
"Hmm, iya yah itu mereka"sahut teman nya yang satu lagi.
Cyara melirik tempat yang di maksud temannya. Dia melihat seseorang di balik kaca besar bening restoran itu memang betul adalah Rumi dan Elina (Cih, entah mengapa aku tak suka melihat mereka bersenang-senang. Pasti Elina mengadu pada Rumi kalau aku merundung nya. Bisa bahaya kalau Rumi sampai tahu) batin Cyara.
"Sudah lah guys, kita balik aja yok. Kita kan sekarang sudah selesai bolos. Minta tolong dong guys, beliin aku rokok. Rokok ku tinggal sebatang nih" Cyara berjalan pelan dengan memegang kotak rokok yang di dalam nya tinggal sebatang.
"Baiklah, aku yang akan belikan" sahut seorang lelaki dari geng.
Cyara mendekati lelaki itu dan mencium pipi nya "Ihh, baik banget deh. Makasih yah" Senyum nya sambil menggoda.
Lelaki itu hanya tersipu malu dengan ciuman pipi Cyara. "I-iya".
__ADS_1
Diam-diam ternyata teman perempuan Cyara merespon dengan ekspresi jijik akibat tingkah laku meresahkan si Cyara.
Dia mengambil rokok yang tinggal sebatang itu dan menghidupkannya dengan korek api. Menghisap dan menghembuskannya berulangkali "Teman-teman, aku punya rencana yang sangat hebat, kalian harus melakukan nya untuk ku yah" Cyara menyeringai.
Meremas bungkusan rokok sampai menjadi seogok sampah dengan tangannya (Aku punya kejutan untuk mu, Elina) batinnya dengan ekspektasi kesal.
Mereka makan dengan lahap, dan jika di rasa perut mereka sudah terisi seperti sedia kala, mereka pun keluar dari restoran dengan hati senang sebab perut kenyang. Tampak bahwa matahari sudah tenggelam di barat, tandanya sore telah berganti menjadi malam.
Ia melirik Rumi yang ada di sebelahnya yang sedang fokus menatap lurus jalan "Makasih yah. Makasihhh bangetttt" ucapnya dengan nafas panjang, sambil tersenyum sendu.
Rumi sontak menoleh ke arah temannya dan menaikkan satu alisnya. Tak biasanya Elina terus-menerus mengucapkan terimakasih "Bisa tidak ngomong selain terimakasih. Kau dari tadi makasih mulu perasaan" mereka masih melanjutkan perjalanan.
__ADS_1
Elina berhenti di tengah-tengah perjalanan yang masih cukup jauh jaraknya dari asrama mereka "Kau masih ingin berteman denganku?" Alisnya melengkung, matanya penuh harapan, tapi ada sedikit kesedihan di sana.
Alisnya semakin mengernyit, dibuat bingung dengan temannya yang mendadak berhenti ditambah pertanyaan ini sangat tiba-tiba "Memang ada alasan untukku tak harus berteman dengan mu?" ikut menahan langkahnya.
Elina tersenyum paksa. Tingkahnya seperti seseorang ingin menyampaikan sesuatu tapi masih ada keraguan yang mengganjal hatinya. Dengan sedikit senyuman tipis terpampang ia berkata "Terimakasih sudah baik padaku. Tapi aku belum bisa membalas apa-apa".
Ia tertegun mendengar kata yang tak begitu asing di telinga. Kalimat yang membuatnya teringat masa lalu "Hey, mengapa kau mengatakan itu seakan-akan kau akan pergi jauh?" Wajahnya mengerut, tersinggung dengan ucapan Elina.
Dengan cepat Elina menggeleng-gelengkan kepalanya "Bu-bukan. Tapi memang kau adalah orang baik bagi ku. Ma-maaf kalau kau tersinggung, tapi bukan itu maksud ku" seakan tahu Rumi sedang jengkel dengan perkataannya tadi, segera meyakinkan bahwa ia tak memiliki maksud lain.
"Kenapa malah minta maaf bodoh!" Ia membentaknya, Rumi kesal karena Elina sedikit-sedikit minta maaf meskipun dirinya tak bersalah. Melihat temannya mencuit karena takut, ia akhirnya menyadari kesalahannya "Eh, sorry..."
__ADS_1