine.


"Sayang, jangan pikirkan dia!"


"Aku akan menemuinya!" Kata Lenka.


Zeehan mengangguk. Dan mengambil Samudera dari tangan Lenka.


"Sayang, anak papa sudah besar," Zeehan mengangkat tubuh mungil itu ke udara.


Samudera tertawa riang.


*****


Lenka masuk kedalam kamar Katrine. Wanita itu sedang mengemasi pakaiannya ke dalam koper.


"Katrine, atas nama keluarga besar Zeehan, kami mengucapkan terimakasih banyak karena kamu telah menyelamatkan Zeehan, dan merawatnya selama ini," ucap Lenka tulus.


"Tidak perlu berbasa-basi Valencia, kau senang sekarang?" Ucap Katrine ketus.


"Tentu saja aku bahagia, Katrine. Istri mana yang tidak bahagia melihat suaminya kembali setelah menghilang selama dua tahun." Lenka mendekap kedua tangannya di dada.


Katrine hanya mendengus kesal, seandainya saja dia bisa memiliki anak dari Zeehan, pria itu pasti akan mempertahankan dirinya untuk tetap berada disampingnya.


"Maaf Katrine, sepertinya kamu tidak senang melihat ingatan Zeehan kembali, atau selama ini kamu sengaja, agar dia tidak mampu mengingat dirinya."


Katrine menatap Lenka tajam. "Kau pikir aku sepicik itu?"


"Aku hanya menduga, sebagai sesama dokter, aku tahu obat apa yang selama ini kau berikan padanya, dan aku punya buktinya, aku bisa saja menuntutmu katrine, tapi aku tidak akan melakukannya karena kau telah menyelamatkan SUAMIKU," Lenka menekankan.


"Kau mengancam ku?"


"Tentu saja tidak." Lenka duduk disisi ranjang di kamar tamu.


"Aku akan pergi Valencia, biar kau puas!"


"Memang begitulah yang seharusnya, karena aku tidak bisa berbagi suami denganmu," Lenka tersenyum lebar.


"Pengacara kami akan mengurus surat perceraian mu dengan Suamiku, Katrine! Sebagai tanda terimakasih, kami menghadiahkan rumah sakit Medical Darya di Melbourne untuk menjadi milikmu."


Katrine tidak menjawab. Dia menutup kopernya dengan kasar. Tidak ada lagi yang bisa dia lakukan untuk bertahan di rumah itu. Zeehan pun tidak pernah mencintainya. Bahkan setiap kali mereka bercinta, Zeehan hanya menyebut nama istrinya.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2