Takdir Yang Terputus

Takdir Yang Terputus
Chapter 6 Beasiswa itu?


__ADS_3

Di tengah pertanyaan itu, ia di kejutkan lagi dengan papan informasi di pinggir koridor. Ini semakin aneh karena ia begitu yakin saat melewati jalan itu ia sama sekali tak melihat papan itu, lalu kenapa sekarang ada. Ada kertas putih tertempel di papan itu membuatnya mendekat dan membacanya.


"Penerima beasiswa. Atas nama Rumi Taleetha Greesa kelas sat- APA!!" Rumi bergumam lalu berteriak sebelum menyelesaikan kalimat yang ada di kertas.


Mendadak, ia berlari terburu-buru (Pak Aiden, dia berbohong!!).


Rumi samar-samar melihat kelasnya dari kejauhan lorong. Di depan pintu kelasnya sudah begitu banyak murid berkumpul "Ukhh, banyak sekali orang di depan kelas. Pasti mereka datang untuk melihat ku".

__ADS_1


Ia tiba-tiba menghentikan langkah. Ide cemerlang terbesit di pikirannya "Apa aku masuk saja ke kelas yah?. Kan mereka juga tak tahu mukaku" Rumi sedang termenung, sedang menyusun rencana dalam otak "Betul juga, mereka kan belum pernah melihat ku. Meski mereka pernah melihat ku tapi mereka kan tak tahu namaku. Sudah kuduga aku ini memang jenius" gumamnya sambil tersenyum bangga.


Ia Melanjutkan perjalanan ke kelas. Melewati kerumunan orang-orang yang memadati area ruangannya. Masuk perlahan-lahan dengan rasa was-was takut ketahuan. Tapi itu tak terjadi sampai ia sudah masuk ke kelasnya. Senyum narsis kembali terlihat di wajahnya karena ia yakin rencananya akan berhasil.


"DIA ORANGNYA. RUMI TALEETHA GREESA. MURID PENERIMA BEASISWA!!!" Tiba-tiba salah seorang teman sekelas Rumi menunjuknya dengan teriakan kencang sehingga bergema di setiap sudut ruangannya.


Rumi membeku di tempat seakan kehilangan sensor gerak. Senyun narsis-nya tergantikan oleh wajah panik bercampur kaget. Seluruh orang melirik Rumi dengan tatapan mata tajam bak elang. Ia berencana ingin lari, tapi tubuhnya sangat susah di gerakkan.

__ADS_1


Murid kelas lain yang berkumpul di kelas Rumi telah pergi karena bel masuk meminta mereka sadar diri untuk kembali ke kelas. Rasa penasaran mereka akhirnya lenyap. Sebelumnya mereka mengerumuni dan tak membiarkan Rumi lari kemana-mana. Itulah alasannya ia meminta Aiden tak memberitahu bahwa dialah penerima beasiswa. Menjadi orang terkenal memang susah. Teman kelas Rumi yang awalnya mengabaikan dan ogah-ogahan berteman dengannya berubah seratus delapan puluh derajat menjadi ramah dan sok akrab.


Tertatih menopang badannya di setiap jejeran meja. Yang diinginkannya sekarang adalah duduk di kursinya. "Ini semua karena pak Aiden" gumamnya, api amarah membara di mata Rumi


"Rumi, ayo kesini. Makan bersama kita" teman sekelasnya melambai dari arah barisan pojok kanan. Awalnya, rasa cape membuatnya ingin menolak tawaran itu. Tapi saat ia melihat Elina ada di sana juga, ia akhirnya bergabung.


Ada banyak makanan dan minuman bungkusan yang terhidang di meja besi itu. Beberapa orang tengah menyantap makanan dengan nikmat "Ayo Rumi makan" ucap perempuan bermata pink bulat dengan rambut merah muda yang duduk di pinggir tembok.

__ADS_1


Ia menaikkan salah satu alis melihat pemandangan yang tersuguh di depannya "Apa kalian sedang menghina ku?" Tegas Rumi.


Murid yang sedang berkumpul dalam satu meja itu sontak keheranan, tak paham maksud Rumi "Tidak kok, kita cuman ingin mengajak mu makan bersama" jawab seorang perempuan di sana.


__ADS_2