Takdir Yang Terputus

Takdir Yang Terputus
Chapter 50 Toko Buku


__ADS_3

"Novel ini bagus banget, aku beli deh. Sekalian tunjukin sama Rumi. Barangkali dia juga suka" perempuan berambut merah itu menutup buku tebal sebuah novel bergenre Romantis. Suasana hati dan energinya seakan terisi penuh ketika membaca novel-novel bergenre kesukaannya.


"Elina.."suara samar seseorang nampak sedang memanggilnya.


Kepalanya menoleh ke tempat yang ia yakini suaranya berasal. Dan dari ujung rak buku novel-novel yang di jelajahnya sedari tadi, ia melihat perawakan lelaki yang tak asing. Berjalan mendekatinya. Cowok yang pernah tak sengaja ia tabrak di koridor sekolah.


"Ah, kak Liam. Halo" ia sedikit menundukkan kepalanya untuk memberi hormat pada kakak kelasnya itu ketika sudah sampai di hadapannya.


"Halo, lagi baca novel yah?" Bisa tahu karena Elina sekarang berada di rak buku khusus novel "Tadi aku singgah ke toko buku buat cari buku Filsafat. Tapi gak sengaja liat kamu" ucapannya sambil tersenyum ramah.


"Iya, kakak baca buku filsafat?"

__ADS_1


"Lumayan" tangannya meraih buku segi empat di rak kayu paling atas. Dan membuka novel yang ia pilih secara acak itu. Mencoba juga untuk membaca novel.


Elina mengangguk paham. Matanya melirik tangan Liam yang menenteng kantong belanjaan "Kakak habis belanja apa?"


"Oh, ini makanan kucing" timbal Liam seraya menutup buku itu. Dan mengembalikannya ke tempat asal.


"Kucing? Kakak suka sama kucing?"


"Iya hehe, gak sesuai dengan penampilan ku kan?"


Mulutnya lantas tersenyum dan berusaha membuat lelaki yang menunduk murung itu tenang dengan kata-katanya "Gak, cocok kok, cocok banget malah. Menurut saya, itu membuat kakak terlihat seperti seorang penyayang. Jarang loh, ada cowok yang cat lover. Kakak keren deh"

__ADS_1


Mendapatkan tanggapan positif dari Elina. Liam mendongak kepalanya menatap gadis itu dengan senyum lebarnya "Haha, makasih. Jarang loh ada yang puji saja kayak kamu"


Elina mengangguk "Saya juga suka kucing kok kak" ucapnya mengalihkan topik.


Liam menaikkan kedua alisnya "Suka kucing juga? Kalau gitu, pulang dari Mall ini mau gak ikut aku kasih makan kucing jalanan? Ah, tapi kalau Elina gak mau, aku gak maksa kok" tawar Liam. Ia memang berencana langsung memberi makan kucing di sekitar jalanan sekolahnya setelah pulang dari Mall. Kucing yang tak sengaja ia temukan.


Elina tak langsung menjawab. Malah melirik kantong plastik berisikan makanan kucing yang sedang di pegang tangan berurat cowok itu. Sedetik kemudian ia menatap Liam "Mau" jawabnya.


"Oke!! Sepulang ini kita kasih makan kucing!!" Ucap Liam mengangkat tangan kanannya ke udara dengan semangat. Senang karena memiliki teman untuk menemaninya.


Tak kalah semangat. Elina mengangguk-anggukkan kepalanya dengan kencang "Kucing, kucing, kasih makan kucing" ucap Elina senang. Lalu menggelengkan kepalanya ke kanan-kiri dengan sedikit gerakan bahu. Liam bahkan ikutan menggelengkan kepalanya ke kanan-kiri mengikuti Elina.

__ADS_1


Inilah penampakan ketika dua cat lover di tambah satu frekuensi bertemu.


Seorang pria yang tak sengaja lewat di ujung lorong rak buku Elina dan Liam. Di buat terperanjat saat menyaksikan dua orang itu masih terus menggelengkan kepalanya di ujung lorong. Pria itu kemudian menyipitkan matanya "Orang gila, mereka seperti pemuja sesat saja" ia meninggalkan lorong itu tanpa peduli lagi siapa dua orang itu yang masih terus menggelengkan kepala.


__ADS_2