
Beberapa puluh menit kemudian Rumi keluar mengenakan pakaian yang di ambilnya tadi dengan sebuah handuk putih bertengger manis di pundak kanannya. Ia sekarang merasa sangat segar sampai melupakan kawannya ternyata sudah lama menunggunya "Kau kok lama banget sih!!" ucap Elina terdengar merajuk.
Menyadari kesalahannya, Rumi meminta maaf. Dan gantian sekarang Elina yang menggunakan kamar mandi. Ia mendekati handphonenya yang sedang mengisi baterai di atas meja belajar. Ingin melihat jam berapa sekarang.
19:02.
Entah berapa lama ia ber-disko di kamar mandi, intinya selama itu pula hari telah berganti. Ia menggantung handuknya di pintu lemari dan berjalan menuju rak sepatu "Elina, aku keluar sebentar mau beli makanan. Nanti aku beliin kau juga" sepatu sport kesayangannya telah terpasang di kedua kakinya
Suara gema tanpa wujud muncul "Jangan, nanti aku mie saja".
__ADS_1
"Apa sih. Gak mual apa makan mie?. Udah kau jaga kamar, biar aku yang pergi beli. Bye" Rumi turun dari kamarnya menuju pintu gerbang sekolah, selanjutnya izin pada satpam yang berjaga disana. Suasana di sekolah terasa begitu hening, tak ada murid yang keluar selain dirinya. Suhu tubuhnya menjadi lebih dingin karena ia baru selesai mandi.
Berselang beberapa waktu. Rumi membeli dua kotak nasi "Yey nasi Padang" dia menatap kantung belanjaannya dengan mata berseri-seri.
Rumi dengan perasaan senang berjalan pulang melewati trotoar sambil menatap bintang di langit sesekali ia bersenandung pelan. Saat ia melewati lorong yang berada di sela-sela bangunan. Samar-samar terdengar suara pukulan. Rumi yang anaknya suka sekali berkelahi kepo apa yang terjadi. Tatapannya tertuju pada gang kecil yang merupakan sumber asal suara. Dengan penerangan minim dan redup, ia menyusuri lorong.
Dan betul dugaannya, di sana ada seorang lelaki memakai baju serba hitam sedang memukuli cowok berkaus putih menggunakan balok kayu panjang. Cowok itu sudah lemas tergeletak di tanah, baju putihnya bahkan berubah menjadi merah karena darah yang terus mengalir dari kepalanya. Tapi lelaki itu tak menghentikan aksinya meski melihat cowok itu berdarah-darah.
Rumi mendekati cowok yang sudah babak belur itu. Untungnya cowok itu tak pingsan "Pegangkan makanan ku" Rumi memberikan nasinya pada cowok yang agak samar berambut cokelat tua itu.
__ADS_1
Ia nurut-nurut saja memegangkan kantong plastik milik Rumi "Nona, ini bahaya pergilah" ucap cowok itu, nampak khawatir padanya.
Rumi menaikkan salah satu alisnya keheranan mendengar perkataan asing di telinganya "Mata kau Nona. I'm a madam bro" ucapnya yang masih sempat bercanda "kau saja sudah berdarah. Malah khawatir padaku, khawatir kan dirimu sendiri" ia menunjuk ke arah kepala cowok itu yang berdarah.
Ia tak mengendapkan ucapan Rumi "Tapi, kau itu perempuan".
"Lalu?. Kau itu sudah terluka parah masih banyak omong. Diam!" Gertak Rumi.
Rumi menatap lelaki yang sempat di banting nya. Lelaki tersebut sedang mengambil pisau dari saku celananya dan menodong kan pisau itu ke arah nya "Beraninya kau ikut campur".
__ADS_1
Rumi tersenyum "Suka-suka saya dong. Dasar pengecut, lawan perempuan saja harus pakai senjata. Selemah itu kah?".