
hari ini, ia merasa hatinya terasa nyut-nyut. Entah sudah berapa lama hatinya tak di buat sakit. Tapi hari ini ia kembali merasakan perasaan itu "Ah, begitu ya" Rumi merunduk dan kemudian melepaskan tangannya yang mencapit baju lengan Arka.
"Aku paham.." Intonasi suaranya semakin merendah.
Sudah tak ada harapan untuk memperbaiki hubungan mereka. Semuanya sudah hancur. Apa lagi yang mau Rumi harapkan? Tidak mungkin ia akan terus memaksa seseorang yang bahkan tak mau lagi menjalin hubungan dengannya.
Arka memegang tengkuknya, berpikir jawabnya mungkin berlebih. Ekspresi bebalnya silir berganti. Melirik perempuan itu yang merunduk menatap lantai sekolah "Maksudku, apa kau ti-" kalimatnya terpotong oleh Rumi.
Ia mendongakkan kepalanya. Mata yang pilu itu juga berubah menjadi acuh tak acuh. Tatapan yang sama ketika ia sedang melihat orang lain. Tatapan ketidakpedulian "Tentu tentu. Aku paham sekali, aku paham kalau kau tidak ingin berbicara padaku. Kenapa aku tak sadar sih, bodoh banget ya?" Rumi menyunggingkan senyum.
Arka terperanjat. Kaget dengan responnya "Bu-bukan, maksudku sebenar-" ucapannya kembali di potong.
"Siapa yang peduli apa maksud mu?" Rumi menyeringai "Aku tak mengerti mengapa kau sebegitu nya tak ingin berbicara padaku. Mungkin karena kesalahan ku terlalu besar. Tapi, sekarang aku tak peduli tentang kau yang tak ingin berbicara padaku atau apalah itu" ia mengendikkan bahu. Berbalik arah dan berjalan. Meninggalkan Arka yang masih di buat melongo.
__ADS_1
"Rumi, tunggu dulu. Dengarkan aku..."
"B-a-c-o-t. Baaacooot" ucap Rumi sengaja mengeraskan suaranya agar di dengar Arka
Menatap Rumi yang sudah menjauhi dirinya. Mungkin setelah ini, ia takkan mendengar suara perempuan itu yang berharap memintai jawabannya atau menghujaninya dengan puluhan pertanyaannya.
"Seharusnya aku tak berbicara seperti itu. Dia tampak marah sekali" gumam Arka.
Rumi menaiki satu persatu anak tangga menuju rooftop. Berniat menghirup udara segar di atas bangunan gedung sekolahnya. Sekarang ia ingin me time sendirian tanpa terganggu oleh siapapun. Terlalu banyak kejadian di sekitarnya, membuatnya ingin menyendiri terlebih dahulu. Dan melupakan nama Arka yang sangat membuatnya kesal.
"Cih, dia kenapa sih. Bikin kesal saja, pas sama orang lain. Lembutnya minta ampun. Lah, pas sama aku, hanya tuhan yang tahu" ucap Rumi sebel, terlanjur sakit hati pada kata-kata Arka tadi.
Di ujung anak tangga yang ia naiki itu. Ada pintu yang menjadi pembatas antara tangga dan rooftop. Ia membuka pintu besi yang tak tergembok itu. Hal yang ia rasakan adalah sapuan angin yang berhembus lembut di wajahnya. Senyum simpul muncul di sudut-sudut bibirnya. Merasakan sejuknya angin didukung dengan suasana indahnya langit biru membuatnya ingin tertidur sekarang juga.
__ADS_1
Ia berjalan beberapa langkah sembari memerhatikan sekeliling. Berharap hanya ada dia seorang di sini. Namun karena mungkin kurang cepat, ternyata tempat itu sudah diisi seseorang sebelum dirinya
Kakinya berhenti melanjutkan perjalanan. Perasaan senangnya kini sudah usang melihat seorang pria berdiri membelakangi dirinya di pojok kiri rooftop. Perasaan jengkelnya bertambah karena tak dapat menikmati suasana langit seorang diri pun mulai menyeruak di dadanya.
"Haiss. Betul-betul hari ini hari yang penuh bikin emosi" desisnya jengkel.
Niatnya sekarang sudah berubah. Yaitu ia ingin pergi dari sana. Harus mencari spot lain untuk dirinya me time. Kakinya pun memutar balik. Tapi, belum sempat melangkah. Rumi di buat heran dengan suara tangis yang samar-samar terdengar.
"Hiks.."
(Hah? Suara tangisan kah?) Ia berbalik arah lagi. Kembali mengurungkan niat meninggalkan tempat itu. Penasaran dengan suara tangis yang kemungkinan berasal dari lelaki yang ada di pojok rooftop itu.
Benar, semakin Rumi lihat dari kejauhan. Lelaki itu beberapakali terlihat mengusap-usap wajahnya. Seperti layaknya seseorang yang sedang mengusap air mata. Dan jika Rumi telisik lebih dalam, postur tubuh cowok itu lumayan tak asing baginya.
__ADS_1