
Menghela nafasnya seraya menyilang kan tangan layaknya bos "Kalian menyuruh ku makan tapi tak memberiku tempat duduk, kupikir itu tak sopan".
Hening melanda mereka, bukan tak ingin memberikan tempat duduk pada Rumi. Masalahnya, nampak jelas tempat duduk sudah terisi penuh. Elina saja cuman berdiri sambil melihat teman yang lain makan.
Mendadak Cyara mendorong kuat seseorang di sampingnya. Otomatis kawan sebangkunya itu jatuh ke lantai. "Ayo duduk" ucapnya, menepuk beberapa kali permukaan kursi yang digunakan kawannya tadi sebelum di dorong olehnya. Tak ada rasa bersalah di mukanya, jangankan raut bersalah. Ia malah menyuruh Rumi duduk dengan senyuman manis.
"I-itu kan tempat duduk ku, kenapa kau mendorong ku" lirih perempuan yang di dorong Cyara. Masih terduduk di lantai.
"Lalu, aku harus membuat Rumi berdiri begitu?" Jawab Cyara tak peduli.
Perempuan itu bungkam, merunduk sambil meneteskan air mata di bajunya. Sementara teman yang lain hanya diam. Ada yang tak peduli sama sekali. Ada yang bermaksud membantu tapi takut berakhir sama.
Rumi melirik Cyara dari sudut matanya (Sepertinya aku tahu siapa ketua di sini. Padahal aku cuman memprovokasi saja. Siapa yah namanya Citra?, Cinta?).
__ADS_1
Rumi mengulurkan tangannya pada perempuan itu. Tak menolak, ia menerima uluran itu, membuatnya berdiri perlahan-lahan "Tak kusangka kau mendorong temanmu hanya karena aku ingin duduk" ucapnya pada Cyara.
"Tentu saja, orang seperti mu harus kami hormati"
Ia tersenyum setengah-setengah. Mereka menghormati Rumi hanya karena beasiswa yang di dapatkan. Bukan karena ketulusan hati.
"Duduk dan makanlah sepuasnya. Hari ini kita di traktir oleh Elina!!" senyum Cyara sambil menatap Elina. Membuat Elina kaget.
(Elina?) Rumi berpaling menatap teman sebangkunya itu, Elina hanya memasang wajah menyedihkan. Yang Rumi tahu, saat mendengar cerita Elina sejak pertama kali bertemu tadi. Elina sebelumnya bekerja sebagai pelayan yang gajinya pas-pasan, buat makan saja sulit. Tak mungkin Elina dengan suka rela menggunakan uang hasil jeri payah hanya untuk mentraktir Cyara dan temannya. Apalagi makanan yang di beli banyak, meja itu saja hampir penuh dangan makanan. Hanya ada satu kemungkinan yaitu.
Rumi meraih sekotak susu strawberry, di atas meja. Dan menawarkannya pada Elina "Kau bilang kau suka susu strawberry kan. Nih ambil".
(Ah, dia ingat yah. Kupikir dia tak ingat ketika aku mengatakan aku menyukai susu strawberry) Elina tersenyum.
__ADS_1
Rumi tak sepenuhnya mengabaikan cerita Elina. Ia sejujurnya mendengar dengan baik semua perkataan yang terucap dari mulutnya. Tapi yah, karena perempuan kepang itu terlalu banyak celotehan. Rumi ujung-ujungnya memaki Elina.
"Ak-aku, sudah minum kok".
"Yakin kau sudah minum?, bibir mu saja kering dan tangan mu bersih. Jika kau memang sudah minum, seharusnya bibir mu tak begitu tandus" paksaan Rumi membuatnya gelisah. Elina diam-diam melirik Cyara.
Cyara tiba-tiba menyela pembicaraan "Rumi, Elina memang sudah minum kok".
Ia memiting lehernya "Hey, siapa yang bertanya padamu?".
Cyara tersentak, melihat ekspresi Rumi yang tidak mengharapkan jawabannya "Maaf".
Rumi mengambil hampir separuh makanan dan minuman yang ada di meja, lalu memberikannya pada Elina "Ambil ini. Ini seharusnya menjadi milikmu. Sekarang pergi ke tempat duduk mu".
__ADS_1
"Tapi Rumi, ini terlalu banyak".