
Ia senang karena bisa balik ke asrama. Tapi tiba-tiba terbesit teringat sesuatu "Bagaimana dengan Elina" tanpa sadar dari belakang ia menarik lengan baju Aiden dengan sedikit tenaga. Membuat langkah keduanya terhenti.
Ia melirik lengan bajunya yang di tarik. Dan melihat wajah Rumi yang di penuhi rasa khawatir "Kau sangat menyayangi teman mu ternyata" Aiden menyerengeh. Padahal Rumi sudah sangat kantuk, tapi masih sempatnya memikirkan Elina.
"Tenang saja, teman mu itu sudah ku pindahkan ke ruang VIP. Karena ini kesalahan dari pihak sekolah. Biaya biar saya yang tanggung" Aiden melepaskan jari-jemari yang menjepit lengan bajunya.
Ekpresi khawatir berganti menjadi lega "Terimakasih pak" ia tersenyum lebar. Aiden menaikkan kedua alisnya, kaget. Baru kali ini melihat Rumi tersenyum seperti itu. Biasanya Rumi selalu berekspresi kesal, marah atau tertekan padanya.
__ADS_1
Aiden melajukan mobilnya dalam kecepatan cukup rendah. Di jalan raya sekarang hanya ada mobil mereka, wajar saja. Sekarang hampir menunjukkan jam tengah malam. Siapa juga yang mau beraktivitas dalam suasana gelap gulita.
Rumi duduk di samping Aiden yang sedang menyetir. Ia menopang dagu sambil menatap suasana luar lewat jendela di sebelahnya, berusaha menahan kantuk. Perempuan itu merasa familiar dengan jalan yang sekarang mereka lewati. Ini adalah jalan menuju sekolahnya, artinya mereka sudah semakin mendekati kawasan sekolah.
Rasa kantuknya sirna saat ia melihat gedung-gedung mewah menjulang tinggi yang adalah sekolah Rumi. Jaraknya kurang lebih lima ratus meter dari posisi mobil mereka melaju. Matanya penuh semangat ketika mobil Aiden semakin dekat. Rumi melihat gerbang utama sekolah Onestar, berpikir Aiden akan menepi dan berhenti. Tapi, pikirannya itu melesat jauh. Saat mobil sudah sampai pas di depan gerbang, mobil Aiden malah masih melaju. Membuat Rumi jengkel juga heran. Dia yang dari tadi hanya menatap jendela akhirnya berpaling ke Aiden.
"Pak, itu. Gerbangnya sudah lewat" nadanya terdengar kesal.
__ADS_1
"Apa!?" Nada Rumi meninggi "tadi katanya mau antar saya ke asrama. Bapak jangan ngadi-ngadi!. Sekarang bapak mau bawa saya ke mana?!" Rumi membanting punggungnya ke kursi mobil, tangannya menyilang. Suaranya terdengar seperti orang marah. Ya iyalah marah. Siapa juga yang tak akan kesal, sudah menahan kantuk, malah di prank sama guru sendiri.
"Ke rumah saya" jawab Aiden
"APA!!" Rumi makin meninggikan nadanya, menoleh ke Aiden dengan sedikit mencondongkan tubuhnya "Gak gak gak gak. Saya gak mau ke rumah bapak. Lebih baik saya turun sekarang dan pergi sendiri ke asrama saya" Rumi menolak mentah-mentah, enggan untuk menginap di rumah Aiden. Semobil saja ia merasa tak nyaman, apalagi harus menginap di rumah Aiden. Meskipun Rumi tahu niat Aiden itu baik, tapi ia tetap merasa tak nyaman.
Rumi membuka paksa pintu mobil untuk keluar di tengah mobil masih melaju. Tapi dibuka berkali-kali pun tak membuahkan hasil "Iss, bukaaa. Saya mau turunnn" Aiden mengabaikan, menumpulkan indra pendengarnya.
__ADS_1
"Iss, PAK!!" Ia menoleh ke Aiden karena di rasa usaha untuk membuka pintu itu sia-sia saja.
Aiden yang diam akhirnya merespon dengan sebisa mungkin menenangkan perempuan itu "Rumi, di atas jam dua belas malam tidak ada yang di izinkan untuk memasuki atau keluar dari kawasan sekolah. Meskipun kau memiliki beasiswa, pulang jam begini adalah hal yang di larang" ucapnya masih memandang lurus jalanan.