Takdir Yang Terputus

Takdir Yang Terputus
Chapter 41 Kekecewaan Yang Mendalam


__ADS_3

Ia pergi ke kantin untuk membeli susu coklat kesukaannya, sendirian. Pada saat ia sedang menunggu uang kembaliannya. Agar tak bosan, ia menyebarkan pandangan ke seluruh ruangan kantin. Matanya kini tertuju pada Arka yang sedang duduk dan makan seraya di kerumuni banyak sekali orang. Sejak ia pindah ke sekolah Onestar, mendadak. Lelaki itu menjadi populer. Mungkin karena ketampanannya.


Rumi sudah beberapa kali menegur dan menyapanya, tapi satupun sapaannya itu tak ada yang di hiraukan. Kesal sih kesal, tapi mau bagaimana lagi. Rumi hanya ingin mau menjalin kembali hubungan mereka yang sudah lama terputus.


"Nih neng Rumi kembaliannya" ucap ibu kantin memberikan lembaran uang kepada Rumi. Mereka sudah lumayan akrap karena Rumi sering berbelanja di kantin itu.


Ia berpaling "Oh, iya Bu makasih" menaruh uang itu di saku kantong sekolahnya.


Saat Rumi berbalik untuk pergi dari kantin dengan kotak susu di genggamannya, ia terperanjat melihat seseorang ternyata berdiri sangat dekat pas di belakangnya. Untung Rumi tak sampai menabraknya.


(Siapa sih) batinnya kesal. Ia mendongak. Matanya di buat lebar karena itu adalah Arka. Arka yang tadi yang sedang duduk di ujung kantin sekarang malah ada di belakangnya.


"Arka? Mau beli apa?" Tanya Rumi. Dengan sedikit senyuman di wajahnya.


Seperti biasa. Tak ada jawaban, Arka malah hanya menatap lurus ke jualan kantin yang menyediakan banyak makanan dan minuman, bukan Rumi yang justru berada pas di hadapannya. Seakan perempuan itu tak lain hanya angin lewat baginya.

__ADS_1


"Buk, saya mau beli susu coklat" ucapnya. Melangkah lebih maju hingga membuat Rumi terpojokkan dan akhirnya memilih melangkah mundur.


Tak menyerah. Rumi terus mencoba berkomunikasi dengan Arka "Sejak kapan kau suka susu coklat, bukannya kau suka susu vanilla ya?" Ucap Rumi dengan senyum. Seingatnya, saat mereka berdua masih SMP. Arka suka dengan susu vanilla. Bukan coklat.


Menatap Arka yang membisu, seraya membayar hasil belanjaannya kepada ibu penjaga kantin. Entah sejak kapan Rumi menjadi sesabar ini menghadapi seseorang. Ia terus mencoba berbicara dengan Arka meskipun ia tahu takkan ada respon. Sekarang rasanya seperti berbicara dengan patung.


Arka memilih keluar ketika sudah mendapatkan uang kembaliannya. Meninggal Rumi di sana seperti orang bodoh yang tak mendapatkan jawabannya.


Orang-orang yang ada di kantin bahkan hanya saling memandang melihat sikap Rumi yang di luar nalar. Sifat badas dan kejam perempuan itu sudah menjadi isu sehari-hari di sekolah itu. Tapi melihat Rumi yang terlihat seperti mengejar-ngejar Arka yang jatuhnya seperti mengemis. Membuat mereka berpikir mungkin Rumi menaruh rasa pada Arka.


"Hey.." ucap Rumi melihat Arka yang melengos pergi.


"Tunggu sebentarrr, Arkaa!!" Suara yang tadinya besar, perlahan-lahan mengecil di sertai nafas yang memburu.


Tak peduli dengan teriakan yang terus-menerus bergema sekeras apapun di koridor sekolahan. Ia terus melangkah lebih cepat lagi. Mengabaikan puluhan pasang mata yang nampak mengawasi mereka sepanjang perjalanan.

__ADS_1


Tiba-tiba saja, lengan bajunya di tarik dengan kasar dari belakang hingga membuatnya tak dapat melaju berjalan lagi.


Itu Rumi yang berhasil mengejar Arka"Kau tuli kah? Aku bilang berhenti kenapa masih terus lanjut jalan? Kau sengaja?" Ucap Rumi dengan wajah kesal bercampur keringat. Arka berjalan cukup jauh, tentu saja membuat Rumi ngos-ngosan mengejarnya.


Mata biru itu kemudian menatapnya dalam-dalam. Entah apa yang ada di pikirannya. Wajah tampan itu selalu saja berekspresi dingin kepadanya. Padahal jika dengan orang lain, senyuman ramah lah yang akan terpampang. Tapi untungnya kali ini ia berhasil mendapatkan respon dari lelaki itu.


"Hey," ucap Arka.


"Kenapa?"


(Baguslah dia tak mengabaikanku lagi kali ini. Aku berharap hubungan kita membaik)


"Berhenti berbicara padaku, apa kau tak punya kerjaan selain menggangguku?" Arka menghela nafas dan berpaling dari Rumi.


Deg!

__ADS_1


Pupil matanya membesar mendengar sepenggal kalimat lelaki pirang itu. Masih berusaha tersenyum "Mengganggu? Aku? Jadi selama ini kau menganggap kalau aku ini hanya pengganggu?" Alih-alih senang karena akhirnya mendapatkan respon dari Arka. Yang ada rasa kecewanya semakin besar ketika mendengar jawaban dari Arka.


Arka berdecak "Masa kau tidak sadar?" Ekspresi malas diwajahnya sangat kentara.


__ADS_2