Takdir Yang Terputus

Takdir Yang Terputus
Chapter 31 - Bunuh


__ADS_3

Ia menghempaskan tubuhnya ke sandaran kursi. Dokumen masih bertumpuk-tumpuk di tambah anak muridnya datang ke ruangannya dan mengatakan akan membuat masalah. Memijat pelipisnya yang sudah sakit.


Tiba-tiba pintu terbuka lagi "Pak, minta nomor telepon" ucap Rumi nyelonong masuk.


"Untuk apa?"


"Ada deh pak"


***


Rumi sudah sampai di rooftop seperti yang mereka sepakati tadi. Matanya berkeliling, area ini sudah diisi lima orang geng Cyara yang menunggunya datang. Termasuk tiga orang yang melukai Elina.


Dari jarak lumayan jauh Rumi bertanya "Apa yang mau kau bicarakan?" Menatap Cyara sedang duduk di tepi rooftop dengan jurang di seberangnya. Kalau salah posisi duduk saja, bisa-bisa langsung terjun bebas dari bangunan berlantai lima ini.

__ADS_1


"Tutup pintunya" perintah Cyara pada temannya. Entah sejak kapan, tiba-tiba anak buahnya menutup pintu yang tadi ia lewati untuk ke atas sini dengan sebuah gembok.


Ia melirik pintu yang sudah terkunci di belakangnya. Ada yang tak beres di sini "Apa maksud mu tiba-tiba mengunci pintu?" ucap Rumi kesal.


Cyara berdiri "Maaf, sebenarnya aku tak berniat melakukan ini" tangannya mengeluarkan pisau kecil dari saku roknya di barengi lima orang lainnya mengeluarkan senjata tajam dari pakaian mereka.


"Sebenarnya sih, aku ingin menjadikanmu temanku karena kau memiliki popularitas yang lumayan bagus. Tapi aku berubah pikiran" ia mengacungkan pisau ke arah Rumi dari jarak yang terbilang jauh.


"Dihh, jadi temanmu. Huekk" Ia memperagakan seakan sedang muntah "Amit-amit berteman ama orang dungu kek kau. Udah gila, sok asik lagi"


"Aku tahu" jawab Rumi santai


"Sebenarnya sih, dia itu tak salah. Tapi aku benci karena ia cupu, jelek, kutu buku di tambah ia sok akrab denganmu. Kok kau mau sih berteman dengan orang kek gitu. Lebih baik berteman denganku. Udah cantik, baik kan?" lanjut Cyara, congkak.

__ADS_1


Rumi melenguh panjang sambil menggelengkan kepala "Yah, kau tak salah. Tapi orang seperti Elina seratus kali lebih baik dari pembully gobl*k seperti mu. Kau mengganggap dirimu lebih baik dari Elina? Haha, anj*ng saja akan tertawa mendengar itu" timbalnya sambil tersenyum merendahkan.


"Oh ya, makasih udah ngomong kalau kau lah pelaku perundungan Elina. Aku jadi tak harus repot-repot lagi deh" ia mengeluarkan Handphone berwarna birunya dari saku rok.


Alis Cyara mengerut. Lalu ia membelalakkan matanya. Baru tersadar "Jangan bilang kau.."


Lalu Rumi menunjukkan layar handphonenya yang ternyata sedari tadi sedang menelepon Aiden dan merekam semua pembicaraan mereka "Loh, kok kaget gitu. Tadi berani amat. Kenapa? Takut ? Hahahahaha, dasar pecundang yang hanya mengandalkan kecantikan. Minimal gak usah belagu Awokawok.." ia tertawa setan melihat reaksi Cyara yang membatu di tempat.


'Rumi, jangan ngomong kasar' suara Aiden terdengar dari telepon.


"Maaf pak" ia mendekatkan layar sentuh berukuran sedang itu ke telinganya "Selesai ini belikan saya ayam yah pak. Sebagai gaji" setelah mengatakan itu ia menutup telepon.


Pembuluh darah di lehernya naik membentuk urat-urat. Dengan emosi yang bersinar di wajahnya Cyara berkata

__ADS_1


"Bunuh"


Kalimat itu membuat teman Cyara mendekatinya dengan niat hati menghabisi Rumi sesuai perintah Cyara "Kalian ini memang orang gila, Cyara ngomong apapun kalian turuti" ia mundur pelan-pelan.


__ADS_2