Takdir Yang Terputus

Takdir Yang Terputus
Chapter 49 Rindu


__ADS_3

Matanya masih terus memandangi wajah bule itu "Aku rindu sama nih bocah. Asli deh, mungkin karena terlalu banyak kenangan yang kurasakan padanya. Tapi, hah.." ia mendengus panjang.


"Aku harus rela jika anak ini membenciku, dulu akulah yang duluan meninggalkannya. Aku memang pantas di benci olehnya" ia kemudian tersenyum pahit dengan mata yang cukup memelas.


Tak lama, Arka tiba-tiba saja menjadi sedikit gelisah dalam tidurnya. Gerakannya itu membuat kepala Arka yang tadinya bersandar di rantai ayunan, kehilangan keseimbangan dan hampir terjatuh ke belakang.


"Eh, eh Arka!" ucap Rumi. Memunculkan ekspresi panik di wajahnya. Sigap berdiri dan membuka langkahnya lebar-lebar. Mencondongkan badan serta mengulurkan tangannya sebelum cowok itu akan terluka jika terbentur di atas bentala. Rasanya celana jeans nya akan koyak saking besar langkah yang ia ambil demi uluran tangannya mencapai posisi kepala Arka.


Untungnya usahanya tak sia-sia. Kepala Arka tepat jatuh di telapak tangannya "Huft.." Rumi menghela nafas panjang. Sekaligus lega.


Ia mengecilkan rongga langkahnya. Kepala anak itu masih terbaring di atas telapak tangannya. Mendekati Arka yang masih pulas di sana, dan dengan hati-hati menyangang kepala Arka di perut ratanya.


"Arka bangun" ucap Rumi lirih.


Tak ada jawaban


"Arka, bangun. Kalau ngantuk jangan tidur di sini dong" ia menepuk dengan lembut pipi Arka.


Masih dengan hal yang sama. Entah apa yang membuat lelaki itu sangat pulas hingga sangat susah di bangunkan. Karena sudah cukup kesal, Rumi berteriak.

__ADS_1


"ARKA GOBL*K. BANGUNNN"


Seketika, Arka yang terlelap langsung bangun dengan kesadaran lima puluh persen. Rumi pun melepaskan pegangannya dari kepala Arka, karena dia sudah bisa lagi mengambil ahli gerakan kepalanya.


"Siapa yang berteriak?" Ucapnya dengan suara serak khas bangun tidur. Menyebarkan pandanan ke segala arah. Ketika kepalannya mendongak, mendapati ada Rumi di hadapannya seraya menyilangkan tangan di depan dada


"Aku, kau kalau tidur jangan di sini. Tidur saja di asrama mu" ucap Rumi berpaling dengan raut wajah berubah cuek.


Arka menyipitkan matanya "Rumi?" Ia masih tak mampu mencerna kalau orang yang ada di depannya adalah Rumi.


Perempuan itu berdecak "Iya-iya, ini aku. Buka matamu baik-baik. Malah pake acara hilang lagi, kan jadinya ketua club musik menyuruhku mencari mu. Izinnya sih ke kamar mandi. Tapi malah tiduran di taman"


Arka merunduk, sadar kalau dia salah dan harus sampai menyusahkan Rumi. Teman SMP-nya "Maaf ya, karena ngantuk banget, aku gak sengaja ketiduran di sini deh hehe" lirih Arka.


Arka beranjak dari kursi ayunannya. Mengulurkan tangannya tanpa mengayunkan langkah "Eh, Ru-rumi. Tunggu, ada yang ingin ku bicarakan padamu"


Ia berhenti, berbalik ke belakang "Mau bicara apa?" Ucapannya agak ogah.


Arka langsung menggaruk tengkuknya "Kau pasti marah saat aku mengabaikan mu waktu pertama kali kita bertemu. Ifu semua salahku. Sa-saat itu aku punya alasannya, aku hany-"

__ADS_1


Belum sempat menyelesaikan ucapannya. Langsung di potong oleh perkataan Rumi.


"Aku tidak marah. Itu bukan salahmu, aku yang salah karena terlalu sok akrab denganmu dan juga aku terlalu egois. Berpikir kita bisa seperti dulu lagi" wajah tanpa ekspresi itu menengadah ke langit.


"Rumi.. Tidak, itu tidak benar" gumam Arka.


"Aku tahu kau membenciku, jadi. Aku tidak akan mengganggumu lagi"


Matanya terbuka lebar "Apa? Aku membencimu? Tidakk, Rumi, tunggu. Aku tidak pernah sekalipun membenci mu.."


Ia menyeringai "Padahal kau dulu yang bilang menyesal mengenalku karena aku sudah meninggalkan mu " entah mengapa dadanya terasa sakit ketika mengingat kenangan itu.


Arka terdiam. Tak menyangkal fakta itu "Waktu itu aku hanya anak SMP. Aku tak paham apa-apa, sekarang aku sudah mengerti. Kau pasti punya alasan mengapa meninggalkan ku. Maaf aku mengatakan mu egois, padahal sebenarnya akulah yang egois karena tak dapat mengenal dirimu"


Ketika Arka mengatakan itu. Balik Rumi lah yang terdiam, hanya keheningan di iringi suara angin yang sekedar lewat. Lalu ia tersenyum dan pergi. Untuk sekarang ini, enggan membicarakan masa lalu mereka berdua.


"Tunggu dulu!!" Teriaknya


Meski sudah mencoba menghentikan perempuan itu. Ia tetap acuh tak acuh dan mengabaikan teriakan Arka yang menyuruhnya jangan pergi.

__ADS_1


Menatap Rumi yang sudah sangat jauh dari jaraknya. Dan akhirnya perempuan itu menghilang dari kejauhan. Kejadiannya persis seperti kemarin.


Arka mendengus "Rumi.."


__ADS_2