
Uluran tangan menyentuh dasi hitam yang bergelantungan di leher Aiden. Rumi semakin merapatkan jarak mereka
"Bapak ini seperti anak-anak saja. Kenapa tiba-tiba mengacaukan penampilan bapak sih. Aneh," ucap Rumi fokus memperbaiki dasi Aiden, menggerakkan kedua tangannya dengan lihai hingga membentuk dasi sempurna.
"Selesai" Rumi tersenyum puas. Melepaskan uluran tangannya dari dasi yang sudah apik itu. Tapi ia merasa bahwa dahinya seperti tertiup angin hangat yang mampu menerbangkan beberapa helai poninya.
Rumi menengadah. Matanya terbuka lebar mendapati terpampang wajah ganteng Aiden yang hanya berjarak lima centimeter dari wajahnya. Jadi angin yang terus berhembus di dahinya berasal dari nafas Aiden. Mata mereka bertemu. Ia baru sadar ada kerutan di kantong mata Aiden, seperti orang kurang tidur. Melihat kekagetan memenuhi paras Rumi, Aiden membentuk senyum simpul.
"Kau pintar membuat dasi?"
Ia segera tersadar dari hipnotis Aiden "Ya" mukanya berpaling.
Rumi mundur alon-alon. Tapi Aiden makin melunjak, saat gadis itu mundur. Aiden maju. Rumi mundur. Aiden semakin maju. Membuat Rumi tak bisa mundur lagi karena punggungnya sudah menyentuh tembok. Ditambah kedua tangan Aiden sedang terbentang lurus di sisi kanan dan kiri Rumi.
"Bapak kenapa sih ahh. Gak usah dekat-dekat gitu napa" ia merasa geli saat Aiden mencoba lebih mendekatinya.
__ADS_1
Rumi memperhatikan sekeliling. Rumah sakit ini sedang ramai oleh para perawat dan pasien yang menatap heran tingkah mereka yang mencurigakan. Beberapa di antaranya bahkan mengobrol sambil melirik sinis Aiden dan Rumi. Sudah pasti isi obrolan itu hal buruk tentang apa yang mereka berdua lakukan saat ini.
Ia menutupi wajahnya dengan satu telapak tangan. Malu dengan pandangan orang-orang.
Aiden membungkuk, menyamaratakan tingginya dengan perempuan itu. Mendekati wajah Rumi seraya tersenyum "Besok-besok, kalau dasi saya berantakan lagi. Saya minta tolong untuk perbaiki lagi bisa?".
Rumi di buat menganga dengan perkataan Aiden "Gak! Bapak punya tangan kan? Kalau gitu buat sendiri, saya gak mau buatin buat bapak!" wajahnya berubah tak nyaman. Tak menyangka wakil kepala sekolahnya bisa bertindak sejauh itu.
(Dia pikir aku pembantunya apa?) Batin Rumi.
Meski di tolak secara terang-terangan. Aiden menarik sudut bibirnya membentuk senyum. Ia menurunkan kedua tangan yang mengurung Rumi dan melangkah mundur.
"Bagaimana? Apa kau bisa membantuku dalam memecahkan masalah Elina?" Ucapnya sembari merapikan rambut serta pakaiannya. Rumi lega karena Aiden yang profesional kembali. Tak membahas tentang 'dasi' lagi.
"Serahkan kasus ini pada saya" ucapnya percaya diri.
__ADS_1
Aiden memandangnya sejenak
"Kau yakin?".
"Tentu saja. Karena saya yang paling tahu apa yang terjadi" Rumi menyeringai.
Aiden mengangguk "Baiklah, mohon kerjasamanya. Hari ini kau izin saja jangan masuk sekolah, saya akan memberi izinnya".
"Iya".
***
"Tadi, kau berbicara tentang apa dengan pak Aiden" pertanyaan itu membuat Rumi yang sedang mengupas kulit mangga menggunakan pisau berhenti. Ia kemudian mengambil pandang ke Elina yang sedang mengunyah buah dengan mata yang penuh penasaran.
"Bukan hal penting" Rumi melanjutkan mengupas mangga hingga memotong buah itu kecil-kecil lalu menaruhnya di piring keramik putih. Dan menyodorkan buah-buahan segar itu ke Elina yang masih duduk di ranjang rumah sakit.
__ADS_1