
"Dia sebatang kara dok" Lirih Rumi dengan nada lemah lembut.
"Oalah gitu toh. Kasihan sekali yah, di saat seperti ini malah tak ada orang yang berada di samping anak itu. Kamu orang baik nak, terus lah berteman dengan nya" dokter itu tersenyum lebar pada Rumi.
Rumi tercengang ketika mendengar perkataan itu untuk kesekian kalinya (Aku baik?) batin nya.
"Nak, ada yang mau saya sampaikan sejak awal. Luka sayatan teman mu itu seperti nya di sengaja. Melihat pola dan cara menyayat itu, masih nampak pemula. Dan luka terinfeksi itu kemungkinan berasal dari alat yang tak higenis" Terang dokter.
__ADS_1
"Ini antara percobaan bunuh diri atau ada seseorang yang sengaja menyayat paksa" lanjut dokter.
(Sengaja?) Rahang Rumi mengeras, ia menunduk sebentar menatap lantai rumah sakit yang sedang di pijak nya. Tangan nya menutup rapat-rapat seakan sedang menggenggam erat sesuatu. Ia lantas kembali menatap dokter.
"Tolong lakukan yang terbaik untuk teman saya dok" Pinta nya sambil tersenyum. Kelihatan nya memang tersenyum. Tapi di balik itu semua, ia sangat marah sekarang.
Ia berjalan menuju toilet rumah sakit. Saat masuk, ternyata ia sendirian dalam toilet tersebut. Mendekati wastafel dan mencuci tangan nya yang sedikit kotor karena darah Elina tadi. Saat sedang fokus mencuci tangan, pandangan nya berubah ke pantulan bayangan di cermin yang tepat berada di depan nya. Rumi diam sambil mengamati diri nya dalam cermin.
__ADS_1
"Kau tol*ol, bangs*t, b*go. Tak pernah melakukan sesuatu dengan benar anj*ng. Bahkan melindungi satu orang saja kau bahkan tak bisa bajing*n" ia menunjuk-nunjuk pantulan diri nya.
𝘗𝘭𝘢𝘬...
Ia menampar diri nya sendiri dengan keras. Lalu kembali melihat di pantulan cermin, bekas kemerahan terlukis di pipi nya "Kau pikir ini cukup menebus kesalahan yang selama ini kau perbuat?".
Berulang-ulang ia menampar dirinya sampai merasa puas. Pipi nya sampai bengkak dan perih kemerahan. Tapi perasaan nya sudah lumayan lega, setidak nya sekarang hati nya tak terlalu terbebani dengan rasa bersalah. Ia membasuh muka nya agar bengkak di wajahnya tak terlalu kentara dan mengambil beberapa lembar tisu toilet untuk mengelap air yang menetes di wajah nya lalu membuang tisu ke tempat sampah.
__ADS_1
Segera kembali menuju lorong ruang UGD. Lalu duduk di kursi panjang besi di ruang tunggu. Rumi menyandar di kursi sambil menunggu izin agar bisa masuk ke ruang UGD tempat Elina di rawat.
Rumi melempar pandangan ke langit-langit. (Aku lelah) batin nya. Ia memejam kan mata sebentar. Membenamkan seluruh wajahnya dengan kedua tangannya. Ia sekarang sangat lapar dan juga belum sempat mengganti baju sekolah. Ingin rasanya kembali ke asramanya tapi hari sudah gelap dan siapa yang akan mengantar nya balik?. Ia juga tak dapat kembali ke asrama karena khawatir dengan keadaan Elina.